Lha kok mengulang kelucuan Jokowi waktu nyapres 2014,
memuat tulisan berjudul "Revolusi Mental" di koran Kompas,
tetapi setelah dikritik dari segala penjuru akhirnya dia ngaku
artikel di Kompas itu bukan tulisannya.
https://groups.yahoo.com/neo/groups/GELORA45/conversations/messages/146565
Kiai Malik Madani mengapresiasi langkah Ma’ruf Amin yang begitu diangkat
sebagai Rais Am langsung menulis di Kompas dengan title Rais Am, meski ia
sejatinya bukan penulis.
Tujuannya cuma satu, yaitu: gagah-gagahan, seolah olah dia punya kapasitas
intelektual dan punya keterampilan menulis di media massa.
--- jonathangoeij@... wrote:
Mengkritisi tulisan KH. Ma’ruf Amin
Mantan Katib ‘Am Syuriah PBNU Prof Dr KH Malik Madani selain mengungkap
beberapa pelanggaran Muktamar NU ke-33 di alun-alun Jombang, juga mengkritisi
tulisan KH Ma’ruf Amin berjudul Khitah Islam Nusantara yang dimuat Kompas pada
29 Agsutus 2015.
Kiai Malik Madani mengapresiasi langkah Ma’ruf Amin yang begitu diangkat
sebagai Rais Am langsung menulis di Kompas dengan title Rais Am, meski ia
sejatinya bukan penulis. ”Tapi begitu menulis langsung salah,” kata Guru Besar
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu dalam acara Napak Tilas
pendirian NU di musalla peninggalan Syaikhona Kholil bin Abdul Latif di
Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan Madura Jawa Timur.
Ia mencontohkan beberapa istilah berbahasa Arab yang diterjemahkan Ma’ruf Amin
ke dalam bahasa Indonesia.
”Dalam tulisan itu jamiah oleh Kiai Ma’ruf Amin diterjemahkan organisasi. Itu
salah. Jamiah artinya universitas. Kalau bahasa Arabnya organisasi itu
jam’iyah,” kata Kiai Malik Madani.
Begitu juga susunan bahasa Arab yang dikutip Ma’ruf Amin banyak yang salah dari
segi gramatika Arab maupun pemaknaan. Ia mencontohkan istilah yang dikutip
Ma’ruf Amin Aljumud Almanqulat.
”Gak ada aljumud almanqulat itu.. Yang ada Aljumud alal Manqulat,” kata Malik
Madani yang dikenal alim kitab kuning.
Dan masih banyak lagi istilah istilah bahasa Arab lainnya yang tak pas
penerjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Menurut Kiai Malik Madani, Ma’ruf Amin dalam tulisannya itu tidak hanya salah
menerjemahkan bahasa Arab tapi juga salah secara konseptual dalam memahami
Ahlussunnah Wal Jamaah dan Islam Nusantara. ”Apa yang ditulis Kiai Ma’ruf Amin
itu justru mempersempit Ahlusssunnah Wal Jamaah,” katanya.
Menurut dia, penganut Ahlussunnah Wal Jamaah itu tidak hanya umat Islam yang
bernaung dalam organisasi NU, tapi juga yang bernaung dalam organisasi lain
seperti al-Washliyah, PERTI dan sebagainya. ”Al-Washliyah itu banyak sekali di
daerah Kiai Syaikh Ali Akbar Marbun ini,” kata Kiai Malik Madani sambil
memegang lutut Kiai Syaikh Ali Akbar Marbun yang duduk berdampingan di jajaran
para kiai.
Kiai Syaikh Ali Akbar Marbun adalah pengasuh Pondok Pesantren Al-Kautsar
Al-Akbar Medan Sumatera Utara yang namanya dimasukkan sebagai Mustasyar PBNU
nomor 1 oleh Said Aqil Siraj, tapi mengaku tak pernah dihubungi atau diberi
tahu. ”Bahkan PERTI itu dulu pernah memasang spanduk bertuliskan PERTI
bermadzhab Imam Syafii,” kata Kiai Malik Madani.
”Jadi PERTI itu berani menyatakan bermadzhab Syafi’i,” katanya.
Kiai Malik Madani berharap tulisan Ma’ruf Amin itu tidak dibaca oleh orang non
NU yang pintar ilmu agama. Karena kalau dibaca orang luar NU yang paham ilmu
agama niscaya warga NU jadi malu.
”Semoga tulisan itu hanya dibaca oleh orang-orang yang tak mengerti bahasa
Arab. Karena kalau dibaca orang non NU yang mengerti bahasa Arab gimana,”
katanya.
Meski demikian, Malik Madani masih husnuddzan (baik sangka) terhadap Ma’ruf
Amin. ”Bisa jadi itu karena kesalahan ketik atau salah orang yang mengetik,”
katanya.
Cuma kalau salah ketik, kenapa kesalahan terjemahan itu banyak sekali. Namun
bisa jadi tulisan itu bukan karya Ma’ruf Amin, melainkan karya orang lain tapi
atas nama Ma’ruf Amin. Kalau dugaan terakhir ini benar maka sangat fatal secara
intelektual bagi Ma’ruf Amin.
Ma’ruf Amin bisa dituduh melakukan kebohongan publik karena memanipulasi karya
orang lain diatasnamakan karyanya sendiri, meski penulisnya sengaja menulis
untuk Ma’ruf Amin.
Namun harus diakui fenomena menulis “atas nama” orang lain ini belakangan kian
marak. Di Jawa Timur banyak sekali politisi – seperti anggota legislatif, tokoh
ormas dan tokoh lain menulis di media massa, tapi sebenarnya tulisan itu bukan
karyanya sendiri. Mereka hanya “atas nama” seolah-olah hasil karyanya sendiri.
Tujuannya cuma satu, yaitu: gagah-gagahan, seolah olah dia punya kapasitas
intelektual dan punya keterampilan menulis di media massa.
Dengan demikian dia berharap ada penghargaan publik, prestise, legitimasi,
meski faktanya yang ia dapat justru sebaliknya. Sebab umumnya masyarakat sudah
tahu karakter penulis, apakah ia seorang penulis beneran atau sekedar “numpang”
dan “nampang” nama di media massa..
Ironisnya, si pembuat tulisan kadang dengan bangga bercerita bahwa tulisan
ketua parpol atau anggota legislatif tertentu itu adalah hasil karyanya, tapi
atas nama mereka.
[BangsaOnline.Com/NUgl]