John Lie memang luar biasa! Keberanian menyelundupkan senjata dan
barang-berang keperluan perjuangan rakyat yang luarbiasa tentunya muncul
dari jiwa NASIONALIS yang tinggi, menjadi salah seorang pejuang
pertahankan KEMERDEKAAN RI sekalipun dirinya etnis Tionghoa. Membuktikan
dirinya adalah seorang pejuang Indonesia yang gagah-berani dan berjasa
BESAR. Pantas dinobatkan Pahlawan Nasional klas-1!
Namun setelah jaman teknologi begitu canggihnya sekarang ini, apakah
bentuk penyelundupan yang dilakukan John Lie masih bisa dijalankan?
Tentu saja sulit, untuk tidak mengatakan sama-sekali tidak bisa lagi.
Yang pasti, tidak semudah 70-an tahun yl, cukup dengan keberanian dan
kelincahan saja, ... tapi sekarang sedikit banyak harus menguasai juga
teknologi canggih, menemukan bentuk dan cara penyelundupan yang masih
mungkin dijalankan. Cara lama tidak bisa digunakan lagi, harus
pandai-pandai menemukan celah dan lubang-lubang alat-alat monitor
canggih, pengawasan ketat imigrasi pelabuhan untuk bisa melolos masukkan
barang-barang yang dibutuhkan perjuangan rakyat, ...
Hehehee, menarik juga, mana lebih pinter kucing atau tikus? Mana lebih
pintar polisi dan maling, ...?
-------- 轉寄郵件 --------
主旨: [GELORA45] Fwd: Pahlawan kelas 1, John Lie
日期: Tue, 28 Aug 2018 15:14:46 +0200
從: kh djie [email protected] [GELORA45] <[email protected]>
---------- Forwarded message ---------
Date: Tue, 28 Aug 2018 at 15:00
Subject: Pahlawan kelas 1, John Lie
LIE
Namanya John Lie, Lengkapnya: John Lie Tjeng Tjoan, anak kedua dari
delapan bersaudara, pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tseng Nie.
Ayah John adalah pengusaha pengangkutan berbagai barang dagangan yang
terkenal di Manado, Sulawesi Utara, semasa negara ini belum merdeka.
Sebagai anak laki-laki, John tak tertarik pada bisnis transportasi. Ia
lebih senang pada kapal, pelayaran dan laut yang penuh tantangan.
Tak heran, bila bocah kelahiran Manado, 11 Maret 1911, ini senang betul
tatkala iring-iringan kapal perang gugus tugas AL Belanda sandar di
pelabuhan Manado untuk istirahat. Lie ingin melihat lebih dekat
kapal-kapal hebat ini..
Darahnya menggelora. Padahal ia baru 10 tahun. Terkagum-kagum ia melihat
turet meriam, anjungan kapal yang gagah dan seragam AL yang putih
mengkilat.
Usia 17 hasratnya untuk mengenal laut tak bisa lagi terbendung. Dengan
uang tabungan, John nekad kabur menuju Jakarta. Tak memiliki sanak
saudara, di Tanjung Priok ia luntang-lantung. Demi menyambung hidup ia
bekerja sebagai kuli angkut barang, sambil ikut kursus pelatihan soal
navigasi kapal.
Lie sempat jadi pesuruh di sebuah kapal jasa paket milik Belanda,
sebelum akhirnya masuk sebagai pelaut di Kapal Motor Tosari yang
melayani pelayaran ke luar negeri.
Perang Dunia Kedua pecah dan KM. Tosari dijadikan kapal perbekalan bagi
tentara sekutu. Di kapal inilah Lie diajari dasar-dasar militer, agar
bisa membela diri. Termasuk teknik-teknik menghindar dari pengejaran,
yang kelak sangat berguna bagi tugasnya.
Sesampainya di tanah air, Mei 1946, Lie langsung mengabdikan diri pada
Angkatan Laut Republik Indonesia, yang waktu itu masih bernama BKR LAUT
(Badan Keamanan Rakyat) dan bertemu dengan pimpinannya, Laksamana Mas
Pardi di markas besarnya di Jogjakarta.
Sebentar. Markas Angkatan Laut di Jogjakarta? Jauh dari pantai?
Begitulah faktanya, AL kita pernah bermarkas di kota yang jauh dari
laut! Tal ada pelabuhan di Jogjakarta. Sebagian besar kapal-kapal kita
sudah dihancurkan Belanda! Masa-masa yang sungguh kelam dan membuat pilu
hati. Markas AL pun mengungsi!
Mas Pardi, langsung terkesan dengan pengalaman Lie dalam dunia pelayaran
hingga manca negara.
“Kita kurang personil. Kamu mau pangkat apa? Mayor?” tanya Bapak
Angkatan Laut Republik Indonesia itu.
Lie langsung menjawab: “Saya kemari tidak mencari pangkat. Saya hanya
ingin mengabdi”
Akhirnya, Lie mendapat pangkat kelasi III dan di tempatkan di Cilacap,
sebuah kota pelabuhan di Jawa Tengah bagian selatan.
Lalu, tantangan baru pun muncul. Sebuah kapal dagang besar berbendera
Singapura penuh muatan karet sebanyak 800 ton milik negara, hendak
diselundupkan ke Singapura dan hendak dijual di sana.
Kapten kapalnya takut. Ia tahu, di tengah jalan pasti akan dicegat kapal
perang Balanda. Dengan kapal penuh muatan begitu, lajunya jadi lambat,
sulit untuk lari menghindar.
Lie mengambil tantangan itu, menggantikan sang kapten. Dan mulai
berlayar keluar Cilacap. Memasuki selat Sunda, semua lampu penerang
(navigasi) ia matikan dan melaju lurus menuju Kota Singa. Lie sukses
mengantarkan muatan!
Dari sanalah peran ‘penyelundup bagi Negara’ bermula. Ia biasa membawa
barang dagangan milik saudagar besar dari Aceh, Sumatera Utara,
Kepulauan Riau dan selalu sukses dijual ke Singapura, Malaysia atau
Thailand. Para pedagang ini pun tak sungkan menyisihkan sebagian
keuntungan bagi Republik yang masih belia.
1947 ketika negara berhasil membeli 10 kapal cepat, Lie pun mendapat
salah satu diantaranya. Ia memberi nama kapalnya “Outlaw” bisa diartikan
sebagai: berandalan, bengal, badung atau tak tahu aturan.
Dan dari perjuangan Lie kemudian kita tahu: semua sepak terjangnya tidak
ada dalam aturan baku!
Tugasnya mentereng: menyelundupkan barang dagangan ke negara asing,
menjualnya, dan uangnya lalu dipakai buat membeli aneka macam senjata:
pistol, senapan mesin, amunisi, peluru, granat hingga mortir.
Lie ‘belanja’ di pasar gelap, lalu menyelundupkannya masuk ke negara
ini setelah lebih dahulu selalu berhasil mengelabuhi cegatan AL Belanda,
Inggris dan Amerika.
Senjata-senjata inilah yang kemudian disalurkan ke berbagai daerah
perjuangan di seluruh Indonesia guna melawan Belanda!
Tak heran bila senjata milik pejuang kita -dahulu- bisa beraneka macam
bak permen nano-nano. Sebagian hasil merebut dari musuh dan sebagian
besar adalah hasil selundupan. Ada Sten buatan Inggris, Luger pistol
Jerman, Browning Amerika, senapan mesin Sovyet. Pendeknya ada uang, ada
barang!
Lie bukan penyelundup biasa. Ia ‘sakti’. “Berandal “ ini diberi
kebebasan luar biasa untuk bergerak. Jangan kaget ia dibekali surat
tugas -menyelundup-langsung dari Kolonel Abdul Haris (AH) Nasution,
selaku wakil Panglima TKR (Tentara Kemanan Rakyat) atau orang kedua
setelah Panglima Besar Soedirman!
Selain itu pelaut ini juga mengantongi ‘surat ‘pengantar’ dari semua
tetua/ tokoh suku di Sumatera Utara dan Aceh agar ia tidak diganggu!
Lie disukai semua kalangan. Bagaimana tidak? Saudagar menyayangi dia,
sebab dagangannya laku dengan baik di luar negeri. Penerima barang di
Singapura dan Malaysia juga suka, karena Lie selalu membawa barang terbaik.
Pedagang senjata, apalagi. Matanya yang sipit, karena ia memang
keturunan cina, memudahkan Lie masuk ke berbagai kalangan dunia hitam
penjual senjata.
Ia yang juga seorang Nasrani yang taat, yang juga diterima di kalangan
saudagar berkulit putih. Sempurna sekali.
Buat TNI? Besar jasanya. Sebagian besar senjata untuk perjuangan, yang
dimiliki TNI, salah satunya berkat pengabdian dan perjuangan Lie dalam
menyelundupkan senjata.
Lie terkenal. Ia diburu oleh AL Belanda, AL Inggris dan Amerika, tapi
Outlaw selalu bergerak dengan senyap. Menghilang ditelan gelapnya
malam. Ia hapal semua dangkal dalamnya perairan. Kapan pasang dan
surutnya laut. Pintu masuk jalan tikus semua pelabuhan di Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Singapura, Malaysia bahkan hingga ke Thailand!
Berlayar dalam gelap, tanpa lampu penerang (navigasi), sudah biasa baginya.
Orang-orang di Selat Malaka sampai menjulukinya sebagai ‘Hantu Malaka’
dan wartawan BBC yang pernah ikut memburunya menyebut kapal Outlaw dan
kaptennya, John Lie, sebagai “the black speed boat”..
Di Phuket, Thailand, Roy Rowan wartawan majalah Life terbitan Amerika,
membuntuti sepak terjangnya dan memuat dalam tulisan dan foto menawan
sepanjang 4 halaman penuh. Roy kagum pada dedikasi Lie, yang membawa
begitu banyak uang kontan tetapi tetap terpakai sebagaimana mestinya,
belanja senjata!
Perjuangan tak selamanya lancar.
Ketika Lie hendak keluar dari Labuan Bilik, sebuah pelabuhan di
Malaysia, tiba-tiba sebuah pesawat Belanda terbang rendah, melintas
tepat di samping kapal seperti hendak memeriksa, lalu di ujung sana
tiba-tiba pesawat mendaki dengan cepat. Pilotnya seperti disadarkan,
bawah kapal cepat di bawah sana adalah kapal penyelundup yang selama ini
dicari. Ia harus segera bertindak..
Persawat mendadak berbalik dan menukik tajam. Ia siap menyerang! Lie
sudah pasrah, tutup mata dan berdoa. Ia terpergok siang hari, di laut
terbuka, tak ada pelindung apapun. Pesawat menukik cepat. Tepat disaat
picu senjata hendak ditekan penembak, sang pilot iba-tiba membanting
kemudi ke kanan lalu pergi.
Belakangan diketahui, bahan bakar pesawat sangat menipis, diperkirakan
tak bisa terbang hingga pangkalan bila ia harus menembaki kapal. Outlaw
selamat..
Di Selat Malaka ia hampir mati, ketika kapal cepat Belanda mencegatnya
dan langsung memberondong dengan peluru Bofors sebesar senter. Lie
segera melaju cepat , tetapi peluru terus mengejarnya.
Rasanya, keberuntungannya akan habis disini. Otlaw berlari zig-zag dan
senapan mesin kapal dibelakang terus menyalak. Tak ada pilihan lain, ia
memerintahkan anak buahnya berdoa. Kapal kalah cepat karena penuh
senjata dan mesiu. Rasanya, tinggal menunggu ajal. Satu peluru saja
masuk lambung kapal, tamat.
Tiba-tiba, entah mengapa, hujan turun dengan deras, laut pun mendadak
bergelombang tinggi dan kabut turun. Ini kesempatan baik. Lie berbelok
tajam dan segera menghilang!
30 September 1949, Lie mendapat tugas baru, mengisi sebagai perwira di
Pos Hubungan Luar Negeri di Bangkok. Ia tugas di darat. Ironisnya kapal
Outlaw yang pindah tangan ke Kapten Kusno tertangkap Belanda tepat di
hari pertamanya berlayar!
Kisah heroik Outlaw pun berakhir.
Ketika perang dengan Belanda usai, dan banyak pemberontakan terjadi di
berbagai daerah, John Lie kembali bertugas di laut. Ia membawa kapal
pengangkut milik TNI-AL dan melayani mengangkutan logistik dan pasukan
yang bertugas memadamkan pemberontakan RMS yang bermarkas di kota Ambon,
Maluku.
Desember 1966 John Lie mengakhiri karirnya di Angkatan Laut dengan
pangkat terakhir Laksamana Muda (bintang dua - setara Mayor Jendral pada
Angkatan Darat).
Jendral Besar AH. Nasution memberi kesaksian, “jasa John Lie tiada tara
besarnya bagi AL, karena ia adalah Panglima Armada AL di saat negara
sedang dalam keadaan genting menghadapi pemberontakan di berbagai
daerah, seperti pemberontakan RMS di Maluku, PRRI/ Permesta di Sumatera
Barat, Makassar dan Sulawesi Utara”
Lie terpaksa mengganti namanya menjadi Jahja Daniel Dharma karena rezim
orde baru yang tidak menyukai nama-nama berbau asing.
Totalitasnya dalam mengabdi membuat ia terlambat untuk menikah. Ia
menyunting Pdt. Margaretha Dharma Angkuw, diusianya yang ke 45 tahun!
Pasangan Lie dan Margaretha mengisi hari-harinya dengan mengurus dan
menyantuni ratusan anak yatim piatu, orang-orang terlantar di jalanan,
pemulung, tukang becak dan kaum papa lainnya. Harta dan uang pensiuannya
habis untuk membantu mereka. Rumahnya selalu penuh oleh mereka yang
minta tolong.
Pasangan ini tidak dikaruniai keturunan hingga Lie wafat pada tanggal 27
Agustus 1988 karena stroke dan dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta.
Pada 10 November 1995, Lie memperoleh Bintang Mahaputra Utama dari
Presiden Soeharto, dan Presiden SBY memberinya gelar: Pahlawan Nasional
Pada 9 November 2009.
Nama Lie juga diabadikan menjadi nama kapal perang, KRI (Kapal Republik
Indonesia) John Lie, dengan nomor lambung 358, sebuah kapal perang
jenis Korvet, kapal cepat, jenis yang cocok dengan karakter Lie saat
dahulu membawa Outlaw!
Saat Lie wafat, rumahnya dipenuhi banyak tentara yang menjaga dengan
penuh hormat dan Presiden Soeharto sendiri pun datang melawat, barulah
ratusan pemulung, yatim piatu, tukang becak, gelandangan dan kaum papa
lainnya tersadar: bahwa orang yang selama bertahun-tahun merawat mereka
dengan harta benda milik pribadi, tanpa gembar-gembor, ternyata bukan
orang sembarangan, ia seorang Pahlawan Negara!
Isak tangis warga tersisih tak tertahankan, ketika iring-iringan mobil
Jenazah berangkat menuju makam, tempat Lie istirahat untuk terakhir kalinya.
Hari ini, 27 Agustus 2018, tepat di hari kepergianmu, Lie, saya pun
mengenangmu, agar perjuanganmu tak sia-sia. Orang yang hebat. Yang rela
berkorban apa saja demi tegaknya NKRI.
Ketika kita -saudara sebangsa- berselisih karena SARA, saya sedih, ingat
Lie.
Dari berbagai sumber,
(Gunawan Wibisono)
#pahlawannasional
#johnlie
#sejarahnasional
#kisahpahlawanku
Von meinem iPhone gesendet
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com