http://www.harianterbit.com/hanterekonomi/read/2018/09/22/102452/0/21/Ekonomi-Lagi-Sakit-Utang-Kembali-Naik-Per-Agustus-Capai-Rp-4.363-Triliun


*: *Sabtu, 22 September 2018 11:05 WIB
Ekonomi Lagi `Sakit`, Utang Kembali Naik, Per Agustus Capai Rp 4.363 Triliun

*Jakarta, HanTer* - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat per 31
Agustus, posisi utang pemerintah pusat mencapai Rp 4.363,19 triliun. Angka
ini naik Rp 110,19 triliun atau 2,59 persen dibandingkan bulan sebelumnya
sebesar Rp 4.253 triliun.

Pengamat kebijakan publik  dari Institute for Strategic and Development
Studies (ISDS) M Aminuddin mengatakan, berdasarkan data dari Humas Bank
Indonesia (BI) saat ini utang pemerintah sudah mencapai Rp5.192. trilliun.
Utang yang menumpuk tersebut sudah sangat berbahaya karena sudah melewati
dua kali APBN. Oleh karenanya jika melihat Rupiah bertengger di Rp14.817,
maka  sudah memasuki krisis yang pernah dialami Yunani dan Italia.

"Menumpuknya utang ditambah nilai rupiah yang  terpuruk juga akan membuat
defisit anggaran karena  APBN kita untuk membiayai pengeluarannya sendiri
tidak cukup, apalagi untuk membayar utang," paparnya

Aminudin menuding, Jokowi terlihat belum menyadari bahwa ekonomi ‘sakit’,
mungkin karena para menterinya menyodorkan data yang dipoles atau dilihat
dari sisi khusus sehingga ekonomi tidak kelihatan ‘sakit’.  Jika dilihat
dari data di atas, maka Indonesia sebenarnya sekarang tengah mengalami
penyakit kritis ganda empat bidang, yakni: defisit neraca jasa, defisit
neraca berjalan, defisit neraca perdagangan, dan sekaligus defisit primer
APBN.

"Indikator kritis ini adalah tanda-tanda ekonomi Indonesia masuk ke dalam
jurang krisis. Jangan bermain dan bohong dengan statistik sebab itu buruk
untuk mencari solusi kebijakan yang sesungguhnya. Lebih baik kita
mengatakan sakit sehingga bisa mencari obatnya daripada mengatakan tidak
sakit padahal sakit sehingga lupa mancari obatnya," paparnya.

*Copot Menteri*

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Ikatan Senat Mahasiswa Ekonomi
Indonesia (ISMEI), Andi Rante mengatakan, utang pemerintah Indonesia hingga
per Agustus mencapai Rp 4.363 triliun adalah sebuah kegagalan besar
pengelolaan keuangan negara.  Pemerintah terkesan tidak pernah menambah
pemasukan negara di luar utang,  Sepertinya Pemerintah tidak kreatif dalam
menambah pemasukan kas negara selain hanya bisa berhutang.

"Ini bahaya buat stabilisasi politik dan kedaulatan ekonomi bangsa kita.
Presiden sebagai kepala negara dan kepala pemerintaha  harus tegas
mengevaluasi menteri menteri ekonominya terutama Menko Perekonomian,
Menteri Keuangan,  Menteri BUMN dan Menteri Perdagangan," tegasnya.

Andi menuturkan, para menteri perekonomian itulah yang paling memberikan
pengaruh besar terhadap keuangan dan stabilitas ekonomi dalam negeri. Jika
perlu copot para menteri tersebut karena menjadi sumber masalah ekonomi
bangsa Indonesia.

Koordinator Pergerakan Pemuda Merah Putih Wenry Anshory Putra juga
mengatakan, semakin menumpuknya utang menunjukan bukti bahwa pemerintahan
Jokowi tidak efektif.

"Saran saya, sebaiknya Jokowi beserta jajarannya dalam hal ini Sri Mulyani
mengkoreksi diri daripada terus menerus melakukan pembelaan. Saya rasa
sudah tidak ada gunanya berteori ini itu. Harusnya Sri Mulyani mundur,
karena itu lebih terhormat," paparnya.

*Rp 1,47 Perhari*

Dihubungi terpisah pengamat ekonomi Gede Sandra mengatakan, pemerintah
menyebutkan utang per 31 Agustus 2018 Rp4.363 triliun. Bila pada Juli 2017
disebutkan utang pada posisi Rp 3.825 triliun, berarti Dalam setahun, dari
Juli 2017 ke Agustus 2018, utang bertumbuh Rp538 triliun atau bertumbuh 14%..

“Bila pertumbuhan  utang selama tahun 2017 tersebut dibagi 365 hari, setiap
harinya rata-rata pemerintah menambah utang Rp 1,47 triliun perhari. Nilai
ini lebih besar dari estimasi salah satu cawapres yang menyebut Indonesia
menambah utang Rp1 triliun per hari,” ujar Gede.

Padahal dalam periode yang sama tersebut, rata-rata pertumbuhan ekonomi
hanya 5%. Bayangkan: Utang bertumbuh 14% tapi ekonomi hanya bertumbuh 5%!!

Sementara pada periode yang sama, defisit neraca perdagangan akumulatif
malah minus USD 4 miliar (-Rp 60 triliun). Artinya penambahan utang yang
menggebu-gebu oleh pemerintah tidak menghasilkan peningkatan pertumbuhan
ekonomi yang sesuai dan juga tidak meningkatkan ekspor kita.

Kemudian, perlu diketahui, berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri
Indonesia (SULNI) bulan September 2018, bahwa dari keseluruhan utang luar
negeri USD 357,98 miliar, porsi utang yang berdenominasi dollar AS adalah
sebesar USD 245,65 miliar atau sebesar 68,6% dari keseluruhan utang. Jadi
sangat rentan terhadap fluktuasi nilai kurs dollar AS.

“Kalau SMI sebut porsi utang USD di SBN bawah 30%, itu menyesatkan!
Emangnya utang kita SBN doing,” ujar Gede Sandra.

Kirim email ke