https://nasional.tempo.co/read/1110993/begini-cerita-tragedi-27-juli-1996-di-pdip-yang-menyeret-sby?
PilihanUtama&campaign=PilihanUtama_Click_3
Begini Cerita Tragedi 27 Juli 1996 di PDIP yang
Menyeret SBY
Reporter:
Fajar Pebrianto
Editor:
Syailendra Persada
Jumat, 27 Juli 2018 08:28 WIB
Kader dan simpatisan PDI Perjuangan saat mengikuti Apel Siaga PDI
Perjuangan Setia Megawati, Setia NKRI di Stadion Manahan, Solo, Jawa
Tengah, 11 Mei 2018. ANTARA/Mohammad Ayudha
<https://statik.tempo.co/data/2018/05/11/id_704783/704783_720.jpg>
Kader dan simpatisan PDI Perjuangan saat mengikuti Apel Siaga PDI
Perjuangan Setia Megawati, Setia NKRI di Stadion Manahan, Solo, Jawa
Tengah, 11 Mei 2018. ANTARA/Mohammad Ayudha
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - PDIP ujug-ujug kembali menyeret nama Ketua Umum
Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY
<https://www.tempo.co/tag/sby>) dalam tragedi 27 Juli. Kamis (26/7)
lalu, Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto menyambangi kantor
Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) untuk mengadukan soal
kasus tersebut. "“Tidak hanya kasus 27 Juli, tapi juga
persoalan-persoalan pada awal reformasi, kasus Semanggi, Trisakti dan
Tanjung Priok,” kata dia Kantor Komnas HAM, Jakarta, Kamis, 26 Juli 2018.
Simak: Tiga Kesaksian ini Singgung SBY di Kasus 27 Juli
<https://nasional.tempo.co/read/1110977/tiga-kesaksian-soal-peran-sby-dalam-kasus-27-juli-1996>
Peristiwa ini sebenarnya sudah terjadi 22 tahun yang lalu, tepatnya pada
27 Juli 1996. Semua bermula saat terjadinya dualisme di tubuh Partai
Demokrasi Indonesia (nama awal PDIP). Ketua Umum PDI hasil kongres
Medan, Soerjadi, menyerbu dan menguasai Kantor DPP PDI di Jalan
Diponegoro 58, Jakarta, yang dikuasai Ketua Umum PDI kongres Surabaya,
yaitu Megawati Soekarnoputri.
Penyerbuan ini diduga kuat melibatkan unsur militer, terutama dari
Komando Daerah Militer Jaya. Karena saat itu, Pemerintah yang dipimpin
Presiden Soeharto tidak menyukai dan memberi restu pada PDI pimpinan
Megawati.
Dugaan keterlibatan tentara ini semakin menguat setelah adanya pengakuan
dari Yorrys Raweyai yang kala itu aktif fdi Pemuda Pancasila. Politikus
Partai Golkar ini ditahan polisi setelah kejadian tersebut karena
terbukti mengerahkan massa "untuk mengamankan lingkungan" kantor PDI
pimpinan Megawati. Pengerahan itu, kata dia, dilakukannya atas perintah
Asisten Intelijen Kodam Jaya, Kolonel Haryanto.
Simak juga: PDIP Tuding SBY Terlibat Kasus Penyerangan 27 Juli 1996
<https://nasional.tempo.co/read/1110955/pdip-tuding-sby-terlibat-kasus-penyerangan-27-juli-1996>
Tak lama setelah Yorrys ditahan, salah seorang pengacaranya melemparkan
bola panas. "Mustahil Kolonel Haryanto meminta Yorrys tanpa ada perintah
atasan," kata dia sebagaimana dikutip dari Majalah Tempo edisi 24 April
2000. Meski tidak menyebut nama, tudingan itu tepat mengarah kepada
Sutiyoso, yang kala itu menjabat Panglima Kodam Jaya. Benar saja, akhir
tahun 2004, Polisi menetapkan Sutiyoso sebagai tersangka.
Dalam insiden yang menyebabkan lima orang meninggal dunia ini, SBY yang
menjadi bawahan Sutiyoso tak luput dari pemeriksaan polisi walau hanya
berstatus sebagai saksi. Namun, pemeriksaan terhadap SBY di tengah
pertarungan pemilu presiden melahirkan tudingan bahwa ada nuansa politis
dalam kasus ini. Sebab, Yudhoyono adalah pesaing Megawati dalam
Pemilihan Presiden 2004.
Hingga saat ini, keterlibatan SBY dalam tragedi 27 Juli tidak pernah
lagi dibicarakan. Hingga akhirnya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto membawa
perkara ini lagi ke Komnas HAM. Padahal, Megawati yang menjadi Presiden
Indonesia pada Juli 2001, mengangkat SBY menjadi Menteri Koordinator
Bidang Politik dan Keamanan. Mereka bersama-sama menjalankan Kabinet
Gotong Royong sampai akhirnya SBY menanggalkan jabatannya pada Maret 2004.
Baca: Bagaimana Posisi SBY di Kasus 27 Juli? Berikut Cerita Beberapa
Saksi.
<https://nasional.tempo.co/read/1110988/tiga-kesaksian-ini-singgung-peran-sby-di-kasus-27-juli>
Kini, di detik-detik menjelang Pemilu Presiden 2019, nama SBY
<https://www.tempo.co/tag/sby>mendadak kembali diseret dalam pusaran
kasus ini. Hasto meminta Ketua Umum Partai Demokrat ini mengungkap
informasi seputar Tragedi 27 Juli itu. “Kami juga tahu posisi beliau
saat itu, dalam posisi yang tentu saja mengetahui peristiwa tersebut,"
kata Hasto.