https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643
Jumat 24 Agustus 2018, 16:25 WIB
Kolom
Pemimpin Baik dan Jahat Akhirnya Masuk
Kardus Juga
Xavier Quentin Pranata - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
Xavier Quentin Pranata
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
Pemimpin Baik dan Jahat Akhirnya Masuk Kardus Juga Jangan pilih capres
jahat (Ilustrasi: Andhika Akbaryansyah/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4180853/pemimpin-baik-dan-jahat-akhirnya-masuk-kardus-juga?_ga=2.152566074.249896033.1535132643-1232542921.1535132643#>
*Jakarta* - Saat Asian Games berlangsung, di luar arena ajang olahraga
se-Asia itu Indonesia sedang demam menjagokan calon pemimpin
masing-masing. Sorak-sorak penonton di lapangan olahraga baik di Jakarta
maupun Palembang kalah oleh gemuruh saling tuduh di antara dua kubu
capres dan cawapres. Berita tentang siapa kecewa dan dikecewakan siapa
menjadi lebih viral ketimbang gempa bumi di Lombok sana. Sejak pilkada
rasa pilpres di DKI, "permusuhan" antara, maaf, "cebong" dan "kampret"
terus didendangkan.
*Kembali ke Kardusnya*
Di perpustakaan pribadi saya, ada sebuah judul buku yang menjadi/top of
mind/ setiap kali ada kontestasi dan kompetisi. Judulnya pun provokatif
dan menjawab keriuhan perang tagar Jenderal Kardus, Jenderal Baper, dan
bisa saja Jenderal yang kalah sebelum bertanding, yaitu /When the Game
is Over, It All Goes Back in the Box/ karya penulis apik John Ortberg.
Saat permainan selesai, semua alat permainan itu akan kembali ke
kardusnya. Klop sekali.
Begitu ciamik dan mendalamnya buku dari penulis /best/-/seller/ ini
sehingga saya membacanya sampai tuntas. Intisarinya seperti ini. Dengan
memakai permainan yang populer, agar membumi sebut saja catur, John
Ortberg membuat metafora yang indah. Hidup kita di muka bumi ini seperti
permainan. Jika kita selesai bermain, semua peralatannya masuk kotak.
Demikian juga dengan pilpres. Begitu masa jabatan kita habis, kita
kembali ke masyarakat. Itu yang jangka pendek. Untuk jangka panjang,
jika hidup kita di muka bumi habis, kita pun akan masuk 'kotak'.
Saat menghadiri pemakaman ayah sahabat saya di Karrakatta Cemetery,
Perth, Western Australia saya mendapat iluminati ilahi. Ketika berjalan
di kuburan Spanyol itu, saya mendapati deretan angka kelahiran dan
kematian. Di tengah tanggal, bulan, dan tahun antara hari lahir dan hari
wafat, ada satu tanda kecil "-" (strip) di tengahnya. Meskipun kecil,
tanda itu menunjukkan waktu hidup kita. Pencerahan ilahi yang saya
dapatkan, tidak peduli panjang atau pendek, yang penting adalah dampak
yang kita buat selama kita masih hidup di dunia ini.
*Berkembang Sampai Mekar*
Dua dekade sebelumnya Warren Dennis menulis buku apik berjudul /On
Becoming/ /A Leader/ yang menjadi 'buku wajib' para pemimpin, bukan
hanya di sektor bisnis melainkan hampir di semua lini kepemimpinan. Jika
di dalam buku sebelumnya /Leaders/ (1985) meneliti para pemimpin di
berbagai bidang kehidupan mulai dari astronaut Neil Armstrong sampai
pendiri McDonald Ray Kroc, di buku ini dia meneruskan karya
/masterpiece/-nya.
Pemimpin sejati, kata Dennis, tidak perlu membuktikan dirinya sendiri.
Pemimpin perlu /express themselves fully/ tidak peduli apakah yang dia
lakukan dianggap pencitraan atau bukan. Toh jika orang melakukan
pencitraan, dia tidak bisa terus-menerus melakukan hal yang sama. Sangat
melelahkan!
Siapa pun yang bersandiwara terus-menerus, tidak peduli semanis apa pun
tokoh yang dia mainkan, akhirnya akan turun panggung dan kembali ke
watak aslinya. Bukankah orang yang hanya pandai beretorika suatu kali
akan terjebak oleh ucapannya sendiri? Jejak digital tidak mudah
dihilangkan. Orang yang plin plan suatu kali akan menelan /cuilan/
lidahnya sendiri karena tergigit oleh gigi sendiri!
Pemimpin yang baik, kata Dennis, tidak boleh berhenti mencipta. Seperti
bunga, mereka berkembang sampai mekar, bukan berkompetisi, menghalalkan
segala cara untuk menang. Dengan demikian, seorang pemimpin akan
terus-menerus memacu diri untuk maju dan mengembangkan visi kepemimpinan
yang kuat dengan kerja nyata agar orang-orang yang melihat karyanya
mengikutinya. Di dalam proses ini, bisa jadi dia belajar dari
keberhasilan dan kegagalan pemimpin sebelumnya. "/Leaders learn from
others, but are not made by others," /ujar Dennis/./
*Menghancurkan Mitos*
Undang-undang yang mengharuskan calon presiden diusung oleh partai
politik membuat sistem oligarki bertambah kuat dan menjerat.
Tarik-menarik antara menjadi pemimpin yang mumpuni di banyak sektor atau
sekadar menang karena mesin bernama elektoral tidak semenarik lomba
tarik tambang dalam acara tujuh belasan.
Bocah di NTT yang berinisiatif memanjat tiang bendera yang tinggi tanpa
menimbang-nimbang risiko yang dihadapinya membuat kita malu. Kita jengah
saat untuk memilih wakil saja seorang pemimpin tidak bisa mensinkronkan
tangannya. Satu tangan menggandeng cawapres pilihannya sementara tangan
yang lain ditarik untuk memeluk yang lain karena lawan dianggap bakal
memakai politik identitas.
Kita semua melihat politik oligarki bekerja maksimal di hari terakhir
pengumuman capres dan cawapres kemarin. Persis seperti orang main kartu
atau catur. Kalau /you /mengeluarkan kartu ini, saya akan mengeluarkan
yang ini. Kalau kamu maju pakai kuda, saya akan tangkis pakai gajah.
Pelajaran untuk berdemokrasi biayanya sangat mahal seperti yang bisa
kita saksikan di ring tinju. Petinju yang punya rekam jejak yang baik
bisa di-/KO/ di babak terakhir dengan stamina bernama logistik.
Di sinilah Dennis menghancurkan mitos yang mengatakan bahwa pemimpin itu
pahlawan yang dilahirkan dan bukan dibentuk. Toh nyatanya ada pemimpin
senior yang mati-matian membentuk --baca: mengkarbit-- anaknya agar
masak sebelum waktunya. Caranya, memperkenalkannya lewat 'uji tanding'
di aras domestik agar namanya /sounding/ di aras nasional. Para penganut
politik dinasti lupa bahwa kemampuan memimpin seseorang perlu diuji di
berbagai kawah candradimuka dan bukan cari muka dengan politik
transaksional.
*Pemimpin Baik dan Pemimpin Jahat*
Proposal yang disampaikan John Ortberg menurut saya bisa menjadi
"pancasila para pemimpin". Pertama, hidup dengan penuh keberanian dan
kasih sayang. Menjadi pemimpin di Indonesia-apalagi yang nomor
1-dibutuhkan urat keberanian yang tidak gampang putus diterpa fitnah dan
pengkhianatan.
Kedua, menjadi pemain dan bukan bidak yang digerakkan oleh segelintir
elite partai sehingga untuk memilih wakil dan anggota kabinet saja harus
pakai sistem /power sharing/ yang sangat transaksional: sumbangan suara
menentukan empuk tidaknya kursi.
Ketiga, tanyakan terus-menerus dan temukan misi pribadi serta melakukan
yang terbaik. Jika melakukan yang terbaik dengan kerja nyata saja sudah
mendapat cibiran dari para lawan politik apalagi kalau melakukannya
asal-asalan atau malah /auto pilot/. "Toh saya tinggal jalan-jalan ke
luar negeri pakai /business class/ anak buah saya bisa jalan sendiri,"
ujar seorang pemimpin sambil menyeruput jus buatan pramugari yang cantik.
Keempat, isi setiap papan catur --eh, wilayah kepemimpinan-- dengan hal
yang paling penting sambil tetap mengingat bahwa bidak lain perlu
diperhatikan. Terbukti bahwa jika infrastruktur dianggap paling penting,
tapi kalau sembako dan kebutuhan lain harganya naik terus, minyak goreng
pun ikut menari-nari di atas wajan yang sudah sangat panas.
Kelima, inilah yang sangat saya senangi: "/Seek/ /the//richness of being
instead of the richness of having/." Proses menjadi --yang makin lama
makin baik dan utuh-- jelas lebih elok di mata rakyat, apalagi Tuhan,
ketimbang proses menumpuk harta dan takhta yang kita tahu sifatnya
sementara.
Superhero macam Superman pun --karena tidak bisa menjadi dirinya
sendiri-- dibuat mati oleh produser. Apalagi kita. Pada akhirnya, kita
semua --pemimpin yang baik maupun yang jahat-- akan kembali ke kardus,
eh kotak. Jadi tidak perlu baper!
*Xavier Quentin* *Pranata* /pelukis kehidupan di kanvas jiwa
/
*(mmu/mmu)*