Bela Jokowi, Misbakhun: Depresiasi Rupiah, Persoalan Global
Reporter:
Antara
Editor:
Kodrat Setiawan
Senin, 16 Juli 2018 08:23 WIB
Misbakhun. TEMPO/Dhemas ReviyantoMisbakhun. TEMPO/Dhemas Reviyanto
*TEMPO.CO*,*Jakarta*- Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi Golkar
Mukhamad Misbakhun membela pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi>) terkait melemahnya nilai tukar
rupiah. Menurut Misbakhun, depresiasi rupiah masih terkendali di tengah
penguatan nilai tukar mata uang dolar Amerika Serikat yang menjadi
persoalan global.
"Depresiasi rupiah terhadap USD karena persoalan global. Semua pihak
agar tidak serta-merta menyalahkan pemerintahan Presiden Joko Widodo,"
kata Misbakhun melalui pernyataan tertulisnya yang diterima di Jakarta,
Senin, 16 Juli 2018.
–– ADVERTISEMENT ––
*Baca juga:DPR Soroti Target Penerimaan Pajak 2018 Hanya Tumbuh 9,3 Persen
<https://bisnis.tempo.co/read/news/2017/09/07/090906946/dpr-soroti-target-penerimaan-pajak-2018-hanya-tumbuh-9-3-persen?BisnisUtama&campaign=BisnisUtama_Click_3>*
Menurut Misbakhun, Pemerintah Presiden Jokowi telah melakukan
langkah-langkah konkret dan terus-menerus untuk mengatasi masalah
depresiasi rupiah. Di antaranya berkoordinasi dengan Bank Indonesia
selaku otoritas yang bertanggung jawab soal stabilitas nilai tukar serta
berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan(OJK) selaku pengawas
industri jasa keuangan.
Pada saat Jokowi dilantik menjadi Presiden pada 20 Oktober 2014 kurs 1
dolar AS sekitar Rp 12.030. Dolar AS pernah berada di kisaran Rp14.800
pada 24 September 2015, dan saat ini pada kisaran Rp14.400.
Misbakhun, kemudian membandingkan depresiasi rupiah dengan mata uang
negara-negara lain. Misalnya, peso Argentina (ARS). Pada 2015, 1 dolar
AS setara dengan ARS9,1, tapi dua tahun silam ARS terdepresiasi dan
nilai tukarnya menjadi ARS14,8.
Setahun kemudian, ARS kembali terdepresiasi nilai tukarnmya menjadi
ARS16,8. Sedangkan enam bulan lalu, dolar AS menguat menjadi setara
ARS18,6 dan bahkan sebulan lalu ARS makin terdepresiasi menjadi ARS25,6.
Saat ini dolar AS setara ARS 27,1.
"Size ekonomi Indonesia dengan Argentina memang berbeda, tapi depresiasi
ARS ini sudah mencapai 300 persen dalam tiga tahun," ujarnya.
Misbakhun juga membandingkan dengan pergerakan nilai tukar dolar dengan
rupee India (INR). Pada sekitar sepuluh tahun lalu 1 dolar masih setara
dengan INR42,1. Pada lima tahun lalu dolar menjadi setara INR59,3 dan
setahun lalu USD sudah menjadi INR64,3. Kemudian, pada bulan lalu kurs
INR terhadap dolar makin anjlok. Dolar menjadi setara INR67,1 dan saat
dolar sudah menjadi setara 68,5.
Misbakhun juga menyinggung depresiasi lira Turki (TRY). Pada 2015, 1
dolar setara TRY2,63. pada 2016, dolar menjadi TRY2,88 dan 2017 menjadi
TRY5,3. Sedangkan enam bulan lalu, dolar menjadi TRY4,65 dan saat ini
dolar menjadi TRY4,84.
"Mata uang lira Turki dalam jangka waktu tiga tahun mengalami
depresiasi, dari setiap dolar setara TRY2,63 menjadi TRY4,84. "Size
ekonomi Turki hampir mendekati Indonesia sebagai emerging market country
walaupun secara spesifik mempunyai banyak juga perbedaan dalam hal
sumber daya alam, sistem ekonomi, struktur pasar dan beberapa para
meter," tutur Misbakhun.
Mantan pegawai Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan itu
menambahkan, depresiasi yang dialami ARS, INR, maupun TRY menjadi bukti
bahwa ada permasalahan di banyak negara emerging market.
Misbakhun meyakini menguatnya dolar AS bukan persoalan nasional
Indonesia, tapi persoalan global. "Ini persoalan global, tinggal
bagaimana mengatasi dan mengantisipasi dampak-dampak negatif dari
persoalan tersebut terhadap perekonomian nasional," kata Misbakhun
membela pemerintahanJokowi <https://www.tempo.co/tag/jokowi>.
*ANTARA*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com