*Jejak Ismail Marzuki yang 'Hilang' dari 'Halo-Halo Bandung'*
*Endro Priherdityo*, CNN Indonesia | Minggu, 27/05/2018 06:23 WIB
Bagikan :
Jejak Ismail Marzuki yang 'Hilang' dari 'Halo-Halo Bandung'Ismail
Marzuki disebut sebagai pencipta 'Halo-Halo Bandung.' (Arsip Taman
Ismail Marzuki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kota Bandung punya keistimewaan tersendiri
bagi maestro*Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/tag/ismail-marzuki>*. Di kota ini, ia
mendapatkan pujaan hatinya dan menghasilkan sejumlah lagu terkenal.
Ismail Marzuki menghasilkan sejumlah lagu yang terinspirasi dari
Bandung, yaitu/Lenggang Bandung, Saputangan dari Bandung Selatan,
Bandung Selatan di Waktu Malam, Ole! Ole! Bandung,/dan/Halo-Halo Bandung./
Sebagian dari lagu-lagu tersebut dipastikan merupakan karya Ismail
Marzuki. Namun lainnya menimbulkan kontroversi, seperti/Halo-Halo
Bandung/yang diragukan asli karya Ismail.
Menurut katalog lagu yang dilampirkan Ninok Leksono dalam bukunya/Seabad
Ismail Marzuki Senandung Melintas Zaman/(2014),/Halo-Halo Bandung/masuk
dalam kategori lagu ciptaan Ismail Marzuki dan dibuat pada 1945.
Lihat juga:
Lagu Ismail Marzuki, Populer tapi Tak Dihargai
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180526035340-227-301461/lagu-ismail-marzuki-populer-tapi-tak-dihargai/>
Namun Ninok memberikan catatan pada lagu tersebut lantaran masih
menimbulkan perdebatan akan keaslian karya Ismail Marzuki.
Dikisahkan Ninok, lagu/Halo-Halo Bandung/disebut akademisi Remy Silado
dalam seminar sehari 'Para Tokoh Sejarah Betawi Abad XIX-XX' pada 2013
merupakan karangan Lumban Tobing.
Lumban merupakan prajurit Siliwangi yang pergi ke Yogyakarta bersama
peletonnya dan menyanyikan lagu ini.
Lumban sendiri disebut menggunakan ketenaran lagu/Hallo
Bandoeng/karangan Willy Derby yang telah terkenal sebelumnya pada 1923.
Namun bila diperhatikan, dua lagu tersebut memiliki perbedaan yang
mendasar dari segi melodi./Halo-Halo Bandung/memiliki melodi mars yang
mengundang semangat, berbeda dengan/Hallo Bandoeng/yang lebih lembut.
Di sisi lain, sapaan 'Hallo Bandung' sebenarnya sedang tren di periode
tersebut karena kerap digunakan sebagai sapaan radio Kootwijk kepada
masyarakat Bandung.
Kontroversi ini pernah ditanggapi oleh Eulis Zuraida, istri mendiang
Ismail Marzuki, kala masih hidup. Eulis mengatakan lagu/Halo-Halo
Bandung/diciptakan oleh Ismail Marzuki.
Wanita asal Bandung tersebut mengaku bahwa Ismail membuat lagu itu
ketika dalam masa pacaran dengannya. Di masa tersebut, bersamaan dengan
meletusnya Bandung Lautan Api yang diketahui terjadi pada 24 Maret 1946.
Eulis Zuraida, istri Ismail Marzuki mengaku 'Halo-halo Bandung' adalah
ciptaan suaminya saat masih berpacaran dengannya.Eulis Zuraida, istri
Ismail Marzuki mengaku 'Halo-halo Bandung' adalah ciptaan suaminya saat
masih berpacaran dengannya. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Sempat mereda, isu polemik/Halo-Halo Bandung/kembali terdengar beberapa
tahun lalu. Pihak keluarga mendengar keraguan ini karena dianggap
lagu/Halo-Halo Bandung/tak 'senada' dengan karya Ismail Marzuki lainnya
yang lebih mendayu.
Rachmi Aziah, anak semata wayang Ismail Marzuki tak heran
kala/CNNIndonesia.com/bertanya soal kontroversi ini.
"Kontroversi itu sudah lama saya dengar. Waktu itu ibu masih ada, saya
tanya, 'Ibu, ini lagu ada di koran katanya bukan ciptaan Aa [panggilan
akrab Ismail Marzuki]'," kata Rachmi.
"Kata ibu, 'Itu ciptaan Aa, suruh ke sini orangnya ngomong ke gue, enak
aja. Orang itu [lagu dibuat] Aa sama Uu [ketika] lagi pacaran, setelah
itu ada huru-hara Bandung Lautan Api'. Begitu katanya," paparnya.
Lihat juga:
Ismail Marzuki, Ayah 8 Tahun Berakhir di Pangkuan Istri
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525221730-234-301445/ismail-marzuki-ayah-8-tahun-berakhir-di-pangkuan-istri/>
Rachmi sebelumnya sempat mengaku memiliki partitur lagu/Halo-Halo
Bandung/, namun kemudian ia baru ingat kalau sudah dititipkan ke sebuah
lembaga arsip pemerintah yang berlokasi di Salemba, Jakarta Pusat.
*Mencari Jejak Ismail Marzuki di Halo-Halo Bandung*
/CNNIndonesia.com/kemudian mencoba menelusuri sejumlah lokasi yang
memungkinkan partitur lagu wajib nasional tersebut tersimpan, yaitu
Taman Ismail Marzuki dan Perpustakaan Nasional yang sebelumnya pernah
berlokasi di Salemba.
Berdasarkan penelusuran di Taman Ismail Marzuki, tidak ditemukan
partitur lagu/Halo-Halo Bandung/dalam koleksi yang ditunjukkan
kepada/CNNIndonesia.com./
Di sisi lain, pihak TIM juga belum pernah mendata secara pasti koleksi
partitur yang sudah diberikan pihak keluarga.
Koleksi partitur Ismail Marzuki yang didata TIM.Koleksi partitur Ismail
Marzuki yang didata TIM. (CNN Indonesia/Endro Priherdityo)
Koleksi setumpuk partitur yang sudah di-/laminating/itu hanya disimpan
di sebuah lemari besi di sebuah sudut ruangan di lantai gedung yang
sedang direnovasi.
"Partiturnya satu buku. Lagi didigitalisasi. Mudah-mudahan bisa kami
lakukan ya, karena kertasnya sudah lama. Teman-teman [TIM] mau bukanya
juga tidak berani," kata Imam Hadi Purnomo, Kepala Pengelola Pusat
Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki, saat ditemui/CNNIndonesia.com/,
Mei 2018.
Imam menjelaskan bahwa berdasarkan catatan TIM, koleksi partitur tiba di
pusat kesenian di Jakarta itu pada 2008 bersamaan dengan koleksi Ismail
Marzuki lainnya seperti biola, album foto, dan jam meja.
Namun Imam menyebut sejak dari 2008 hingga saat ini, partitur yang telah
di-/laminating/dan diberi nomor itu belum pernah diteliti. "Iya, kami
khawatir itu [rusak]. Tapi ini kami mau digitalisasikan," katanya.
Lihat juga:
Rahasia Ismail Marzuki, Sang Maestro Komponis Indonesia
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525193648-230-301393/rahasia-ismail-marzuki-sang-maestro-komponis-indonesia/>
Usai pencarian di TIM,/CNNIndonesia.com/mencoba menelusuri
jejak/Halo-Halo Bandung/di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Sebelum berkantor megah di Medan Merdeka Selatan, Perpusnas RI berkantor
di Salemba, Jakarta Pusat.
Melalui pencarian sistem Perpusnas yang dapat diakses publik, partitur
lagu/Halo-Halo Bandung/karya Ismail Marzuki tidak ditemukan. Pun ketika
mencoba meminta bantuan akses lebih lanjut oleh petugas.
Pencarian dengan kombinasi kata kunci "Bandung", "Ismail Marzuki",
"partitur" dan "Halo-Halo Bandung" hanya menemukan karya/Halo-Halo
Bandung/dalam bentuk audio berupa kaset dan cakram padat, dan sejumlah
artikel lainnya.
Menurut sejumlah petugas Perpusnas yang ikut membantu pencarian, lembaga
tersebut tidak menyimpan koleksi partitur dalam bentuk lembaran,
melainkan berupa buku atau monograf yang sudah dipublikasi secara resmi.
Lihat juga:
Kobaran Cinta dari Lagu Mendayu Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525172752-227-301343/kobaran-cinta-dari-lagu-mendayu-ismail-marzuki/>
Pun hanya ada satu partitur yang disimpan oleh Perpusnas RI,
yaitu/Indonesia Raya/karya Wage Rudolf Supratman.
Namun petugas Perpusnas RI yang enggan disebut namanya itu tidak
memungkiri ada sejumlah koleksi yang belum terdata karena proses
perapihan masih berlangsung di Salemba.
Masih ada beberapa lembaga lain yang berpeluang memiliki koleksi namun
belum ditelusuri, seperti Arsip Nasional Republik Indonesia.
Terlepas dari 'kehilangan' jejak/Halo-Halo Bandung/dalam upaya
pembuktian kontroversi tak terjawab tersebut, sejarawan dan wartawan
senior yang pernah bertemu secara langsung oleh Ismail Marzuki, Alwi
Shahab punya keyakinannya sendiri soal polemik ini.
Lihat juga:
Kenangan Orang Kwitang tentang Ismail Marzuki
<https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20180525131316-234-301223/kenangan-orang-kwitang-tentang-ismail-marzuki/>
"Hal itu [kontroversi/Halo-Halo Bandung/] hal biasa," kata Alwi
ketika/CNNIndonesia.com/menjenguknya di kediamannya di Condet, Jakarta
Timur, Mei 2018.
"Saya yakin [/Halo-Halo Bandung/] itu lagunya pak Ismail, sebab
cara-cara dia ngomong [penggunaan lirik] seperti gerakan ketika dia
masih muda," lanjutnya.*(end)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com