Kisah Haru di Akhir Kehidupan Bung Karno 
https://www.viva.co.id/berita/nasional/635860-kisah-haru-di-akhir-kehidupan-bung-karno
 Rabu, 10 Juni 2015 | 06:06 WIB

 

 Photo : VIVA.co.id/ Dody HandokoDody Handoko

 
 Wisma Yaso, tempat Bung Karno alami penderitaan setelah tak lagi tinggal di 
Istana Bogor.
 VIVA.co.id - Pada Sidang istimewa tahun 1967, MPRS memberhentikan jabatan 
Presiden RI pertama Soekarno. MPRS, melalui surat, juga memerintahkan Bung 
Karno untuk segera meninggalkan Istana Bogor dalam waktu 2 x 24 jam. Bung Karno 
lantas pindah ke Wisma Yaso.  
  
Dalam buku 'Hari-hari Terakhir Sukarno' karya Peter Kasenda dan buku 'Kejayaan 
Dan Saat-saat Terakhir Bung Karno' karya Soewarto mengisahkan kondisi 
mengenaskan Bung Karno saat tidak lagi menjabat sebagai Presiden RI. Saat itu 
Bung Karno yang tengah sakit parah harus menjalani interogasi Kopkamtib 
(Komando Pemulihan dan Keamanan). Setelah sakit Bung Karno semakin parah 
barulah Soeharto memerintahkan penghentian interogasi. Namun, ini tak lantas 
menandai siksaan Soekarno berakhir.
 
Siksaan fisik dan psikis justru semakin menjadi-jadi. Para tentara yang 
ditugaskan mengawal Soekarno sungguh tidak memperlakukannya secara layak. Tak 
jarang mereka membentak Soekarno dengan kasar karena masalah-masalah sepele.
 
Banyak rumor beredar di masyarakat bahwa Bung Karno hidup sengsara di Wisma 
Yaso. Beberapa orang diketahui nekat membebaskan Bung Karno. Bahkan ada satu 
pasukan khusus KKO (Korps Komando) yang dikabarkan sempat menembus penjagaan 
dan berhasil masuk ke dalam kamar Bung Karno. Tapi, Bung Karno menolak 
mengikuti permintaan mereka karena menganggap hal itu akan memancing perang 
saudara.

Dokter Mahar Mardjono yang ikut merawat Soekarno kala itu memberi kesaksian, 
obat-obat yang diresepkannya tidak pernah diberikan. Obat-obat tersebut hanya 
disembunyikan di laci oleh dokter tentara yang bertugas merawat Bung Karno. Di 
Wisma Yaso ini kamar Bung Karno tampak suram karena tidak terawat. Yang ada 
hanya sebuah termos dengan gelas kotor. 

Mohammad Hatta yang dilapori kondisi Bung Karno lantas menulis surat tertuju 
pada Soeharto, mengecam cara merawat Soekarno. Demi mengingat sahabatnya, Hatta 
duduk di beranda rumahnya sambil menangis sesenggukan. Kepada istrinya Rachmi, 
Hatta lantas menyampaikan keinginannnya untuk bertemu dengan Soekarno. 

“Kakak tidak mungkin ke sana, Bung Karno sudah jadi tahanan politik,” kata 
Rachmi. Hatta bersikeras meyakinkan istrinya agar bisa menemui Soekarno. Seraya 
menoleh pada istrinya, Hatta berkata: “Soekarno adalah orang terpenting dalam 
pikiranku, dia sahabatku, kami pernah dibesarkan dalam suasana yang sama agar 
negeri ini merdeka. Bila memang ada perbedaan diantara kita itu lumrah tapi aku 
tak tahan mendengar berita Soekarno disakiti seperti ini.”
 
Keinginannya juga disampaikan kepada Soeharto yang sudah meminpin sebagai 
Presiden RI. Dia menyampaikannya melalui sebuah surat bernada tegas yang 
langsung disetujui Soeharto.

 

 Di Wisma Yaso Sukarno dijenguk oleh dua sahabat setianya, Bung Hatta dan Ali 
Sadikin. Meski begitu, Sukarno sangat tersiksa oleh penyakitnya. Diceritakan 
dalam dua buku itu bila Sukarno sering berteriak-teriak “Ya Allah, sakit. Ya 
Allah, sakit sekali...!”
 
Tidak ada yang menolong Sukarno. Tentara pengawal hanya bisa diam, menerima 
perintah komandan. Sampai-sampai ada seorang tentara yang menangis mendengar 
teriakan Bung Karno di depan pintu kamar. Kepentingan politik tak bisa 
membendung rasa kemanusiaan, dan air mata adalah bahasa paling jelas dari rasa 
kemanusiaan itu.

Hingga pada 16 Juni 1970 sampailah Sukarno pada titik nadir pertahanannya. Bung 
Karno jatuh koma. Lelaki yang pernah begitu mempesona dan digila-gilai 
wanita-wanita cantik itu kini tak ubahnya laiknya mayat hidup.

Di rumah sakit, Hatta menemui Sukarno yang tergolek lemah. Tak disangka ini 
menjadi pertemuan terakhir kedua sahabat itu. Dengan hati-hati Hatta 
menghampiri sahabat lamanya itu. Sukarno yang semalam koma mendadak tersadar 
oleh kehadiran Hatta. 

“Bagaimana keadaanmu, No?" kata Hatta sembari berusaha menyembunyikan hatinya 
yang hancur melihat kondisi sahabatnya itu.
 
 
 “Hou gaat het met jou..?” (Bagaimana keadaanmu?). Sukarno balik bertanya, 
mengingatkan saat-saat perjuangan mereka. Sambil memaksakan diri untuk 
tersenyum, Hatta meraih tangan Sukarno. Perlahan Hatta mulai memijit Sukarno 
dengan lembut. Nyaman dengan sahabatnya, Sukarno meminta Hatta untuk 
memasangkan kaca matanya agar bisa melihat sahabatnya dengan lebih jelas.
 
Sukarno yang dulu gagah dan mempesona itu pun menangis sesenggukan di hadapan 
sahabat lamanya. Lelaki perkasa itu menangis di depan kawan seperjuangannya, 
bak bayi kehilangan mainan.

Hatta yang berperangai dingin dan tak terbiasa menunjukkan perasaannya, kali 
ini tak kuat membendung bulir air matanya. Tak mampu lagi dia mengendalikan 
perasaannya dan ikut menangis, merasakan penderitaan sahabatnya. 

Saat itu tak ada lagi perbedaan politik di antara keduanya. Ini adalah 
pertemuan dua anak manusia yang berhasil melahirkan bangsa ini. Kedua teman 
lama yang sempat berpisah itu diceritakan saling berpegangan tangan, seolah 
takut berpisah.

Hatta tahu, waktu yang tersedia bagi orang yang dikaguminya tidak akan lama. 
Hatta juga tahu, betapa siksaan tanpa pukulan yang dialami sahabatnya sungguh 
sangat kejam. Suatu hal yang hanya bisa dilakukan oleh manusia tanpa nurani.

“No…” Hanya itu yang bisa terucap dari ucapan Hatta. Tak mampu berucap lebih. 
Bibirnya bergetar menahan kesedihan sekaligus kecewa. Bahunya terguncang.

Sejenak, mereka kembali mengenang masa-masa muda penuh perjuangan dan 
pencapaian. Sehari setelah pertemuan dengan Bung Hatta kondisi Sukarno menjadi 
semakin buruk. Matanya sudah tak lagi mampu terbuka. Suhu badannya terus 
meninggi. Sukarno kini menggigil. Peluh membasahi bantal dan piyamanya. 
Malamnya Dewi Sukarno dan puterinya yang masih berusia tiga tahun, Karina, 
hadir di rumah sakit. Sukarno belum pernah sekali pun melihat anaknya itu.

Minggu pagi 21 Juni 1970, dokter Mardjono, salah seorang anggota tim dokter 
kepresidenan melakukan pemeriksaan rutin. Dengan sangat hati-hati dan penuh 
hormat, dia memeriksa denyut nadi Sukarno.
 
Dengan sisa kekuatan yang masih ada, Sukarno menggerakkan tangan kanannya, 
memegang lengan dokternya. dr. Mardjono merasakan panas yang demikian tinggi 
dari tangan yang amat lemah itu. Tiba-tiba tangan yang panas itu terkulai.  
Situasi di sekitar ruangan sangat sepi. Begitu hening dan mencekam. Sukarno 
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
 

Kirim email ke