https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_
ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883
Rabu 06 Juni 2018, 16:08 WIB
Kolom
Bung Karno, Islam, dan Khilafah
Ruhaini - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
Ruhaini
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
1 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
Bung Karno, Islam, dan Khilafah Ilustrasi: Zaki Alfarabi/detikcom
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4056247/bung-karno-islam-dan-khilafah?_ga=2.121981387.1382695226.1528305883-299307861.1528305883#>
*Jakarta* - Megawati Insitute mengadakan diskusi berseri untuk menggali
pemikiran Bung Karno dan Islam. Tema seri diskusi pada 24 Mei lalu
adalah pemikiran Bung Karno tentang Islam yang dikaitkan dengan khilafah
dalam konteks Indonesia sebagai masyarakat Muslim terbesar di dunia.
Sudah jamak diketahui bahwa Bung Karno menunjukkan kecintaan terhadap
Islam dengan cara pandang yang kritis melalui dialognya dengan para
tokoh Islam pada masanya seperti Tuan A. Hasan, serta tokoh-tokoh
lainnya. Sikap kritis Bung Karno dimaksudkan agar Islam secara substansi
yang digambarkan sebagai 'Api Islam' dapat merespons modernitas sehingga
mampu menjadi basis teologis suatu bangsa modern dan demokratis.
Bung Karno juga aktif mengkaji Islam secara internasional, terutama
proses transformasi politik Islam dari keruntuhan Kekhilafahan Turki
Ustmani menjadi Republik, serta munculnya negara bangsa di Timur Tengah.
Bung Karno menaruh perhatian besar terhadap proses modernisasi Kemalis
sekuler dalam membangun Turki modern. Kemal Attaruk menghilangkan
unsur-unsur Islam yang berlumuran dekadensi moral dan kerusakan sosial
yang pada gilirannya menghancurkan kekuasaan Turki yang telah berkuasa
selama 642 tahun (1281-1923).
Sudah dapat dipastikan, Bung Karno tidak mengambil khilafah sebagai
bentuk negara merdeka yang dicitakan karena dekadensi tersebut. Namun,
yang menarik adalah bagaimana Bung Karno mencari antitesis dari khilafah
secara berbeda dengan Kemal Attatruk yang menempuh jalan sekukarisme
radikal dalam membangun Turki modern, termasuk yang paling ekstrem
adalah mengganti azan dalam bahasa Turki.
Betapapun kritisnya Bung Karno terhadap Islam, sampai Bung Karno
menyebut 'Islam sontoyo' dalam mendiskripsikan Islam yang
anti-modernitas, tapi ia tidak lantas menghilangkan Islam dalam konsep
keindonesiaan. Bung Karno bersama para pendiri bangsa menyepakati
urgensi agama dalam kehidupan bernegara.
Yang mereka pikirkan bagaimana menjembatani eksklusivitas agama-agama
dengan suatu 'kesepakatan bersama' yang inklusif, dan mampu
merepresentasikan agama-agama tersebut dalam tatanan kebangsaan dan
relasi sosial yang modern.
Lahirnya Pancasila yang digagas oleh Bung Karno, dan dimatangkan oleh
tokoh-tokoh kemerdekaan merupakan gagasan genius dalam meletakkan agama
secara substantif dan menegosiasikan dalam konteks negara bangsa yang
plural dan multi-kultural.
Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi "jalan tengah' dan '/margin of
appreciation/' keberadaan semua agama tanpa terjebak dalam relativitas
yang menghilangkan substansinya. Gagasan cerdas ini yang menyelamatkan
Indonesia dari sekularisme radikal yang merampas religiositas warga dan
menimbulkan 'dendam kolektif" seperti di Turki.
Di sisi lain, Sila Pertama ini juga menyelamatkan Indonesia dari
kerumitan relasi Islam simbolis dan negara yang dialami negara-negara di
Timur Tengah. Jadilah Indonesia sebagai r/eligious friendly country./
Pendekatan yang ditempuh Bung Karno dan para tokoh kemerdekaan terbukti
lebih ' liat' dan ' tahan uji' ketimbang sekularisme Attatruk yang rapuh
terlibas gerakan Islamis pimpinan Recep Erdogan pada 2003.
Islam moderat yang menjadi api Pancasila akan terus terjaga jika
masyarakat Indonesia mampu dan mau merawatnya, serta tidak menyerahkan
pada kelompok-kelompok pendukung khilafah yang telah kehilangan
relevansinya. Dan, mempertahankannya dari ancaman sekularisme radikal
yang berpotensi memunculkan /backlash/ populisme agama.
*Ruhaini* /Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional/
*(mmu/mmu)
*