Menggali Kehidupan Tionghoa di Kota Padang
Penulis: Retno Hemawati - 20 October 2018, 03:20 WIB
http://m.mediaindonesia.com/read/detail/192090-menggali-kehidupan-tionghoa-di-kota-padang
ADA kisah sejarah dengan sebagian besar cerita yang sangat personal
dikisahkan dalam buku berjudul Orang Padang Tionghoa, Dima Bumi Dipijak,
Disinan Langik Dijunjuang. Buku ini sebenarnya merupakan materi laporan
penelitian Program Pascasarjana Doktor Fakultas Komunikasi, Universitas
Padjajaran, Bandung, tetapi bisa dirangkai dengan sangat apik oleh
penulisnya Riniwaty Makmur yang memiliki nama Tionghoa Mak Yie Nie.
Penulis memceritakan bagaimana masyarakat Tionghoa di Padang mempunyai
kekhasan dalam konstruksi kehidupan sosial mereka jika dibandingkan
dengan di tempat lain dalam 22 judul yang terbagi dalam lima tema besar.
Di buku ini dikisahkan bagaimana masyarakat Tionghoa bisa serta-merta
diterima dengan baik. Berbagai permasalahan yang berakar dari sejarah
dan prasangka yang diteruskan dari orang ke orang ditengarai menjadi
penyebab situasi ini. Orang-orang ini selalu bertindak dengan tujuan
untuk mencapai sesuatu.
Mereka juga memiliki kekurangan dan kelebihan, tapi yang jelas apa pun
yang dilakukan ialah sebagai upaya terbesar untuk bertahan hidup.
Indonesia telah menjadi tanah air bagi mereka.
Dengan tinggalnya mereka selama beratus tahun di Kota Padang yang
merupakan kota terbesar di pantai barat Pulau Sumatra sekaligus ibu kota
dari Provinsi Sumatra Barat, mereka telah beradaptasi dan membentuk
sistem kehidupan dan lingkungan yang unik. Ada dua kongsi yang menjadi
pilar masyarakat Tionghoa-- kongsi gedang dan kongsi kecik, kelenteng
sebagai pengikat moral dan penjaga peradaban, serta interaksi yang erat
dengan masyarakat Minang berdasarkan kesamaan bahasa. Sebagai hasil dari
proses adaptasi itu, kebudayaan mereka kini tampil dengan ciri campuran
Tionghoa dan Minang atau mengalami hibriditas kebudayaan.
Kongsi kecik
Di Kota Padang, terdapat delapan perkumpulan etnik Tionghoa. Perkumpulan
ini tentu saja berdasarkan kesamaan warga yang eksis sepanjang 1800-an
hingga 2000-an. Perkumpulan marga itu kemudian terbiasa disebut dengan
kongsi kecik (kecil) yang menjadi lawan dari kongsi gedang (kongsi
besar). Kongsi gedang mencakup kongsi Himpunan Bersatu Teguh (HBT) dan
Himpunan Tjinta Teman (HTT).
Ada yang menjadi pembeda antara kongsi kecik dan kongsi gedang cukup
unik. Kongsi gedang kebih fokus pada kegiatan pemakaman.
Namun, sejatinya perkumpulan marga, jika di Jawa biasanya disebut dengan
perkumpulan trah, mempunyai konsep dalam pendiriannya, yakni untuk
menjaga kekerabatan dan sosialisasi.
Situasi Kota Padang sebagai kota kecil dengan komunitas Tionghoa yang
jumlahnya sangat sedikit menyebabkan sosialisasi menjadi kebutuhan dan
hiburan. Riniwaty Makmur memadankan bagian ini dengan peribahasa yang
apik; dekat mencari induk, jauh mencari suku. Di rantau yang jauh, orang
sesuku pun bagai saudara.
Ada juga yang menarik tentang merawat ingatan melalui ragam kuliner. Mak
Codet, seorang penjual satai. Penulis menceritakan tentang Mak Codet
yang mangkal di Simpang Kinol. Kinol merupakan nama apotek yang dulu
berlokasi di gedung bergaya art deco yang terletak di ujung pertemuan
Jalan Imam Bonjol, Jalan Pondok, dan Jalan Niaga. Apotek Kinol telah
bertransformasi menjadi bistro & pool meskipun namanya masih dipertahankan.
Jadi, kisah satai ini, rupanya penulis merupakan pelanggan
bertahun-tahun lamanya. Dia takjub saat menemukan gerobak bertuliskan
Mak Codet. Memang diceritakan Mak Codet, tukang satai ayam, berambut
klimis itu menjajakan satai dengan cara berkeliling, setelah selesai
mangkal di Simpang Kinol.
Di sini, kini, satai itu sudah 'beranak' menjadi dua gerobak. Satu
dikomandani anak perempuan Mak Codet, dan satu lagi oleh cucu laki-laki
yang meneruskan usaha almarhun sang ayah.
Melalui kepentingan lidah ini, Riniwaty juga menuturkan dengan apik,
bagaimana etnik-etnik yang berlainan mengadu nasib, menjajakan makanan,
sekaligus berkerja sama. Dia bercerita, duduknya di warung Om Yan yang
punya Kopi Saudara. Dari situ, Anda bisa memesan satai, ayam bumbu
kacang, martabak mesir, es kopi, atau apa pun dengan cara berteriak. Mau
bayar, setor kepada Om Yan. Dia yang akan mendistribusikan. Inilah
simbiosis mutualime antara pedagang etnik Tionghoa yang diwakili Om Yan
dan pedagang etnik Minang. Simbiosis ini telah berlangsung puluhan
tahun. Harmonis, saling mendukung.
Dalam bagian itu disertakan foto hidangan satai ayam dan cendol tebak.
Rasanya seperti menggugah selera. Es tebak itu mirip cendol yang dibuat
dari tepung beras yang dibentuk seperti mi setelah dimasak menyerupai
cendol. Disajikan mirip dengan es campur dengan campuran yang beragam.
Meninggalkan Padang
Ada sepenggal kesedihan dalam epilog yang dituturkan Riniwaty. Di sini,
dia bercerita bagaimana bencana alam, gempa yang melanda Padang pada
2009 mengubah kehidupan keluarganya, terutama sang ibu. Dia menuliskan
demikian, -Gempa itu mmebawa kegelapan pada keluarga kami dan bagi
keluarga di Padang. Rumah kami di Pasar Tanah Kongsi miring dan runtuh
di bagian belakang, tetapi yang paling menyakitkan, kami kehilangan
belahan jiwa. Dunia rasanya mendadak kelam. Kami terpuruk dalam duka
yang tak bertepi, dalam keterkejutan luar biasa.
Penulis menceritakan betapa perpisahan ibunya dengan Kota Padang sungguh
mengiris hati. Tidak ada tempat yang bisa menggantikan tempat itu. Semua
kenangan ada di situ, demikian juga dengan aneka makanan kesukaan. Bagi
perempuan yang disebutnya dengan mama itu, di luar Kota Padang apa pun
makanan yang dimakan selalu tidak seenak di Padang walaupun tempat itu
merupakan rekomendasi pakar kuliner ibu kota. Riniwaty menuliskan epilog
ini dengan judul yang sangat mewakili perasaan sekaligus memotret
peristiwa itu melalui kata-kata: Tangis di Tepi Awan.
Judul Buku: Orang Padang Tionghoa, Dima Bumi Dipijak, Disinan Langik
Dijunjuang
Penulis: Riniwaty Makmur
Penerbit: Kompas
Jumlah halaman: 346 halaman
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com