https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?
_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629
Kamis 02 Agustus 2018, 14:40 WIB
Kolom
Republik Kelas Menengah
Rahmat Petuguran - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/rahmatpetuguran>
rahmat petuguran
<https://connect.detik.com/dashboard/public/rahmatpetuguran>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
Republik Kelas Menengah Konflik agraria di Kulonprogo menggambarkan
konflik selera antarkelas
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4146453/republik-kelas-menengah?_ga=2.11025840.543671843.1533229636-1894008853.1533229629#>
*Jakarta* -
Jumlah kelas menengah Indonesia telah mencapai 143 juta jiwa dan akan
terus bertambah. Peningkatan jumlah kelas menengah telah mengubah wajah
demografi Indonesia. Selain dominan dalam jumlah, kelompok ini juga
dominan dalam pertarungan wacana publik. Mereka menjadi kekuatan
demografi yang sangat diperhitungan karena cukup kaya, kritis, rewel,
sekaligus paling vokal menyampaikan aspirasi.
Secara sosioekonomi, kelas menengah bisa diidentifikasi dengan berbagai
cara. Yuswohady dan Gani (2015) menyebutkan, kelas menengah adalah
kelompok di luar 20 persen penduduk termiskin dan 20 persen penduduk
terkaya. Sementara, Asian Development Bank (ADB) mengidentifikasi kelas
menengah sebagai kelompok masyarakat berpenghasilan 2 hingga 20 dolar AS
per hari.
Secara ekonomi, lembaga-lembaga riset sepakat mengidentifikasi kelas
menengah sebagai kelompok penduduk yang telah berhasil memenuhi
kebutuhan dasar (/basic need/). Di samping itu, mereka memiliki
setidaknya 30 persen penghasilan menganggur. Mereka tidak lagi fokus
pada kebutuhan biologis karena telah tercukupi dan mengalihkan perhatian
ke kebutuhan sosial.
Dalam hierarki kebutuhan Maslow, kebutuhan sosial merujuk pada tiga
jenis kebutuhan yaitu mencintai dan dicintai, pengakuan, dan aktualisasi
diri. Tiga jenis kebutuhan inilah yang mendorong kelas menengah sangat
gemar terhubung. Selain masuk dalam komunitas-komunitas kecil berbasis
hobi, keterhubungan dijalin melalui media sosial. Mereka menggunakan
media sosial untuk bersosialisasi, mendapat pengakuan, dan memperluas
pengaruh.
Di sisi lain, kelas menengah juga memiliki pengetahuan yang relatif
luas. Akses terhadap internet membuat mereka bisa melahap
informasi-informasi penting dari berbagai penjuru dunia. Wawasan mereka
berkembang sehingga kepedulian terhadap isu-isu global mulai bertumbuh.
Isu-isu global seperti kesetaraan gender, /global warming/, dan hak-hak
sipil mulai tampak penting dan menjadi bahan perhatian mereka.
Kondisi inilah yang membuat Middle Class Institute (MCI) menarik
simpulan bahwa perilaku kelas menangah dibentuk oleh tiga variabel
utama, yaitu kepemilikan, konektivitas, dan pengetahuan. Dari aspek
ekonomi, mereka telah selesai dengan kebutuhan dasar dan memiliki
penghasilan menganggur. Dari aspek keterhubungan, mereka suka
berjejaring. Adapun secara pengetahuan, wawasan semakin luas.
*Kritis dan Penuntut*
Akumulasi kepemilikan aset, konektivitas, dan pengetahuan telah
menciptakan mentalitas baru pada sebagian besar penduduk Indonesia,
yaitu mentalitas kelas menengah. Dari sisi positif, mentalitas ini
membentuk seseorang lebih beradab, rasional, dan peduli terhadap
lingkungan. Adapun dari sisi negatif, mentalitas ini membentuk seseorang
menjadi cerewet, egois (/selfish/), dan penuntut.
Dualisme mentalitas inilah yang selama ini tergambar secara akurat di
media sosial. Di media sosial, mereka menunjukkan kepedulian terhadap
isu-isu besar. Tapi, di sisi lain kelas menengah pulalah yang paling
vokal menuntut agar pemerintah melayani selera mereka. Ada ambivalensi
dalam kepribadian kelompok ini.
Kelas menengah bisa sangat abai terhadap kenaikan harga sembako karena
kebutuhan pokok tidak lagi menjadi masalah bagi mereka. Tetapi, mereka
bisa sangat cerewet melihat taman kota berantakan. Mereka bisa abai
anggaran program jaring pengaman sosial dikurangi, tetapi bisa sangat
"ganas" ketika menuntut pemerintah membangun lintasan berlari (/jogging
track/). Mereka bisa saja diam saat pemerintah mengurangi anggaran
subsidi pendidikan, namun siap "melawan" jika /Facebook/ dan /Instagram/
diblokir.
Bangsa Indonesia telah menikmati kemurahhatian kelas menengah melalui
berbagai kebiasaan baru yang dibawanya. Kelas menengah telah
memperkenalkan berbagai saluran baru berdemokrasi. Kelas menengah telah
memungkinkan kegiatan amal dilakukan secara massif dan berdampak besar
melalui mekanisme /crowdfunding/. Pengetahuan yang dulu eksklusif hanya
bisa diperoleh di perguruan tinggi oleh kelas menengah juga
didesakralisasi melalui berbagai saluran sehingga tercipta demokratisasi
pengetahuan.
Di sisi lain, kelas menengah juga harus bertanggung jawab atas
meningkatnya ketegangan relasi sosial akibat perbedaan pilihan politik.
Aktivisme kelas menengah telah membuat kebijakan-kebijakan kecil disorot
dan diperdebatkan sedemikian rupa sehingga menyita energi publik.
Benturan gagasan dan pertengkaran menjadi lebih sering terjadi karena
kelas menengah lebih ekspresif dan bahkan vulgar beraspirasi.
Dalam banyak kasus, sikap kelas menengah telah menciptakan paradoks.
Pada satu sisi mereka mengidamkan dunia yang lebih damai, tetapi demi
identitas dan kepentingan politiknya mereka siap bertengkar dengan
kelompok lain. Mereka menginginkan negara melakukan pemerataan
pembangunan, namun protes jika ada kenaikan pajak. Standar kelas
menengah kerap dipaksanakan agar menjadi standar bersama, bahkan oleh
negara.
*Sangat Diperhitungkan
*
Ciri kelas menengah yang kaya, kritis, dan terkoneksi membuat mereka
menjadi kekuatan sosial-ekonomi yang sangat diperhitungan. Baik swasta
maupun pemerintah berusaha mengakomodasi aspirasi mereka dengan
melahirkan produk dan kebijakan yang sesuai selera mereka. Aspirasi
kelas menengah sangat diperhitungkan, bahkan kerap menjadi penentu
pengambilan kebijakan.
Menjamurnya kafe, bahkan di kabupaten-kabupaten kecil, adalah salah satu
bukti kemenangan kelas menengah dalam "memaksakan" selera mereka. Kafe
adalah tempat yang menggambarkan kepribadian kelas menengah karena
mengakomodasi makan, minum, dan bersosialisasi sekaligus. Di
tempat-tempat seperti itu, mereka bisa menegaskan kelas dan memperoleh
pengakuan dari lingkungan.
Kian hari pemerintah juga tampak lebih akomodatif terhadap kepentingan
kelas menengah. Bahkan ada kecenderungan negara dikelola dengan standar
selera mereka. Sebuah kebijakan tampak baik jika berterima oleh kelas
menengah. Sebaliknya, kebijakan akan tampak buruk jika ditolak oleh
kelompok mayoritas ini. Negara menjadi pelayan setia kelas menengah
dengan membelanjakan uang negara demi memenuhi aspirasi mereka.
Sekarang mudah sekali didapati pemerintah kabupaten atau kota yang royal
membelanjakan APBD untuk membangun taman. Kebijakan ini sangat populer
karena sesuai selera dan kebutuhan kelas menengah yang menginginkan
tempat yang nyaman untuk bersosialisasi menghabiskan waktu luang.
Pemerintah juga sangat akomodatif terhadap pembangunan hotel dan mall.
Kedua tempat itu dikehendaki kelas menengah karena relevan dengan
kemampuan ekonomi mereka.
Dominasi selera kelas menengah dalam perumusan kebijakan publik menjadi
masalah karena tidak selalu relevan dengan kepentingan kelas bawah
(penduduk miskin). Dalam sejumlah kasus, kedua kelompok ini bahkan
berbenturan. Benturan itu dapat diamati dalam pembangunan mall dan
hotel. Kelas menengah cenderung menilai kedua tempat itu mendatangkan
keuntungan. Tapi, bagi warga miskin kedua tempat itu berpotensi
menyengsarakan karena mengeksploitasi sumber daya air. Sementara kelas
menengah meraup untung, penduduk miskin hanya menikmati kebisingan dan
polusi.
Dalam pembangunan infrastruktur transportasi, kelas menengah merasa
diuntungkan jika pemerintah membangun bandara, jalan tol, dan pelabuhan
baru. Infrastruktur itu memudahkan mereka berwisata ke berbagai daerah
dengan relatif murah. Tetapi, bagi warga miskin satu-satunya dampak yang
dirasakan dari pembangunan infrastruktur tersebut adalah hilangnya lahan
bertani bahkan rumah (karena digusur).
Sayangnya, pertarungan wacana dan selera antara dua kelas tersebut kerap
berlangsung tidak seimbang. Selain kekuatan jumlah, kelas menengah
unggul karena memiliki uang, pengetahuan, dan menguasai saluran
aspirasi. Pemerintah dan apalagi korporasi juga lebih berpihak kepada
mereka karena lebih menguntungkan. Kondisi inilah yang membuat selera
kelas menengah semakin dominan, mengubah negara menjadi "republik kelas
menengah" yang menyenangkan bagi mereka.
*Rahmat Petuguran */dosen Bahasa Indonesia Universitas Negeri Semarang,
penulis buku /Politik Bahasa Penguasa/(2016)
/
*(mmu/mmu)
*