https://tirto.id/dimulainya-hoaks-penyiksaan-para-jenderal-pada-4-oktober-1965-c3Us
Seri Huru-Hara 1965
Dimulainya Hoaks Penyiksaan Para
Jenderal pada 4 Oktober 1965
Adegan Soeharto menyaksikan pengangkatan jenazah para jenderal di film
"Pengkhianatan G30S/PKI". tirto.id/Lugas
<https://tirto.id/dimulainya-hoaks-penyiksaan-para-jenderal-pada-4-oktober-1965-c3Us>
Adegan Soeharto menyaksikan pengangkatan jenazah para
jenderal di film "Pengkhianatan G30S/PKI". tirto.id/Lugas
Oleh: Petrik Matanasi - 4 Oktober 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Isu penyiksaan terhadap Pahlawan Revolusi mulai menjadi narasi nasional
sejak jenazah mereka diangkat di Lubang Buaya./
tirto.id <https://tirto.id/> - Salah satu agenda penting setelah Gerakan
30 September mulai kena sikat adalah menemukan para jenderal yang
terculik. Beberapa pasukan pun diperintahkan Soeharto melakukan
penyisiran ke Lubang Buaya.
Letnan Satu Feisal Tanjung dan Letnan Dua Sintong Panjaitan, yang sedang
berada di sekitar tempat itu bersama pasukannya, diperintahkan bergerak
ke Lubang Buaya pada 3 Oktober 1965. Sebelumnya, Resimen Para Komando
Angkatan Darat (RPKAD) mendapat kabar di situlah posisi para jenderal
yang terculik. Informasi ini berdasarkan pengakuan Agen Polisi II
Soekitman yang ikut terculik tapi kemudian kabur.
Kawasan itu pun disisir anak buah Sintong bersama anak buah komandan
peleton yang lain. Mereka lalu dapat informasi dari salah satu warga
setempat tentang adanya sumur-sumur yang sudah ditimbun. Salah satu
bekas sumur dicoba digali, tapi ternyata bukan. Kemudian mereka melihat
satu bekas sumur yang sudah ditanami pohon. Bekas sumur itu pun digali.
Setelah anak buah Sintong menggali, tampak daun-daun segar, batang
pisang, dan potongan kain.
Menurut catatan Hendro Subroto dalam /Sintong Panjaitan: Perjalanan
Seorang Prajurit Para Komando/ (2009), kain-kain itu adalah baju yang
digunakan Batalyon 454/Banteng Raider. Penggalian lalu dilakukan.
Melihat itu, penduduk pun menawarkan diri untuk ikut bantu menggali.
Pada kedalaman 8 meter, terciumlah bau busuk dan penduduk yang menggali
meminta naik karena tidak tahan dan mengganggu pernapasan. Setelahnya,
salah seorang anak buah Sintong ikut turun dan melihat kaki manusia yang
mencuat ke atas. Yakinlah pasukan elite itu bahwa di situlah jenazah
para jenderal terculik berada (hlm. 130-131).
Baca juga: Kiprah dan Tragedi Para Perwira Banteng Raiders
<https://tirto.id/kiprah-dan-tragedi-para-perwira-banteng-raiders-csva>
Operasi Pengangkatan Jenazah
Sintong melapor ke Feisal Tanjung. Feisal lalu melapor atasannya lagi.
Sampailah laporan itu ke Mayor Jenderal Soeharto yang punya kuasa atas
pasukan Kostrad dan bisa memerintahkan pasukan RPKAD lewat Kolonel Sarwo
Edhi Wibowo. Soeharto, lewat Sarwo Edhi, lalu memerintahkan penggalian
dihentikan dulu. Hari sudah pukul sepuluh malam.
Malam itu, Sintong dan pasukannya menginap dalam kegelapan Lubang Buaya.
Mereka menanti hari esok untuk mengangkut semua yang ada di dalam sumur
tua. Soal bagaimana caranya, Sintong memikirkannya. Sudah jadi kewajiban
perwira untuk selalu berpikir cepat.
Berhubung bau busuk tercium dari bawah sumur, mau tidak mau tabung
oksigen untuk penyelam harus dipakai. Kopral Anang, anggota RPKAD yang
pernah dilatih menyelam oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) Angkatan
Laut, pun dipanggil. Anang yang jadi pelatih selam RPKAD memberi
informasi bahwa alat selam RPKAD berada di Cilacap.
Maka harapannya tertuju pada alat selam milik Korps Komando (KKO)—kini
Korps Marinir—Angkatan Laut. Kapten Sukendar, perwira Zeni di Kostrad,
lalu menghubungi Letnan Satu (KKO) Mispam Sutanto yang menjadi wakil
komandan Kompi Intai Para Amfibi (Kipam) di markasnya di Kwitang. Mereka
berdua lalu menuju Menteng, ke rumah Panglima KKO Mayor Jenderal Hartono.
Tanpa kerumitan, Hartono memberi izin peminjaman. Surat izin resmi dari
Kostrad boleh menyusul. Alat selam yang berada di KRI Multatuli (561)
pun boleh mereka bawa berdua. Setelah alat selam beres, mereka mengisi
oksigen di Manggarai.
Sekitar pukul tiga dini hari 4 Oktober 1965, tepat hari ini 53 tahun
lalu, Komandan Kipam Kapten KKO Winanto bersama delapan penyelam dan dua
dokter (dr. Kho Tjio Ling dan drg. Sumarno) berangkat ke Lubang Buaya
dengan truk Ziel bikinan Uni Sovyet. Tak lupa, generator listrik yang
ditarik jip juga mereka bawa.
Rombongan ini, menurut Hendro Subroto (2009:133), sempat dicegah
memasuki area Lubang Buaya. Pertama oleh Pasukan Gerak Tjepat, kedua
oleh pasukan Sintong sendiri. Sekitar pukul setengah lima mereka sudah
di Lubang Buaya (hlm. 133).
Menurut catatan Kuncoro Hadi dan kawan-kawan dalam /Kronik ’65/ (2017),
rombongan Kipam diizinkan masuk ke lokasi ketika iring-iringan Mayor
Jenderal Soeharto dan jenderal lainnya tiba. Para wartawan dari /Berita
Yudha/, /Angkatan Bersenjata/, /RRI/, dan /TVRI/ juga ada di sana (hlm.
341).
“Saya sendiri menyaksikan pengangkatan jenazah-jenazah itu yang terdapat
di dalam sumur yang sudah mati, ditimbuni dengan sampah, daun singkong
dan tanah secara berselang-seling. Amat menyedihkan,” aku Soeharto dalam
autobiografinya, /Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya /(1989: 134).
Soeharto mengaku, pada tengah hari pukul 12.00 pengangkatan jenazah
teratas dilakukan.
Kopral Anang masuk lebih dulu pada pukul 12.05 dengan masker oksigen.
Satu jenazah berhasil diikat. Setelah ditarik, ternyata Letnan Satu
Pierre Tendean, ajudan Jenderal Abdul Haris Nasution.
Pukul 12.15, Sersan Mayor (KKO) Saparimin turun masuk. Satu jenazah
diikatnya, tapi sulit ditarik karena terjepit jenazah lainnya. Prajurit
Komando I (KKO) Subektu pun turun. Dia mengikat jenazah satu lagi. Dua
jenazah pun terangkat. Mereka adalah Mayor Jenderal Suwondo Parman dan
Mayor Jenderal Suprapto.
Pukul 12.55, Kopral (KKO) Hartono turun. Dia mengikat secara terpisah
dua jenazah. Setelah ditarik, ternyata dua jenazah itu adalah Mayor
Jenderal M.T. Haryono dan Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomihardjo.
Pukul 13.30, Sersan Mayor Suparimin turun lagi. Jenazah diikatnya.
Setelah ditarik, ternyata Letnan Jenderal Ahmad Yani.
Setelah dapat 5 perwira tinggi dari 6 yang hilang, para penyelam
kelelahan. Bahkan ada anggota yang keracunan. Kapten Winanto pun turun
tangan. Tak hanya dengan alat selam, tapi juga alat penerang dengan
tenaga dari generator. Sampai di dalam, Winanto menemukan satu jenazah
lagi. Itulah jenazah Brigadir Jenderal D.I. Panjaitan. Maka semua
jenderal pun terangkat.
infografik seri huru hara 4 oktober
Isu Penyiksaan Menyebar
Mulai sore tanggal 4 Oktober itu, menurut Omar Dani dalam memoarnya,
/Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran dan Tanganku: Pledoi Omar Dani/
(2001), “TVRI sangatlah sibuk menyiarkan berita tentang penggalian
jenazah para jenderal dari sumur tua yang oleh media massa dinamakan
Lubang Buaya itu” (hlm. 93).
Kisah pengangkatan jenazah tersebut dibumbui dengan dramatis dan
ditambahi cerita fantastis soal penyiksaan. Inilah yang menciptakan
kebencian banyak pihak kepada mereka yang terlibat G30S, terutama kepada
para anggota dan simpatisan PKI.
“Semua jenazah dalam keadaan rusak akibat penganiayaan,” kata Soeharto
dalam autobiografinya (hlm. 134).
Cerita pun menyebar bahwa jenazah itu disilet-silet dan disiksa secara
keji. Narasi soal jenazah yang disilet-silet, dicongkel mata, dan
dipotong penis adalah versi yang banyak dipercaya di zaman Orde Baru.
Siapa saja yang tidak percaya, bisa dituduh tak punya hati dan pastinya
kena cap PKI.
Baca juga: Silet adalah Gillette
<https://tirto.id/silet-adalah-gillette-cDuH>
Jenazah-jenazah itu terlebih dahulu dibawa ke Rumah Sakit Pusat Angkatan
Darat Gatot Subroto. Di situ, sebuah tim telah ditunjuk untuk melakukan
pemeriksaan dan autopsi. Anggota tim tersebut adalah Brigadir Jenderal
dr. Roebiono Kertopati, Kolonel Frans Pattiasina, Prof. dr. Soetomo
Tjokronegoro, dr. Liaw Yan Siang, dan dr. Lim Joe Thay. Dua dokter yang
keturunan Tionghoa itu adalah lektor pada ilmu kedokteran kehakiman di
Universitas Indonesia.
"Saya tahu bahwa di surat-surat kabar itu jenderal-jenderal itu disiksa,
dianiaya segala. Disiksa apa itu. Dari sebab itu saya mau cari apa benar
ada bukti-bukti itu atau nggak. Antara lain matanya dicukil segala. Nah
waktu itu saya lihat kok nggak ada yang dicukil matanya?” aku dr. Liaw
kepada Alfred Ticoalu dalam wawancara untuk/Indoprogress/
<https://indoprogress.com/2015/09/dr-liauw-yan-siang-tak-ada-penyiksaan-terhadap-6-jenderal-bagian-1/>.
Ketika Alfred bertanya, “Katanya mereka dapat siksaan. Ada yang matanya
dicongkel keluar, digunakan pisau atau silet dipotong-potong badannya.
Diberet-beret. Bahkan ada yang mengatakan sampai kemaluannya dipotong.
Sesuai laporan yang saya baca ini nampaknya tidak ada hal-hal
demikian?”, maka dr. Liaw bilang dengan tegas: “Nggak Ada.”
Alfred tak puas dan bertanya lagi, “Secara detil, bagaimana dengan hal
pemotongan kemaluan?” dr. Liaw menegaskan kembali: “Nggak ada. Semua utuh.”
Sukarno sebenarnya berusaha melawan hoaks soal penyiksaan hingga
pemotongan kelamin itu. Tapi publik hingga puluhan tahun sudah merasa
nyaman dengan narasi soal ada alat kelamin yang dipotong dan lainnya.
Setelah diperiksa, para jenazah itu kemudian disemayamkan di Markas
Besar Angkatan Darat. Lalu diberangkatkan ke Taman Makam Pahlawan
Kalibata pada 5 Oktober 1965.
Baca juga artikel terkait G30S PKI
<https://tirto.id/q/g30s-pki-e85?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
<https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Kisah pengangkatan jenazah yang ditambahi cerita fantastis soal
penyiksaan menciptakan kebencian kepada PKI.