Empat Jenis Angin Setelah Subuh
Oleh: Dahlan Iskan
SENIN, 29 OCT 2018 10:10 | EDITOR : ABDUL BASRI
https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/29/100743/empat-jenis-angin-setelah-subuh
Empat Jenis Angin Setelah Subuh
<https://imageradar.jawapos.com/uploads/radarmadura/news/2018/10/29/empat-jenis-angin-setelah-subuh_m_100743.jpeg>
Berita Terkait
* Janji ke Baekdu Harapan ke Halla
<https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100179/janji-ke-baekdu-harapan-ke-halla>
* Kashoggi Sampai Di Twitter Qahtani
<https://radarmadura.jawapos.com/read/2018/10/25/100145/kashoggi-sampai-di-twitter-qahtani>
Saya lari mengambil HP. Yang lagi saya charge di dekat pintu masuk. Ada
pemandangan unik. Di masjid Tokyo, ini. Yang harus saya abadikan di
kamera: foto dan video.
Minggu subuh kemarin itu saya dapat tempat di deretan tengah. Baris
depan sudah penuh. Oleh jamaah subuh yang datang lebih dulu.
Begitu salat selesai saya diminta ke depan. Untuk memberikan santapan
rohani. Kuliah subuh. Tapi saya diminta menunggu dulu. Akan ada santapan
jasmani dulu.
Jamaah diminta menghadap ke kanan. Berarti: orang yang tadi duduk di
samping menjadi duduk di depan masing-masing.
Lalu datanglah komando ini: agar semua memijat pundak teman di depannya.
Dengan gerakan hujan rintik-rintik. Artinya memijit-mijit dengan gerakan
ringan.
Saya tidak menyangka akan melihat itu. Di dalam masjid. Saat wiridan
baru selesai. Saat jamaah masih duduk rapi. Berderet dan bersila.
Saya pun lari mengambil HP. Lucu sekali gerakan mereka.
Tak lama kemudian datang komando baru: gerakan hujan batu!
Maka tangan mereka pun dalam posisi tergenggam. Dipukul-pukulkan ke
punggung teman di depannya. Ada yang memukulkannya dengan keras. Ada
yang keras sekali.
Lalu ada komando yang lain lagi: hujan badai! Genggaman dibuka. Lima
jari diluruskan. Dikaratekan ke punggung teman di depannya. Ada yang
pukulan karatenya cepat. Ada yang cepat sekali.
Komando pun berubah lagi: angin sepoi-sepoi! Maka gerakan pijatnya
menjadi pijat pelan. Selesai.
Eh, belum.
Jamaah diminta berbalik. Yang tadi memijat ganti dipijat. Dengan empat
jenis hujan yang sama.
Inilah pijat masal. Di dalam masjid. Bakda subuh. Khas masjid di Tokyo,
Jepang. Di kompleks sekolah Indonesia. Milik kedutaan besar kita.
Subuh hari itu diimami oleh Ustad Fatah. Guru sekolah itu. Asal Sunda.
Yang berjamaah sekitar 60 orang. Penuh sekali. Sebagian wanita. Sebagian
sudah di situ sejak lewat tengah malam: qiyamul lail.
Sebagian lagi belum tidur sama sekali: masak. Di dapur dekat masjid itu.
Untuk sajian makan pagi. Bagi seluruh jamaah. Gratis.
Saya hanya bicara kurang dari lima menit. Jamaah di situ orang-orang
pintar. Mahasiswa S2 atau S3. Bahkan beberapa sudah bergelar doktor. Di
bidang ilmu yang berat-berat: ilmu komputer, ilmu material, konversi
energi, kimia, fisika ...
Saya lebih ingin mendengarkan mereka. Tentang ilmu-ilmu mereka. Dan apa
yang bisa dilakukan di kemudian hari.
Salah satu jamaah bertanya: bagaimana kelak bisa pulang. Untuk mengabdi
ke tanah air.
Ia merasa tidak nasionalis. Kalau tidak pulang.
Saya sampaikan: jangan punya perasaan seperti itu. Indonesia juga perlu
lebih banyak orang sukses di luar negeri. Sebagai kekayaan nasional:
kekayaan networking.
Jangan merasa kalau hidup di luar negeri lantas tidak nasionalis.
Bahkan saya anjurkan: begitu lulus jangan pulang dulu. Bekerjalah dulu
di Jepang. Paling tidak dua tahun. Untuk 'kuliah kehidupan' yang
sebenarnya. Di negeri yang disiplinnya tinggi.
Mengapa?
Agar tertular sistem manajemen Jepang. Yang penularan seperti itu
penting. Tidak bisa didapat di bangku kuliah. S3 sekali pun.
Proses penularan itu berbeda dengan proses pengajaran. Dalam proses
penularan akan terjadi internalisasi pada sikap dan watak. Yang kemudian
membentuk karakter.
Banyak pertanyaan subuh itu. Tapi waktunya terbatas. Saya harus segera
memenuhi acara lain.
Sehari sebelumnya saya menghadiri acara TICA. Tokyo-Tech Indonesia
Commitment Award. Yang diadakan Perhimpunan Pelajar Indonesia di situ:
Tokyo Institute of Technology. MIT atau ITB-nya Jepang.
Acara itu diselenggarakan tiap tahun. Ini tahun kesembilan. Kian tahun
kian menarik perhatian. Tahun ini ada 400 penelitian mahasiswa. Yang
ikut kompetisi.
Tiga finalisnya diundang ke Tokyo. Ke acara ini. Selama empat hari.
Kali ini finalisnya cewek semua! Ampuuuun. Pinter-pinter. Cantik-cantik
pula: dari ITB (Ayu Lia Pratama), dari Brawijaya Malang (Elviliana) dan
dari ITS Surabaya (Nadhira Nurfathiya).
Juaranya yang dari ITB itu. Yang kuliah di jurusan fisika. Dia mengambil
fisika nuklir.
Lia adalah gadis kota kecil: Ponorogo. Ayahnya kerja mandiri: vulkanisir
ban. Lia mengajukan penelitiannya: penggunaan plutonium yang lebih
efisien untuk reaktor nuklir HTGR.
Sedang Elviliana mengajukan penelitiannya di bidang listrik: dari kulit
pisang dan kulit kacang. Yang dimasukkan reaktor. Lalu diberi katoda dan
anoda. Kesimpulannya: yang dari kulit pisang menghasilkan lebih banyak
listrik. Dibanding yang kulit kacang.
Tapi Elviliana belum meneliti keekonomiannya. Misalnya: sama-sama satu
ton kulit pisang, mana yang lebih banyak menghasilkan listrik: dengan
cara dia itu atau dengan cara diambil gas metannya.
Nadhira, ITS, mengajukan penelitiannya di bidang deteksi logam berat.
Menggunakan kulit semangka dan kulit jeruk.
Banyak pertanyaan sulit-sulit. Dari dewan yuri. Salah satunya Dr
Misbakhul Huda. Yang meraih gelar doktor pada umur 27 tahun. Di bidang
nanotechnology.
Dr Misbakhul adalah anggota OPEC: Orang Pecalongan. Rumahnya dekat guru
tasawuf Habib Lutfi. Dr Misbakhul sendiri kini menjadi Ketua Nahdlatul
Ulama cabang Jepang.
Tahun depan tentu lebih banyak lagi peminat TICA. Rasanya PPI di
universitas ini telah menemukan reputasinya.
Saya pun siap memberikan pijatan angin apa pun pada finalisnya. Tahun
depan. (Dahlan Iskan)
*(mr/*/bas/JPR)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com