Tanpa Restu dari China, Inalum Belum Bisa Kuasai Freeport
kumparanBISNISRabu 03 Oktober 2018 – 11:00
Meski telahmenandatangani Sales Purchase Agreement (SPA) dengan Freeport 
McMoRanInc (FCX) dan PT Rio Tinto Indonesia pada Kamis (27/9) lalu, PT 
IndonesiaAsahan Aluminium (Persero) atau Inalum masih harus menyelesaikan 
urusanadministrasi dan pembayaran untuk menguasai 51 persen saham PT 
FreeportIndonesia (PTFI).
Pemerintahmenargetkan urusan administrasi dan pembayaran USD 3,85 miliar ke FCX 
dan RioTinto dapat dirampungkan semuanya pada November 2018. Namun, meski 
tinggalurusan administrasi izin dan pembayaran saja, prosesnya tak semudah 
yangdibayangkan.
DirekturUtama Inalum, Budi Gunadi Sadikin, mengungkapkan bahwa ternyata aksi 
korporasiInalum mengakuisisi 51 persen saham PTFI ini harus mendapat izin dari 
BadanAntitrust (anti monopoli) China. Tanpa izin dari Antitrust China, Inalum 
takbisa melakukan transaksi pembayaran dengan FCX dan Rio Tinto.
"Kalauizin dari China itu belum keluar, Freeport enggak berani closing,"kata 
Budi dalam wawancara khusus dngan kumparan,Jumat (28/9).
Masalahnyalagi, tak bisa dipastikan berapa lama izin dari Antitrust China ini 
akankeluar. 

"Orang bilang antara 1-3 bulan. Susah ditebak karena hubungannyasekarang lagi 
tegang juga sama Amerika Serikat (AS)," Budi menuturkan.
Chinasebagai konsumen tembaga terbesar di dunia sangat berkepentingan untuk 
menjagapersaingan usaha di antara produsen tembaga. Karena itu, Negeri Tirai 
Bambumewajibkan semua produsen tembaga untuk meminta izin ketika melakukan 
aksikorporasi seperti merger, akuisisi, dan perubahan kepemilikan.
"Itupintarnya dia. Seluruh dunia diatur, hebat. Orang enggak berani karena 
pasarnyadia besar," ucapnya.
MenurutBudi, harusnya akuisisi PTFI ini tak mendapat hambatan dari China karena 
justruakan menambah produsen tembaga, bukan mengurangi. Karena itu, Budi 
optimistisInalum tak akan mendapat hambatan dari Antitrust China.
"Dulukan ini (PTFI) punya Freeport 100 persen terus sekarang jadi punya 
Indonesia,harusnya buat China justru menambah seller, bukan mengurangi. 
Freeport mungkinpunya tambang tembaga di Afrika, Amerika Selatan, sekarang yang 
dari Papua jadimilik kita (Inalum). Kita minta harusnya tahun ini selesai," 
tutupnya.
EditorialTeam

Kirim email ke