http://mediaindonesia.com/read/detail/190991-target-swasembada-terhalang-lahan-yang-terbatas
*Target Swasembada Terhalang Lahan yang
*
*Terbatas*
Penulis: *Andhika Prasetyo* Pada: Senin, 15 Okt 2018, 21:45 WIB Ekonomi
<http://mediaindonesia.com/ekonomi>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/read/detail/190991-target-swasembada-terhalang-lahan-yang-terbatas>
<http://twitter.com/home/?status=Target%20Swasembada%20Terhalang%20Lahan%20yang%20Terbatas%20http://mediaindonesia.com/read/detail/190991-target-swasembada-terhalang-lahan-yang-terbatas%20via%20@mediaindonesia>
Target Swasembada Terhalang Lahan yang Terbatas
<http://disk.mediaindonesia.com/thumbs/1200x-/news/2018/10/db81506de2080506254af53384b37fff.jpg>
/ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/
TARGET swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah sulit untuk
dicapai. Salah satu penyebabnya adalah luas lahan pertanian yang tidak
memadai.
Hal itu dibuktikan dari data Bank Dunia pada 2017 yang menyebutkan hanya
31,5% atau 570.000 kilometer persegi lahan di Indonesia yang digunakan
untuk pertanian.
Kepala Penelitian Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Hizkia
Respatiadi menjelaskan, sebagai perbandingan, Thailand memiliki lahan
pertanian seluas 221.000 kilometer persegi atau 43,3% dari total lahan
di negara tersebut. Kemudian, Australia menggunakan 52,9% lahan atau
sekitar 4 juta kilometer persegi khusus untuk pertanian.
Negara dengan penduduk terbanyak di dunia, Tiongkok, memiliki lahan
pertanian seluas 5 juta kilometer persegi atau 54,8% dari total luas lahan.
Sementara itu, perbandingan rasio penduduk dan lahan di Indonesia adalah
setiap satu orang memiliki 0,22 hektare (ha) lahan. Lebih kecil
dibandingkan Thailand yang memiliki perbandingan 1:0,32 ha dan Tiongkok
1:0,35 ha.
Bahkan, di Negeri Kangguru perbandingan penduduk dan lahan mencapai
1:16,67 ha.
“Tantangan yang dimiliki Indonesia untuk mengejar swasembada pangan
bukan hanya semakin berkurangnya luas lahan, jumlah pekerja di sektor
pertanian juga terus menurun. Hingga saat ini sebanyak 45% pekerja
bekerja di jasa. Sementara itu pekerja di sektor pertanian hanya 33%,”
jelas Hizkia melalui keterangan resmi, Senin (15/10). (A-2)