*Seri Pertama Sastra Dokumenter Liangjiahe: *

*Jinping Sudah Pulang!*

2018-06-30 15:31:30

http://indonesian.cri.cn/20180630/d2e1a542-3efb-5043-896f-b097d6664b77.html

Pada tanggal 13 Februari 2015 atau tanggal 25 Januari kalender Imlek Tiongkok, 3 minibus dengan pelan-pelan berhenti di tempat masuk Desa Liangjiahe. Beberapa orang turun dari minibus dan berjalan kaki masuk ke desa itu.

 “Jinping sudah pulang!”

Para warga desa serentak datang.

Xi Jinping kembali di Liangjiahe, sebuah desa di Dataran Tinggi Tanah Guning, tempat yang selalu dikenangkannya. Hitung-hitung, sudah lewat 40 tahun sejak ia meninggalkan Desa Liangjiahe.

Xi Jinping merasa sangat terharu setelah menginjakkan kakinya lagi di Liangjiahe di mana ia pernah bekerja dan hidup selama 7 tahun dan melihat lagi para warga desa yang pernah mendampinginya siang malam.

Para warga desa sambil jalan sambil ramai-ramai berobrol dengan Xi Jinping.

Ini merupakan kedua kalinya Xi Jinping kembali di Liangjiahe setelah ia meninggalkannya pada tahun 1975.

 Pada tanggal 27 September 1993, Xi Jinping yang waktu itu memangku jabatan Anggota Komite Partai Provinsi Fujian dan juga Sekretaris Komite Partai Kota Fuzhou untuk pertama kali kembali di Liangjiahe. Ia menengok para warga desa satu keluarga demi satu keluarga. Ia berpesan kepada mereka, selain harus diselesaikan masalah pangan, juga harus diselesaikan masalah penyekolahan. Ia secara khusus menghadiahkan tiap keluarga satu arloji untuk anak-anak yang bersekolah dan berharap anak-anak dapat menerima pendidikan yang lebih baik.

Kali ini, kebetulan menjelang tahun baru Imlek, ia dengan bayar sendiri membelikan beras, tepung gandum, minyak goring, daging-dagingan dan gambar dekorasi kepada tiap keluarga.

Selama lebih dari 40 tahun sejak ia meninggalkan Liangjiahe, Xi Jinping selalu memperhatikan para warga Desa Liangjiahe.

Dengan bantuan Xi Jinping, di Desa Liangjiahe kini sudah ada pensuplaian tenaga listrik, direnovasi sekolah dan jembatan. Para warga desa selalu ingat pada Xi Jinping.Mereka mengatakan, “hati Jinping selalu berada di Desa Liangjiahe”.


*Seri Kedua Sastra Dokumenter Liangjiahe*

2018-07-02 12:25:18cri

http://indonesian.cri.cn/20180702/7af1b00a-d5aa-d1f9-7566-b2f9bf653a1d.html

 Pada tanggal 14 Agustus 2004, Xi Jinping yang memangku Sekretaris Komite PKT Provinsi Zhejiang ketika itu menerima wawancara khusus Stasion Televisi Yan’an. Ketika ditanya apakah ia menganggap dirinya sebagai seorang warga Yan’an, Xi Jinping menjawab, dia sungguh-sungguh selalu menganggap dirinya sebagai seorang warga Yan’an karena Yan’an adalah sebuah titik tolak kehidupannya. Banyak ide dan karakteristiknya terbentuk di Yan’an, maka ia sewajarnya menganggap dirinya sebagai seorang warga Yan’an.

 Pada tanggal 22 Desember 1968, Ketua Mao Zedong menyerukan agar kaum pemuda intelektual turun ke desa untuk menerima pendidikan kaum tani dan itu adalah sangat perlu. 17 juta pemuda-pemudi di seluruh negeri Tiongkok ketika itu aktif menanggapi seruan dengan meninggalkan kota menuju pedesaan, dan memulai perjalanan kehidupan yang mengesankan.

 Xi Jinping yang muda juga salahsatu anggota jajaran migran tersebut, titik tolak Ibukota Beijing dan destinasinya Yan’an, tanah suci revolusioner.

Xi Jinping beserta 14 pemuda lainnya dikirim ke Liang Jiahe. Xi Jinping adalah yang paling junior. Sekretaris Komite Partai Brigade Liangjiahe ketika itu Liang Yumin masih ingat, Xi Jinping membawa sebuah peti yang penuh buku-buku.

Di Desa Liangjiahe totalnya ada sekitar 60 keluarga dan 200 warga. Desa dilalui sebuah sungai dan di kedua tepi sungai ada banyak rumah goa penduduk.

15 pemuda dibagi menjadi dua regu. Xi Jinping, Dai Min, Lei Pingsheng, Wang Yansheng dan Yang Jingsheng dibagi menjadi regu dua. Mereka untuk sementara tinggal di sebuah goa rumah Zhang Qinyuan, Sekretaris Liga Pemuda Komunis Brigade.

 Para warga desa menatap pemuda-pemuda yang datang dari ibukota dan para pemuda juga menatap para warga desa.

 Ini merupakan tatap muda antara kota dan desa dan juga antara pemuda yang mengemban misi dan kaum tani yang tinggal di basis masyarakat.

Dalam artikel Saya Adalah Anak Tanah Guning itu, Xi Jinping mengadakan introspeksi terhadap kehidupannya di Liangjiahe. “Ketika turun ke desa, saya berumur kecil, tidak ada rencana panjang, juga tidak memperhatikan masalah persatuan. Orang-orang lain tiap hari bekerja ke lereng gunung, saya bersantai-santai, maka kurang baik kesannya kepada warga desa”.

Apa yang dikatanya “persatuan” itu berasal dari ajaran Xi Zhongxun, ayah Xi Jinping. Xi Jinping mengatakan, “Ayah saya selalu mengajarkan teori persatuan dan menuntut kami harus sejak kecil memperhatikan persatuan dan pandai bersatu dengan orang-orang lain. Adalah tidak layak kalau selalu mengutamakan diri sendiri dalam banyak orang”.

Dengan pandangan persatuan itu, Xi Jinping mulai menggabungkan diri dengan massa rakyat dan pedesaan. Justru pandangan persatuannya membentuk idenya untuk mengandalkan rakyat rakyat dan bersatu dengan massa rakyat. “Pandai bersatu dengan orang lain merupakan salahsatu langgam kepemimpinannya.

 Bagaikan berubah menjadi seorang lain, Xi Jinping berupaya menutupi perdesaan antara seorang anak Beijing dan anak peda.

*Xi Jinping dan Liangjiahe (Bab III)*

2018-07-02 17:02:36

http://indonesian.cri.cn/20180702/55a0e66d-8294-e20a-1027-5abc97d3d711.html

Sesampai di Liangjiahe, Xi Jinping dan rekannya diatur makan di rumah penduduk setempat. Makanan terdiri atas momo (semacam masakan kukus) tepung jagung dan momo tepung kacang polong, kedua-duanya adalah makanan yang terlalu sayang untuk dimakan bagi para petani karena termasuk makanan “mewah”. Saat mereka menyantap, anak-anak petani pun berdiri di pinggir dan menengadah dengan wajah rakus.

Pada hari-hari kemudian, mereka mulai memasak diri sendiri, dan sampai saat itulah, mereka baru tahu betapa sulitnya memasak! Kesulitan pertama adalah mencari rumput dan kayu bakar. Di daerah itu, di mana-mana adalah gunung dan tanah yang tandus, tidak ada pohon, bahkan tidak ada semak-semak, maka sulit sekali untuk memperoleh kayu bakar.

Oleh karena itu, penduduk setempat berkebiasaan menumpuk rumput dan kayu bakar setiap hari. Saat terjadi banjir bandang, kaum petani dengan tak segan-segan mengambil dahan pohon yang terhanyut dalam air banjir tanpa mengindahkan keselamatan dirinya. Pada hari biasa, ada juga penduduk yang mendaki ke tebing bukit untuk memotong kayu bakar, dan kadang-kadang jatuh dari tebing sehingga cedera parah, bahkan meninggal dunia.

Para “pemuda intelektual” yakni Zhiqing tidak mampu mendaki ke tebing bukit, lantas tidak bisa memperoleh kayu bakar dari semak berduri yang tumbuh di sana. Mau tak mau mereka harus puas dengan rumput bakar yang diperolehnya. Melihat kondisinya yang sulit, pemimpin brigade produksi mengizinkan mereka memasak dengan tengkuk jagung simpanan. Dengan demikian, kesulitan mereka untuk mendapat kayu bakar barulah diatasi.

Xi Jinping masih teringat kehangatan yang diberikan penduduk Liangjiahe. Ia mengatakan: “ Saat saya lapar, mereka segera memasak untuk saya; ketika baju saya kotor, mereka mencuci untuk saya, dan ketika celanaku sobek, mereka menjahitnya...”

Di Liangjiahe, Xi Jinping sering kali berpartisipasi dalam pembangunan bendungan.

Waktu itu di pedesaan tidak ada permesinan ukuran besar. Dalam proses pembangunan sebuah bendungan, pembuatan fondasi adalah salah satu proses yang paling menantang karena harus dikerjakan dengan tenaga manusia.

Pembuatan tanggul bendungan biasanya dilakukan pada musim dingin ketika panen sudah selesai. Liang Youchang, salah seorang anggota brigade produksi masih ingat, pada bulan kedua dan ketiga penanggalan Imlek, yakni bulan Maret dan April, ketika es dan salju di tanah baru saja mencair, Xi Jinping menggulung bagian bawah celana dan dengan kaki telanjang, berdiri di air es yang menusuk tulang, sibuk melakukan tugasnya...Xi Jinping yang bekerja rajin selalu mendapat pujian dari rekannya.

Xi Jinping membaca banyak karya sastra Rusia waktu bekerja di pedesaan. Ketika mengenang kembali masa lampau, Xi Jinping mengatakan: “Pemuda yang sebaya waktu itu sangat terpengaruh oleh karya sastra klasik Rusia. Kami ingin menggembleng mental diri sendiri, maka secara suka rela tidur di ranjang tanah tanpa kasur. Saat turun hujan atau salju, kami pun pergi ke luar rumah untuk melakukan penggemblengan. Kami melakukan hal-hal tersebut karena terpengaruh oleh novel-novel Rusia.”

Tak terasa tiga tahun sudah lewat sejak Xi Jinping mulai bekerja di pedesaan Liangjiahe dan dia pun sudah mahir berbicara dalam bahasa dialek Yanchuan. Saat menemui problem yang tidak tahu solusinya, ia selalu belajar kepada penduduk desa, dan berangsur-angsur, Xi Jinping sudah menguasai hampir semua pekerjaan di pedesaan, dan boleh dikatakan telah menjadi petani sejati.”

Di Liangjiahe, Xi Jinping menguasai banyak pengetahuan “lokal”, sementara itu, ia pun mengajarkan penduduk setempat pengetahuan dari “luar”.

Waktu itu, di Liangjiahe ada seorang petani yang malas bekerja dan suka melakukan pencurian. Suatu hari, pria itu ditangkap seketika mencuri bawang hijau milik brigadir produksi. Menurut kelaziman, si pencuri akan dikritik dalam rapat terbuka dan dimaki-maki secara bergiliran oleh setiap anggota brigade produksi. Xi Jinping tidak memaki dia, malah mengobrol dengan si pencuri dan menasihatinya supaya membetulkan kesalahan sampai pencuri itu terus menganggukkan kepala.

Cara penanganan yang diperlihatkan Xi Jinping tersebut mendapat pujian merata para penduduk setempat. Pada hari-hari kemudian, pria yang malas dan suka mencuri itu pun menunjukkan perubahannya dan mulai aktif berpartisipasi dalam produksi, bahkan menjadi anggota brigade produksi yang terpuji.

Lama-kelamaan, tempat inapan Xi Jinping menjadi pusat desa Liangjiahe. Penduduk setempat suka berkunjung ke tempat penginapannya, mengobrol dengan dia dan dengan asyik mendengar Xi Jinping menceritakan kisah sejarah atau kisah-kisah yang terjadi di luar pedesaannya. Xi Jinping benar-benar menjadi seorang petani sejati Liangjiahe.

*Xi Jinping dan Liangjiahe (Bab IV)*

2018-07-03 17:10:19

http://indonesian.cri.cn/20180703/c2dba98f-817c-2c65-b8de-7506e44ca2e3.html

Saat itu, pada bulan Januari 1974, dataran tinggi Huangtu telah memasuki musim dingin, warga setempat sudah mulai sibuk mempersiapkan perayaan Tahun Baru Imlek.

Xi Jinping, yang baru saja terpilih sebagai Sekretaris Cabang Komite Partai Komunis Tiongkok (PKT), sedang memikirkan cara agar dapat memperbaiki kehidupan warga Liangjiahe.

Suatu hari, 2 berita dalam Harian Renmin Ribao tentang pendayagunaan biogas di Provinsi Sichuan menarik perhatian Xi Jinping. Dia berpikir, jika mereka dapat mendayagunakan biogas sebagai bahan bakar untuk memasak dan penerangan alangkah baiknya!

Liangjiahe terletak di daerah terpencil, bahan bakar batu bara harus diambil dari tambang batu bara yang berjarak 50 kilometer jauhnya. Sejak dahulu, petani setempat selalu memotong pohon untuk digunakan sebagai bahan bakar untuk memasak, sehingga sering mengakibatkan erosi tanah dan merusak ekosistem setempat. Jika dapat mendayagunakan biogas, tidak hanya dapat mengatasi masalah energi dan produktivitas di desa, namun juga dapat mengatasi penanganan terhadap kotoran di toilet, meningkatkan tingkat kebersihan umum di desa, sekaligus dapat mengatasi masalah pupuk pertanian dan meningkatkan produksi pangan. Biogas adalah sebuah kunci untuk memperbaiki kehidupan masyarakat pedesaan!

Namun iklim Provinsi Sichuan dengan daerah Shanbei memiliki perbedaan yang besar, apakah biogas ini dapat didayagunakan di Shanbei? Lebih baik beraksi daripada berpikir, Xi Jinping segera mendatangi Sichuan untuk mencari jawabannya.

Usai Tahun Baru Imlek, setelah mendapat izin dari pejabat atasan,  dengan biaya perjalanan yang dipinjam, Xi Jinping dan 2 kader pemuda intelektual Beijing pergi ke Sichuan untuk mencari “jawaban”.

Wakil Kepala Pimpinan Pemerataan Biogas Provinsi Sichuan Yang Chao memperkenalkan situasi pendayagunaan biogas di Sichuan kepada Xi Jinping, dan membawa mereka ke unit penelitian biogas di beberapa daerah di kota Chengdu untuk melakukan inspeksi.

Setelah kembali dari Sichuan, Xi Jinping memutuskan untuk segera mempraktekkan pendayagunaan biogas di Liangjiahe.

Namun dalam pelaksanaannya, satu demi satu kesulitanpun muncul.

Pertama, sulitnya menentukan pembangunan lokasi kolam uji coba biogas. Tanah halaman rumah para penduduk desa semuanya merupakan tanah lunak dan tidak cocok digunakan untuk menggali kolam biogas. Sedangkan bahan baku untuk membangun kolam seperti pasir dan semen pun sulit dikirim ke Liangjiahe karena jalannya adalah jalan tanah. Terlebih lagi tempat tinggal para penduduk desa tersebar dan terpisah-pisah, pengiriman biogas pun sulit dilakukan. Dan yang tersulit adalah, standar keseluruhan dan ketebalan batu penutup kolam relatif tinggi, bahan batu seperti itu tidak terdapat di Liangjiahe.

Namun, Xi Jinping tidak putus asa.

Xi Jinping dan kawan-kawannya menggali tanah setinggi lebih dari 1 meter hingga ke lapisan tanah yang keras. Dengan membawa beberapa pemuda, tanpa mengenal lelah, sekarung demi sekarung pasir mereka angkut dari Qiangmagou yang letaknya sekitar 8 kilometer dari Liangjiahe. Mereka mendirikan pabrik semen kecil mereka sendiri untuk membuat semen.

Xi Jinping bekerjas keras untuk mewujudkan pendayagunaan biogas di Liangjiahe.

Namun, ada juga orang yang mencibirnya.

Ada yang berkata padanya untuk tak perlu bersusah payah lagi, dan mengatakan bahwa pendayagunaan biogas tidak sesuai di Liangjiahe, karena iklim di Provinsi Sichuan hangat, sedangkan Liangjiahe dingin.

Akan tetapi, Xi Jinping yakin bahwa kolam biogasnya pasti akan berhasil.

Mmelalui perjuangannya yang tak mengenal lelah, akhirnya pada pertengahan Juli 1974, sebuah kolam biogas dengan kapasitas 8 meter kubik telah selesai dibangun. Tetapi yang menjadi masalah adalah tak ada biogas yang keluar setelah pipa dipasang. Apakah ada yang salah?

Xi Jinping menggunakan sebuah tongkat besi untuk menyogok pipa biogas tersebut, tiba-tiba air kotoran dalam pipa tersebut menyembur keluar mengenai muka Xi Jinping. Akhirnya biogas dapat keluar dari pipa tersebut.

Setelah memasang pipa biogas ke dapur, api setinggi 15 cm mulai menyembur dari dapur.

Sukses! Berita gembira itu segera tersebar ke seluruh desa, komune, hingga kabupaten. Orang-orang beramai-ramai berkunjung ke Liangjiahe untuk menyaksikan “api ajaib” tersebut.

Kesuksesan itu menarik perhatian Komite Keresidenan Yan’an dan Komite Kabupaten Yanchuan. Komite Kabupaten Yanchuan mengajukan target upaya pelaksanaan biogasifiksi seluruh kabupaten tahun 1977. Kemudian mengirimkan tim surveinya ke Sichuan untuk melakukan inspeksi.

“Menempuh Jalan Sepuluh Ribu Li, Membaca Sepuluh Ribu Buku”, adat-istiadat Sichuan telah memberikan kesan mendalam kepada Xi Jinping. Ia menggunakan kesempatan perjalanannya ke Sichuan untuk mengenal adat-istiadat warga setempat dan mencatat kuplet antitesis bagus yang dilihatnya selama perjalanan.

He Yin’gui, seorang pemuda intelektual yang mendampingi perjalanan Xi Jinping ke Sichuan mengatakan, Xi adalah orang yang suka belajar, suka berpikir dan suka bertindak.

Sepulang dari Sichuan, berbagai kursus pelatihan biogas digelar. Xi Jinping ditunjuk sebagai pembicara dan bertanggungjawab untuk mengajarkan teknik biogas.

Sejumlah teknik baru kolam biogas mulai bermunculan. Seperti penggantian batu dengan tanah, batu tanah menggantikan semen, sehingga modal pembangunan kolam biogas di Liangjiahe menurun dari 40 Yuan Renminbi hingga 30 Yuan Renminbi. Pada Agustus 1975, 34 kolam biogas telah dibangun di Liangjiahe, dan memberikan suplai biogas bagi 43 penghuni sebagai bahan bakar masak dan listrik.

Kesuksesan besar berasal dari hal-hal kecil. Pembangunan kolam biogas telah memberikan pengaruh besar bagi Xi Jinping.

Lima belas tahun kemudian, Xi Jinping  yang saat itu telah menjabat sebagai Sekretaris Keresidenan Ningde, Provinsi Fujian. Dirinya mengatakan bahwa saat dirinya berada di Shanbei, ia hanya mengadakan kegiatan teknologi biogasifikasi di seluruh desa, namun ia justru merasakan manisnya pemerataan kemajuan teknologi tersebut. Memasak tanpa kayu bakar, penerangan tanpa minyak, dirinya masih ingat senyum puas saudara-saudara di sana yang masih tampak hingga kini. Kenyataan telah membuktikan, teknologi berhasil, masalah kehidupan rakyat teratasi, maka dukungan dari rakyat pun akan kita dapatkan.

Tiga puluh tahun kemudian, Xi Jinping yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Komite Provinsi Zhejiang, melakukan inspeksi kolam biogas di Kabupaten Chun’an. Dirinya, yang boleh dikatakan sebagai “ahli” kolam biogas, meminta agar pembangunan kolam biogas dilakukan dengan sebaiknya demi kesejahteraan masyarakat setempat.

Hingga saat ini, tenaga listrik telah disalurkan ke setiap penghuni di Liangjiahe, namun kolam biogas pertama yang dibangun oleh Xi Jinping merupakan sebuah simbol dan sejarah yang masih dipelihara, sebuah tugu peringatan yang berukirkan “kolam biogas pertama di Provinsi Shaanxi” didirikan di sebelahnya. Jalan yang diperluas untuk pembangunan kolam pada waktu itu masih digunakan hingga saat ini.



---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke