http://id.beritasatu.com/tajuk/demi-proyek-infrastruktur/178475

*Demi Proyek Infrastruktur*
Selasa, 31 Juli 2018 | 12:23

[image: Proyek infrastruktur. Foto ilustrasi: b1/Danung Arifin] Proyek
infrastruktur. Foto ilustrasi: b1/Danung Arifin

Berita Terkait

   -

   Pelemahan Rupiah Tunda Proyek Infrastruktur Nonstrategis
   
<http://id.beritasatu.com/home/pelemahan-rupiah-tunda-proyek-infrastruktur-nonstrategis/178884>
   -

   Lanjutkan Pembangunan Proyek Infrastruktur
   
<http://id.beritasatu.com/home/lanjutkan-pembangunan-proyek-infrastruktur/178766>
   -

   Kaji Ulang Proyek-proyek Infrastruktur
   <http://id.beritasatu.com/home/kaji-ulang-proyek-proyek-infrastruktur/178706>
   -

   Luhut-Menlu Jepang Bahas Sejumlah Kerja Sama Infrastruktur
   
<http://id.beritasatu.com/home/luhut-menlu-jepang-bahas-sejumlah-kerja-sama-infrastruktur/177095>
   -

   Infrastruktur Penggerak Pertumbuhan Ekonomi
   
<http://id.beritasatu.com/home/infrastruktur-penggerak-pertumbuhan-ekonomi/175260>

Supremasi dolar AS meminta tumbal. Tak hanya memukul sektor-sektor bisnis
yang memiliki kandungan impor, penguatan dolar AS juga menghantam
proyek-proyek infrastruktur di dalam negeri. Dengan alasan itu, pemerintah
sedang memilah proyek-proyek infrastruktur yang pembangunannya bisa ditunda
atau dihentikan sementara.


Keputusan pemerintah untuk menunda pembangunan sejumlah proyek
infrastruktur bisa dipahami. Sebagian besar material infrastruktur dibeli
dari luar negeri alias diimpor. Maka ketika dolar melambung tinggi,
anggaran untuk membeli material infrastruktur ikut melonjak.


Pukulan dolar terhadap proyek-proyek infrastruktur seperti senjata makan
tuan. Proyek infrastruktur pula yang selama ini turut memicu pelemahan
rupiah. Impor material infrastruktur pada Januari-Mei 2018 mencapai US$ 4
miliar. Akibat besarnya impor

kebutuhan proyek infrastruktur, neraca perdagangan tergerus defisit US$
2,38 miliar.


Pelemahan rupiah akibat besarnya impor material infrastruktur diperparah
oleh isu kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) serta perang
dagang AS dengan Tiongkok. Isu kenaikan *Fed funds rate* (FFR) dan
proteksionisme telah memicu gelombang pembalikan modal (*sudden reversal*)
dari *emerging markets*, termasuk Indonesia, ke Negeri Paman Sam.


Besarnya impor material infrastruktur telah menorehkan kekhawatiran dalam
jangka menengah-panjang berupa pembengkakan defisit neraca transaksi
berjalan (*current account deficit*/CAD). Sampai akhir tahun ini, CAD
diperkirakan tembus US$ 25 miliar dibanding tahun lalu US$ 17,3 milar.

Dengan kondisi neraca transaksi berjalan yang terus digerogoti defisit,
rupiah yang selama tahun berjalan (*year to date*/ytd) terdepresiasi
sekitar 6,3% ke level Rp 14.409 per dolar AS, bakal terus dibayang-bayangi
pelemahan. Padahal, dalam APBN 2018, asumsi rupiah dipatok Rp 13.400 per
dolar AS.

Kini kita bertanya-tanya. Perlukah pemerintah menghentikan proyek
infrastruktur yang selama ini digadang-gadang menyerap banyak tenaga kerja,
bakal menekan biaya logistik, menjadikan perekonomian lebih efisien, dan
membuat pertumbuhan ekonomi nasional semakin *moncer*? Bukankah itu justru
kontraproduktif dan bisa menimbulkan ketidakpastian?

Suka atau tidak suka, pemerintah harus lebih selektif membangun proyek
infrastruktur publik. Hanya proyek-proyek infrastruktur yang benar-benar
dibutuhkan dan dapat mendorong kegiatan produktif yang pembangunannya boleh
dilanjutkan. Dalam situasi darurat seperti sekarang, diperlukan kearifan
pemerintah untuk memisahkan unsur keadilan dan asas manfaat.

Proyek *mass rapid transit* (MRT) di Jakarta, jalan tol trans-Jawa, tol
trans-Sumatera, waduk dan irigasi di sentra-sentra pertanian, pembangkit
listrik di kawasan industri dan daerah-daerah yang ekonominya tertinggal,
adalah contoh infrastruktur publik yang pembangunannya harus
diprioritaskan. Proyek infrastruktur yang tidak mendatangkan kegiatan
ekonomi produktif, seperti jalan raya di Papua, pelabuhan dan bandara di
Indonesia timur, sebaiknya ditunda.

Menunda pembangunan proyek infrastruktur yang kurang produktif di wilayah
tertinggal mungkin dianggap sebagai tindakan yang kurang adil dan kurang
pro-pemerataan. Apalagi masyarakat di wilayah-wilayah tersebut selama ini
tidak menikmati fasilitas infrastruktur publik seperti masyarakat lainnya
di Tanah Air. Tapi, demi menyelamatkan perekonomian nasional, tindakan itu
sah-sah saja dilakukan.

Pemerintah hanya perlu meyakinkan masyarakat bahwa pembangunan
proyek-proyek infrastruktur tersebut tidak dihentikan, cuma ditunda, untuk
sementara. Semua demi kepentingan nasional. Setelah kondisi ekonomi normal,
pemerintah akan memacu pembangunan infrastruktur di wilayah-wilayah
tertinggal, sehingga ketimpangan antarwilayah dan kesenjangan ekonomi
antarpenduduk bisa direduksi.


Ada baiknya pula pemerintah tidak terlampau silau pada kedigdayaan
infrastruktur. Proyek infrastruktur selalu diagung-agungkan sebagai proyek
dengan dampak berantai (*multiplier effect*) amat dahsyat. Saat dibangun,
proyek infrastruktur menyerap banyak tenaga kerja. Setelah beroperasi,
proyek infrastruktur menjadikan ekonomi tumbuh lebih akseleratif. Anggapan
ini tidak salah. Namun, proyek infrastruktur tak selalu menjadi dewa
penyelamat bagi perekonomian yang sedang lesu darah.

Proyek infrastruktur sejatinya adalah pisau bermata dua. Selain
mendatangkan dampak positif berantai terhadap perekonomian, proyek
infrastruktur --jika tidak dikelola dengan baik-- bisa menjadi bumerang.
Anggaran infrastruktur yang jorjoran dan terlalu ekspansif dapat
memantik *crowding-out
effect *atau kebijakan fiskal yang menyebabkan kenaikan suku bunga dan
menekan investasi.

Gejala *crowding-out effect *bisa dirasakan saat ini tatkala regulator
kesulitan mendorong penurunan suku bunga perbankan. Itu terjadi karena
pemerintah dengan kupon surat berharga negara (SBN)-nya dan perbankan
dengan suku bunga simpanannya, harus bersaing memperebutkan dana
masyarakat. Hasilnya, rezim suku bunga rendah kian jauh panggang dari api.

Keputusan pemerintah menarik likuiditas besar-besaran di pasar keuangan
melalui penerbitan SBN untuk menutup defisit APBN, termasuk untuk membiayai
proyek infrastruktur, bahkan ikut menekan pasar SBN. Tahun ini, anggaran
pembangunan infrastruktur mencapai Rp 410,7 triliun, terbesar sepanjang
sejarah.

Pasar saham juga terkena sentimen negatif. Saham-saham emiten di Bursa Efek
Indonesia (BEI), terutama emiten BUMN yang ikut menggarap proyek-proyek
infrastruktur pemerintah, banyak yang terjengkang. Padahal, fundamental
mereka sangat kuat. Sejumlah emiten BUMN malah membukukan pertumbuhan laba
bersih di atas 100%.


Faktor lain yang kurang diperhitungkan pemerintah adalah mengecilnya dampak
investasi di bidang infrastruktur. Tidak seperti di masa lalu, ekspansi
bidang infrastruktur saat ini tak diikuti peningkatan produktivitas dan *output
*ekonomi yang signifikan. Faktanya, tenaga kerja di bidang infrastruktur
sekarang tak semeriah *tempo doeloe*.

Kita percaya, jika pemerintah lebih ‘jernih’ dalam mengelola pembangunan
infrastruktur, tekanan CAD akan berkurang, neraca perdagangan kembali
positif, rupiah menguat, pasar SBN membaik, saham-saham infrastruktur dan
konstruksi *kinclong *lagi. Tentu dengan catatan, pemerintah harus berani
menanggalkan ‘atribut-atribut’ yang tidak populis, yang mungkin tidak
menguntungkan bagi pencitraan, tapi mendatangkan kemaslahatan bagi
perekonomian nasional. (*

Kirim email ke