Keluarga Yo Kim Tjan
Menyelamatkan Lagu Indonesia Raya
*Oleh: Fadmin P Malau.*
Sabtu, 28 Oktober 2017 | Dibaca 884 kali
*http://harian.analisadaily.com/opini/news/keluarga-yo-kim-tjan-menyelamatkan-lagu-indonesia-raya/440870/2017/10/28
<http://harian.analisadaily.com/opini/news/keluarga-yo-kim-tjan-menyelamatkan-lagu-indonesia-raya/440870/2017/10/28>*
*
*
*Ketika *memperingati Sumpah Pemuda 28 Oktober, tidak terpisahkan
dengan lagu Indonesia Raya. Alasannya, karena ketika 28 Oktober 1928
pada Kongres II Pemuda Indonesia lagu Indonesia Raya pertamakali
dinyanyikan pada upacara resmi oleh paduan suara pemuda-pelajar dan
pencipta lagu Indonesia Raya, WR Soepratman langsung mengiringi dengan
biolanya.
Waktu itu menyanyikan lagu Indonesia Raya dilarang kolonial Belanda.
Namun, keberanian para pemuda lagu Indonesia Raya dinyanyikan pada
Kongres II Pemuda Indonesia yang melahirkan Sumpah Pemuda 28 Oktober
1928 dan para pemuda-pelajar sepakat menjadikan lagu Indonesia Raya
sebagai lagu kebangsaan Indonesia.
Jiwa kebangsaan sudah lahir sejak adanya pergerakan Budi Utomo (Boedi
Oetomo) pada 20 Mei 1908 dengan berbagai kegiatan yang membentuk rasa
kebangsaan dan nasionalisme. Aktivitasnya menghimpun pemuda dari
berbagai suku dan daerah di Indonesia. Pemuda dari Pulau Jawa mendirikan
Jong Java, dari Sumatera ada Jong Sumatera, dari Sulawesi bernama Jong
Celebes, dari Maluku dikenal Jong Ambon, dari organisasi pemuda Islam
bernama Jong Islamiten dan lainnya. Akhirnya dari pertemuan-pertemuan
yang dilakukan berhasil dilaksanakan Kongres I Pemuda Indonesia 30
April dengan 2 Mei 1926 di Jakarta.
Dua tahun kemudian, dilaksanakan Kongres II Pemuda Indonesia di Jakarta
27 sampai 28 Oktober 1928 menghasilkan Sumpah Pemuda yakni Bertanahair
Satu, Tanahair Indonesia. Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia. Berbahasa
Satu, Bahasa Indonesia.
Lagu Indonesia Raya karya seniman dan juga wartawan, Wage Rudolf
Soepratman pada Kongres II Pemuda Indonesia, 28 Oktober 1928 diterima
sebagai lagu kebangsaan. Tidak berapa lama lagu itu meluas ke seluruh
Indonesia.
WR. Soepratman ketika itu wartawan suratkabar Sin Po, sebuah suratkabar
yang diterbitkan masyarakat Tionghoa mengusulkan kepada pimpinannya
untuk menerbitkan lagu Indonesia Raya ciptaannya. Lantas lagu itu
dicetak dan diterbitkan (disebarluaskan) ke seluruh Nusantara.
Berkat eskpose dari suratkabar Sin Po, lagu Indonesia Raya diketahui
secara luas pada masyarakat Indonesia kala itu. Pemerintah Hindia
Belanda terkejut dan marah karena menilai lagu itu membahayakan
kepentingan dan merugikan politik Belanda maka lagu Indonesia Raya
dilarang. Rakyat bergolak. Berbagai suratkabar di Indonesia menggugat,
termasuk politisi bangsa Indonesia memprotes tindakan pemerintah Hindia
Belanda melarang lagu Indonesia Raya.
Protes keras atas larangan menyanyikan lagu Indonesia Raya direspon
pemerintah Hindia Belanda yang menyatakan tidak berkeberatan
menyanyikan lagu Indonesia Raya tetapi kalimat “Merdeka, Merdeka” tidak
dicantumkan.
WR. Soepratman sebagai pencipta lagu mengerti syair lagu ”Merdeka,
Merdeka” itu yang ditakutkan Belanda dan syair lagu ”Merdeka, Merdeka”
itu menyemangati persatuan dan gelora perjuangan tidak berhenti.
*Berjuang pantang menyerah*
Sikap pantang menyerah, terus berjuang ditunjukan Wage Rudolf
Soepratman. Terbukti Ia menghubungi para pemilik perusahaan rekaman di
Batavia (Kini Jakarta) yaitu Odeon, ThioTek Hong dan Yo Kim Tjan untuk
merekam lagu Indonesia Raya. Dari tiga perusahaan rekaman itu, Yo Kim
Tjan yang bersedia merekam lagu Indonesia Raya karena tidak takut
ditangkap Belanda.
Rasa percaya diri dan tidak takut perusahaan rekaman itu ditangkap
Belanda karena WR Soepratman bekerja paruh waktu sebagai pemain biola
pada orkes populer yang dipimpin Yo Kim Tjan. Selain itu WR Soepratman
juga bekerja sebagai wartawan di suratkabar Sin Po yang pertamakali
mempublikasikan teks lagu Indonesia Raya sesudah dikumandangkan WR
Soepratman pada Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.
Yo Kim Tjan mengusulkan agar rekaman lagu Indonesia Raya dibuat dalam
dua versi, yaitu versi asli yang dinyanyikan langsung oleh WR Soepratman
sambil bermain biola. Versi kedua adalah berirama keroncong yang nyaris
tidak banyak diketahui masyarakat. Alasan memproduksi lagu Indonesia
Raya versi keroncong agar semua orang Indonesia sudah tahu irama lagu
kebangsaan bila kelak dikumandangkan.
Kedua lagu itu direkam di rumah Yo KimTjan di daerah Jalan Gunung
Sahari, Batavia, dibantu seorang teknisi berkebangsaan Jerman. Master
rekaman piringan hitam berkecepatan 78 RPM yang versi asli suara WR
Soepratman disimpan dengan hati-hati oleh Yo Kim Tjan. Hanya versi
keroncong yang kemudian dikirim ke Inggris untuk diperbanyak.
*Lagu Indonesia Raya versi keroncong***yang direkam oleh Yo Kim Tjan,
1920-an.
*https://www.youtube.com/watch?v=fqN3-nDM8bU*
Belanda akhirnya panik dan menyita semua piringan hitam versi keroncong
baik yang sudah sempat beredar maupun yang masih dalam perjalanan dari
London ke Batavia. Belanda tidak mengira bila lagu yang dinyanyikan oleh
WR Soepratman sebetulnya sudah direkam setahun sebelumnya tanpa ada yang
tahu. Master lagu itu luput dari pengetahuan pihak penjajah Belanda dan
Jepang.
Puteri sulung Yo Kim Tjan, Kartika menyimpan masternya sesuai amanah WR
Soepratman yang meminta Yo Kim Tjan untuk menyelamatkan master lagunya
agar bisa didengungkan pada waktu Indonesia Merdeka. Keluarga Yo Kim
Tjan tahun 1942 membawa dan menyelamatkan master lagu itu dalam
pengungsiannya ke Krawang, Garut. Kini sekeping piringan hitam lagu
Indonesia Raya versi keroncong yang diselamatkan keluarga Yo Kim Tjan
itu ada di Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya 106, Jakarta.
Sebuah catatan perjalanan sejarah bangsa bahwa sebelum pembacaan teks
Sumpah Pemuda diperdengarkan lagu Indonesia Raya gubahan W.R. Soepratman
dengan gesekan biolanya.
Sesungguhnya teks Sumpah Pemuda dibacakan pada 28 Oktober 1928 itu
bertempat di Jalan Kramat Raya 106 Jakarta Pusat yang sekarang menjadi
Museum Sumpah Pemuda. Gedung Museum Sumpah Pemuda itu adalah milik dari
seorang Tionghoa bernama Sie Kong Liong.
Pada waktu itu hadir di Kongres Pemuda yang membacakan teks Sumpah
Pemuda empat orang pemuda Tionghoa yakni Kwee Thiam Hong, Oey Kay Siang,
John Lauw Tjoan Hok dan Tjio Djien kwie. Sejarah perjalanan panjang lagu
Indonesia Raya mengiringi semangat Sumpah Muda sampai hari ini.*****
*
*
/*Penulis Dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Medan,
relawan Badan Warisan Sumatra (BWS) Medan.*/
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com