Prinsip "BEKERJASAMA" untuk "MENANG BERSAMA dan UNTUNG BERSAMA" inilah yang mutlak harus dipegang kuat dan dijalankan untuk MAJUUU BERSAMA, ...!

Manakala terjadi ketimpangan, yaa berembuklah sebaik-baiknya untuk menemukan titik keseimbangan, pada saat kedua-belah pihak berkeras mempertahankan kepentingan sendiri tidak berhasil menerima titik temu yang bisa disetujui bersama, yaa PECAH lah persatuan itu! Begitulah keatuan kerjasama, partnership terbentuk dan pecah, ...

Jadi tidak bisa berlakukan keharusan mengalah dan menerima saja perlakuan lawan yang melampaui BATAS, ...! Pada saat lawan ajak berantem, tentu harus BERANI melawan. TIDAK lari menghindar apalagi harus TUNDUK! Yang menjadi masalah BAGAIMANA kita menghadapinya, melawannya!

Tidak mengerti kenapa Jokowi disalahkan, sekalipun juga tidak perlu disamakan dengan Mandela? Disini Jokowi sudah BETUL, "kalau diajak berantem juga harus berani!" sekalipun tidak memberikan kejelasan, hanya menyatakan janganlah memulai berantem lebih dahulu, ... Itulah yang diajukan Ketua Mao, ""BERSATU dan BERJUANG" dalam menghadapi musuh, ... disatu sisi mempertahankan persatuan untuk memperjuangan kepentingan masing-masing, dipihak lain meneruskan PERJUANGAN, PERLAWANAN sesuai sikap dan bentuk perjuangan yang dilancarkan MUSUH!

Saat diembargo, AS lancarkan blokade sejagad terhadap RRT, ya dihadapi saja deengan teguh jalankan prinsip BERDIKARI, ... setelah politik blokade terjebol dan Presiden Nixon terpaksa datang ke Beijing bersalaman dengan Ketua Mao, yaa dimulailah bentuk perjuangan "DAMAI", bersat dan berjuang dalam "persahabatan 2 negara" yg setara. Disaat presiden Trump melancarkan perang-dagang terhadap Tiongkok, hendak mengganjel perkembangan Tiongkok menjadi negara besar/kuat, yaa dihadapilah dengan perlawanan yang setimpal sebatas meminimalkan kerugian yg diderita Rakyat Tiongkok!

Salam,

ChanCT



ajeg [email protected] [GELORA45] 於 15/8/2018 2:15 寫道:
/”If you want to make peace with your enemy, you have to
/
/work with your enemy. Then he becomes your partner.”///
- Nelson Mandela

/“Kalau diajak berantem juga berani.”/
- Joko Widodo

Nggak percuma Hanung dijuluki tukang sentil yang menghibur.

--- j.gedearka@... wrote:

http://mediaindonesia.com/read/detail/178584-jokowi-seperti-nelson-mandela


  *Jokowi seperti Nelson Mandela*

Penulis: *(Medcom.id/H-5)* Pada: Rabu, 15 Agu 2018, 00:30 WIB Hiburan <http://mediaindonesia.com/hiburan> Jokowi seperti Nelson Mandela <http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/08/c7b02819d828fa94ba9d8f78d1bfcdba.jpg>
/MI/Ardi/

SUTRADARA Hanung Bramantyo, 42, secara terbuka menyatakan pujian kepada kubu pengusung pasangan calon Joko Widodo dan KH M'ruf Amin untuk Pemilu Presiden 2019. Bagi Hanung, sosok Jokowi dalam bursa capres-cawapres ini mengingatkan dia akan Nelson Mandela, mendiang Presiden Afrika Selatan pertama yang berkulit hitam selama 1994-1999.

"Buat saya, pilihan Pak Jokowi terhadap Pak Ma'ruf Amin itu mengingatkan saya akan orang-orang, seperti Nelson Mandela, (Abraham) Lincoln, bahwa para tokoh itu lebih mengedepankan kenegaraan, persatuan bangsanya jika dibandingkan dengan dendam pribadi," kata Hanung saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta, Minggu (12/8)

Kesamaan yang dimaksud Hanung ialah merangkul kelompok yang awalnya seperti berlawanan. "Memilih KH Ma'ruf Amin, yang adalah simbol persatuan umat, (dari) Nahdlatul Ulama, yang memang diyakini secara istikamah, mengedepankan NKRI. Sudah kelihatan dari cara mereka berpakaian, pakai jas, sarung, dan peci. Itu NU banget dan buat saya, Islam Indonesia ya seperti itu," ungkap Hanung. (Medcom.id/H-5)





---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com

Kirim email ke