Toleran?
 Scroll kebawah utk lihat video.
 ---
 “Untuk pakaian sudah sesuai standar atlet professional, tetap sopan dan 
nyaman. Sudah sesuai pula dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) 
DIJ. Dari peserta tidak mempermasalahkan adanya kontak fisik tersebut, sudah 
dianggap selesai,” jelasnya.

 ...
 

 
 HARUS SOPAN: Salah satu spanduk imbauan berpakaian sopan di Mlangi, Sleman. 
(DWI AGUS/RADARJOGJA)
 Sayangkan Ada Anggapan Warga Mlangi Intoleran 
https://www.radarjogja.co.id/sayangkan-ada-anggapan-warga-mlangi-intoleran/ 
 Posted By: Editor Radar Jogja https://www.radarjogja.co.id/author/editor/on:  
May 06, 2018In: Breaking News 
https://www.radarjogja.co.id/category/breaking-news/, Jogja Utama 
https://www.radarjogja.co.id/category/jogja-raya/, Sleman 
https://www.radarjogja.co.id/category/sleman-bantul/Tags: lari 
https://www.radarjogja.co.id/tag/lari/, Mlangi 
https://www.radarjogja.co.id/tag/mlangi/, pesantren 
https://www.radarjogja.co.id/tag/pesantren/, run 
https://www.radarjogja.co.id/tag/run/, tolerans 
https://www.radarjogja.co.id/tag/toleransi/
 SLEMAN – Pengurus Pondok Pesantren Aswaja Nusantara Muhammad Mustafid 
menyayangkan pemberitaan di sejumlah media sosial dan online. Terkait aksi 
warga terhadap sejumlah pelari Lets Run with Physiotherapy Be Better dan 
Healthy Universitas Aisyiyah (UNISA) Jogjakarta. Terkesan bahwa warga Mlangi 
intoleran dan melakukan persekusi.
 

 Faktanya pihak penyelenggara, menurutnya, belum berkoordinasi. Bahkan 
pemberitahuan hanya singkat melalui Plt Dukuh Mlangi Muhyidin. Sementara warga 
yang rumahnya menjadi kawasan perlintasan belum mendapatkan informasi.
 

 
 “Intinya panitia belum pernah sosialisasi ke warga tentang rute tersebut. Kami 
sejatinya tidak menolak jika dijadikan rute, namun harus mematuhi adat dan 
norma yang berlaku. Salah satunya adalah pakaian,” jelasnya Minggu (6/5).
 

 
 Anak dari Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro Mlangi ini menjelaskan adat 
istiadat di Mlangi. Sejak awal berdiri pada 1760an, Mlangi merupakan kawasan 
santri. Setidaknya hingga saat ini terhitung ada 17 pondok pesantren yang 
berdiri di Mlangi.
 

 
 Sejarah ini tentu berdampak pada budaya berbusana di kampung santri tersebut. 
Sudah menjadi adat dan norma bahwa berkunjung ke Mlangi harus sopan dan santun. 
Termasuk dalam hal berbusana harus tertutup dan sopan.
 

 
 “Tapi info dan berita yang berkembang diluar Mlangi itu intoleransi, itu salah 
besar. Justru kami sangat menjunjung toleransi, beberapa pemuka dan umat agama 
lain juga sering berkunjung ke sini. Begitu juga sebaliknya dan kehidupan rukun 
umat beragama terjaga di Mlangi,” tegasnya.
 

 
 Mengenai tata berbusana, sejatinya sejumlah spanduk telah terpasang. Salah 
satunya di sisi timur Masjid Pathok Negoro Mlangi. Imbauan untuk menggunakan 
pakaian rapi dan sopan di kawasan santri. Aturan tersebut, lanjutnya,  sudah 
terpasang sejak lama.
 

 
 “Pihak penyelenggara dalam hal ini Unisa pasti tahu di Mlangi ada spanduk 
imbauan. Kalau peserta menurut saya tidak salah karena hanya mengikuti rute 
dari panitia. Warga juga tidak tahu kalau ternyata ada peserta yang berbusana 
seperti itu,” ujarnya.
 

 
 Ketua Milad UNISA Ruhiyana menjelaskan, peristiwa tidak menyenangkan terjadi 
pada kilometer ke dua. Ada seorang warga usia lanjut yang mencegat sejumlah 
peserta. Penyebabnya adalah pakaian peserta dianggap tidak sopan.
 

 
 Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan UNISA ini menyebutkan sempat ada kontak fisik 
kepada dua peserta. Pihaknya juga telah melakukan klarifikasi ke sejumlah tokoh 
Mlangi, Jumat (4/5). Lets Run with Physiotherapy Be Better dan Healthy Unisa 
sendiri berlangsung Selasa (1/5).
 

 
 
 “Untuk pakaian sudah sesuai standar atlet professional, tetap sopan dan 
nyaman. Sudah sesuai pula dengan Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) 
DIJ. Dari peserta tidak mempermasalahkan adanya kontak fisik tersebut, sudah 
dianggap selesai,” jelasnya. (dwi/ila/mg1)
 https://www.youtube.com/watch?v=COKxN-MwajE 
https://www.youtube.com/watch?v=COKxN-MwajE

 

Kirim email ke