*Kata seoang pakar ilmu Gaib fulus. : "Sore lemah pagi hari kuat keras"* ..

http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/rupiah_ditutup_melemah_sore_ini


Rupiah Ditutup Melemah Sore Ini

Kamis , 18 Oktober 2018 | 17:40

[image: Rupiah Ditutup Melemah Sore Ini]

Sumber Foto Dok/Ist
Rupiah

POPULER

Dolar AS Menggila, Rupiah Melemah
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/ekonomi/read/4212/%22>Chris
Kanter Dirut Baru Indosat
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/ekonomi/read/4202/%22> Rupiah
Ditutup Menguat di Posisi Rp15.150 per Dolar AS
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/ekonomi/read/4203/%22> Naik
8%, Ini Perkiraan UMP 2019 di 34 Provinsi
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/ekonomi/read/4204/%22> Rupiah
Pagi Ini Dibuka Rp15.180 per Dolas AS
<http://www.sinarharapan.co/ekonomi/read/4221/ekonomi/read/4194/%22>

JAKARTA - Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp15.194 per dolar Amerika
Serikat (AS) pada perdagangan di pasar spot Kamis (18/10/2018) sore ini,
melemah 44 poin atau 0,29 persen dari posisi kemarin Rp15.150.

Sementara kurs referensi Bank Indonesia (BI), Jakarta Interbank Spot Dollar
Rate (Jisdor) menempatkan rupiah di posisi Rp15.187 per dolar AS atau
melemah 9 poin dari level kemarin Rp15.178 per dolar AS.

Tidak hanya rupiah, sebagian besar mata uang Asia lain juga melesu. Won
Korea Selatan mengalami pelemahan terdalam sebesar 0,73 persen, dolar
Taiwan melesu 0,32 persen, dan baht Thailand melemah 0,19 persen.

Selanjutnya, rupee India melemah 0,18 persen, yuan China melemah 0,14
persen, ringgit Malaysia melemah 0,14 persen, dan peso Filipina melemah
0,05 persen. Hanya yen Jepang dan dolar Singapura yang menguat
masing-masing 0,08 persen, dan 0,07 persen.

Pada saat bersamaan, para gubernur bank sentral Amerika Serikat (AS)
Federal Reserve tidak melihat alasan untuk menghentikan kebijakan kenaikan
suku bunga acuan secara bertahap saat ini, di tengah ekspansi ekonomi AS
yang pesat.

Hal itu terungkap dalam rangkuman pertemuan Gubernur The Fed yang dirilis
pada Rabu (17/10/2018), waktu AS, seperti dikutip Kantor Berita *AFP*.

Berdasarkan rangkuman pertemuan terakhir the Fed tiga pekan lalu, kenaikan
suku bunga lebih lanjut berpotensi konsisten dengan periode saat ini,
memperkuat inflasi dan mencatatkan tingkat pengangguran yang rendah.

Namun, beberapa anggota the Fed memperingatkan ketidakstabilan di pasar
negara berkembang. Sebagian besar negara memiliki utang yang besar dan
rentan ketika suku bunga AS naik. Hal itu dapat menular lebih luas melalui
ekonomi global dan pasar keuangan.

Kenaikan suku bunga acuan The Fed yang dilakukan terus menerus telah
membuat Presiden Donald Trump geram. Sampai-sampai Trump menyebut pembuat
kebijakan bank sebagai pihak yang 'gila', dan menjadi ancaman terbesarnya.

Kirim email ke