Nah di sini cukup aneh. Kalau saya perhatikan hari masih pagi (sekitar jam 
9.30), dan yang ujian praktek cuman sedikit, paling 10 orang maksimal. Tapi 
yang menunggu di loket foto SIM sudah buanyaakk. Dugaan saya, kayaknya banyak 
yang jalur ekspress dan langsung foto SIM aja tanpa ujian apapun. Masa masih 
sepagi ini, sudah banyak yang lulu ujian teori, praktek dan kemudian foto? 
Padahal saya tidak melihat banyak di lapangan tadi.
....Dan juga yang tidak kalah penting, kalau teman-teman ingin Indonesia bebas 
korupsi, jangan menyogok! Start from thyself.
....

PERJUANGAN SETAHUN MENDAPATKAN SIM TANPA MENYOGOK


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Perjuangan Setahun Mendapatkan SIM Tanpa Menyogok

Hari ini genap setahun sudah ikhtiar saya mendapatkan SIM A dan C dengan jujur, 
tanpa menyogok. Tenang, judulny...
 |

 |

 |



11 JULY 2017 | IBENIMAGES

Wajah gembira setelah mendapatkan SIM A dan SIM C setelah proses selama 1 
tahunHari ini genap setahun sudah ikhtiar saya mendapatkan SIM A dan C dengan 
jujur, tanpa menyogok. 


Tenang, judulnya aja yang dibuat dramatis. Kesannya sepanjang tahun saya 
berjuang untuk lulus ujian SIM. Padahal kenyataannya adalah, hari ini tepat 
setahun yang lalu saya mengikuti ujian mendapatkan SIM baru, dan gagal pada 
ujian prakteknya. Sialan. Nah hari ini saya datang kembali untuk mengulang.

Sewaktu tahu saya gagal ujian SIM, teman-teman saya pertanyaannya sama, “kok 
nggak bayar aja sih?”

Hehehe. Begitulah Indonesia. Makanya gimana mau ngarep bangsa ini bebas 
korupsi, kalau dari diri sendiri aja kita malah mau nyogok. Tapi serius, itu 
memang salah satu alasan kenapa saya berniat untuk mengikuti ujian SIM tanpa 
menyogok. Alasan lain, tahun lalu memang monitoring pengurusan SIM sedang 
ketat-ketatnya. Waktu saya mengurus di Kantor SIM di Daan Mogot Tangerang, 
susah sekali saya menemukan “escort” (baca: calo) yang dapat membantu 
pengurusan SIM dengan “jalur cepat”. Semua terlihat mengikuti prosedur dengan 
tertib. 

Jadilah pada tanggal tersebut, tepat setahun yang lalu, tanggal 11 Juli 2016,  
dimulainya perjuangan saya mendapat SIM selama setahun.

Semua ini gara-gara satu hal: saya lupa memperpanjang SIM saya yang sudah 
expired per tanggal 1 Mei 2016. Dan berdasarkan peraturan terbaru dari 
Kepolisian RI, telat mengurus perpanjangan satu hari saja, maka SIM Anda akan 
dibatalkan, dan Anda diwajibkan untuk mengulang proses mendapatkan SIM, lengkap 
dengan ujian-ujiannya. Blimey. Jadi itulah cerita kenapa saya harus mengulang 
mendapatkan SIM lagi. 

Oke berikut pengalaman (baca: perjuangan) saya.

Tips utama dari mengurus SIM sendiri adalah: datang pagi. Kantor dibuka jam 8, 
tapi saya sarankan untuk hadir jam 7 atau 7.30 paling lambat. Karena acara di 
Kantor SIM itu seperti di Disneyland saat summer:  ngantri dan ngantri. Semakin 
siang semakin ngantri.

Tahun lalu saya datang jam 8 kurang. Dan antrian sudah lumayan panjang, 
walaupun saat itu baru saja selesai libur panjang lebaran. Berikut saya 
sampaikan tahapan proses mengurus SIM, siapa tahu ada yang perlu sebagai 
panduan:

Langkah 1: Fotokopi KTP dan SIM

Langkah pertama yang sebaiknya Anda lakukan adalah fotokopi KTP dan SIM 
sebelumnya (kalau ada) sebelum datang ke Kantor SIM. Hal ini untuk mengurangi 
acara ngantri. Siapkan saja 5 copy KTP untuk 1 buah SIM, kalau mau mengurus 
untuk lebih dari 1, ya tinggal dikalikan. Kalau lupa fotokopi, di Kantor SIM 
ada sih jasa fotokopi. Tapi ya itu, kalau lagi rame, ya antri. Tapi gak terlalu 
lama mustinya. (Biaya: Rp. 5000, Waktu: 5 menit)  
Antrian bayar tes kesehatan (kiri) yang mengular, dan antrian fotokopi (kanan) 
yang nggak terlalu
Langkah 2: Bayar Tes Kesehatan

Lalu langkah berikut adalah bayar loket kesehatan 25.000. Lokasi loket 
kesehatan ini di luar gedung utama pengurusan SIM. Jadi kalai Anda masuk ke 
Kantor SIM, letak loket ini di sebelah kiri sebelum masuk parkiran. Ngantrinya 
lumayan lama di sini. (Biaya: Rp. 25.000, Waktu: 20 menit)  

Langkah 3: Tes Kesehatan

Setelah bayar, Anda akan masuk ke loket tes kesehatan, yang sebetulnya adalah 
tes rabun mata. Kalau yang rabun dan gak bisa membaca huruf-huruf di dinding, 
akan disuruh pulang untuk pakai kacamata dulu. Lha iya gimana sih, mau ujian 
SIM kok rabun. Tapi tes kesehatannya cepet kok, ngantrinya aja yang agak lama 
(Waktu: 5 menit)


Ruang Tes Kesehatan



Langkah 4: Bayar Biaya Pengurusan SIM

Nah setelah periksa kesehatan inilah baru kita masuk ke Gedung Utama Kantor 
SIM. Teorinya, yang boleh masuk ke Gedung ini hanya Peserta Tes. Pengantar 
apalagi escort, jelas gak boleh masuk. Setiap peserta akan diberikan badge 
peserta ujian SIM sebelum masuk ke dalam gedung. Tahun lalu sih saya nggak 
mendapati banyak calo berkeliaran. Tapi terus terang pagi ini saya lihat mereka 
dimana-mana. Jenis dan tipenya pun macam-macam, berbeda-beda harga, dapat 
dilihat dari pakaian yang dipakai. Kalau yang agak murah sepertinya agak 
menyaru seperti tukang ojek dengan jaket motor. Nah yang kelas escort terlihat 
parlente dengan batik. Yang dianter lebih parlente lagi. Batik tulis nge-press 
bodybersama pasangan dengan tas mewah.. Lah malah ngelantur, but you got my 
point. 


Antrian masuk Gedung Utama



Anyway, langkah pertama setelah masuk ke Gedung Utama adalah membayar biaya 
pengurusan SIM. Pembayaran langsung dilakukan di loket bank BRI. Biaya untuk 
SIM A adalah Rp. 120,000 dan untuk SIM C Rp 100,000. Proses bayar cukup cepat.  
Dengan biaya ini sudah termasuk Asuransi kecelakaan yang Anda akan dapatkan 
kartu kepesertaannya langsung.(Biaya: 100,000 – 120,000, Waktu: 2 menit). 

Langkah 5 – Isi Formulir

Setelah itu isi formulir. Lengkap mengisi, masukkan formulir ke Loket 4 (untuk 
SIM C) dan Loket 6 (untuk SIM A). Nggak ada antrian di sini. Cuman perlu waktu 
untuk mengisi formulir. (Waktu: 5 menit)

Langkah 6 – Ujian Teori

Nah, setelah memasukkan formulir, baru deh kita memasuki tahapan-tahapan ujian 
SIM. Tahapan pertama adalah Ujian Teori. 

Untuk mengikuti ujian teori ini kita naik ke lantai 2 Gedung Utama. Di lantai 
2, terdapat ruang tunggu, karena kita harus antri untuk masuk ke ruang ujian. 
Sekali dibuka, sekitar 40 orang peserta ujian akan masuk ke dalam ruang tes 
yang berbasis komputer…. yang sayangnya tidak menyala. Hehehe. Jadi kita tetap 
aja mengerjakan ujian teori dengan menggunakan kertas dan pensil. Entah kenapa. 
Mungkin agar ibu-ibu penjual pensil di luar Gedung Utama nggak kepotong 
rejekinya. Hehehe. 
Kertas lembar jawaban Ujian Teori. Itu monitor cuman jadi pajangan 
Anyway, tes teori membutuhkan waktu sekitar 20 menit untuk masing-masing SIM. 
Ada 30 soal yang harus dikerjakan. Soal ada yang gampang, ada yang tricky, ada 
yang ngeselin. 

Yang gampang berkaitan contohnya arti rambu-rambu lalu lintas. Kalau pernah 
belajar soal rambu-rambu lalu lintas di internet, mustinya bisa deh ngerjain. 
Nggak susah. 

Yang tricky soal yang berkaitan dengan kasus di persimpangan, Anda diminta 
untuk menentukan kendaraan mana yang bisa jalan terlebih dahulu. Ini sebenernya 
logika, yang penting paham prinsipnya, seperti “BETI BOLANG” (Belok Kiri Boleh 
Langsung), atau prinsip kendaraan gak boleh motong jalur orang. Nggak ngerti 
prinsip ini? Wah berarti sampeyan memang belum boleh nyetir! Hehehe. Untung 
saya jelek-jelek gini mantan PKS (Patroli Keamanan Sekolah, bukan Partai itu 
yaa). Jadi sedikit banyak memori saya mengenai pengaturan lalu lintas masih 
banyak yang lumayan nyantol. 

Nah yang ngeselin kalau sudah ada soal hafalan, apalagi kalau berkaitan dengan 
Undang Undang. Ditanya suatu peraturan lalu lintas didasarkan pada UU tahun 
berapa? Yaelah, mana ketehek! 

Setelah ujian, kita kembali ke Lantai 1 untuk menunggu dipanggil, dan 
diinformasikan hasil ujian teori. Lumayan lama nunggu ada sekitar 20 menitan. 
Alhamdulillah, saya bisa lulus dalam percobaan pertama! Setelah ngobrol-ngobrol 
dengan sesama peserta, ternyata ini cukup jadi prestasi juga. Karena teman 
peserta yang lain ternyata minimal 2x harus ikut ujian teori sebelum bisa ikut 
ujian praktek. Total dari 30 pertanyaan, minimal 21 soal harus dijawab dengan 
benar untuk bisa lulus. And I exactly did that. Untuk SIM A, 21 soal terjawab 
benar, untuk SIM C, 22 soal. Hehehe, lumayan. (Waktu: 1 jam 20 menit)


It’s a near miss. Lulus dengan nilai pas-pasan 



Langkah 7 – Ujian Praktek 

Nah setelah lulus ujian teori ini, baru peserta bergerak menuju samping Gedung, 
tempat area ujian praktek. Ujian praktek ini terus terang enggak gampang. 

Untuk ujian SIM A, kita boleh pilih mobil matic atau manual, dan harus 
menyelesaikan sekitar 9 keterampilan, dari keterampilan berhenti di tanjakan 
sampai keterampilan parkir. Keterampilan yang paling sulit menurut saya 
sebenernya adalah slalom mundur. 

Ya, slalom mundur! Anda diminta untuk slalom mundur melewati jalur yang 
ditetapkan dan dibatasi oleh portal portal. Dengan hanya melihat spion, Anda 
harus berhasil hanya dalam satu kali percobaan tabpa menyentuh portal. 
Ajaibnya, saya dapat menyelesaikannya dengan baik. 

Lalu kemudian ada juga ujian untuk parkir paralel. Ini juga tricky. Harus bisa 
dilakukan dalam sekali kesempatan, jadi gak boleh maju mundur. Ini juga saya 
bisa lulus dengan cukup baik. 
Lokasi ujian praktek SIM A, dengan mobil Toyota Rush sebagai mobil standar 
penguji
Nah, justru tahun lalu yang membuat saya harus mengulang adalah parkir seri.. 
Parkir seri ini adalah parkir mundur, seperti parkir ke dalam garasi dengan 
arah seperti membentuk huruf “L”. Ini adalah manuver parkir yang saya lakukan 
sehari-hari kalau parkir di garasi rumah. Harusnya lulus dong? 

Eh ternyata tidak!

 Karena saking pedenya mundur, saya lupa mengamati kalau di belakang lokasi 
parkir ada portal rendah yang gak terlihat di spion. Jadi mobil saya sudah 
mulus masuk ke dalam area parkir, tapi ternyata ditunjukkan oleh Pak Polisi 
kalau saya sedikit menabrak portal. Pak Polisinya diem aja lagi pas saya sudah 
masuk mulu ke dalam areal parkir, hanya untuk dibiarkan mentok ke portal. Yak, 
tidak lulus! Ulang! Sialaaann. 

Masalahnya kalau tidak lulus, paling cepat waktu untuk ujian ulang adalah 2 
minggu dari tanggal ujian terakhir. Tidak bisa segera ulang. Waktunya kan yang 
susah buat orang kantoran kayak kita? 

Masih dongkol karena nggak lulus ujian SIM A, saya kemudian mengikuti ujian 
praktek SIM C. 

Nah ini ujiannya juga nggak gampang. Kita harus bawa motor (yang disediakan 
adalah Honda Beat) untuk mengikuti jalur slalom dan jalur manuver angka 8. 
Jalur yang ditempuh sempit, dan kaki dilarang untuk turun ke jalan, kecuali 
pada tempat-tempat di mana memang kita diharuskan untuk berhenti. 

Nah berhenti pun ini ada aturannya. Kalau berhenti, diharuskan kaki yang turun 
adalah sebelah kiri. Dan setelah itu harus menengok ke belakang untuk cek 
situasi keamanan. Kalau kaki kanan yang turun, atau lupa nengok ke belakang, 
alamat nggak lulus. 

Dan itu yang terjadi pada saya. Karena Vespa jarang-jarang dipakai, skill motor 
saya juga ternyata berkarat. Kaku banget saat itu. Jadi ada spot dimana saya 
harus berhenti dengan rem mendadak, saya kurang bisa jaga keseimbangan dan 
akibatnya kaki kanan yang turun. Haiyah, saya dinyatakan gagal juga untuk SIM 
C! Kutu kupret. Harus balik lagi dah ke sini untuk Ujian SIM A dan SIM C. 
Dan itulah yang terjadi. Saya harus mengulang praktek. Dan karena kesibukan 
pekerjaan (dan malasnya hati untuk ke Daan Mogot ujian lagi), baru satu tahun 
kemudian saya kembali. 
Fast forward to this morning. Akhirnya saya memaksakan diri untuk datang 
kembali ke Kantor SIM untuk mengulang ujian praktek. Karena sudah pas 1 tahun 
sejak terakhir saya ikut ujian, dan saya pernah dengar dari peserta yang juga 
gagal ujian praktek tahun lalu, kalau paling lambat 1 tahun sejak saat ujian 
terakhir untuk mengulang. Hehe mepet ya?

Jadi pagi ini saya kembali datang pagi dan langsung menuju lokasi ujian 
praktek. 

Kali ini, kebalikannya saya mulai dengan ujian SIM C dulu. Karena paling pagi 
datangnya, saya diminta untuk yang ujian pertama. Walah, walaupun sudah 
dijelaskan secara verbal hal-hal apa yang diminta dan diujikan, terus terang 
sudah lupa saya sequence-nya. Jadi saya pun menolak untuk jadi yang pertama, 
dan lebih memilih mengantri sambil melihat peserta lain. 

Setelah melihat 3 peserta ikut ujian (dimana hanya 1 yang lulus), saya kemudian 
memberanikan diri untuk menaiki motor uji. Saya full konsentrasi dan 
ingat-ingat betul cara yang benar. Dan aneh bin ajaib, kali ini saya bisa 
melakukan ujian SIM C dengan sempurna. Tanpa cacat! Alhamdulillah. Saya lulus 
SIM C! Horeee!

Dengan berbekal kepercayaan diri yang tinggi saya pun menuju tempat uji praktek 
SIM A. Kalau motor aja yang jarang-jarang saya pakai, saya bisa lulus sempurna, 
mustinya mobil gak masalah dong? 

Wrong. 

Memang dalam ujian ini kita gak boleh anggap enteng. Waktu saya melakukan ujian 
mundur seri (mundur garasi) lagi, sebetulnya kondisi mobil saya tidak sempurna. 
Ada portal yang tersenggol saat saya mundur walaupun tidak sampai jatuh. Kalau 
di ujian pertama mungkin saya sudah tidak diluluskan. Tapi mungkin karena 
kasihan melihat wajah saya yang gosong (hasil berjemur di Flores), akhirnya Pak 
Polisi yang asli Solo berkenan meluluskan saya. Horeeee! Alhamdulillah! Lulus 
dua-duanya!  (Waktu: 1 tahun 1 jam . Hehehe kidding, yah kira-kira waktu bersih 
untuk ujian dan menunggu adalah SIM A 30 menit, untuk SIM C 30 menit)
Horee akhirnya lulus ujian praktek!


8. Setelah Ujian Praktek berhasil dilalui, langkah terasa ringan. Saya tinggal 
menuju loket entry data SIM. Kita hanya menyerahkan struk hasil ujian praktek 
dan menunggu data kita di entry. Sebentar saja kok (Waktu: 5 menit)


Loket untuk menyerahkan hasil uji praktek SIM dan entry data



9. Setelah data kita di entry, kita diminta untuk menuju Loket Foto SIM. Nah di 
sini cukup aneh. Kalau saya perhatikan hari masih pagi (sekitar jam 9.30), dan 
yang ujian praktek cuman sedikit, paling 10 orang maksimal. Tapi yang menunggu 
di loket foto SIM sudah buanyaakk. Dugaan saya, kayaknya banyak yang jalur 
ekspress dan langsung foto SIM aja tanpa ujian apapun. Masa masih sepagi ini, 
sudah banyak yang lulu ujian teori, praktek dan kemudian foto? Padahal saya 
tidak melihat banyak di lapangan tadi. Kalau pun itu adalah peserta yang 
tinggal foto karena pada hari sebelumnya sudah menyelesaikan ujian teori dan 
praktek, tapi belum sempat foto: masa sih sebanyak itu? Wallahualam. 

Anyway, menunggu giliran difoto nggak terlalu lama. Hanya 10 menit. Anda hanya 
tinggal duduk antri, menunggu di panggil, dan kemudian difoto secara digital. 
(Waktu: 10 menit)


Ruang foto SIM
10. Nah langkah terakhir adalah mengambil SIM. Loket terletak di luar Gedung 
Utama dekat lapangan tempat uji praktek. Tanpa harus menyerahkan struk hasil 
ujian, kita tinggal menunggu dipanggil. Saya cukup surprised, kurang dari 5 
menit nama saya sudah dipanggil, dan SIM A dan SIM C saya sudah tercetak dengan 
rapi untuk dapat saya gunakan untuk periode 5 tahun! Yeay! 


Demikian lah cerita pengalaman saya berjuang selama setahun untuk mendapatkan 
SIM A dan SIM C tanpa menyogok. Sebetulnya mendapatkan SIM tanpa menyogok 
sangat-sangat doable. Kalau lancar total waktu yang dibutuhkan adalah 200 
menit, atau sama dengan 3 jam 20 menit. Setengah hari kelar lah teorinya dapat 
lah SIM. Tapi ya itu, karena kemungkinan besar nggak sekali coba lulus,  
mungkin kita harus korban waktu karena bolak-balik ke Kantor SIM ini. Kalau 
saya baca pengalaman warga negara lain di Eropa atau Amerika Serikat, Ujian SIM 
merupakan suatu ujian yang sangat dianggap serius. Mengingat sopir kendaraan 
bertanggung jawab terhadap nyawanya dan nyawa orang lain. Jadi di sana, tidak 
heran seseorang bisa mengulang sampa 4-5 kali untuk mendapatkan SIM. Alamak!

Tapi menurut saya kalau kita mau tingkat kecelakaan lalu lintas menurun 
drastis, kita harus mau memaksakan diri kita, keluarga kita untuk mulai 
mengikuti Ujian SIM. Yang berhasil lulus ujian teori dan praktek, saya rasa 
akan cukup mumpuni untuk mengendarai mobil dan motor di belantara lalu lintas 
Indonesia yang tidak ramah. Serius.

Dan juga yang tidak kalah penting, kalau teman-teman ingin Indonesia bebas 
korupsi, jangan menyogok! Start from thyself.

Dan mungkin yang lebih penting dari semuanya: kalau sudah punya SIM, jangan 
lupa perpanjang! Selamat malam!




Kirim email ke