https://bisnis.tempo.co/read/1126819/sri-mulyani-bedah-gejolak-perekonomian-global-dan-indonesia/full&view=ok
Sri Mulyani Bedah Gejolak Perekonomian Global
dan Indonesia
Reporter:
Caesar Akbar
Editor:
Ali Akhmad Noor Hidayat
Sabtu, 15 September 2018 17:22 WIB
0 komentar
<https://bisnis.tempo.co/read/1126819/sri-mulyani-bedah-gejolak-perekonomian-global-dan-indonesia/full&view=ok#comments>
304
#
#
#
#
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri World Economic Forum
on ASEAN di Convention Center, Hanoi, Vietnam, Rabu, 12 September 2018.
REUTERS/Kham
<https://statik.tempo.co/data/2018/09/12/id_733113/733113_720.jpg>
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menghadiri World Economic Forum
on ASEAN di Convention Center, Hanoi, Vietnam, Rabu, 12 September 2018.
REUTERS/Kham
*TEMPO.CO, Jakarta -* Menteri Keuangan Sri Mulyani
<https://www.tempo.co/tag/sri-mulyani> Indrawati menjelaskan kondisi
perekonomian Indonesia saat ini dalam akun media sosial facebooknya.
Menurut dia, saat ini situasi dan tantangan ekonomi terus berubah, dan
acapkali perubahan itu terjadi sangat cepat.
*Baca juga: **Pajak Disesuaikan, Sri Mulyani: Harga Barang Impor Naik 20
Persen
<https://bisnis.tempo.co/read/1124150/pajak-disesuaikan-sri-mulyani-harga-barang-impor-naik-20-persen>*
"Menjaga suatu perekonomian adalah pekerjaan tak pernah berhenti, tak
boleh lengah dan harus dilakukan terus menerus," ujar Sri Mulyani dalam
akun facebook resminya, Jumat malam, 14 September 2018.
Sri Mulyani mengatakan gejolak perekonomian global dimulai dimulai
dengan langkah normalisasi kebijakan moneter di Amerika Serikat, yaitu
kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat dan likuiditas dollar
Amerika dikurangi atau diperketat. Selain itu kebijakan fiskal Amerika
juga ekspansif dengan penurunan pajak dan belanja yang meningkat.
"Ditambah kebijakan perang dagang oleh Presiden Trump kepada Eropa dan
China dengan kenaikan tarif barang impor ke Amerika Serikat," ujar Sri
Mulyani. Dampak dari kebijakan negeri Abang Sam itu lantas dirasakan
seluruh dunia dalam bentuk suku bunga dolar meningkat, arus modal ke
seluruh dunia terutama ke negara berkembang dan emerging menurun, dan
adanya ketidakpastian perdagangan internasional.
Untuk itu, bekas Direktur Bank Dunia itu menuturkan ada empat aspek
perekonomian yang harus dikelola dalam menjaga stabilitas dan kelanjutan
kemajuan perekonomian menghadapi guncangan dunia tersebut, antara lain
sektor riil yang ditunjukkan dengan Indikator pertumbuhan ekonomi atau
Produk Domestik Bruto (PDB).
Selain itu, aspek fiskal, yaitu anggaran pendapatan dan belanja negara
meliputi penerimaan, belanja negara dan pembiayaan. Aspek lainnya adalah
aspek moneter serta sektor keuangan, dan aspek neraca pembayaran yaitu
keseimbangan eksternal antara perekonomian Indonesia dengan dunia.
Sri Mulyani mengatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini justru
sedang mengalami akselerasi setelah mengalami tekanan merosotnya harga
komoditas sejak 2015-2016. Pertumbuhan ekonomi berada pada tingkat 5,17
persen di semester I 2018.
"Itu tertinggi sejak 2014 dan tingkat pengangguran berada pada posisi
5,13 persen, terendah dalam dua dekade, dan tingkat kemiskinan pada 9,8
persen, terendah dalam dua dekade," kata Sri Mulyani.
Dari sisi fiskal, penerimaan negara di semester I telah mencapai 52,48
persen dari target, dengan pertumbuhan penerimaan pajak yang membaik
mencapai 14,3 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan di semester I
2017 yaitu 9,6 persen.
Sri Mulyani mengatakan realisasi penyerapan belanja negara sampai akhir
Juli 2018 mencapai 51,5 persen dan realisasi transfer ke daerah dan dana
desa sebesar 58,6 persen dari pagu. adapun defisit sampai akhir Juli
2018 sekitar 1,02 persen dan keseimbangan primer positif 46,4 triliun.
"Suatu kemajuan kesehatan APBN yang luar biasa dibanding situasi 3 tahun
terakhir. Konsolidasi fiskal dikakukan untuk meminimalkan dampak
lingkungan global terhadap APBN dan meningkatkan ketahanan
perekonomian," tutur Sri Mulyani.
Sementara dari sisi moneter, ujar Sri Mulyani, inflasi sangat terjaga
pada angka 3,2 persen di semester I 2018, dengan stabilitas inflasi
terjaga selama 3 tahun terakhir dikisaran 3,5 persen. Seiring kondisi
moneter, ia berujar kondisi sektor keuangan juga menunjukkan situasi
yang stabil dan membaik. Hal ini tercermin dari tingkat kecukupan modal
perbankan (CAR) yang mencapai 22 persen di triwulan II 2018, tingkat Non
Perfoming Loan atau kredit macet tetap rendah sebesar 2,7 persen, dan
pertumbuhan kredit mencapai 10,7 persen.
"Itu akan terus membaik. Secara keseluruhan tahun 2018, rata-rata
pertumbuhan kredit diperkirakan berada pada kisaran 10-12 persen," kata
Sri Mulyani
<https://bisnis.tempo.co/read/1126587/sri-mulyani-ada-pegawai-kami-semena-mena-saya-langsung-copot>.
------------------------------------------------------------------------