Di buku Drs. Sam Setyaautama, Tokoh-tokoh etnis Tionghoa di Indonesia,
halaman 190, tentang dr. Lie Tjwan Sien (1910-1994), ditulis :
Ia lahir 2 januari 1910 di Jombang, Jawa Timur. Ia meraih gelar arts
(dokter) dari Geneeskundee Hogeschool Jakarta (1938). Ia juga
belajar akupunctuur dan moxibusian di Pyungnam dan Red Cross Hospital di
Pyongyang, Korea utara.
Pada tahun 1960 ia mengajar di Fakultas Kedokteran Ureca Jakarta. Ia hadir
dalam diskusi ilmiah di Peking pada 21 Augustus 1960
dengan makalah "Man Frees Himself from Parasites".
Ia seorang aktivis DPP Baperki dan menjabat sebagai wakil ketua sekaligus
juga anggota pengurus THHK. Pada tahun 1965 ia sempat
ditahan oleh pemerintahan Orde Baru pimpinan Suharto. Ia meninggal pada
tahun 1994 di jakarta. Bukunya Pengaruh Penyakit Parasit
(Jakarta, 1960).


On Wed, 5 Sep 2018 at 13:46, ChanCT [email protected] [GELORA45] <
[email protected]> wrote:

>
>
> Putu Oka Sukanta, Menemukan Akupuntur di Penjara Orba
> [image: Putu Oka Sukanta. FOTO/Putu Oka Sukanta]
> <https://tirto.id/putu-oka-sukanta-menemukan-akupuntur-di-penjara-orba-cWAl>
> Putu Oka Sukanta. FOTO/Putu Oka Sukanta
>
> https://tirto.id/putu-oka-sukanta-menemukan-akupuntur-di-penjara-orba-cWAl
> Oleh: Jofie Dwana Bakti - 3 September 2018
>
> Dibaca Normal 2 menit
> *Putu Oka Sukanta adalah bekas seniman yang dekat dengan Lekra. Kini, ia
> menggantungkan hidup lewat akupuntur, keahlian yang didapatinya di penjara
> Orba.*
> tirto.id - Setahun sebelum Gerakan 30 September (G30S) meledak, Putu Oka
> Sukanta pergi ke Jakarta untuk menjadi guru sastra Indonesia di sekolah
> menengah atas. Kala itu ia masih berumur 25 tahun. Putu Oka juga jadi
> wartawan lepas, penyiar di Radio Republik Indonesia (RRI), dan menulis
> sastra di koran-koran nasional.
>
> Dua tahun kemudian, tepatnya pada 21 Oktober 1966, ia ditangkap tanpa
> pernah diadili.
>
> Putu dibui selama 10 tahun di Salemba dan Tangerang karena terlibat di
> Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), organisasi yang dituduh dekat dengan
> Partai Komunis Indonesia (PKI). Ia tak tahu kenapa tak dipindahkan ke Pulau
> Buru seperti aktivis-aktivis Lekra yang lain.
>
> Pada tahun 1969, Putu berbagi sel dengan seorang sensei bernama Lie Tjwan
> Sien. Tabib tradisional itu memperkenalkan akupuntur kepadanya. Ia membantu
> sesama pesakitan dengan pijat akupresur dan akupuntur. Keahlian ini yang
> kemudian ia andalkan buat menyambung hidup.
>
> "Ketika keluar [penjara], profesi yang lama [sebagai guru dan wartawan]
> sudah enggak bisa [dikerjakan] lagi, jadi aku mencoba untuk mendalami
> akupuntur secara profesional, berguru ke beberapa sensei akupunturis yang
> bersedia menerima murid," kata Putu kepada *Tirto*, Kamis (30/8/2018)
> pekan lalu, di kediamannya di Jalan Balai Pustaka, Rawamangun, Jakarta
> Timur.
>
> Baca juga:
>
>    - Dialita Tak Lagi Bernyanyi Sendiri
>    <https://tirto.id/dialita-tak-lagi-bernyanyi-sendiri-bQPk>
>
>
> Penulis novel Merajut Harkat itu kini berusia 79 tahun. Di kediamannya,
> Putu membuka praktik pengobatan tradisional akupuntur tiga kali seminggu.
> Praktik ini menjadi sumber pemasukan keuangannya saat ini dan sudah diberi
> izin praktik oleh pemerintah sejak 1978.
>
> Pasien-pasiennya pun mengetahui jika Putu adalah mantan tahanan politik
> Orde Baru, dan dia tidak memikirkan itu.
>
> "Itu bukan urusan saya, itu urusan si pasien. Kalau dia tidak mau berobat
> ke saya karena saya bekas tahanan, silakan," katanya.
>
>
> Selama ini, Putu mengaku tidak ada pasien yang mengeluh atau berkomentar
> negatif soal statusnya sebagai bekas orang Lekra. Alih-alih dijauhi, dia
> malah sempat dibiayai salah seorang pasiennya untuk belajar akunpuntur
> selama tiga minggu ke Hong Kong dan Taipei pada 1981. Ia juga sempat punya
> posisi yang cukup tinggi di organisasi akupuntur, Ikatan Naturopathi
> Indonesia.
>
> "Meskipun saya dulu musuh pemerintah, tapi buktinya saya dikasih izin
> praktik. Saya menjadi orang yang cukup dihormati di Dinas Kesehatan
> Jakarta. Ya karena profesionalisme," katanya, bangga.
>
> Baca juga:
>
>    - "Kalau Mau Jadi Pengarang Serius Tak akan Ada Uangnya"
>    
> <https://tirto.id/kalau-mau-jadi-pengarang-serius-tak-akan-ada-uangnya-bx7F>
>
>
> Kendati demikian, praktiknya tak serta-merta lancar. Pada masa
> pemerintahan Soeharto, ia kerap diintimidasi. Putu yang juga mempopulerkan
> akupresur kepada kepada ibu-ibu PKK dan bekerja sama dengan beberapa
> puskesmas di Jakarta pernah disangka menyebarkan ajaran komunisme.
> Akibatnya empat klinik milik Putu ditutup pada 1990 dan ia kembali
> ditangkap serta disiksa selama 10 hari di markas militer di Jalan Kramat 5,
> Jakarta.
>
> "Waktu itu aku baru pulang dari Jerman, terus ditahan, itu *digebukin*,
> disetrum lagi."
>
> Penutupan itu bermula dari kunjungan istri Menteri Dalam Negeri Suparjo
> Rustam ke salah satu puskesmas di Duren Sawit, Jakarta Timur. Di puskesmas
> itu, ibu-ibu PKK memang rutin membantu dokter dengan pijat akupresur yang
> diajarkan Putu.
>
> Umumnya, para ibu-ibu menambah satu meja untuk praktik di puskesmas itu.
> Tapi penambahan meja itu tak disambut baik oleh rombongan kunjungan istri
> Mendagri. Akhirnya intelijen mendapat nama Putu sebagai orang yang
> mengajarkan akupresur.
>
> Setelah diketahui sebagai eks tapol, ABRI (kini TNI) langsung menangkap
> Putu dan menutup kliniknya di Klender, Blok M, Petamburan dan Rawamangun.
>
> Baca juga:
>
>    - Akupresur bisa Merangsang Persalinan
>    <https://tirto.id/akupresur-bisa-merangsang-persalinan-cJ3f>
>
>
> Pada masa Orde Baru, Putu mengaku sering diperas aparat intelijen. "Ya mau
>  *gak *mau, dikasih. Dia minta sekian, tapi aku* gak* punya duit, ya
> dicicil *ngasihnya*. *Bayangin**aja* *tuh*," katanya.
>
> Ancaman demikian tak membuatnya luluh. Ia tetap bertahan dan membuka
> kliniknya hingga hari ini. Sejak 1978 sampai hari ini, Putu tidak pernah
> lalai memperpanjang izin praktiknya.
>
> Di tempat praktik itu pula, Putu memajang hasil karyanya. Deretan karya
> tulis seperti*Merajut Harkat* (1999), *Di Atas Siang Di Bawah Malam* (2004),
> dan *Lies, Loss and Longing* (2013), rapi dipajang di lemari kaca. Kadang
> ia menulis sembari menangani pasien.
>
> Sampai saat ini, sudah lebih dari 20 karya tulis berupa cerpen, novel,
> puisi, dan naskah drama dihasilkan pria kelahiran Singaraja 29 Juli 1939
> itu. Selain buku fiksi, ia juga menulis buku tentang kesehatan, akupuntur,
> dan obat-obatan herbal.
>
> "Menulis tetap merupakan kebutuhan hidup, karena menulis itu satu metode
> untuk mengekspresikan pemikiran-pemikiran. Jadi, ya profesi saya juga. Aku
> bisa melayat sampai sekarang ke 23 negara bukan karena akupunturisnya, tapi
> karena orang menghormatiku sebagai penulis yang punya gagasan dan punya
> karya."
>
> Baca juga:
>
>    - Babi-Babi di Dunia Kedokteran dan Pengobatan
>    <https://tirto.id/babi-babi-di-dunia-kedokteran-dan-pengobatan-cEaL>
>
>
> Putu mengaku masih kerap bermimpi buruk tentang peristiwa penangkapannya
> pada 1966, tapi ia memilih untuk menikmati segala keterbatasannya saat ini.
> Ia merasa senang telah berkecimpung di dua dunia yang sama sekali berbeda:
> dunia kesenian dan dunia kesehatan.
>
> "Saya harus berinisiatif karena saya mau *survive*, mau hidup. Jangan
> hidup kita ini luluh habis oleh kode ET [Eks Tapol] yang diberikan oleh
> pemerintah."
>
> Baca juga artikel terkait ORDE BARU
> <https://tirto.id/q/orde-baru-uS?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
>  atau tulisan menarik lainnya Jofie Dwana Bakti
> <https://tirto.id/author/jofiedwanabakti?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
> (tirto.id - Sosial Budaya)
>
> Reporter: Jofie Dwana Bakti
> Penulis: Jofie Dwana Bakti
> Editor: Rio Apinino
>
>
>
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> 不含病毒。www.avg.com
> <http://www.avg.com/email-signature?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=emailclient>
> <#m_4303039283635723941_DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>
> 
>

Kirim email ke