.html
<https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/06/24/144601/hati-hati-bersembunyi-di-balik-toleransi.html>
https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/06/24/144601/hati-hati-bersembunyi-di-balik-toleransi
<https://www.hidayatullah.com/artikel/tsaqafah/read/2018/06/24/144601/hati-hati-bersembunyi-di-balik-toleransi.html>Hati-Hati
Bersembunyi di Balik Toleransi

Ahad, 24 Juni 2018 - 10:07 WIB

Umat Islam seyogyanya lebih berhati-hati dalam memahami toleransi dan
rahmatan lil-‘aalamiin.

Yayasan Pondok Kasih
Terkait

   -

   Toleransi Islam terhadap Tempat Ibadah Agama Lain
   
<https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/05/14/142326/toleransi-islam-terhadap-tempat-ibadah-agama-lain.html>
   -

   Islam, Korban dan Kambing Hitam Intoleransi
   
<https://www.hidayatullah.com/artikel/mimbar/read/2018/03/23/138620/islam-korban-dan-kambing-hitam-intoleransi.html>
   -

   Akhlak Umar dalam Toleransi Beragama
   
<https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/03/22/138542/akhlak-umar-dalam-toleransi-beragama.html>
   -

   Mempersiapkan Mentalitas Kepemimpinan Islam Dunia
   
<https://www.hidayatullah.com/kajian/oase-iman/read/2018/03/20/138334/mempersiapkan-mentalitas-kepemimpinan-islam-dunia.html>

*TOLERANSI* yang dinisbahkan pada ajaran dan contoh konkret nabi seringkali
disalahpahami. Dengan menggunakan bingkai “*rahmatan lil-‘aalamiin*” –oleh
sebagian umat-, Islam disebut agama yang sangat toleran, damai dan penuh
cinta. Sehingga, unsur-unsur lain yang mengandung ‘kekerasan’ seperti *jihad
qital* dan yang semacamnya cendrung dipandang sebelah mata.

Pandangan demikan selalu mengedepankan cinta daripada murka; mengedepankan
perdamaian daripada pertikaian; menonjolkan Islam yang sejuk daripadi Islam
yang suka mengutuk; menampakkan Islam yang toleran daripada Islam yang
intoleran.

Kisah nabi yang pulang dari Thaif ditawari Malaikat untuk menghancurkan
penduduknya akibat perlakuan buruk mereka kepada nabi yang kemudian ditolak
dengan halus oleh beliau bahkan menyertakan doa hidayah untuk mereka,
seringkali diangkat menjadi dasar kelompok ini. Demikian kisah perilaku
nabi yang memilih memaafkan dan perdamaian dalam *Fathul Makkah* juga
dijadikan alasan.

Sepintas, pandangan ini begitu indah dan memukau, utamanya di zaman digital
seperti sekarang ini dimana perdamaian menjadi cita-cita kebanyakan orang
di dunia yang begitu mengglobal dan pluralistik.

Baca: Teladan Empat Madzhab dalam Toleransi
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjs19qupuvbAhWPfysKHfOIAP0QFggxMAE&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fkajian%2Fikhtilaful-ummah%2Fread%2F2017%2F10%2F27%2F126577%2Fteladan-empat-madzhab-dalam-toleransi.html&usg=AOvVaw2-IMUtELCKQYQJcM3zdeF0>

Hanya saja, bila ditilik dari “*sirah nabawiyah*” (sejarah hidup nabi
Muhammad), pandangan semacam itu akan terlihat jelas rapuhnya. Analisis
berikut –berdasarkan sejarah nabi Muhammad- akan membongkar titik
kerapuhannya.

*Pertama*, nabi Muhammad adalah nabi yang *rahmatan lil-‘aalamiin*, meski
demikian dalam sejarahnya sekitar 80 lebih jihad fisik digulirkan pada masa
beliau. Perang-perang besar seperti Badar, Uhud, Ahzab, Mu’tah dan Tabuk
adalah sebagai bukti bahwa kekerasan –asal sesuai dengan syarat dan
ketentuan syariat- sama sekali tidak keluar dari bingkai *rahmatan
lil-‘alamin* dan bukan berarti tak toleran.

*Kedua*, perseteruan antara haq dan batil adalah bagian dari sunnatullah.
Maka, orang yang mengambil sisi rahmat saja dalam berislam dan menafikan
ajaran jihad dalam medan perang sama saja menafikan sunnatullah yang sudah
tetap tersebut.

Bila atas nama toleransi dan “*rahmatan lil-‘alamin*” kemudian nabi
mengurungkan pertempuran Badar dan pertempuran-pertempuran lain, maka umat
Islam bisa habis di tangan para musuh.

*Ketiga*,  ketika nabi dan umat Islam memiliki kekuatan mandiri –saat di
Madinah- ada perbedaan mencolok dengan yang terjadi saat di Makkah. Ketika
pasukan muslim kuat, beliau sama sekali tidak mau menerima tawaran bantuan
orang kafir. Saat ada wanita muslimah dilecehkan di pasar oleh salah
seorang Yahudi Bani Qainuqa hingga terjadi saling bunuh, nabi bertindak
tegas dan memerangi Bani Qainuqa yang menyalahi Piagam Madinah. Pasca
perang Khandaq, nabi pernah menyatakan kepada para sahabat, “Sekarang kita
yang akan menyerang mereka!”

Pertanyaannya, apakan sikap nabi yang demikian itu disebut tidak toleran
dan tak mencerminkan “*rahmatan lil-‘aalamiin*”? Tentu saja tidak.
Perdamaian dan rahmat adalah bagian dari ruh Islam, namun pada kondisi
tertentu untuk menjaganya diperlukan tindakan-tindakan tegas untuk
menjaganya melalui bentrok fisik.

*Keempat*, toleransi dan rahmat bukan berarti mengaburkan nilai Islam di
hadapan agama-agama yang lain. Bisa diteliti, sepanjang hidup nabi, isinya
adalah mendakwahkan kebenaran Islam. Surat-surat yang dikirim pada tahun
ketujuh kepada para raja dan penguasa di penjuru dunia, sebagai bukti bahwa
kebenaran Islam tetap disuarakan. Tidak ada rendah diri, tak ada kecil hati
atau minder dengan agama-agama lainnya. Bendera Islam tetap ditegakkan.

Baca: Akhlak Umar dalam Toleransi Beragama
<https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&uact=8&ved=0ahUKEwjs19qupuvbAhWPfysKHfOIAP0QFggsMAA&url=http%3A%2F%2Fwww.hidayatullah.com%2Fkajian%2Foase-iman%2Fread%2F2018%2F03%2F22%2F138542%2Fakhlak-umar-dalam-toleransi-beragama.html&usg=AOvVaw2yFDiebUmzrfGgQTL3uXDh>

*Kelima*, nabi dalam menerapkan Islam itu selalu utuh, komprehensif dan
tidak sepotong-sepotong. Tidak melulu diambil sisi lembut, namun saat sisi
tegas diperlukan maka juga harus diambil. Maka ketika Mutsannah bin
Haritsah –saat masih kafir- yang ingin membantu Rasulullah dengan
kepentingan parsial duniawi, maka nabi berkomentar, “Sesungguhnya agama
Allah azza wajalla  tidak akan ditolong oleh-Nya, melainkan bagi orang yang
memperhatikan seluruh aspeknya.”

Dengan demikian, pemahaman mengenai Islam –misalnya toleransi dan *rahmatan
lil-‘aalamiin*– tidak bisa dipahami sepotong-sepotong tanpa memperhatikan
kondisi dan keadaan yang sedang berlangsung. Jika, umt sedang berjuang di
medan tempur, kemudian teriak toleransi dan perdamaian, maka itu tidak
relevan.

Kasus terkini misalnya, mengedepankan toleransi dengan melakukan diplomasi
dengan Yahudi di tengah penderitaan yang dialami rakyat Palestina yang
dijajah, maka toleransi semacam ini bukan pada tempatnya dan bertentangan
dengan toleransi dan *rahmatan lil-‘aalamiin.*

Oleh karena itu, umat Islam seyogyanya lebih berhati-hati dalam memahami
toleransi dan *rahmatan lil-‘aalamiin*. Dengan memahami Al-Qur`an dan
As-Sunnah secara tepat berikut memperhatikan secara saksama petunjuk nabi
dalam sirahnya, besar kemungkinan tidak terjebak dalam baju toleransi palsu
yang justru menguntungkan pihak-pihak yang benci dan memusuhi Islam.*/*Mahmud
Budi Setiawan*

Rep: Admin Hidcom

Editor: Cholis Akbar

Kirim email ke