Laporan dari Tiongkok
<https://www.antaranews.com/slug/laporan-dari-tiongkok>
Lanzhou, surga kuliner halal di China
Sabtu, 14 Juli 2018 10:45 WIB
Lanzhou, surga kuliner halal di China
Suasana Pasar Malam di Kota Lanzhou, China, Jumat (6/7/2018). (ANTARA/M
Irfan Ilmie)
Lapak-lapak pedagang di Pasar Malam Zhengning menunjukkan karakter Kota
Lanzhou. Identitasnya sebagai kota kuliner halal terlihat dari makanan
tradisional hingga masakan berbahan dasar daging sapi dan kambing sajian
para pedagang yang memenuhi separuh badan Jalan Zhengning di Ibu Kota
Provinsi Gansu itu.
Berbeda dengan restoran atau rumah makan halal lainnya di daratan
Tiongkok, para pedagang di Kota Lanzhou tidak perlu mengumumkan
label/Qing Zhen/atau halal di sana.
"Dari pakaian penjualnya saya sudah tahu kalau makanan mereka/qing
zhen/," kata Liu Chun dari Kantor Berita Xinhua Biro Lanzhou yang pada
Jumat (6/7) menemani Antara menyusuri Pasar Malam Zhengning, yang
kebanyakan pedagangnya mengenakan pakaian putih dan kopiah haji dan
sebagian pramusajinya perempuan-perempuan berkerudung.
Meski bukan seorang muslim, Liu sangat menyukai makanan yang dijual di
pasar malam salah satu kota tertua di daratan Tiongkok itu.
"Sate, kebab, mi, bubur, dan hampir semua yang dijual di sini saya
suka," tutur pria itu sambil menyeruput sup ayam dari mangkuk kecil.
Selain murah dan banyak pilihan, makanan halal dimasak dan diproses
lebih higienis, membuat orang-orang rela berjubel menyusuri Jalan
Zhengning yang sempit itu hingga larut malam.
Pasar Malam Zhengning juga menjadi tujuan wajib kunjung wisatawan atau
siapa pun yang sempat menyinggahi Kota Lanzhou.
Di sana, para pembeli biasanya memesan dulu jenis makanan yang
diinginkannya di lapak-lapak yang ditunggui para pedagang pria berkopiah
putih.
Setelah dibayar, tunai atau dengan memindai barkode Alipay atau WeChat
di etalase pedagang, pembeli bisa memilih tempat duduk yang berderet di
belakang lapak, tapi harus bersabar sampai kursi benar-benar kosong
ditinggalkan oleh pembeli lainnya.
Pengunjung juga bisa langsung menuju restoran, kemudian memesan makanan
kepada penjual di lapak melalui pelayan. Itu pun harus mengantre sampai
ada kursi kosong di restoran tersebut.
"Pasar ini tidak pernah sepi. Hampir setiap malam situasinya ya begini,"
kata Liu, yang lega mendapatkan kursi di salah satu restoran setelah
mengantre setengah jam lebih.
Sampai malam larut pun, aroma daging kambing bakar masih tercium, dan
suara alat-alat masak yang beradu masih terdengar.
*Sejuta Mangkuk Mi*
Kota Lanzhou, yang berjarak sekitar 1.490 kilometer di sebelah barat
Beijing, memiliki karakter berbeda dengan kota-kota besar lainnya di China.
Selain punya Sungai Kuning (Huang He), sungai terpanjang kedua di Asia
dan keenam di dunia dan pegunungan pelangi yang gambarnya sempat viral
di media sosial Indonesia, serta berstatus sebagai salah satu pusat
industri nuklir China, kota berpenduduk sekitar enam juta jiwa itu
memiliki suguhan istimewa lain: makanan Qing Zhen.
Di daratan Tiongkok, Lanzhou diidentikkan dengan nama restoran atau
rumah makan halal. Makanan halal juga tersedia dalam pesawat yang menuju
Lanzhou.
Di bandingkan dengan kota-kota lain di China, peradaban di Lanzhou jauh
lebih tua.
"Lanzhou mungkin sudah ada sejak 6.000 atau 8.000 tahun yang lalu,
sedangkan Xi`an (Ibu Kota Provinsi Shaanxi) baru 3.000 tahun. Apalagi
Beijing baru 500 tahun, demikian halnya dengan Shanghai yang masih 100
tahun," kata Direktur Informasi Publik Pemerintah Kota Lanzhou Su Yong.
Namun Su, yang juga Direktur Komunikasi Internasional Partai Komunis
China cabang setempat, tidak bisa menjelaskan korelasi antara Lanzhou
sebagai kota tertua dengan kuliner halal yang melekat sebagai identitas
kota itu.
Diorama di Museum Peninggalan Tak Benda Kota Lanzhou, China, Jumat
(6/7/2018). (ANTARA/M Irfan Ilmie)
Diorama di Museum Peninggalan Tak Benda Kota Lanzhou, yang menyingkap
asal muasal kuliner halal di kota itu, juga tidak banyak menyuguhkan
informasi mengenai Ma Bao Zi sang pembuat mi. Dari tangan terampil Ma
lah mi daging sapi (/niurou mian/) yang kini terkenal hingga mancanegara
itu berawal.
Mi kuah bening dengan irisan daging sapi dan lobak itu disuguhkan dalam
mangkuk besar atau dua kali porsi mi ayam yang dijual di Indonesia.
/Niorou mian/, yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang muslim asal
Kota Lanzhou pada 1902, menandai kebangkitan ekonomi kaum beretnis Hui,
terutama melalui usaha kuliner halal.
"Dalam sehari terjual lebih dari sejuta mangkuk/niurou mian/, baik untuk
makan pagi, siang, atau pun malam," kata Su, lalu menyebutkan bahwa ada
3.000 unit warung, restoran, atau rumah makan yang menjual mi
tradisional di kota itu.
Tidak terhitung jumlah tenaga terampil di Lanzhou yang pandai membuat mi
yang ditarik-ulur menggunakan tangan saja. Niurou mian, yang proses
pembuatannya dapat dilihat langsung oleh pembeli, sekarang juga sudah
merambah 40 negara.
"Seharusnya di Indonesia sudah ada niurou mian. Kalau ada yang mau buka
(restoran) di sana, kami siap membantu," kata Wali Kota Lanzhou Zhang
Wei Wen saat menyantap/niurou mian/bersama Antara di salah satu restoran
yang asri di tepi Sungai Kuning.
*Baca juga:Mie daging sapi jadi identitas kota Lanzhou
<https://www.antaranews.com/berita/625098/mie-daging-sapi-jadi-identitas-kota-lanzhou>
Baca juga:Lanzhou dorong pemasaran mi sapi ke Indonesia
<https://www.antaranews.com/berita/725003/lanzhou-dorong-pemasaran-mi-sapi-ke-indonesia>*
Pewarta:M. Irfan Ilmie
Editor: Maryati
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com