Prabowo Terjerat Koalisi


kumparanNEWS
Minggu 05 Agustus 2018 - 19:19



Prabowo Subianto dan rekan-rekan koalisinya--Zulkifli Hasan, SBY, serta Sohibul 
Iman. (Foto: kumparan, ANTARA)

Sungguh repot jadi calon presiden kubu oposisi. Tak dapat teman koalisi, susah. 
Dapat kawan baru, muncul masalah tambahan. Betul-betul serbasalah menghadapi 
partai-partai koalisi. Apalagi tenggat pendaftaran capres-cawapres kian dekat. 
Prabowo Subianto harus berpikir cepat: siapa yang mau dia ambil jadi calon 
wakil presiden?Ketidakpastian soal sosok pendamping itu pun membuat Prabowo 
terus-menerus jadi incaran media. Rabu malam (1/8), misalnya, saat empat 
sekretaris jenderal partai pengusungnya menggelar pertemuan di Kemang, Prabowo 
diadang rombongan wartawan saat keluar dari rumahnya di Kertanegara IV, 
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.Sebelum mobilnya melaju pergi entah ke mana, 
Prabowo menjawab alakadarnya cecaran wartawan. “Rajin amat kalian. Tenang saja, 
tenang. Tiga, empat, lima hari lagilah (cawapres saya umumkan).”Tentu saja itu 
sekadar jawaban sembarang. Sampai lima hari setelahnya, Senin (6/8), Prabowo 
belum menetapkan siapa cawapresnya.

Sekjen PAN Eddy Soeparno, Sekjen Gerinda Ahmad Muzani, dan Sekjen PKS Mustafa 
Kamal. (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)Malam kian larut kala pertemuan 
empat sekjen partai koalisi oposisi--yang antara lain membahas mekanisme 
pemilihan cawapres Prabowo--akhirnya usai. Sekjen PKS Mustafa Kamal bergegas 
menuju mobilnya dengan wajah kecut.“Pokoknya PKS memegang teguh dan menjunjung 
tinggi (capres-cawapres rekomendasi) Ijtima Ulama,” kata Mustafa dari dalam 
mobil.“Ijtima Ulama kan dihadiri wakil-wakil umat dari seluruh Indonesia. 
Artinya, mewakili kantong-kantong suara. Rekomendasi ulama itu di atas 
segala-galanya. Jangan dianggap enteng sama partai-partai. Jangan seperti bisa 
berdiri sendiri dan merasa ‘Oh, itu kan hanya rekomendasi.’ Jangan sembarangan 
dengan ulama. Nanti ditinggal sama umat,” kata Ketua DPP PKS Aboe Bakar Al 
Habsyi keesokannya, Kamis (2/8), kepada kumparan.Rekomendasi Ijtima Ulama yang 
dihelat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Ulama tersebut jadi senjata PKS ketika 
berhadapan dengan rekan-rekan koalisi Prabowo. Bagaimana tidak, sebab salah 
satu nama cawapres yang tercantum dalam rekomendasi tersebut adalah ketua 
majelis syuro mereka sendiri, Salim Segaf Al-Jufri.Sementara satu nama lagi 
ialah Abdul Somad, dai sejuta umat yang tak berminat maju dalam ingar bingar 
pertarungan Pemilu Presiden karena ingin menjadi “ustaz seumur hidup.”“Dua nama 
itu adalah keputusan keumatan dari pihak Prabowo and the gang. Jadi jangan 
mundur lagi. Prioritaskan Salim. Misal belum diterima, silakan ganti UAS (Ustaz 
Abdul Somad). Kalau tidak mau, ya balik lagi ke Salim. Rekomendasinya kan ada 
dua cawapres,” ujar Aboe Bakar.

Prabowo Subianto bersama Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) dan Ketua Majelis 
Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri (kanan). (Foto: Antara/Rivan Awal Lingga)PKS 
kentara sekali begitu ngotot di lingkaran koalisi Prabowo. Ia seolah merasa 
paling berhak atas slot cawapres, karena sejak awal telah berjuang bersama 
Prabowo. Memang, tak hanya PKS yang pasang harga tinggi. Demokrat pun 
mengajukan Agus Harimurti Yudhoyono dan PAN mendorong Zulkifli Hasan.“Tetapi 
kalau sampai memaksa dan merasa lebih dari yang lain, itu salah,” ucap sumber 
kumparan di internal koalisi Prabowo.Ketua Persaudaraan Alumni 212 Slamet 
Maarif bahkan ikut menghadiri pertemuan petinggi koalisi Prabowo, minus 
Demokrat, di rumah pengusaha yang juga sahabat Prabowo, Maher Algadri, di 
Jakarta Selatan, Selasa (31/7).Menurut Slamet, perannya pada pertemuan itu 
ialah sebagai penguat koalisi keumatan yang antara lain terdiri dari Gerindra, 
PKS, dan PAN. Petinggi partai-partai tersebut pernah menyambangi Rizieq Syihab 
di Mekkah, Arab Saudi. Ketika itulah Rizieq mendorong pembentukan Koalisi 
Keumatan.Sejumlah sumber di lingkaran koalisi Prabowo menyatakan, Selasa malam 
itu PKS mengatur agenda pertemuan hingga daftar tamu untuk meloloskan agenda 
politiknya, sekaligus meyakinkan kubu Prabowo bahwa rekomendasi Ijtima Ulama 
akan memberikan kemenangan bagi Prabowo.Berikutnya, seakan menambah tekanan, PA 
212 berkirim surat kepada Gerindra dan PAN untuk ‘mengingatkan’ bahwa “wajib 
mengikuti putusan Ijtima Ulama.”Menanggapi desakan tersebut, PAN menjawab 
diplomatis. “Hasil Ijtima Ulama itu strong recommendation. Kami taruh di atas 
meja,” kata Zulkifli Hasan, Sabtu (4/8). Ia menambahkan, “Usulan partai-partai 
(soal nama cawapres) juga kami taruh di atas meja.”“Partai politik punya 
mekanisme sendiri untuk menentukan arah dalam Pilpres 2019,” ujar Sekjen PAN 
Eddy Soeparno secara terpisah.https://youtu.be/Ln8Sh1T92KsIni semua gara-gara 
Demokrat. Sekutu baru Gerindra itu betul-betul mengancam posisi PKS di takhta 
cawapres. Membuat PKS bermanuver tajam dengan rekomendasi Ijtima Ulama sebagai 
amunisi.Kedatangan Demokrat sebagai kawan koalisi teranyar Prabowo bukan tanpa 
cek kosong.. Ia membawa Agus Harimurti Yudhoyono sebagai kandidat 
cawapres.“Kami percaya AHY punya peluang besar. AHY pasti menambah suara 
signifikan untuk elektabilitas Pak Prabowo. Ia akan membawa suara pemilih 
pemula, kaum perempuan, dan kelompok nasionalis muda. Itu besar sekali,” kata 
Ketua DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean pada hari yang sama dengan pertemuan 
empat sekjen partai koalisi Prabowo.“Partai Demokrat yakin betul bahwa AHY 
adalah pilihan terbaik untuk mendampingi Pak Prabowo,” imbuhnya.Ucapan itu 
tentu jadi bentuk tekanan lain buat Prabowo. Serupa PKS, Demokrat sama sekali 
tak melonggarkan upaya untuk mendorong AHY. Meski, tentu saja, tiap pernyataan 
dibumbui pemanis macam, “Kami mengembalikan dan menyerahkan sepenuhnya kepada 
Pak Prabowo untuk memilih siapa wakilnya.”Sinyal Demokrat memajukan AHY 
terlihat semakin kuat lewat orasi 30 menit sang putra mahkota Cikeas yang 
disiarkan langsung oleh tvOne pada Jumat malam (3/8).Pidato bertajuk ‘Muda 
adalah Kekuatan’ itu disampaikan AHY dengan mengambil momentum peringatan satu 
tahun The Yudhoyono Institute, lembaga think tank tempat AHY duduk sebagai 
direktur eksekutif.

Orasi AHY #MudaAdalahKekuatan di Djakarta Theater, Jumat malam (3/8). (Foto: 
Nugroho Sejati/kumparan)Sejak membuka orasi, AHY langsung menonjolkan dan 
melekatkan faktor ‘muda’ sebagai nilai jualnya. Ia seakan berkata: jangan takut 
ambil anak muda sebagai pemimpin.“Muda adalah kekuatan. Ada yang mengatakan 
bahwa saya terlalu muda untuk melakukan sesuatu. Iya, saya memang muda. So 
what?” ujarnya disambut gemuruh tepuk tangan hadirin di Ballroom Djakarta 
Theater.AHY bukannya gelas kosong. Sejak kekalahan di Pemilihan Gubernur DKI 
Jakarta yang menjadi debut karier politiknya, ia terus memoles diri dan 
perlahan terus meningkatkan elektabilitasnya. Dengan dukungan pasti Demokrat, 
namanya terus bertengger di berbagai survei capres-cawapres 2019.Dalam survei 
Alvara yang dilakukan 20-28 Juli, misalnya, elektabilitas AHY sebagai cawapres 
melonjak ke angka 19,3 persen. Ia berada di posisi teratas daftar cawapres 
Prabowo dibanding Anies Baswedan (18,9 persen).Dua bulan sebelumnya berdasarkan 
survei LIPI pada 19 April-5 Mei, elektabilitas AHY sebagai cawapres Prabowo 
‘hanya’ 15,7 persen, kalah dari Anies Baswedan (23,1 persen).Hasil survei 
terbaru oleh Roda Tiga Konsultan yang dirilis Minggu (5/8), 12 hari setelah 
Demokrat merapat ke Prabowo, memperlihatkan AHY sebagai kandidat terkuat 
cawapres Prabowo dengan elektabilitas 25,6 persen.“Elektabilitas AHY sangat 
baik. Peringkat satu untuk cawapres, baik dipasangkan dengan Jokowi atau 
Prabowo. Jadi kalau bicara siapa calon yang bisa meningkatkan elektabilitas, 
AHY pilihan tepat,” kata politikus Demokrat Andi Mallarangeng.

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)Prabowo sendiri 
sudah sempat berkata “Why not?” kepada AHY dalam pertemuan perdananya dengan 
SBY sebagai koalisi, Selasa (24/7).“Kriteria yang saya butuh adalah yang 
kapabel, yang bisa berkomunikasi baik dengan generasi muda, karena pemilih 
mayoritas di bawah usia 40. Kalau umpamanya dalam pertemuan (koalisi) nama AHY 
muncul sebagai yang dibicarakan, saya harus katakan, why not?” ujar Prabowo di 
kediaman SBY, Mega Kuningan, Jakarta Selatan, saat itu.Mengambil AHY sebagai 
pendamping, otomatis sepaket dengan elektabilitasnya, plus logistik yang dibawa 
Demokrat. Kedua komponen itu jelas akan menjadi bantuan signifikan bagi Prabowo 
yang blak-blakan butuh tambahan logistik dengan menggalang dana dari para 
pendukungnya sejak akhir Juni.Ini pula yang membuat PKS makin merasa terancam. 
Soal elektabilitas, Salim Segaf Al-Jufri bahkan tak selalu masuk radar survei 
capres-cawapres. Maka tak heran PKS begitu sengit.“Kalau mau elektabilitas, 
pilih Jokowi. Karena elektabilitas Prabowo juga di bawah Jokowi. Percuma bikin 
Ijtima Ulama kalau omong elektabilitas. Bicara itu soal kekuatan keumatan. Mau 
berkah, nggak?” kata Aboe Bakar.Jika sudah bicara pada tataran umat, lanjutnya, 
maka elektabilitas dan logistik jadi kurang berarti. PKS yakin, koalisi 
keumatan dapat melibas perkara elektabilitas dan logistik yang selama ini 
didewakan.“Lewat semua soal itu. Dulu, ada yang sangka nggak Ahok bisa kalah di 
Jakarta? Nah, jadi solidaritas keumatan akan menggelinding lebih besar dari 
semua yang sudah dirancang orang. Pesantren-pesantren itu nanti jadi pusat dan 
ladang logistik,” ujar Aboe.Sementara Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera via akun 
media sosialnya memperlihatkan tabel perolehan suara partai-partai pada Pilkada 
Serentak 2018. Pada tabel itu, calon-calon kepala daerah yang diusung PKS lebih 
banyak memenangi pilkada daripada Demokrat.

Tarik Ulur Koalisi Prabowo (Foto: Basith Subastian/kumparan)Sikap keras PKS 
bukan tanpa alasan. Seperti partai-partai lain, PKS perlu memastikan diri lolos 
ke parlemen pada Pemilu Legislatif 2019. Dalam hal ini, menempatkan kader 
partai sebagai cawapres akan mengerek perolehan suara PKS yang stagnan..“Kerja 
sama dengan Gerindra merupakan upaya PKS untuk dapat mengusung calon bersama. 
Kami meyakini itu akan berdampak pada elektabilitas PKS di Pemilu 2019,” kata 
Direktur Pencapresan PKS Suhud Alynudin.Itu pula yang membuat Demokrat terus 
tancap gas menyorongkan AHY, sembari menyindir mereka yang tak merestui putra 
sulung SBY tersebut.“Yang berkoalisi itu Demokrat dengan Gerindra, bukan dengan 
PA 212. Memang dia siapa bisa mengatur dan memutuskan apa pun terkait koalisi 
Demokrat dan Gerindra?” ujar Ketua DPP Demokrat Ferdinand Hutahaean, seraya 
menegaskan, “Partai politik punya mekanisme sendiri untuk menentukan sikap.”
Baca Juga :
   
   - Berebut Efek Ekor Jas: AHY vs Salim Segaf
   - Opsi Darurat buat Demokrat
Demokrat amat percaya diri walau jadi anggota paling baru dalam poros Prabowo. 
Meski PKS tak henti membujuk kubu Prabowo untuk mematuhi rekomendasi Ijtima 
Ulama, SBY tetap memegang kunci.Misalnya saja, tim kecil koalisi Prabowo yang 
intens membahas platform bersama mereka, ternyata berisi kader senior 
masing-masing partai yang merupakan para eks menteri pemerintahan SBY.

SBY bersalaman dengan Ketua Majelis Syuro PKS Salim Segaf Al-Jufri. Terlihat 
pula Presiden PKS Sohibul Iman (kiri) dan Wakil Ketua Dewan Syuro PKS Hidayat 
Nur Wahid (kanan). Mereka menggelar pertemuan tertutup di Jakarta, Senin 
(30/7). (Foto: Antara/Galih Pradipta)Satu lagi anggota koalisi Prabowo, PAN, 
gagal meraih panggung dan gagap bermanuver, sehingga terlihat gamang ke mana 
akan berlabuh.Walau terlihat lebih sering bersama Prabowo, Ketua Umum PAN 
Zulkifli Hasan menurut beberapa sumber masih bimbang memutuskan apakah hendak 
berada di kubu Jokowi, atau mendukung Prabowo yang merupakan sekutu 
tradisionalnya.PAN baru akan memutuskan sikap definitifnya dalam Rapat Kerja 
Nasional yang sedianya digelar hari ini, Senin (6/8), namun diundur satu-dua 
hari lagi.“Semua (partai koalisi Prabowo) harus duduk bersama di meja kosong 
selama urun rembuk. Artinya tanpa membawa prasyarat, apalagi syarat mutlak,” 
kata Sekjen PAN Eddy Soeparno.Ketua DPP PKS Nasir Djamil mengamini kesulitan 
yang dihadapi koalisi Prabowo. “Memang tidak mudah mengelola (perbedaan 
kepentingan) ini. Di satu sisi, kami butuh kawan. Di sisi lain, kawan itu tentu 
punya keinginan.”

Prabowo Subianto, SBY, dan Jokowi salat berjemaah di Istana pada 20 Juli 2014. 
(Foto: AFP/Adek Berry)Di antara jerat kepentingan partai-partai koalisinya, 
Prabowo berucap tenang, “Kami cari yang terbaik untuk semua, rakyat dan bangsa 
Indonesia.”Namun, sejumlah pengurus Partai Gerindra melempar isyarat. Anggota 
Badan Komunikasi Gerindra Andre Rosiade mengatakan, “Di rumah Pak SBY, Pak 
Prabowo menyatakan salah satu syarat cawapres beliau adalah orang yang bisa 
menjembatani komunikasinya dengan pemilih milenial, karena 100 juta suara di 
Pilpres 2019 itu pemilih milenial.”Sementara Ketua DPP Gerindra Ahmad Riza 
Patria menyatakan Prabowo akan memprioritaskan kandidat yang mengantongi 
elektabilitas tertinggi, meski ia kemudian berkata, “Semua calon punya peluang 
sama.”Kini, tinggal tunggu Prabowo mengetuk palu.








Kirim email ke