ADA WABAH PENYAKIT KONSUM DI NKRI MENJELANG PEMILU 2019!!!

 

Dasar pemikiran saya dalam segala sesuatu senantiasa bertumpu kepada Holargi
sebagai sebuah sistim segala-sesuatunya; demikian juga dalam masalah
Pancasila 1 Juni 1945, saya melihat, mengupas, mempertimbangkan dan
memutuskan sesuatunya, yang berbentuk abstraksi-final atau kesimpulan itu
bertumpu kepada Holargi. Disinilah kelebihan kita; kita tidak akan pernah
kehilangan orientasi, bahwa setiap phenomenon atau phenomena yang paling
pelikpun mampu kita atasi. Dari segi Holargi kita melihat saling hubungan
baik yang kongkrit yang dapat kita saksikan dengan mata telanjang, bahkan
kita sanggup pula „melihat“ saling hubungan yang sinergetis antar corpus
yang satu dengan corpus lainnya yang tidak kelihatan, misalnya saja tidak
semua orang akan mengakui bahwa : Karakter manusia yang tadinya baik,
kemudian berangsur-angsur “berubah“ menjadi jelek akibat pengaruh konsum
yang oleh psychoneurologist disebutnya ``the consume-syndrome-disease``
(penyakit konsum sindrome)`. Kalau si patient yang mengidap penyakit ``KS``
(konsum-sindrom) ini pergi memeriksakan diri kepada ahli-ahli jiwa dan
ahli-ahli-sarafotak, sang dokter tidak akan menemukan penyakitnya ;
pin-tomography-pun tidak sanggup „membaca“ gejala side-effect konsum-sindrom
tsb. Penyakit itu ada, cuma sang dokter tidak-tahu, karena sang dokter tidak
mengenal apa yang disebut Holargi itu.Dampak dari penyakit KS itu adalah:
banyak orang ``pinter`` yang titelnya berganda, sehingga tak tahu lagi
dimana titel-titel itu mau ditempelkannya; didepan dan dibelakang namanya
sudah penuh sesak. Sepintas lalu kalau saya ``lihat`` mereka ini banyak yang
tak mengenal hakekat holargi didalam segala corpus baik yang riil, apalagi
yang fiktif, sangat disayangkan kondisi ini!!!

 

Inilah dampak-kongkrit dari ``globalisasi-ekonomi-budaya`` yang telah
mengepung bangsa kita, yang kini terbukti telah merusak struktur-cara
berpikir para elite politik dan ekonomi, para pakar ilmu pengetahuan, dan
para pakar-spirituil, (khususnya para ustat dan kiyai-kiyainya); sehingga
dampaknya telah merusak Etika dan Moral bansa kita, karena mereka rupanya
sudah terkena infeksi konsum-syndrom (KS) yang pada hakekatnya adalah
sebagai dampak dari ``holargi-globalisasi-ekonomi-budaya``, yang
merefleksikan dirinya dalam bentuk faham Neoliberalisme, yang telah
dipaksakan oleh Orde baru, dan diteruskan oleh rezim-rezim ´´reformasi´´yang
mengklaim dirinya sebagai orang-orang reformis yang mengenakan jubah
Trisakti  Bung karno, tapi meninggalkan sistem ekonomi Pancasila 1 Juni
1945, yang bedasarkan Pasal 33 UUD 45.´, khususnya Pasal 33 UUD 45.

 

Sesungguhnya konsum-syndrome ini adalah segment
``holargi-globalisasi-ekonomi-budaya`` yang dampaknya tidak memilih-bulu,
ibarat virus yang menyerang semua lipid-membran didalam organisme!  

Sebagai contoh misalnya hancurnya nama baik DPR, yang artinya Dewan
Perwakilan Rakyat, kini berubah menjadi Dewan Penipu Rakyat  atau Dewan
Perampok-uang Rakyat, gara-gara konsum, yang termanifestasikan dirinya dalam
bentuk Korupsi e-KTP. Contoh lainnya misalnya politikus dan ustat islam yang
tak berdaya melawan  serangan penyakit Konsum yang sangat ganas. Misalnya
ketua MUI yang terkena serangan peyakit konsum dituntut untuk mundur dari
kepemimpinan MUI, ,kaera telah menjalankan politik prakris sebagai wakil
preside, karena tak tahan menghadapi serangan ganas penyakit Konsum
Syndrome; Kecuali itu juga ada tokoh-tokoh partai politik dari suatu partai
politik yang melakukan budaya bajing loncat karena gugur dalam menghadapai
wabah serangan  penyakit konsum. Ini tercermin dalam skap kader-kader partai
politik yang patuh pada partainya mendadak pindah medukung partai politk
yang lain karena mereka telah menderita penykit konsum yang akut. Dan masih
banyak lagi contoh-contoh yang lainnya.

 

Apakah konsum itu ?

 

Konsum itu, tadinya hanya berfungsi untuk menutupi keperluan hidup, tapi
kini sudah berubah fungsinya sebagai ``penyakit``.  Dalam hal ini,yang
disebut konsum itu bukan hanya berupa materi atau non-materi, melainkan juga
termasuk alat-pembayarbarang atau jasa (baca: uang, jabatan dll) ,  yang
termanifestasikan dalam bentuk budaya  KKN yang induknya adalah ``gobalisasi
ekonomi-budaya`` yang telah dipaksakan oleh orde baru untuk menggantikan
edilogi Pancasila 1 Juni 1945 versi Bung Karno. Pengaruh konsum terhadap
phenotypus yang ``menderita`` konsum-sindrom itu melalui proses
jangka-panjang. Misalnya kebiasaan membeli, kebiasaan ingin mempunyai,
kebiasaan ingin menikmati surga dunia, menikmati sesuatunya yang terjadi
berulangkali itu, akhirnya berubah menjadi aktivitas yang otomatis harus
terjadi diluar kesadaran. „Pasient-konsum-syndrome“ ini berkondisi seperti
orang yang sedang menerima hypnose yang bukan dilakukan oleh seorang dokter,
melainkan oleh propaganda-reklame,politik dan janji-janji yang menggiurkan,
yang bermunculan pada menjelang pemillu 2019, yang dampaknya adalah
terjadinya gerakan bajing loncat yang dilakukan oleh para politikus yang
terindikasi menderita penyakit konsum. Demikianlah etika dan moral dari para
politikus di NKRI ini, menurut pengamatan saya.

 

Dilihat dari aspek psikologis, penyakit ``KS`` itu  masakini tidak memilih
warna pigmen kulit, dan kedudukan sosial manusia dalam masyarakatnya.
Pengaruh``KS`` itu adalah  ibarat virus atau bakteria yang menyerang semua
bentuk organisme. Infeksi-konsum menularkan syndromnya kepada setiap
gelintir individu dimana dia berada, dimana mereka sedang menikmati sorga
dunia, terutama  para penguasa negara dan segenap jajaran birokrasinya dan
para penegak hukum dinegara kita. Meskipun beliau-beliau itu telah
mengasingkan diri dari kalangan masyarakat dan telah membentuk dunianya
sendiri, seperti yang tercermin dalam kehidupan dunia Kerajaan,dan Istana
Neghara yang kebal terhadap hukum apapun yang berlaku di Indonesia, namun
emikian virus Sndrome itu tetap bisa tersebar di seluruh bumi Indonesia.
Yang dampaknya ternyata telah menyebabkan bangsa Indonesia memesuki zaman
neoliberal yang dampaknya sangat menyengsarakan trakyat banyak.

Achir kata; mudah-mudahan kaum generasi muda bangsa ini jangan sampai
kemasukan virus kumsum yang sangat gans itu. 

 

Roeslan

 

 

 

 

 

 

Kirim email ke