https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga
=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671
Jumat 03 Agustus 2018, 16:45 WIB
Kolom Kalis
Para Penafsir Ayat Suci Sesuka Hati
Kalis Mardiasih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
Kalis Mardiasih
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
Para Penafsir Ayat Suci Sesuka Hati Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Edi
Wahyono/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4148511/para-penafsir-ayat-suci-sesuka-hati?_ga=2.81552401.702595118.1533303677-892228805.1533303671#>
*Jakarta* - Minggu lalu, saya ditugaskan Wahid Foundation untuk mengisi
pelatihan literasi media dan manajemen Rohis SMA se-kota Semarang.
Bagian saya adalah memotivasi dan memastikan para remaja itu menjadi
terbiasa dan senang membuat konten-konten yang bikin adem di media
sosial. Para remaja ini adalah anak sah zaman digital. Mereka merupakan
pengguna aktif /Instagram/, yang biasanya punya /follower/ lebih banyak
daripara pelatih yang berasal dari generasi tua ini.
Saya memulai dengan sebuah pertanyaan, konten-konten semacam apa yang
mereka produksi di akun organisasi. Konten sejenis apa yang mereka sebut
Islami? Sudah bisa ditebak. Konten Islami identik dengan gambar remaja
laki-laki maupun perempuan yang lekat dengan simbol-simbol agama, gambar
masjid, atau kutipan ayat-ayat Al Quran.
Saya memutar beberapa video inspiratif, seperti gerakan #Tumpukditengah
yang diinisiasi oleh Edward Suhadi//, juga beberapa video naratif
lainnya//. Setelah berdiskusi singkat, anak-anak muda dan bertenaga itu
sepakat bahwa konten-konten itu sangat Islami: mengajak kepada kebaikan.
Meskipun, semua konten tidak memakai simbol-simbol agama ataupun ayat
yang menakut-nakuti.
Membuat konten /social experiment/ memunguti sampah di jalanan atau
menyiram tanaman yang kekeringan akan menjadi konten yang Islami. Metode
yang ditawarkan adalah merasakan pengalaman sebagai Muslim yang hidup
bersama masyarakat, mengidentifikasi masalah yang ada di sekitar kita,
lalu memikirkan solusi teknis yang sesuai dengan realitas keberagaman
dan nilai-nilai bersama. Dengan demikian, ayat suci digunakan sebagai
solusi empiris yang dekat, bukan melulu hadir sebagai peringatan tanpa
petunjuk praktis yang siap pakai.
Belakangan, metode terbalik menghadirkan /lived realities/ lebih dahulu
dibanding ayat menjadi kian penting, menimbang kian sering saja
ayat-ayat dipakai untuk pembenaran tindakan-tindakan brutal yang tak
punya relevansi pada kebaikan bersama.
Jika tidak percaya bahwa ayat Al Quran dapat dimanfaatkan untuk
kepentingan yang beragam sesuai interpretasi masing-masing kepala yang
mempercayainya, kita boleh mengingat surat wasiat Imam Samudra yang
menyebar sesaat setelah ia dieksekusi pada 2008. Imam Samudra memakai
/maqashid al syariah/ Imam As Syathibi untuk membenarkan aksi teror yang
menghilangkan banyak nyawa. Beberapa laman yang mempromosikan tegaknya
khilafah menggunakan alur berpikir yang sama untuk memperalat konsep
dasar produk hukum syariat dalam ilmu /ushu/l fikih yang sebetulnya
luhur ini.
Bagi para pendukung aksi teror, penjagaan agama (/hifz al din/) disebut
lebih dulu sebelum penjagaan nyawa (/hifz/ /an nafs/). Sehingga, demi
teks tersebut nyawa boleh dikorbankan untuk penjagaan agama. Mereka
berdalih bahwa menegakkan khilafah adalah perintah wajib menurut syariat
sehingga memerangi kaum kafir atau siapa saja yang tidak mendukung jihad
tersebut menjadi wajib pula diperangi. Doktrin ini menjawab mengapa Aman
Abdurrahman justru ingin eksekusi matinya dipercepat dan bersujud syukur
ketika vonis mati dibacakan. Apa yang lebih menyeramkan dari menuduh
Allah memerintahkan mengakhiri nyawa orang lain dan diri sendiri?
Baru-baru ini juga ada sekumpulan laki-laki pedagang ramuan penis kuat
dengan amat giat mengkampanyekan poligami. Agak tak adil jika hanya
menyebut laki-lakinya, sebab akun media sosial istri-istri mereka juga
aktif memberikan dukungan pada bisnis para suami. Saya yang luar biasa
kurang kerjaan melakukan riset pribadi atas kalimat-kalimat yang mereka
lontarkan untuk kepentingan dagang itu dan menemukan alur berpikir mereka.
Pertama, para laki-laki itu memahami ayat poligami dalam Al Quran
sebagai perintah syariat untuk beristri empat. Dalam register bahasa
komunitas pegiat poligami ini, laki-laki yang beristri lebih dari satu
adalah laki-laki yang telah melakukan amal luar biasa, sehingga dengan
demikian jika istri mencapai jumlah empat merupakan amalan puncak dengan
pahala yang berlipat empat pula.
Interpretasi pada teks itu membuat anggota komunitas memunculkan teori
halusinasi bahwa tidak ada laki-laki di dunia ini yang hanya
menginginkan istri satu saja. Semua laki-laki pasti ingin "nambah",
begitu klaim yang berulang kali dikampanyekan si pentolan pebisnis
ramuan penis kuat yang dipanggil "master" dan "ustaz" oleh para pengikutnya.
Kultur pergaulan yang dibangun adalah dengan meledeki laki-laki lain
yang konsisten beristri satu. Mereka melabel para suami setia ini
sebagai /muwahidin/ yang takut istri dan tidak punya keberanian poligami
karena beberapa alasan, salah satunya adalah sebab performa kelamin yang
lemah alias /letoy/. Sindikat pedagang ramuan ini juga mengunggah
testimoni para pelanggan yang mengaku mengalami peningkatan performa
ranjang. Ada yang punya rekor tiga jam sampai lima jam. Amboi betul.
Lalu, ketika para pelanggan mulai kecewa pada performa istri yang tak
sanggup meladeni kelamin mereka yang terangsang berjam-jam itu, si
"ustaz" dengan enteng bilang, "Ane doakan segera nambah dan mendapat
lawan main yang sesuai." Wah, wah, mencari istri kok seperti mencari
mesin penjinak kelamin saja.
Sebetulnya, strategi jualan ala /gruppies/ itu sah-sah saja. Yang bikin
tidak sah adalah buntut argumen pak tukang ramuan penis kuat yang
menuduh macam-macam kepada para perempuan yang menolak klaim pembenaran
mereka. Perempuan yang tidak bersedia dipoligami, konon adalah perempuan
bermulut setan yang tidak taat kepada suami. Perempuan di hadapan para
lelaki yang konon kelaminnya tak kenal lelah itu dianggap sebagai
makhluk separuh akal, makhluk yang hanya punya emosi.
Dengan memakai metode /lived realities/, halusinasi persepsi di atas
sangat mudah digoyahkan. Faktanya, perempuan merasa tidak pernah berbeda
dalam penciptaan. Banyak perempuan terbukti menjadi saintis,
cendekiawan, teknisi, dan pemimpin yang baik adalah bukti akal perempuan
dan laki-laki setara. Dalam relasi rumah tangga yang berdasar pada
prinsip ketersalingan (/mubaadalah/) dan keadilan hakiki, opsi setuju
dan tidak setuju adalah milik perempuan dan laki-laki. Prinsip ini juga
dipakai bahkan sebelum pernikahan, sehingga pemaksaan perjodohan yang
besar menjadi penyebab kawin anak yang menjadikan perempuan sebagai
korban, tidak pernah mendapat legitimasinya dalam ayat suci Al Quran.
Anak perempuan memiliki hak untuk bersuara. Tauhid adalah nilai-nilai
kesetaraan dan keadilan kepada hamba, baik perempuan maupun laki-laki.
Perempuan yang memiliki perasaan cemburu tidak layak dibungkam dengan
pemaknaan teks yang tidak adil gender. Mempelajari /maqashid/ syariah,
sebagaimana diungkapkan oleh As Syathibi adalah perwujudan kemaslahatan
kehidupan. Usaha-usaha pemaknaan atas teks harus dilandasi semangat
kebaikan dan keadilan, termasuk hal keadilan relasi.
Para remaja Rohis itu sepertinya bersepakat. Beberapa telah mengunggah
konten tulisan di /Instagram/ menggunakan metode penulisan ini. Saya
bersiap mengirim hadiah buku-buku kepada mereka.
*Kalis Mardiasih* /menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset
dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan
pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa
lewat @mardiasih
/
*(mmu/mmu)
*