https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-in
<https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini>
SURAT PEMBACA <https://suara-islam.com/category/kolom/surat-pembaca> Gempa
Bumi Bertubi, Ada Apa Ini?

15 Oktober 2018

2 minutes read

Facebook
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini>
Twitter
<https://twitter.com/intent/tweet?text=Gempa+Bumi+Bertubi%2C+Ada+Apa+Ini%3F&url=https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini&via=SuaraIslamOn>
Google+
<https://plusone.google.com/_/+1/confirm?hl=en&url=https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini&name=Gempa+Bumi+Bertubi%2C+Ada+Apa+Ini%3F>
Bagi via Email
<?subject=Gempa+Bumi+Bertubi%2C+Ada+Apa+Ini%3F&body=https://suara-islam..com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini>
Cetak <https://suara-islam.com/gempa-bumi-bertubi-ada-apa-ini#>

Korban Gempa Palu.

Gempa bertubi-tubi mengguncang bumi pertiwi. Setelah Lombok diguncang gempa
bumi 6,9 SR diikuti ribuan gempa susulan lain di wilayah itu dan
sekitarnya, Palu Sulawesi Tengah tidak luput dari guncangan gempa.

Tidak tanggung-tanggung, gempa bumi berkekuatan 7,4 SR mengguncang bahkan
menjungkirbalikkan kota-kota dan desa-desa di Palu. Rumah terbenam tanah,
jalanan terbelah, nyawa-nyawa manusia melayang, beberapa bahkan masih
berstatus hilang hingga hari ini. Mereka yang selamat menggambarkan
kejadian tersebut sebagai kiamat. Mengerikan dan menakutkan!

Tidak berhenti di Palu, gempa juga mengguncang bumi Situbondo Jawa Timur
dan sekitarnya. Gempa 6,0 SR ini dikabarkan mengguncang hingga 3 pulau:
Madura, Bali dan Jawa (bagian timur). Gempa tersebut pun diikuti 11 gempa
susulan. (liputan6.com/11/10/2018) Malang pun tidak luput dari pemberitaan
gempa, diguncang gempa berskala 3,5 SR. Lebih ringan, namun tidak urung
menambah kekhawatiran khalayak ramai akan kemungkinan gempa lain di wilayah
negeri ini yang lain.

Memang, negeri subur Indonesia dikarunia kontur tektonik yang unik serta
gugusan gunung berapi aktif. Wajar bila di negeri ini rawan terjadi gempa,
baik gempa tektonik maupun vulkanik. Banyak yang menyebut, tidak usah
membesar-besarkan masalah ini. secara ilmiah, bencana ini hanya proses
alamiah. Namun demikian, guncangan bertubi-tubi ini pantasnya membuat kita
meraba diri. Apa yang salah sehingga tanah kita terus dilanda bencana?

Allah SWT menegaskan di dalam Al-Qur’an Al-Karim, “Setiap musibah yang
menimpa kalian disebabkan perbuatan tangan kalian sendiri …”. (TQS.
Asy-Syura: 30). Begitu pula dalam surat Ar-Rum, “Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia agar kalian mau
kembali”. (TQS. Ar-Rum: 41).

Kedua ayat tersebut menunjukkan kepada kita bahwa musibah yang terjadi pada
manusia adalah akibat kesalahan manusia sendiri. Selain mengimani bahwa
kejadian gempa bumi ini merupakan ujian dari Allah yang harus dihadapi
dengan sabar, sebagai kaum mukminin kita juga wajib mengimani bahwa musibah
gempa bumi ini adalah peringatan dari Allah. Peringatan bahwa manusia
negeri ini telah berbuat kerusakan. Kerusakan apa yang lebih besar
dilakukan manusia yang membuatnya wajar mendapat tanda peringatan bila
bukan pelanggaran?

Maksiat, itulah pelanggaran yang manusia lakukan kepada pemilik alam
semesta, bumi dan seisinya, Allah Al-Khalik Al-Malik. Banyak manusia yang
tidak melaksanakan sholat. Banyak manusia yang tidak melaksanakan zakat.
Banyak manusia yang tidak berpuasa saat Ramadan. Banyak pula yang berzina.
Terlebih lagi riba, malah penjadi penyokong ekonomi modern yang diadopsi
negara kita. Perilaku liwath (gay dan lesbian) bertebaran di berbagai sudut
Indonesia. Koruptor, pencuri, begal, tidak pernah jera dengan hukuman yang
ada, terus tumbuh tidak pernah musnah. Islam disudutkan dengan Islamofobia,
pemeluknya yang taat dituduh teroris radikalis, ulamanya banyak
dipersekusi. Betapa hebat tingkat maksiat negeri ini?

Sungguh, semua maksiat itu adalah awal mula bencana yang seharusnya segera
kita benahi bersama dengan taubat. Bukankah Umar Bin Khattab RA. pernah
berseru kepada penduduk Madinah saat terjadi gempa bumi kecil pada saat
itu, “Wahai manusia! Apa ini? Alangkah cepatnya apa yang kalian kerjakan
(dari maksiat kepada Allah)? Andai kata gempa ini kembali terjadi, aku tak
akan bersama kalian lagi!”

Akan halnya kemaksiatan hari ini, sumber utamanya adalah masyarakat muslim
saat ini tidak mau berhukum kepada Islam secara keseluruhan. Andaipun mau,
prinsip negara demokrasi sekular menihilkan kemungkinan diterapkannya Islam
secara utuh. Islam hanya diletakkan di masjid-masjid dan dihidupkan saat
Ramadan. Keimanan hanya ditunjukkan dengan ibadah mahdhoh, ibadah ghoiru
mahdhoh seperti ekonomi Islam, politik Islam, pendidikan Islam yang semua
ada aturannya dalam Islam, dianggap tidak kekinian dan terbelakang.
Ketahuilah! Kemaksiatan terbesar kita adalah ketidakpedulian kita saat
hukum Allah dianggap remeh dan tidak dilaksanakan. Maka azab itu pantas
kita rasakan selama sikap durhaka kepada Allah ini terus dipertontonkan
oleh muslim negeri ini.

Saudaraku, marilah kita memenuhi seruan dari Rabb Semesta Alam, yang
menjalankan gunung dan membelah bumi dengan hanya kun fayakun! Marilah kita
bertaubat secara massal, saya, Anda dan semua muslim negeri ini. Bertaubat
dengan mengembalikan iman akan kebenaran semua ayat-Nya, kehebatan semua
aturan-Nya dan kesalahan kita selama ini yang meninggalkan hukum-hukum-Nya.
Marilah kita bertaubat dengan menjadikan Islam yang sempurna sebagai
pengatur negeri ini. Kita jadikan Islam pengatur diri, keluarga, masyarakat
dan negara. Kita jadikan semua tunduk patuh pada kebenaran firman-Nya.

Semoga dengan taubat massal kita, Allah memaafkan kesalahan-kesalahan kita
akibat maksiat yang merajalela hari ini dan memasukkan kita sebagai
penduduk negeri yang diridhai-Nya. Negeri yang aman, sentausa, mendapat
ampunan dan perlingdungan-Nya. Semoga saat itu, gempa bumi bertubi hanya
tertinggal sebagai pelajaran sejarah masa lalu yang tidak boleh diulang
lagi. Dan negeri kita, aman dalam ketaatan penuh kepada-Nya.

*Indah Shofiatin*
*(Alumnus FKM Unair, Penulis Lepas)*

Kirim email ke