*Demokrasi teka-teki maka oleh sebab itu kandidai pilpres pun teka-teki.
hehehehehe*

s

http://mediaindonesia.com/read/detail/176701-teka-teki-kandidasi-pilpres-2019


*Teka-teki Kandidasi Pilpres 2019*

Penulis: *Hanta Yuda AR Direktur Eksekutif Poltracking Indonesia *Pada:
Senin, 06 Agu 2018, 10:53 WIB Kolom Pakar
<http://mediaindonesia.com/kolom-pakar>


<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/176701-teka-teki-kandidasi-pilpres-2019>

<http://twitter.com/home/?status=Teka-teki%20Kandidasi%20Pilpres%202019%20http://mediaindonesia.com/read/detail/176701-teka-teki-kandidasi-pilpres-2019%20via%20@mediaindonesia>

[image: Teka-teki Kandidasi Pilpres 2019]
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/08/0c21c227e3acecb3e0cc5a35396f86a9.jpg>

PENDAFTARAN pasangan calon presiden (capres)-calon wakil presiden
(cawapres) telah dibuka. Namun, publik belum mengetahui siapa pasangan yang
akan bertarung pada 17 April 2019. Bahkan peta koalisi penantang pun masih
belum pasti. Proses penentuan calon (kandidasi) wakil presiden di kedua
poros koalisi, baik blok petahana maupun blok penantang, masih penuh
teka-teki. Kedua poros koalisi tampaknya saling menunggu dan akan mendaftar
di pengujung waktu.

Fenomena itu memunculkan beberapa pertanyaan menarik dalam konteks waktu
dan strategi kandidasi. Mengapa dalam hitungan hari peta kandidasi Pilpres
2019 terbilang masih kabur dan penuh teka-teki? Apakah ini sepenuhnya
akibat kerumitan komunikasi koalisi di luar kontrol partai, atau bagian
dari strategi politik kedua poros koalisi?Situasi dan realitas politik yang
rumit bercampur dengan strategi politik tampaknya menjadi jawaban atas
pertanyaan itu. Jawaban sementara ini tentu memunculkan pertanyaan
lanjutan, mengapa rumit dan pelik? Lalu, seperti apa adu strategi kandidasi
antar kedua kubu? Serta bagaimana ujung dari teka-teki kandidasi Pilpres
2019?

*Tiga penyebab kerumitan*

Paling tidak ada tiga sumber penyebab proses kandidasi Pilpres
2019--terutama penentuan cawapres--lebih rumit dan pelik jika dibandingkan
dengan pilpres-pilpres sebelumnya. Pertama, berebut berkah efek ekor jas
(coattail effect). Pilpres dan pemilu legislatif untuk pertama kalinya
diselenggarakan secara rerentak di 2019. Sistem pemilu serentak semacam ini
diyakini memiliki hubungan kausalitas atau pengaruh elektoral calon
presiden terhadap partai pengusungnya yang kerap diistilahkan dengan efek
ekor jas. Hal itulah yang menyebabkan semua partai rebutan berkah efek ekor
jas dengan cara mengusung ketua umum atau kader partai mereka sebagai
capres atau cawapres. Jadi, sumber pertama kerumitan berawal dari rebutan
coattail effect akibat pemilu serentak.

Kedua, persyaratan minimal perolehan kursi partai atau gabungan partai yang
dapat mengusung pasangan capres-cawapres (presidential threshold) minimal
20% kursi parlemen menjadi sumber penyebab problem kian rumitnya membangun
koalisi kandidasi pilpres. Apalagi semua partai hasil Pemilu 2014 tak satu
pun yang dapat mengusung tanpa berkoalisi.

Saat ini poros koalisi petahana sudah lebih dari cukup untuk mengusung
capres-cawapres karena telah mengantongi kekuatan enam partai parlemen (PDI
Perjuangan, Golkar, PKB, NasDem, PPP, dan Hanura) dengan total persentase
kursi lebih dari 60%. Itu artinya peta koalisi mengkristal menjadi dua
poros saja. Jika dari keenam partai koalisi petahana itu tidak ada yang
mengubah haluan politik, sudah hampir dipastikan hanya akan ada dua poros
koalisi, yaitu poros koalisi petahana dan sisanya hanya ada satu poros
koalisi penantang. Gerindra, PKS, PAN, dan Demokrat ialah empat partai yang
berpeluang tergabung dalam koalisi penantang. Dua hal inilah--coattail
effect dalam pemilu serentak dan presidential threshold 20%--menjadi
penyebab partai-partai tidak mudah berkoalisi, terutama dalam menentukan
siapa capres-cawapres yang akan diusung poros koalisi tersebut.

Ketiga, anggapan bahwa wapres terpilih 2019 nanti--terutama di poros Joko
Widodo (Jokowi)--diprediksi akan menjadi calon presiden 2024 terkuat
menjadi faktor ketiga penyebab peliknya koalisi. Karena itu, jika Jokowi
memilih cawapres dari salah satu partai koalisi, akan menjadi pertimbangan
penting bagi partai-partai lainnya, termasuk PDI Perjuangan, partai Jokowi
sekalipun, untuk konteks 2024. Andaikan Jokowi terpilih kembali, partai
wapres tersebut yang paling diuntungkan secara elektoral 2024, sementara
partai-partai lainnya akan terancam. Agar tidak menyiapkan 'karpet merah'
di 2024 bagi wapres tersebut, ada kecenderungan sebagai jalan tengah
cawapres Jokowi bukan dari salah satu partai dan tidak berpotensi menjadi
'putra mahkota' 2024. Hal itu tentu menambah sumber kerumitan dalam
kandidasi cawapres Jokowi, selain soal rebutan coattail effect.

*Lima strategi Jokowi*

Paket kombinasi capres-cawapres ialah kata kunci awal dalam konteksi
memenangi kompetisi pilpres (winning the election), baik bagi poros koalisi
petahana maupun penantang. Jokowi merupakan capres petahana yang memiliki
elektabilitas tertinggi berdasarkan survei Poltracking Indonesia maupun
lembaga survei mainstream lainnya, tetapi pada posisi elektoral yang
relatif belum aman karena posisi cawapres menjadi penting. Sementara itu,
Prabowo Subianto, meski merupakan penantang terberat petahana, juga
memerlukan kombinasi cawapres yang tepat dan kontributif secara elektoral.
Di titik inilah, strategi di tahap kandidasi--ketepatan dan kecermatan
memilih cawapres--merupakan salah satu kunci awal kemenangan. Keliru dalam
menentukan pasangan bisa fatal dan titik awal jalan kekalahan. Terlalu
cepat mengumumkan cawapres, misalnya, bagi petahana Jokowi juga bukan
pilihan tepat.

Karena itu, belum adanya keputusan capres dan cawapres yang pasti dari
kedua kubu juga bisa dibaca sebagai bagian dari strategi politik. Dari sisi
Joko Widodo sebagai capres dari poros koalisi petahana, setidaknya ada lima
strategi kandidasi cawapres yang diumumkan di saat-saat terakhir (injury
time). Pertama, Jokowi hendak mengunci kemungkinan pergerakan liar dan
manuver politik di antara enam partai koalisi secara tiba-tiba berbelok
arah atau pindah perahu koalisi. Hal itu bertujuan menjaga soliditas
koalisi dan meredam potensi pecahnya koalisi sebelum pendaftaran.
Kemungkinan poros ketiga bisa terjadi jika ada satu di antara enam partai
di koalisi petahana. Strategi itu sekaligus juga untuk meredam potensi
persilangan aspirasi politik antarpartai yang mengajukan nama-nama berbeda
untuk cawapres.

Kedua, poros petahana menunggu siapa yang akan diajukan dan kemudian
memasang kombinasi figur yang tepat untuk melawan poros penantang. Siapa
capres dan cawapres dari kubu penantang tampaknya benar-benar
diperhitungkan Jokowi. Sebagai misal, jika Prabowo benar-benar menjadi
capres yang diusung koalisi penantang, cawapres Jokowi yang akan dipasang
ialah nama seseorang. Kalau bukan Prabowo capres penantang, bisa jadi figur
alternatif lain yang akan dikeluarkan. Kombinasi paket capres-cawapres
lawan itu penting bagi Jokowi. Karena itu, satu nama yang kerap disebutkan
tampaknya merupakan satu nama untuk setiap alternatif.

Ketiga, sengaja mengaburkan nama cawapres kepada lawan. Artinya untuk
membingungkan pihak koalisi penantang mengenai siapa yang akan dipasangkan
sebagai cawapres, hal ini tentu dalam konteks kompetensi persaingan
elektabilitas dalam kontestasi Pilpres 2019. Strategi untuk mengaburkan
nama cawapres ke pihak koalisi penantang ini juga penting karena jika
terbaca sejak awal, lebih mudah bagi lawan menyiapkan kombinasi yang lebih
tepat sebagai lawan atau penentang.

Keempat, Jokowi tampaknya juga ingin mengunci manuver politik Jusuf Kalla
(JK) pada Pilpres 2019 yang masih ada potensi menyeberang ke pihak lawan.
Strategi mengunci kemungkinan manuver politik JK di ujung tikungan seperti
halnya di pilkada DKI Jakarta menjadi pelajaran berharga bagi Jokowi atas
manuver 'liar' JK. Karena itu, upaya judicial review ke MK tetap tidak bisa
dibaca secara terpisah dari strategi ini. Itu artinya, faktor JK masih
dianggap penting di masa-masa terakhir pergerakan politik, untuk memastikan
bahwa JK tetap bersama Jokowi di kubu petahana.

Kelima, strategi komunikasi publik, dengan Jokowi hendak mengirimkan pesan
kuat kepada publik bahwa penentu cawapres ialah dirinya sendiri. Jokowi
hendak menegaskan dirinyalah bertindak sebagai veto player di koalisi
petahana, sekaligus strategi menggiring persepsi bahwa meski bukan ketua
umum partai, Jokowi tidak tersandera oleh partai-partai koalisi.

*Tiga strategi Prabowo*



Seperti halnya Jokowi, belum adanya keputusan cawapres yang pasti dari kubu
penantang juga bisa dibaca sebagai bagian dari strategi politik. Paling
tidak ada tiga hal strategi Prabowo. Pertama, sama dengan Jokowi, Prabowo
juga hendak mengunci kemungkinan empat partai di luar poros koalisi
petahana agar tetap bersama di poros penantang. Bagaimana strategi Prabowo
setelah bergabungnya Demokrat tidak menyebabkan PKS keluar dari koalisi
sangat diperlukan. Karena itu, penentuan cawapres di ujung dianggap relatif
lebih aman untuk menjaga posisi PKS, tetapi sekaligus berisiko bagi
Prabowo. Meskipun Gerindra cukup dengan salah satu partai saja sudah
memenuhi syarat pencalonan, itu juga berisiko justru ditinggalkan jika SBY
dan Demokrat berhasil membentuk poros baru bersama PKS dan PAN.

Kedua, strategi mencari cawapres yang kontributif secara elektoral juga
bagian dari strategi penting Prabowo, kalkulasi tentang peluang menang dan
bagaimana memenangi pertarungan (winning the election) menjadi sangat
penting bagi Prabowo yang pernah dikalahkan Jokowi.

Kehadiran Demokrat yang sangat mungkin menginginkan AHY menjadi cawapres
menjadi tantangan tersendiri bagi Prabowo menjaga PKS agar tetap di koalisi
penantang. PKS yang merasa paling setia berkoalisi dengan Gerindra tentu
merasa paling berhak mendapatkan posisi cawapres, setelah mengalah di
Pilpres 2014 dan Pilkada DKI 2018. Meskipun tampaknya Prabowo paham betul,
PKS tidak memiliki pilihan lain yang realistis kecuali harus bersamanya.
Lemahnya posisi tawar PKS dalam kandidasi cawapres itu akibat dari strategi
politik keliru yang dijalankan PKS sendiri, yang terlalu cepat dan sangat
tegas memosisikan diri 'antipetahana' melalui gerakan ganti presiden
misalnya. Karena itu, pindah perahu koalisi bagi PKS menjadi kian mustahil
karena justru berisiko akan merobohkan basis elektoral konstituen mereka
jika memilih bersama koalisi petahana. Jika akhirnya Prabowo mengambil
cawapres Demokrat, dengan lemahnya posisi tawar PKS, menjadi tidak sulit
bagi Prabowo 'membereskan' kekecewaan PKS agar mesin politiknya tetap bisa
diberdayakan.

Ketiga, sebagai penantang tentu Prabowo membutuhkan topangan logistik
politik yang juga memadai. Strategi Prabowo mendapatkan cawapres yang
potensial tetapi sekaligus mampu membawa logistik politik dan mesin politik
yang kuat tampaknya sangat sulit. Misalnya, menginginkan cawapres figur
potensial seperti Anies Baswedan, tetapi mendapatkan dukungan mesin politik
dari PKS dan topangan logistk politik dari Demokrat sekaligus, tentu hal
ini hampir mustahil didapatkan. Karena itu, keengganan Anies menjadi
cawapres (bukan capres), PKS yang cukup ngotot mendapatkan posisi cawapres,
serta manuver politik SBY yang dikenal penuh perhitungan membutuhkan
strategi tepat bagi Prabowo.

*Dua skenerio 2019*

Terbentuknya poros ketiga hampir tertutup. Karena itu, sangat mungkin hanya
akan ada dua pasangan capres-cawapres 2019 yang akan mendaftar. Teka-teki
tersisa ialah apakah penantang Jokowi benar-benar Prabowo seperti yang
sedang berembus kencang saat ini, atau ada kejutan jika Prabowo memilih
atau terpaksa menjadi king maker. Karena itu skenario tinggal dua, yaitu
skenario pertama capres Jokowi akan berhadapan kembali dengan Prabowo, atau
skenario kedua dengan akan muncul nama baru penantang Jokowi. Namun,
peluang terjadinya skenario kedua sudah sangat kecil.

Terkait dengan dua skenario itu, yang menarik dianalisis ialah siapa atau
partai apa yang mendapatkan berkah coattail effect dan bagaimana peluang
menang di antara dua skenario tersebut bagi koalisi penantang. Jika Prabowo
tetap capres, yang mendapatkan berkah coattail effect terbesar dari blok
pemilih di luar Jokowi ialah Gerindra, lalu disusul partai sang cawapres,
Demokrat atau PKS. Gerindra bahkan berpotensi besar minimal menjadi juara
kedua di pemilu legislatif jika tetap mengusung Prabowo. Namun, jika
Prabowo pada akhirnya memberikan tiket capres kepada figur nonpartai,
misalnya Anies atau Gatot Nurmantyo, yang berhasil berpasangan dengan kader
Demokrat (AHY), hal itu akan menjadi kemenangan besar bagi SBY dan
Demokrat. Itu disebabkan Demokrat yang akan memanen berkah coattail effect
di pemilu legislatif. Sebaliknya, Gerindra yang paling dirugikan dan akan
sulit mempertahankan posisi ketiga seperti perolehan Pemilu 2014.

Mengenai peluang kemenangan, ada asumsi bahwa Prabowo dianggap lebih lemah
dari nama baru seperti Anies atau Gatot sebagai penantang terbilang
hipotesis yang lemah. Mengingat tanda-tanda nama baru tersebut akan menjadi
penantang berat bagi Jokowi di 2019 belum terlihat, sementara Pilpres 2019
tinggal 8 bulan. Berbeda misalnya jika kita berkaca pada kandidasi
menjelang Pemilu 2014, elektabilitas Jokowi yang didorong-dorong menjadi
capres alternatif untuk melawan Prabowo sudah muncul cukup tinggi dan
terbilang kuat, begitu juga posisi elektabilitas Anies Baswedan-Sandiaga
Uno jika berhadapan dengan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Syaiful Hidayat
dalam survei Poltracking Indonesia 6 bulan menjelang pilkada DKI sudah
kompetitif dan relatif imbang (data survei sebelum munculnya isu
kontroversial dan dinamika politik kencang setelah itu).

Karena itu, analisis bahwa Anies akan lebih kuat dari Prabowo sebagai
penantang selain lemah secara data, hal itu baru sekadar prediksi.
Sebaliknya, jika Prabowo yang sudah pernah kalah sebagai capres 2014 dan
cawapres 2009 dianggap akan semakin sulit menang juga terbantahkan oleh
fenomena kemenangan Khofifah Indar Parawansa di Jawa Timur. Meski dengan
cakupan geografis yang berbeda, fenomena ketepatan mengambil figur cawagub,
rebranding figur, dan pilihan isu dan strategi yang tepat justru
mengantarkan Khofifah menjadi pemenang, dari semula elektabilitas 27% pada
6 bulan sebelum pilkada, pada akhirnya mendapatkan perolehan suara dua kali
lipat pada pilkada 27 Juni 2018. Karena itu, analisis bahwa Prabowo lemah
dan Anies akan kuat merupakan hipotesis yang relatif lemah.

Dua faktor yang berpeluang dapat mengubah dari skenario pertama ke skenario
kedua, yaitu menggantikan posisi Prabowo sebagai capres menjadi king maker
ialah faktor SBY dan faktor JK. Faktor pertama sedang bergulir, jika
dinamika dalam 4-5 hari ke depan disepakati AHY sebagai cawapres Prabowo,
peluang selanjutnya ialah faktor JK. Jika SBY berhasil berkomunikasi
intensif dengan JK, dan JK akhirnya tidak bersama Jokowi, peluang munculnya
paket Anies-AHY di ujung waktu terbuka. Karena 'kartu Anies' sejatinya
dipegang JK sebagai patron politik Anies Baswedan, seperti halnya di DKI.
Namun, tanda-tanda yang kedua (faktor JK) belum muncul sama sekali. Karena
itu, sulit membayangkan jika akhirnya capres yang diusung koalisi penantang
bukan Prabowo. Sepanjang JK masih bersama Jokowi, dan SBY-JK tidak ada
pertemuan atau komunikasi intensif, skenario selain Prabowo sepertinya
hampir tidak ada. Karena itu, 10 Agustus 2018 tampaknya kita akan
menyaksikan rematch antara Jokowi dan Prabowo di 2019. Tinggal siapa
cawapresnya.

Kirim email ke