Harga naik, petani "sulap" lahan tidur jadi kebun cabai
Selasa, 28 Agustus 2018 20:54 WIB
Harga naik, petani "sulap" lahan tidur jadi kebun cabai
Ilustrasi - Tanaman tumpang sari cabai dan bawang di Lombok Barat.
(ANTARA News/HO)
Melihat perbandingan itu, maka kini petani ramai-ramai beralih usaha
menanam cabai, bahkan banyak lahan karet yang sebenarnya masih cukup
produktif ditebang dan disulap menjadi ladang cabai,
Paringin, Kalsel, (ANTARA News) - Petani Balangan, Kalimantan Selatan,
kini sedang giat menyulap lahan tidur menjadi kebun cabai untuk
meningkatkan pendapatan keluarga.
Salah satu pembudidaya cabai, Judin, di Paringin, ibukota Kabupaten
Balangan Selasa mengatakan, usaha budi daya komoditas sayur-sayuran ini
sangat lebih menguntungkan dibanding hasil kebun karet.
"Sejak satu tahun terakhir, banyak petani karet yang beralih
mengembangkan cabai, dan hasilnya sangat menguntungkan, bisa menutupi
kebutuhan hidup sehari-hari," katanya.
Menurut dia, harga cabai di pasaran kini cukup tinggi, sehingga banyak
petani baik perorangan maupun kelompok, kini memilih membudidayakan
tanaman cabai.
Usaha budi daya cabai muncul setelah harga karet yang merupakan mata
pencarian utama di kawasan itu terus anjlok, sehingga menyadap karet
dinilai tak lagi memberikan kesejahteraan.
"Harga cabai di pasaran cukup bagus, bahkan untuk cabai jenis tiung kini
harganya mencapai Rp35 ribu per kilogram, kalau sehari bisa panen empat
kilogram saja maka kami sudah bisa mengantongi uang Rp140 ribu per
hari," katanya.
Hal tersebut, berbeda dibandingkan menyadap karet. Bila dalam sehari
petani bisa menghasilkan 10 kilogram, dengan harga karet jenis lum
Rp5.000,- per kilogram maka hasil penyadap karet hanya Rp50 ribu per hari.
"Melihat perbandingan itu, maka kini petani ramai-ramai beralih usaha
menanam cabai, bahkan banyak lahan karet yang sebenarnya masih cukup
produktif ditebang dan disulap menjadi ladang cabai," tambahnya.
Pasar cabai, juga masih sangat besar, terbukti berapapun produksi cabai
yang dihasilkan petani, selalu habis diborong pedagang.
Menurut Judin, pembeli datang ke petani berasal dari berbagai daerah
baik datang dari ibukota kabupaten yakni Balangan, Kota Banjarmasin,
bahkan ada yang datang dari provinsi tetangga yakni Kalimantan Timur dan
Kalimantan Tengah.
Petani berharap, untuk meningkatkan kualitas dan produktifitas,
pemerintah melakukan penyuluhan dan pembinaan bagaimana cara budi daya
cabai yang benar, karena selama ini, petani belajar sendiri, sehingga
hasilnya kurang maksimal.
"Harapan kami, dinas dan instansi terkait memberikan penyuluhan dan
pembinaan, sehingga petani semakin tahu dan bisa membudidayakan cabai
agar produksinya semakin banyak," katanya.*
*Baca juga:Kementan: Masyarakat tidak panik, harga cabai-bawang jelang
Idul Adha stabil
<https://www.antaranews.com/berita/739992/kementan-masyarakat-tidak-panik-harga-cabai-bawang-jelang-idul-adha-stabil>
Baca juga:Harga cabai rawit di Parigi melonjak tajam
<https://www.antaranews.com/berita/729782/harga-cabai-rawit-di-parigi-melonjak-tajam>*
Pewarta:Ulul Maskuriah
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com