SAJAK KUSNI SULANG:

SANSANA SEDERHANA INI UNTUKMU, PUTU OKA 


waktu dan peristiwa demi peristiwa memutihkan rambut kita
padahal separo jalanpun belum ditempuh, wahai jauhnya tujuan
kelebat bayangannya pun belum tampak, kita tahu tak bertanya
sebab sejak awal kita sadar jalan sunyi  kanan-kiri  bencana mengintai
sejak semula kita paham langkah diayun tak sampai-sampai


dari kawan-kawan sebaya dahulu aku hitung, yang tersisa cuma berdua
kulirik kau berjalan disampingku, oi burung jalak, putera bali mata menyala
langkahmu o lelaki  berkepala tujuh, langkahmu 
seperti sediakala tetap segagah masa remaja 
saat kita tak tahu lelah menelusuri  lorong-lorong yogya  
seperti kita, lorong-lorong kota tua jawa itu 
tentu masih mengenang mengingat kita
hapal akan gelak canda
tapak begini dan begitu langkah siapa 

 
dung sinandung ale baya kunandung
tak ada tua,  tak ada tua,  bung, 
tak ada lelah, tak ada sesal di jalan tanpa ujung
rawe-rawe rantas malang-malang putung


di pucuk durian gunggang gangguk mendendang hari
kau ingat timbul darminto dan sutikno sering berkata:
sadumuk batok senyari bumi
sejengkal bumi dibela hingga mati?


hari ini aku di pedalaman benua jauh di hulu 
kau di kota gemuruh penuh debu
apa kau percaya seperti diriku
sebelum malam, matahari masih kita pacu?


mengenang sesuatu yang masih mengental 
sansana ini kutulis untukmu mengirimkan sinyal
tanpa nama pasti kau kenal


dung sinandung ale baya kunandung
tak ada tua,  tak ada tua,  bung, 
tak ada lelah, tak ada sesal di jalan tanpa ujung
rawe-rawe rantas malang-malang putung


Pedalaman Benua, 2018. 




Kirim email ke