Dari monyet cantik yang santai di Cina hingga monyet badut yang getir di 
Indonesia
   
   - 18 Oktober 2018

Hak atas fotoMARSEL VAN OOSTEN / WPY
Dua ekor monyet berhidung pesek tampak duduk santai di atas batu dan menatap 
tajam ke kejauhan. Apa gerangan yang mereka lihat, dan apa yang mereka pikirkan?

Ternyata mereka sedang menonton sesama monyet hidung pesek yang sedang 
bermain-main dengan bergumul habis-habisan satu sama lain.

Sikap tenang yang begitu jelas di hadapan keributan pergumulan yang hiruk ini 
terpilih sebagai juara umum lomba Fotografer Satwa Terbaik 2018, atau 2018 
Wildlife Photographer of the Year yang diumumkan di Natural History Museum, 
London.

Gambar itu karya fotografer Belanda Marsel van Oosten, yang diambilnya di 
Pegunungan Qinling Cina.
   
   - Dari tokek macan tutul hingga dedaunan berpola rumit: foto para pemenang
   - Tatkala warna warni musim gugur menyapu seantero Inggris Raya
   - Galeri Foto: 10 peristiwa alam bebas menakjubkan

Sang fotografer harus mengintil kawanan monyet ini berhari-hari untuk memahami 
dinamika hewan dan memprediksi perilaku mereka. Ia ingin memperlihatkan 
bulu-bulu indah di punggung monyet berhidung pesek itu dan wajah khas mereka 
yang berwana biru, dalam satu bidikan.

Marsel mengatakan kepada BBC News bahwa dia 'kaget dan merasa terhormat' 
dipilih sebagai penerima penghargaan tersebut.

"Saya senang dengan gambar yang ini karena monyet itu adalah spesies yang 
terancam punah dan satu dari beberapa jenis yang sangat sedikit orang tahu. Dan 
penting kita menyadari bahwa ada banyak spesies di planet ini yang berada di 
bawah ancaman kepunahan."

"Monyet-monyet ini biasanya makan di pepohonan, tapi entah bagaimana Marsel 
berhasil mendapati mereka di bawah, dan dia dengan seksama menggunakan lampu 
kilat yang sangat lembut untuk menerangi bulu mereka yang menakjubkan itu," 
kata Roz Kidman Cox, ketua dewan juri.

Macan tutul yang berleha-leha karya Skye Meaker

Pemenang kategori junior tahun ini adalah Skye Meaker dari Afrika Selatan untuk 
fotonya yang menunjukkan seekor macan tutul sedang berleha-leha di Suaka 
Margasatwa Mashatu di Botswana.

Hewan ini dikenal dengan nama Mathoja, yang dalam bahasa Bantu berarti "yang 
berjalan dengan pincang". Macan tutul ini memang patah kakinya saat masih muda.
Hak atas fotoSKYE MEAKER / WPY
Ia harus berjuang lebih keras karena tidak seperti kucing besar lainnya, ia 
tidak dapat menarik mangsa yang sudah dibunuhnya ke pepohonan untuk 
menyantapnya, kata Skye. Itu berarti dia harus menyantapnya di tanah, yang 
berarti ia selalu dalam bahaya maut oleh terkaman hyena.

"Kami menunggu beberapa jam untuk mendapat bidikan ini. Saya mau gambar Mathoja 
dengan mata terbuka, dan itu hanya terjadi beberapa menit saja. Mathoja 
memandang lurus ke arah kami."

Skye yang berusia 16 tahun ini memenangkan juga peghargaan kategori 15-17 Tahun.

Berikut adalah beberapa pemenang lain

Pipa burung hantu karya Arshdeep Singh
Hak atas fotoARSHDEEP SINGH / WPY
Kategori umur 10 tahun - Foto ini dibidik anak muda lainnya, Arshdeep Singh. 
Dia memenangkan kategori di bawah 10 tahun untuk foto yang diambil di luar 
Kapurthala, sebuah kota di negara bagian Punjab India. "Saya melihat 
burung-burung hantu yang terbang di dalam tabung pipa, dan saya mengabarkannya 
kepada ayah saya. Dia bilang tidak mungkin, tetapi dia menghentikan mobil. Kami 
harus menunggu 20 atau 30 menit sampai mereka keluar lagi, dan kemudian saya 
membidiknya. "

Ranjang para anjing laut karya Cristobal Serrano
Hak atas fotoCRISTOBAL SERRANO / WPY
Kategori Hewan di Habitat Mereka - Cristobal Serrano dari Spanyol mengambil 
gambar anjing-anjing laut pemakan kepiting ini saat berbaring-baring di 
sebidang bongkahan es di Semenanjung Kutub Selatan. Bongkahan es laut ini 
habitat yang menyediakan penampungan dan makanan (ganggang) untuk krill, 
krustasea kecil. Dan itulah sumber makanan utama anjing laut.

Pengumpul butiran lumpur karya Georgina Steytler
Hak atas fotoGEORGINA STEYTLER / WPY
Perilaku: Kategori Invertebrata- Georgina Steytler mengambil gambar tawon ini 
di Walyormouring Nature Reserve di Western Australia dengan menempatkan diri 
dalam posisi sejajar. Di tengah lumpur. "Saya harus berjongkok dengan memasang 
lensa panjang, mengambil bidikan demi bidikan. Saya ingin mendapatkan gambar 
seekor tawon yang mengangkut sebutir bola lumpur, tetapi saya malah mendapatkan 
dua ekor. Luar biasa."

Tawon jenis ini menggunakan butiran bola-bola lumpur untuk membangun 
bilik-bilik sarang mereka, tempat mereka meletakkan telur-telur di atas tubuh 
laba-laba yang sudah dilumpuhkan.

Penerbangan Malam karya Michael Patrick O'Neill
Hak atas fotoMICHAEL PATRICK O'NEILL / WPY
Kategoribawah laut- Ikan terbang ini tertangkap lensa fotografer Amerika 
Michael Patrick O'Neill. Pemotretan dilakukan saat ia melakukan penyelaman 
malam hari di lepas pantai Palm Beach, Florida. Ikan-ikan ini tergolong pemalu 
di siang hari namun pada malam hari lebih gampang dihampiri. Michael mencoba 
berbagai kamera dan setelan cahaya untuk memperoleh gambar ini.

Badut yang getir karya Joan de la Malla
Hak atas fotoJOAN DE LA MALLA / WPY
Kategori Fotografi Alam Bebas - Pemandangan monyet yang dirantai lehernya dan 
dieksploitasi sebagai badut merupakan pemandangan yang agak biasa di jalanan 
Pulau Jawa. Namun ini gambar yang mengguncangkan bagi sebagian dunia lain. 
Gambar ini diambil Joan de la Malla, di tepi rel di sebuah kota di Indonesia. 
Kera malang itu dipaksa mengenakan topeng badut . "Tampak menyiksa bagi monyet 
itu karenanya dia berusaha melepaskan kedok itu dengan tangannya," kata Joan. 
Fotografer Spanyol itu bekerja sama dengan lembaga-lembaga perlindungan hak 
hewan untuk memperjuangkan dilarangnya pertunjukkan jalanan seperti ini. Di 
Jakarta, Topeng Monyet sempat dilarang, kendati tak banyak diikuti di kota-kota 
lain. Monyet yang ini agak beruntung: sesudah beberapa pekan, Timbul, demikian 
namanya, dikembalikan ke alam bebas. Setidaknya untuk sementara waktu.


Induk petarung tangguh karya Javier Aznar González de Rueda
Hak atas fotoJAVIER AZNAR GONZÁLEZ DE RUEDA / WPY
Kategori Portofolio Fotografer Satwa Liar - Javier Aznar González de Rueda, 
fotografer Spanyol lainnya, mengajukan serangkaian gambar, dan yang satu ini 
menampilkan belalang pohon Alchisme. Gambar diambil di suaka margasatwa El 
Jardín de los Sueños di Ekuador, menunjukkan seekor induk belalang yang menjaga 
para nimfa -anak-anaknya. Seekor belalang akan meletakkan telurnya di bagian 
bawah daun dan kemudian menutupinya dengan selaput tipis. Setelah telur 
menetas, mereka berkembang melalui lima tahap, yang berbeda dalam ukuran, warna 
dan ornamen.

 

Sekuat Tenaga, karya David Herasimtschuk
Hak atas fotoDAVID HERASIMTSCHUK / WPY
Perilaku, kategori Amfibi dan Reptil - Seekor salamander menahan seekor ular 
laut dengan rahangnya sekuat tenaga dalam foto yang diambil di Sungai Tellico, 
Tennessee, AS. Fotografer David Herasimtschuk mengatakan, sang ular berhasil 
juga meloloskan diri setelah bergulat habis-habisan dengan salamander air 
terbesar di Amerika Utara itu.

Hembusan Angin karya Orlando Fernandez Miranda
Hak atas fotoORLANDO FERNANDEZ MIRANDA / WPY
Kategori Lingkungan Bumi - Bagian atas bukit pasir yang tinggi di gurun 
Skeleton Coast, di mana gundukan pasir yang dipahat angin berpadu dengan 
hempasan gelombang Atlantik. Lihatlah lebih dekat untuk melihat kabut yang 
sering terbentuk di wilayah Afrika ini. Tatkala kabut melayang ke daratan, 
terjadilah kelembaban yang mendukung kehidupan bagi tumbuhan dan serangga.

WPY adalah salah satu kompetisi di dunia fotografi paling bergengsi untuk 
jenisnya. Mulai berlangsung pada tahun 1964, kompetisi ini sekarang 
diselenggarakan oleh Natural History Museum, London.




Kirim email ke