“Agama yang paling dicintai allah adalah agama yang lurus dan toleran.”
(HR Bukhari)
https://nasional.tempo.co/read/1136132/gus-miftah-yang-meneror-acara-sedekah-laut-gagal-paham
Gus Miftah: Yang Meneror Acara Sedekah Laut
Gagal Paham
Reporter:
Muh. Syaifullah (Kontributor)
Editor:
Juli Hantoro
Minggu, 14 Oktober 2018 11:16 WIB
Pemilik Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah, saat ditemui di kantor
PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Senin, 17 September 2018. TEMPO/Francisca
Christy Rosana
<https://statik.tempo.co/data/2018/09/17/id_734260/734260_720.jpg>
Pemilik Pondok Pesantren Ora Aji, Gus Miftah, saat ditemui di kantor
PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Senin, 17 September 2018. TEMPO/Francisca
Christy Rosana
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Masyarakat nelayan di Pantai Baru, Pandansimo
Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, resah. Sebab, acara sedekah laut
<https://travel.tempo.co/read/1127316/nelayan-cilacap-siapkan-upacara-sedekah-laut>
diteror dan persiapannya dirusak oleh sekelompok orang, Jumat malam, 12
Oktober 2018.
Gus Miftah, kiai yang menjadi panutan warga di pantai itu, angkat
bicara. Menurut dia, mereka yang merusak tersebut belum paham betul soal
agama dan tradisi yang dilakukan oleh warga.
Baca juga: Cerita Gus Miftah, Pengunjung Kelab Malam Menangis Dengar
Ceramah
<https://nasional.tempo.co/read/1126528/cerita-gus-miftah-pengunjung-kelab-malam-menangis-dengar-ceramah>
“Kebetulan daerah itu wilayah binaan saya, besok saya adakan pengajian
di sana,” kata pemilik nama asli Miftah Maulana Habiburrohman, Sabtu
malam, 13 Oktober 2018.
Pengasuh Pesantren Ora Aji, Tundan, Purwomartani, Kalasan, Sleman, ini
menilai, mereka yang membubarkan acara sedekah laut itu gagal paham.
Padahal, selama tujuan acara tersebut adalah /nguri-uri/ (melestarikan)
tradisi dan budaya itu tidak ada masalah. Acara itu tidak mengandung
syirik. Sebab, mereka sudah diberi dakwah yang benar. Tidak ada
peribadatan di acara itu. Jika berdoa juga berdoa kepada Tuhan.
“Tapi jika sifatnya peribadatan, itu jelas salah," kata dia saat
peringatan milad ke-6 Pesantren Ora Aji.
Sambil tersenyum ia menyinggung mereka yang melakukan tindak anarkis
membubarkan acara tradisi itu ia tidak setuju. Sebab, ajaran Islam itu
/rahmatan //l//il a//lamin/. Kasih sayang diutamakan, bukan justru
menyerang dan berbuat anarkis.
“Islam itu penyayang, kalau bagi saya, mereka butuh kita untuk
memahamkan,” kata Gus Miftah.
Ia menyebutkan bahwa dalam berdakwah tidak bisa dengan kekerasan. Jika
tradisi adat labuhan itu merupakan ritual ibadah, perlu diluruskan
dengan baik, bukan dengan cara yang anarkis.
Baca juga: *Dakwah Gus Miftah di Klub Malam Jadi Polemik, Ini Saran MUI
<https://nasional.tempo.co/read/1126076/dakwah-gus-miftah-di-klub-malam-jadi-polemik-ini-saran-mui>*
“Yang niatnya untuk ritual, kita arahkan bahwa ini adalah /nguri-uri/
budaya, kan tidak masalah. Pendekatan ke mereka tidak boleh dengan cara
anarkis. Saya yakin mereka bisa diajak komunikasi, bisa menerima. Itu
bukan peribadatan, tapi /nguri-uri/ budaya saja," kata pria berambut
panjang ini.
Sementara, polisi telah menangkap sembilan orang yang diduga melakukan
tindakan anarkis di lokasi sedekah laut
<https://travel.tempo.co/read/373447/mitologi-nyai-roro-kidul-dalam-ritual-sedekah-laut>.
Polisi masih menyelidiki kasus ini. Namun belum mau menyebutkan kelompok
mana yang melakukan tindak anarkis itu.
“Ada sembilan orang yang diamankan, polisi masih melakukan
penyelidikan,” kata Kepala Kepolisian Resor Bantul Ajun Komisaris Besar
Sahat Marisi Hasibuan.
------------------------------------------------------------------------
# Sedekah Laut <https://www.tempo.co/tag/sedekah-laut>
# Gus Miftah <https://www.tempo.co/tag/gus-miftah>
# Yogyakarta <https://www.tempo.co/tag/yogyakarta>