Selasa 12 Juni 2018, 11:43 WIB
Profesor Asal Indonesia Raih Bintang Penghargaan di Australia
Australia Plus ABC - detikNews
Share 0
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
Tweet
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
Share 0
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>16
komentar
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
[image: Profesor Asal Indonesia Raih Bintang Penghargaan di Australia]
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
<https://news.detik.com/australia-plus-abc/d-4065367/profesor-asal-indonesia-raih-bintang-penghargaan-di-australia#>
*New South Wales* -

Seorang profesor asal Indonesia yang sekarang bekerja di Universitas New
South Wales, Prof Rose Amal mendapat bintang penghargaan dari pemerintah
Australia bernama Companion of the Order of Australia (AC).

Penghargaan ini diberikan sebagai bagian dari tradisi memperingati ulang
tahun Ratu Elizabeth yang masih secara resmi menjadi kepala negara
Australia yang diumumkan hari Senin (11/6/2018).

Setiap tahun di bulan Juni, untuk memperingati ulang tahun tersebut,
pemerintah Australia mengeluarkan daftar mereka yang dianggap berjasa di
bidang masing-masing untuk mendapatkan bintang kehormatan.

Companion of the Order Australia adalah penghargaan yang tertinggi yang
bisa diberikan kepada warga Australia dan setiap tahunnya hanya diberikan
kepada 35 orang.

Sebelumya penghargaan tertinggi adalah Knight dan Dame of the Order of
Australia, di mana mereka yang mendapatkannya boleh menyandang gelar Sir or
Dame, namun penghargaan itu sekarang dihentikan, sehingga AC menjadi
penghargaan tertinggi.

Prof Rose Amal yang lahir di Medan dan pindah ke Sydney 35 tahun lalu
mendapatkan penghargaan AC itu karena jasanya di bidang teknik kimia
khususnya di bidang teknologi partikel.

Selain itu, ibu dari dua anak ini juga diberi penghargaan atas perannya
sebagai role model dan mentor bagi perempuan di dunia sains.

"Saya sangat sangat merasa bangga atas penghargaan ini." kata Amal.

"Saya bisa mengatakan ketika saya pindah ke sini 35 tahun lalu sebagai
mahasiswa, saya tidak pernah berpikir - tidak pernah bermimpi - bahwa saya
akan mendapat penghargaan di Australia."

"Saya kira ini adalah tanah yang memberi kesempatan kepada banyak di antara
kita."

"Ini adalah penghargaan tidak saja bagi saya, namun bagi semua insinyur
teknik kimia, penghargaan bahwa kami membuat perbedaan, kami membuat dunia
yang lebih baik untuk kita tinggali."

ABC berbicara dengan Profesor Amal di tahun 2014 ketika dia menjadi
insinyur perempuan pertama yang diterima di badan ilmu pengetahuan
bergengsi Australian Academy of Science.

Amal juga masuk dalam salah seorang dari 100 insinyur paling berpengaruh di
Australia.
Mendorong anak muda menekuni sains

Bidang yang digeluti Prof Rose Amal adalah photocatalysis dan nanoteknologi
dalam usahanya menggunakan energi terbarukan seperti matahari untuk
memproduksi hidrogen.

"Sederhananya menggunakan matahari untuk memecah air untuk membuat
hidgrogen."

Dalam wawancara dengan ABC di tahun 2014 tersebut Profesor Amal menjelaskan
apa yang dilakukannya adalah melakukan pemurnian dan pembersihan dua unsur
yang penting bagi keberlangsungan kehidupan manusia: air dan udara.

"Photocatalysis katalis mengubah energi matahari menjadi energi kimia,"
jelas Rose, "Saat saya memulai kerja saya dalam bidang photocatalysis, saya
meneliti tentang bagaimana kita bisa menggunakan cahaya matahari untuk
menguraikan polutan di air atau bahan organik di udara."

Contoh-contoh polutan atau organik di udara, misalnya parfum dan bahan
pembersih yang bisa terhirup.

"Reaksi kimia sudah banyak digunakan di industri, untuk membersihkan air.
Biasanya bahan kimia digunakan untuk menghancurkan polutan di air, jadi
pada dasarnya penelitian saya mencari tahu apakah kita bisa memanfaatkan
matahari untuk proses ini, karena di Australia banyak sinar matahari,"
jelas Rose.

Dalam proses pembersihan air, Rose sedang meneliti cara untuk menjadikan
titanium dioksida memiliki sifat seperti magnet, agar bisa dipisahkan
dengan mudah dari air dengan menggunakan medan magnet.

Namun, menurutnya, proses pemurnian air dengan photocatalysis mungkin
terlalu mahal untuk diterapkan dalam skala besar dan untuk kebutuhan
sehari-hari.

Selain melakukan penelitian, Prof Amal juga membimbing para mahasiswa
termasuk mereka yang berasal dari Indonesia.

"Sekarang ini di fakultas 24 persen mahasiswa adalah perempuan, jadi saya
berharap dalam lima sampai 10 tahun mendatang jumlah mahasiswa perempuan
dan laki-laki akan berimbang." katanya lagi.

Selain itu, Rose Amal juga berusaha mendorong para siswa sekolah menengah
di Australia untuk menekuni bidang STEM (sains, teknologi, teknik dan
matematika).

"Kadang ketika berbicara dengan anak-anak muda, mereka merasa STEM itu
susah, dan mereka lebih baik memilih subjek pelajaran yang lebih mudah
untuk mendapatkan nilai yang lebih bagus." katanya dalam wawancara dengan
harian Australia The Sydney Morniing Herald.

"Kita memerlukan ilmuwan yang bagus, insinyur yang kreatif, dan pakar
teknologi yang kreatif. Bila tidak, saya tidak yakin dengan masa depan kita
semua."

"Kita perlu mematangkan, memberikan inspirasi dan mendukung generasi muda
kita." katanya lagi.

"Bila anak-anak kita tertarik dengan sepakbola, kita akan mencarikan
pelatih yang baik. Kita juga harus melakukan hal yang sama dengan STEM."
kata Prof Rose Amal lagi.
[image: Rose Amal ketika menjadi siswa SMA Santo Thomas di Medan Sumatera
Utara di tahun 1980-an]
Rose Amal ketika menjadi siswa SMA Santo Thomas di Medan Sumatera Utara di
tahun 1980-an (Foto: SMH)


Sejak SMA sudah tertarik dengan ilmu kimia

Setelah menamatkan pendidikan di SMA Santo Thomas di Medan, Rose Amal
pindah ke Australia di bulan Oktober 1983 untuk melanjutkan pendidikan S1
di jurusan teknik kimia University of New South Wales di Sydney.

Menurutnya, dia sejak SMA sudah tertarik dengan ilmu kimia, fisika dan
matematika walau orang tuanya sempat menyarankannya menjadi dokter, namun
ia tak terlalu menyukai biologi.

Ia memilih Australia sebagai tempat melanjutkan pendidikannya. Rose sempat
juga mempertimbangkan Amerika Serikat dan Kanada, namun ia merasa Australia
lebih cocok karena dekat dengan Indonesia.

Setelah merampungkan gelar S1, Rose ditawari beasiswa untuk meraih gelar
PhD (Doktor). Meski saat itu ia ditawari pekerjaan di Singapura, namun Rose
memilih melanjutkan pendidikannya.

Kemudian, ia bekerja di badan Australian Nuclear Science Technology
Organization (ANSTO) selama sekitar 18 bulan, sebelum akhirnya melamar
untuk posisi akademik di fakultas teknik kimia UNSW pada tahun 1992, dan
diterima.

Meskipun sudah puluhan tahun di Australia dan sudah menjadi warga negara
Australia, Rose merasa di dalam dirinya ada hal-hal yang khas Indonesia,
atau Asia, seperti kebiasaan menghormati yang lebih tua.

Sesekali ia pulang ke Medan untuk mengunjungi saudara-saudaranya atau
berkumpul dengan orang tuanya yang kini tinggal di Singapura.

"Saya dekat dengan keluarga saya sendiri, anak sendiri, namun saya
merasakan kurangnya kedekatan pada keluarga besar. Ini saya rasakan saat
pulang [ke Indonesia]," ucapnya di tahun 2014.

"Bahkan anak-anak saya pun merasakan itu." kata ibu dari anak perempuan
berusia 22 tahun dan laki-laki berusia 14 tahun tersebut.

Kirim email ke