Eh…sudah jelas-jelas mendeklarikan minta klarifikasi lagi.
Semestinya pihak kampus minta maaf pada pemerintah

From: [email protected] [mailto:[email protected]]
Sent: Thursday, June 07, 2018 1:26 PM
Subject: [**EXTERNAL**] [GELORA45] Stigmatisasi Radikalisme di Kampus 
Merugikan, IPB Minta Klarifikasi BNPT





Radikalisme ilmu pengetahuan alam atau apa? hehehehehe



http://www.panjimas.com/news/2018/06/07/stigmatisasi-radikalisme-di-kampus-merugikan-ipb-minta-klarifikasi-bnpt/





Stigmatisasi Radikalisme di Kampus Merugikan, IPB Minta Klarifikasi 
BNPT<http://www.panjimas.com/news/2018/06/07/stigmatisasi-radikalisme-di-kampus-merugikan-ipb-minta-klarifikasi-bnpt/>

7 Jun 2018

[http://www.panjimas.com/wp-content/uploads/2018/06/Kampus-IPB.jpg]<http://www.panjimas.com/news/2018/06/07/stigmatisasi-radikalisme-di-kampus-merugikan-ipb-minta-klarifikasi-bnpt/>



JAKARTA (Panjimas.com) – Rektor IPB, Dr Arif Satria mengatakan telah meminta 
klarifikasi BNPT terkait data yang menyebutkan tujuh kampus terpapar 
radikalisme.

“Kami dengan BNPT masih terus klarifikasi, kami berharap BNPT bisa memanggil 
para pimpinan perguruan tinggi untuk bisa memberikan informasi yang lebih 
lengkap dan lebih utuh, sehingga kita bisa mencermati,” kata Arif di Bogor, 
Selasa.

Arif menyebutkan, sebagai perguruan tinggi, IPB harus bisa terbuka terhadap 
masukan dan kritik.

Menurutnya, masyarakat ingin mengetahui rasional dan objektif mendengarkan 
klarifikasi dari BNPT terkait bagaimana tujuh nama perguruan tinggi tersebut 
bisa muncul.

“Supaya bisa fair, supaya lebih enak, kalau itu berdasarkan hasil kajian, apa 
kriterianya apa, metodenya bagaimana, pengambilan data seperti apa,” katanya.

Arif mengakui, dengan adanya pernyataan BNPT menjadi isu yang sudah menyebar, 
IPB dalam posisi yang dirugikan, karena stigmatisasi itu bagian dari 
penyederhanaan dan generalisasi terhadap masalah-masalah yang ada.

“Jangan sampai nanti semua orang ke masjid takut, mau mengaji takut, pakai 
kerudung takut itu dianggap radikal, ini sesutau yang tidak kondusif, bukankah 
hak beragama masyarakat perlu diperluas,” katanya.

Ia mengatakan, saat ini mahasiswa IPB didorong energinya difoksukan pada 
pengembangan profesi, difokuskan pada pengembangan profesionalitas, dan 
energinya.

IPB dibangun untuk membangun bangsa. Membangun bangsa dengan profesi yang kuat 
diikuti dengan akhlak yang baik dengan manajemen yang baik lagi.

Arif mengatakan, sampai saat ini pihaknya belum mendapat klarifikasi dari BNPT. 
Tetapi secara lisan permintaan untuk klarifikasi telah disampaikan Senin malam 
pada momen wawancara di televisi.

Dalam kesempatan itu, Arif menyampaikan secara lisan ke perwakilan BNPT yang 
hadir, bahwa IPB siap untuk bekerja sama, dan koorporatif serta terbuka dengan 
pihak-pihak otoritas.

“BNPT otoritas negara, IPB harus mendukung bahwa peran negara melindungi 
warganya,” katanya.

Arif menambahkan, stigmatisasi radikalisme di kampus ini bisa berdampak pada 
kekhawatiran orang tua, dan calon-calon mahasiswa. Padahal kampus-kampus yang 
ada di Indonesia benar-benar menyediakan ajang yang bagus untuk membuat 
mahasiswa berkembang, dan untuk menumbuhkan potensinya.

IPB lanjut dia, mendukung Negara dalam menegakkan keamanan, kedamaian, 
kenyamanan untuk berkehidupan, serta saling percaya.

“Berharap kalau itu dibangun, kalau energinya saling percaya jadi sangat kuat, 
untuk menghadapi isu terorisme yang sangat kuat ini,” kata Arif. [AW/Antara]


Kirim email ke