https://www.antaranews.com/berita/743988/moeldoko-pertahankan-
desa-adat-di-bali
Moeldoko: pertahankan desa adat
di Bali
Sabtu, 1 September 2018 00:32 WIB
Kepala Staf Presiden Moeldoko. (ANTARA /Wahyu Putro A)
Badung, Bali (ANTARA News) - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI
(Purnawirawan) Dr Moeldoko berharap keberadaan desa adat di Bali dapat
terus dijaga dan dipertahankan karena budaya yang menjadikan pulau ini
tetap menarik dikunjungi wisatawan.
"Bali menjadi menarik karena desa adat, dan terkenal karena wisatanya.
Itu sebuah kekuatan yang harus dikekola, jangan dikecilkan karena itu
menjadi kekuatan dan simbol bagi Bali yang tidak dimiliki daerah lain,"
ujarnya dalam sebuah acara di Jimbaran, Badung, Jumat.
Saat menjadi pembicara Seminar Bakti Desa IV bertema Inovasi Teknologi
pada Pembangunan Desa untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang
diselenggarakan Universitas Udayana, Moeldoko juga mengajak masyarakat
memanfaatkan berbagai peluang dan inovasi untuk mempercepat pembangunan
desa.
"Konektivitas atau infrastruktur dan ekonomi digital menjadi peluang
bagi percepatan pembangunan. Desa harus berpikir menggunakan teknologi
untuk kepentingan ekonomi dan kemajuan desa," katanya.
Moeldoko mengatakan pembangunan desa seharusnya juga dilakukan secara
partisipatif dengan perencanaan pembangunan dilakukan dengan musyawarah
yang melibatkan semua pihak untuk memikirkan tantangan yang dihadapi dan
pengembangan potensi desa seperti, kemiskinan, kesehatan dan masalah
sanitasi.
"Dalam melakukan musyawarah desa, undang seluruh elemen masyarakat,
undang dari perguruan tinggi, dunia usaha, pelaku usaha, pikirkan produk
unggulannya apa, agar pemanfaatan dana desa menjadi pengungkit kemajuan
desa," katanya.
Saat ini, katanya, arah pembangunan Indonesia di bawah kepemimpinan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) difokuskan pada Indonesia Timur untuk
mewujudkan Indonesia-sentris.
"Presiden berpikir sebagai negarawan bagaimana pembangunan merata dan
bisa dinikmati seluruh masyarakat Indonesia dan itu wujud sila kelima,
Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, katanya.
Moeldoko menambahkan, hingga tahun 2018, total dana desa yang telah
tersalurkan sebesar Rp128 triliun. Sejak 2015, sepanjang 126.000
kilometer (km) jalan desa sudah terbangun.
"Pemerintah membangun infrastruktur untuk membuka konektivitas
antarwilayah, membuka keterisolasian daerah terpencil dan perbatasan.
Tidak hanya memiliki dampak fisik karena konektivitas membuka peradaban
baru dimana terjadi akulturasi budaya, pendidikan dan ekonomi," katanya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
(LPPM) Universitas Udayana, Prof Dr. Ir. I Gede Rai Maya Temaja
mengatakan seminar Bakti Desa IV itu diselenggarakan untuk memberikan
pendampingan kepada desa-desa dalam menghadapi berbagai permasalahan,
salah satunya menghadapi revolusi industri 4.0.
"Tahun ini, kami fokus pada peningkatan inovasi dan teknologi tepat guna
yang menonjolkan ciri khas desa tersebut tanpa menyebabkan kerusakan
lingkungan," katanya.
Terkait Desa Adat di Bali, pembicara lain, Prof. Dr. Wayan P Windia yang
merupakan Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Udayana, menyinggung
Pasal 6 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa.
"Bali memiliki dua kategori desa, yaitu desa adat dan desa dinas atau
administratif. Di Bali tidak mungkin membangun koordinasi dayuh dengan
menghilangkan satu desa. Karena terdapat desa adat yang menjadi warisan
budaya, dan erat dalam kehidupan beragama masyarakat disini, katanya.
Seminar Bakti Desa IV diikuti sekitar 900 orang yang terdiri dari Kepala
Desa dan Bendesa Adat dari seluruh desa di Bali, tokoh masyarakat, LSM,
mahasiswa, dosen serta senat Universitas Udayana.
*Baca juga: Para ibu ambil bagian dalam tradisi "mbed-mbedan" di Bali
<https://www.antaranews.com/berita/693821/para-ibu-ambil-bagian-dalam-tradisi-mbed-mbedan-di-bali>
Baca juga: Pemerintah targetkan registrasi 100 Desa Adat pada 2017
<https://www.antaranews.com/berita/644747/pemerintah-targetkan-registrasi-100-desa-adat-pada-2017>*
Pewarta: Naufal Fikri Yusuf
Editor: Virna P Setyorini
COPYRIGHT © ANTARA 2018