https://gaya.tempo.co/read/1103659/hanya-1-dari-83-orang-lulusan-teknik-jadi-insinyur-profesional?
AllUtama&campaign=AllUtama_Click_3
Hanya 1 Dari 83 Orang Lulusan Teknik Jadi
Insinyur Profesional
Reporter:
Antara
Editor:
Mitra Tarigan
Rabu, 4 Juli 2018 17:57 WIB
Sakakibara Kikai, seorang insinyur mengendalikan kontrol robot Mononofu
buatannya saat demonstrasi di pabriknya di desa Shinto, Gunma, Jepang,
12 April 2018. Kikai menyewakan robotnya sekitar 100.000 yen ($ 930) per
jam, untuk pesta ulang tahun anak-anak dan hiburan lainnya, katanya.
REUTERS/Kim Kyung-Hoon
<https://statik.tempo.co/data/2018/04/13/id_697865/697865_720.jpg>
Sakakibara Kikai, seorang insinyur mengendalikan kontrol robot Mononofu
buatannya saat demonstrasi di pabriknya di desa Shinto, Gunma, Jepang,
12 April 2018. Kikai menyewakan robotnya sekitar 100.000 yen ($ 930) per
jam, untuk pesta ulang tahun anak-anak dan hiburan lainnya, katanya.
REUTERS/Kim Kyung-Hoon
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala
Bappenas Bambang Brodjonegoro menyatakan Indonesia kekurangan insinyur
<https://metro.tempo.co/read/1073134/ui-resmikan-program-pendidikan-profesi-insinyur-jalur-akademik>
profesional sehingga pengembangan teknologi tertinggal jauh dibandingkan
dengan negara-negara lain. "Kebutuhan sarjana teknik berkualitas sangat
dibutuhkan, apalagi ada liberalisasi sektor jasa. Salah satu profesi
yang terbuka di Komunitas Ekonomi ASEAN," katanya di kampus Institut
Teknologi Bandung (ITB), Kota Bandung, Rabu, 4 Juli 2018.
*Baca:* *Sinyal Darurat Krisis Insinyur
<https://majalah.tempo.co/read/152927/sinyal-darurat-krisis-insinyur>*
Ia mengatakan banyak lulusan teknik atau insinyur yang kemudian tidak
menekuni bidangnya dan memilih bekerja di sektor lain. Dalam catatannya,
terdapat sekitar 750 ribu lulusan teknik di seluruh Indonesia dan hanya
9.000 orang yang fokus pada profesi insinyurnya. Artinya, hanya 1 dari
83 lulusan teknik yang fokus menjadi insinyur. "Insinyur bukan sekadar
gelar akademik. Mereka sarjana, tapi ada profesinya," ujar Bambang.
Menurut dia, ada beberapa faktor yang membuat lulusan teknik tidak fokus
pada profesinya, yakni seseorang yang kuliah di jurusan teknik hanya
mengejar titel. "Mereka mungkin dapat gelar dari ITB. Jadi, setelah
lulus, dia ingin bekerja apa saja," ucapnya.
Selain itu, kata dia, iklim perguruan tinggi yang dinilai kurang
memberikan wadah atau menciptakan minat mahasiswanya untuk terus
berkarier sebagai insinyur. "Atau mungkin dari pemerintah juga kita
kurang memperhatikan penghargaan yang cukup untuk profesi insinyur, baik
dalam lapangan kerjanya maupun skema remunerasi. Jadi ini hal-hal yang
harus diperbaiki kalau kita ingin punya insinyur lebih banyak," tuturnya.
*Baca:* *Rilis Profesi Insinyur Robotika, Barbie Hadir Tanpa Hak Tinggi
<https://gaya.tempo.co/read/1101402/rilis-profesi-insinyur-robotika-barbie-hadir-tanpa-hak-tinggi>*
Karena itu, ia mendorong agar semua perguruan tinggi di Indonesia,
khususnya yang fokus terhadap teknik, terus melahirkan lulusan yang
unggul dan berkualitas. Ia optimistis banyaknya insinyur yang tetap
bekerja sesuai dengan bidangnya akan membuat Indonesia menjadi negara
maju pada 2045. "Tidak lagi semata mata Cina atau India. Sudah saatnya
Indonesia menjadi negara ketiga yang terdepan dalam teknologi
informatika," katanya.
Semua negara maju di dunia memiliki industri berbasis manufaktur yang
didukung subsektor jasa. Untuk bisa sukses mengelola dan memajukan
industri berbasis manufaktur, riset dan pengembangan memegang porsi
menentukan, serta pengawalnya adalah para insinyur
<https://tekno.tempo.co/read/701965/insinyur-as-siapkan-jubah-tipis-ala-harry-potter>.