China tak mau perang dagang dengan AS
Jumat, 6 Juli 2018 06:16 WIB
China tak mau perang dagang dengan AS
Ilustrasi perang dagang China lawan Amerika Serikat (AS). (youtube.com)
Beijing (ANTARA News) - China mengaku tidak mau ada perang dagang dengan
Amerika yang telah memulainya dengan ancaman mengenakan tarif bea masuk
baru kepada produk Negeri Panda itu, dan akan membalas setiap tindakan
yang dilakukan pemerintahan Donald Trump.
Pemerintahan Trump mulai mengenakan tarif bea masuk baru terhadap impor
produk China senilai 34 miliar dolar AS mulai Jumat (6/7) sebagai tanda
perang dimulai.
Trump juga telah mengancam akan meningkatkan bea masuk kepada produk
impor China hingga senilai 450 miliar dolar AS, jika China membalas
tindakan Amerika yang pertama.
Sudah tentu kebijakan itu akan berdampak langsung terhadap gejolak pasar
keuangan, harga saham, dan perdagangan dunia, terutama komoditas kedelai
hingga batubara.
Pemerintah China mengatakan tidak akan "meletuskan tembakan pertama",
tapi direktorat bea cukainya menegaskan bahwa tindakan balasan China
akan mulai berlaku setelah pengenaan bea masuk terhadap produk China
Amerika mulai berlaku.
Berbicara dalam konferensi pers, Minggu, juru bicara Kementerian
Perdagangan Gao Feng memperingatkan tarif bea masuk Amerika akan memukul
mata rantai pasokan internasional, termasuk perusahaan-perusahaan asing
di China.
"Jika AS menerapkan kebijakannya mak akan menambah mahal produk semua
perusahaan dari berbagai negara, termasuk produk perusahaan China dan
AS, " kata Gao. "Tindakan Amerika pada dasarnya menyerang pasokan global
dan harganya. Sederhananya, begitu Amerika AS menembakan perang dagang
maka seluruh dunia kena tembak, termasuk Amerika sendiri."
"China tidak akan tunduk kepada ancaman dan tindakan premanisme serta
tidak akan menggoyahkan tekad untuk bertahan pada perdagangan bebas dan
sistem multilateral," tambah dia.
Ditanya apakah perusahaan AS akan ditargetkan "Tindakan kualitatif" di
China dalam perang dagang ini, Gao mengatakan pemerintahnya akan
melindungi hak hukum semua orang asing dan perusahaan di negara ini.
"Kami akan terus menilai dampak potensial dari perang dagang yang
diprakarsai AS pada perusahaan dan akan membantu perusahaan mengurangi
kemungkinan guncangan," katanya.
Gao mengatakan perdagangan luar negeri China diperkirakan berlanjut
stabil pada semester kedua tahun ini, meskipun investor takut perang
dagang akan memberikan "pukulan".
Perusahaan asing di China memiliki kontribusi ekspor 20 miliar dolar AS
atau 59 persen dari 34 miliar dolar ekspor dari China yang akan
dikenakan tarif AS baru, dengan perusahaan AS terhitung, kata Gao.
Secara terpisah, juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Lu Kang
mengabaikan pertanyaan apakah ada upaya untuk memulai pembicaraan baru
dengan Amerika Serikat. "Kami tentu saja tidak ingin berperang, tetapi
jika ada kepentingan kami dirugikan, maka tentu saja itu kami memiliki
hak untuk melindungi kepentingan kami, " kata Lu Kang.
China berencana memberlakukan tarif bea masuk baru untuk ratusan barang
impor dari Amerika, termasuk kedelai, sorgum, dan kapas, yang akan
memmukul produksi mengancam petani Amerika yang mendukung Trump, seperti
Texas dan Iowa.
Impor kedelai dari Amerika yang akan dikenakan bea masuk baru, membuat
para petani China khawatir pasokan terganggu , mengurangi marjin
keuntungan dan pada akhirnya melambungkan harga eceran daging babi di
China sebagai dagangan daging paling laris, demikian Reuters.
(A029/)
Pewarta:ANTARA
Editor: Jafar M Sidik
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com