RUPIAH, KEBIJAKAN BI, DAN SRI MULYANI: MELIHAT KENAIKAN DOLLAR DARI SISI 
INTERNAL NEGARA 
https://mojok.co/hsw/konsultasi/celengan/melihat-kenaikan-dollar-dari-sisi-internal/
 HARYO SETYO WIBOWO https://mojok.co/penulis/hsw/ 5 SEPTEMBER 2018

 MOJOK.CO –Rupiah kian melorot seperti kolor yang kehilangan elastisitas 
karetnya. Om Haryo kali ini menjelaskan situasi ini dengan melihat sumber 
permasalahan dari sisi internal negara kita.
 Sejak awal 2018, mata uang kita terus mengalami depresiasi, merosot nilainya 
dibandingkan US dollar (USD). Beberapa ekonom di luar pemerintah sejak 2017 
silam telah mengingatkan potensi krisis dan memberikan cara untuk meminimalkan 
dampaknya. Sayangnya,  kritik-kritik yang kalau dibukukan akan melebihi 
ketebalan dari buku Lambe Akrobat seringkali sudah layu dihadang nyinyiran dari 
lambe-lambe netijen yang terlalu sering tidak paham dengan ilmu ekonomi.
 “Halah belanja masih ke pasar becek aja kok gaya banget ngomongin dollar.”
 “Nih, aku baru saja sarapan nasi, telor balado dan sayur. Harganya kurang dari 
1/2 dollar. Kek yang pinter aja ngomongin dollar.”
 Kita lupa. Di saat bersamaan, saudara-saudara kita di pedesaan yang berprofesi 
jadi petani cabe sedang mengalami kejadian yang memilukan. Senyum lebar yang 
seharusnya menghiasai wajah mereka saat memasuki panen raya seperti saat ini 
tidak dapat kita saksikan. Sebagai konsumen mungkin kita hanya menyeringai 
menyaksikan itu atau bahkan girang karena harga cabe 1kg kurang dari 10 ribu di 
tingkat petani.
 Bangganya dimana coba belanja murah dari pedagang yang mendapatkan harga dari 
petani yang menjual produknya di bawah ongkos produksi? Ya kali kalau pedagang 
masih bisa untung dari selisih harga. Sementara petani tidak mempunyai 
keleluasaan serupa saat berhadapan dengan mekanisme pasar.
 Cabe dan sayuran harganya jelas tidak akan terkatrol naik akibat pelemahan 
rupiah. Tetapi bagi orang yang mempunyai logika utuh lagi sehat pasti akan 
berpikir, “Bagaimana para petani tersebut akan memenuhi kebutuhan akan barang 
yang terpengaruh depresiasi rupiah seperti tempe, dan makanan berbasis gandum? 
Dari semula cukup menjual 1kg cabe (30 ribu) untuk mendapatkan 3 lonjor tempe 
(@10 ribu), menjadi tinggal 1 lonjor pun kurang 1-2cm”
 Itu pun kadang kita akan disergap dengan pernyataan, “Nggak usah lebay deh, 
terigu harganya masih sama kok. Jangan bikin panik orang.”
 Hal seperti itu harusnya justru memancing pertanyaan dari kita sebagai 
konsumen. Apa karena perusahaan tersebut mempunyai gudang raksasa tempat 
menyimpan barang impor dengan harga beli saat rupiah masih tinggi dalam jumlah 
besar? atau perusahaan tersebut terlalu besar menikmati surplus produsen, 
sehingga harga impor yang seharusnya membuat belanja mereka bertambah belum 
diberlakukan pada konsumen?
 Di tengah terus merosotnya rupiah tersebut, berulangkali pemerintah melalui 
menteri keuangannya, Sri Mulyani, terus saja mengampanyekan Indonesia tengah 
baik-baik saja, telah berjalan ke arah yang benar, dan bahkan dapat dimaknai 
positif. Menurutnya, setiap pelemahan 100 rupiah dari asumsi kurs APBN justru 
akan mendatangkan tambahan pendapatan 1,7 trilyun.
 Itu pendapat Budhe Sri Mulyani, sosok yang pernah Om HSW idolakan semasa 
kuliah. Derajat pendapat tersebut menyerupai fatwa ulama, sering diviralkan dan 
dijadikan jurus pamungkas jika netijen saling berdebat. Mana yang lebih benar, 
merosotnya satu mata uang secara bermakna positif ataukah justru mendorong 
perekonomian semakin ke tubir jurang? Bisa jadi pernyataan tersebut benar, 
tetapi tetap saja tidak baik untuk sektor riil.

 Faktanya, negara merasa rugi. Tau darimana Om, kalau negara rugi? Ya tau dong. 
Ini bukan soal pinter atau Om mempunyai nilai makro ekonomi yang sangat baik. 
Cukup menggunakan logika standar saja. Saat Bank Indonesia melakukan intervensi 
dengan cara melepas dollar yang dimiliki di pasar uang dan melakukan pembelian 
Surat berharga negara (SBN) dengan maksud mengerek rupiah, itu dapat diartikan 
negara tidak mau mata uangnya babak belur.
 Beberapa waktu lalu ada momen betapa sukses sebagai penyelenggaraan Asian 
Games, dilengkapi dengan mencorongnya prestasi atlet Indonesia membuat kita 
sejenak melupakan persoalan bangsa.
 Iya sejenak saja, sampai pergerakan rupiah yang terus mlotrok seperti kolor 
kehilangan elastisitasnya menggantikan berita-berita utama di media pemberitaan
 Apalagi di penghujung gelaran pesta olahraga multi event tersebut, publik 
disuguhi adegan pelukan teletubbies dari 2 kutub kekuatan politik Indonesia, 
Jokowi dan Prabowo. Adegan tersebut ditambah berita-berita kesuksesan atlet 
kita yang berulang kali mengumandangkan lagu Indonesia Raya dari gelanggang ke 
gelanggang selama 2 pekan membuat kita tidak tertarik lagi membaca berita 
ekonomi.
 Seandainya setiap pengerekan bendera merah putih sebanyak 31 kali diikuti juga 
dengan apresiasi rupiah kita, maka senyum kita hari-hari ini akan semakin 
lebar. Negara berprestasi, ekonomi kuat, penduduknya bahagia. Sayangnya, itu 
harapan yang berkecambah pun belum.
 Mei 2018, Om pernah menulis di mojok juga terkait mlotroknya rupiah. Kurs 
dollar sudah tembus 14 ribu, tidak ada alasan untuk tenang-tenang lagi 
https://mojok.co/hsw/esai/kurs-dolar-sudah-tembus-14-ribu/. Pemerintah memang 
tidak mendiamkan nilai rupiah anjlok dari waktu ke waktu. Tapi sejauh ini, 
intervensi yang dilakukan pemerintah belum menampakkan hasil yang kita 
kehendaki. Perlu tapi belum cukup.
 Memang pahit, performa rupiah terhadap dollar saat ini merupakan terendah 
sejak tahun 1998. Bahkan secara rata-rata merupakan raport terburuk sepanjang 
sejarah rupiah kita. Tetapi sebaiknya jangan dipolitisir situasi saat ini lebih 
buruk dari 1998 yang secara fundamental tidak sebaik sekarang. Sekali lagi ini 
hanya bicara angka, bukan dimensi nilai. Karena nilai 15 ribu di tahun 1998, 
dengan memperhitungkan tingkat inflasi, saat ini akan bernilai 90 ribu.
 Jika kebijakan intervensi BI tersebut disandingkan dengan pernyataan Sri 
Mulyani, apakah kontradiktif?
 Membangun optimisme itu memang baik dan perlu, tetapi juga jangan lupa 
menyandarkan pada realitas yang ada. Memang benar, menguat atau melemahnya satu 
mata uang itu tidak selalu mencerminkan baik atau buruk ekonomi suatu negara. 
Rupiah menurun memang belum tentu menggambarkan ekonomi kita rapuh. Tetapi 
harus diingat juga, tidak ada negara yang menolak mata uangnya menguat.
 Untuk saat ini, tidak perlu membuat argumen yang mengesankan otoritas kita 
cenderung menyalahkan faktor eksternal. Betul faktor tersebut nyata ada dan 
mengglobal, tetapi kita perlu juga instrospeksi bahwa sistem keuangan kita 
memang termasuk satu di antara beberapa negara yang ringkih dan mudah untuk 
dipermainkan para spekulan.

 Kalau neraca perdagangan kita surplus dan terus agresif mengusahakan pasar 
baru, niscaya kemampuan kita dalam mengumpulkan valas tidak akan terpengaruh 
banyak dengan kondisi eksternal. Ini jelas salah satu teori handal untuk keluar 
dari belitan merosotnya rupiah saat ini. Soal praktek biarlah menjadi kewajiban 
penguasa.
 Secara psikogis, mengatakan ekonomi kita tidak sedang tidak ada masalah, itu 
baik. Apalagi dilengkapi dengan data-data yang menunjukkan fundamental kita 
memang kuat. Pertumbuhan tinggi, inflasi rendah, utang luar negeri tidak 
membebani keuangan negara, kemiskinan dan pengangguran membukukan rekor 
terendah sepanjang masa.
 Tapi ingat, rupiah saat ini sudah siap teronggok di batas psikologis baru, 
15.000 per dollar. Trend penurunan akan terus berlanjut selama US belum selesai 
kutak katik bunga yang membuat arus modal terus keluar. Mau tidak mau, suka 
tidak suka, saat ini kita memasuki fase krisis. Tidak mudah untuk membalikkan 
kecenderungan ini ke kondisi semula. Sama tidak mudahnya untuk kembali 
membangun kepercayaan publik terhadap pemerintah jika kurs tidak kunjung 
menunjukkan arah penguatan.
 Diakui atau tidak, selain pengusaha yang pendapatan dan utangnya dalam bentuk 
dollar, sementara pengeluarannya rupiah, kondisi saat ini memang cukup membuat 
panik. Sementara pemerintah berulang kali meminta perusahaan yang menyimpan 
valas dari hasil ekspor pun diminta untuk segera melepasnya.
 Untuk preferensi politik, silahkan para celengers (sebutan baru untuk pembaca 
rubrik celengan) memilih sesuai kata hati, jangan kata mantan. Golput pun Om 
rasa tidak ada masalah. Tetapi untuk membantu perekonomian nasional ada banyak 
hal yang dapat kita lakukan.
 Pertama, beli produk-produk dari pedagang kecil atau langsung ke petani. 
Kelompok penghasilan rendah tersebut yang saat ini lebih terancam dari kita 
yang mempunyai penghasilan tetap. Jangan pernah lagi meremehkan pelemahan 
rupiah ini, dengan mengatakan krisis masih jauh hanya karena mendapatkan harga 
murah dari pedagang kecil.
 Kedua, tidak perlu menyimpan dollar dalam jumlah banyak. Sesuaikan dengan 
kebutuhan kita saja. Kecuali untuk keperluan bisnis trip, umroh, naik haji dan 
wisata rohani yang memang sudah sejak lama direncanakan.
 Ketiga, tunda semua perjalanan wisata mode ke Eropa yang  tidak mendatangkan 
devisa buat negeri ini. Lupakan sejenak belanja tas langsung di Galeries 
Lafayette atau Champs-Élysées sampai perekonomian negara membaik. Pergi ke 
Tajur saja beli tas sekaligus asinan. Uang awet, badan sehat, semua senang.
 
 Hmmm… untuk yang nomor dua dan tiga kok Om kepikir untuk menghapus saja, ya? 
Jangankan nabung dollar dan wisata ke Eropa, gajian masih lima hari lagi saja 
kalian dah puasa mutih kok. Hahaha nggak lah, ini bagian dari doa Om untuk 
kalian semua. Satu saat kalian akan mendapatkan hal-hal yang saat ini terasa di 
luar jangkauan.
 

 

Kirim email ke