*Kalau ada politik gendruwo pasti ada politik syariah al Arabia sebagai
lawannya. Apakah warga NKRI yang bukan orang Jawa mengerti apa itu gendruwo
dan bagaimana bentuknya gendruwo untuk bisa dipahami? hehehehehe *


https://pilpres.tempo.co/read/1144861/pidato-lengkap-jokowi-soal-politikus-genderuwo/full&view=ok


Pidato Lengkap Jokowi Soal Politikus Genderuwo

Reporter:
Ahmad Faiz Ibnu Sani

Editor:
Syailendra Persada

Sabtu, 10 November 2018 06:21 WIB

0 komentar
<https://pilpres.tempo.co/read/1144861/pidato-lengkap-jokowi-soal-politikus-genderuwo/full&view=ok#comments>

022

   -

   [image: Presiden Jokowi meminta masyarakat menunjukkkan sertifikat saat
   Penyerahan Sertifikat Tanah Untuk Rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Jakarta,
   Selasa, 23 Oktober 2018. Hujan deras yang turun sekitar 30 menit itu
   membuat Lapangan Achmad Yani tergenang air. ANTARA/Puspa Perwitasari]
   <https://statik.tempo.co/data/2018/10/23/id_744407/744407_720.jpg>
   <https://statik.tempo.co/data/2018/10/23/id_744407/744407_720.jpg>

Presiden Jokowi meminta masyarakat menunjukkkan sertifikat saat Penyerahan
Sertifikat Tanah Untuk Rakyat di Lapangan Ahmad Yani, Jakarta, Selasa, 23
Oktober 2018. Hujan deras yang turun sekitar 30 menit itu membuat Lapangan
Achmad Yani tergenang air. ANTARA/Puspa Perwitasari

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Presiden Joko Widodo atau Jokowi
<https://www.tempo.co/tag/jokowi>kembali melontarkan pernyataan tajam untuk
mengkritik para politikus di Indonesia. Jika sebelumnya dia pernah
mengatakan 'politikus sontoloyo' kini Jokowi mengucapkan 'politik
genderuwo'.

Baca: Soal Politik Genderuwo, Rizal Ramli: Bahasa Jokowi Jadi Aneh
<https://nasional.tempo.co/read/1144808/soal-politik-genderuwo-rizal-ramli-bahasa-jokowi-jadi-aneh>

Hal itu ia ungkapkan saat memberi sambutan dalam acara pembagian sertifikat
tanah untuk masyarakat di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Jokowi berpesan
agar masyarakat tetap menjaga kerukunan meski nanti berbeda pilihan politik
dan waspada dengan pengaruh dari politikus.

Jokowi mengatakan saat ini banyak politikus yang tidak beretika. Politikus
model ini, kata dia, menyebarkan propaganda yang menakutkan kepada
masyarakat. "Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak
beretika. Masak masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan?
itu sering saya sampaikan itu namanya politik gerenduwo, genderuwo,
nakut-nakuti," kata Jokowi, Jumat, 9 November 2018.

Berikut pidato lengkap Jokowi soal politik Genderuwo:

*Tiga ribu sertifikat pagi hari ini sudah diterima oleh bapak atau ibu
sekalian. Tetapi di Kabupaten Tegal tahun ini akan diberikan totalnya 45
ribu sertifikat. Sudah dan akan diberikan. Tahun depan targetnya 60 ribu
sertifikat harus diberikan di Tegal ini. Akan kita rampungkan. Tadi sesuai
dengan yang disampaikan Pak Menteri BPN, tahun 2023 semuanya sudah
disertifikatkan di Kabupaten Tegal ini.*

*Setiap saya datang ke desa, ke kampung, ke kabupaten, ke kota, ke provinsi
baik di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, NTB, NTT, Maluku, Maluku
Utara, Papua apa yang sering saya dengar? sengketa tanah, sengketa lahan,
antara tetangga dengan tetangga, antarsaudara, masyarakat dengan
pemerintah, masyarakat dengan perusahaan, masyarakat dengan BUMN, kenapa?.
Dan rakyat sering kalah karena tidak pegang yang namanya sertifikat.*

*Kita tahu sertifikat adalah tanda bukti hak hukum atas tanah yang kita
miliki. Bapak/Ibu punya tanah tapi gak ada sertifikat, begitu sengketa
masuk ke pengadilan bisa kalah. Tapi kalau sudah yang namanya pegang
sertifikat, tanda bukti hak hukum atas tanah, enak banget. Kalau kita
pegang begini sudah tidak ada yang berani.*

*Misalnya ada yang berani ini tanah saya, bapak/ibu enak buktinya mana? Ini
tanahku, buktiku ini. Enak sudah. Ini buktinya, namanya di sini. Di
sertifikat itu ada nama jelas, nama pemegang hak di sini ada. Desanya di
mana, luasnya, ada semua.*

*Di negara kita Indonesia ini masih ada kurang lebih 80 juta bidang tanah
yang belum bersertifikat. Artinya banyak sekali sengketa. Oleh sebab itu
saya telah perintahkan mulai tahun yang lalu kepada Menteri BPN biasanya
setahun itu 500 ribu keluar sertifikat tahun kemarin saya sudah perintah
harus keluar 5 juta sertifikat. Alhamdulillah akhir tahun selesai 5 juta
sertifikat.*

*Tahun ini target saya 7 juta sertifikat harus keluar dari kantor BPN.
Tahun depan targetnya 9 juta sertifikat harus keluar.*

*Untuk apa? Supaya masyarakat pegang tanda bukti hak hukum atas tanah yang
dimiliki. Jangan sampai kebanyakan sengketa sana, sengketa sini. Kalau
sudah sengketa tanah sengketa lahan mudah.*

*Banyak yang nangis-nangis ke saya masalah sengketa lahan, tapi saya enggak
bisa apa-apa. Apalagi sudah masuk pengadilan. Enggak bisa yang namanya
presiden itu intervensi, gak bisa.*

*Yang kedua, saya titip kalau sudah dapat sertifikat tolong diberi plastik
seperti ini. Supaya kalau gentengnya bocor, kehujanan, enggak rusak. Yang
kedua tolong difotokopi. Kalau yang asli mungkin hilang, masih punya
fotokopinya bisa ngurus ke kantor BPN lagi. Setuju?*

*Yang ketiga, ini biasanya kalau sudah pegang sertifikat pinginnya
disekolahkan. Enggak apa, dipakai untuk jaminan di bank. Dipakai untuk
agunan ke bank juga enggak apa. Tetapi saya pesan agar sebelum pinjam ke
bank itu dihitung dulu, dikalkulasi dulu bisa ngangsur apa tidak. Kalau
kira-kira tidak bisa ngangsur enggak usah pinjam ke bank. Jangan pinjam ke
bank.*

Baca kelanjutannya: Jokowi mulai menyinggung soal Politik Genderuwo

*Yang terakhir, bapak/Ibu sekalian, saya ingin mengingatkan kepada kita
semua bahwa bangsa Indonesia ini adalah bangsa yang besar. Penduduk kita
sekarang sudah 263 juta. Kita ini dianugerahi oleh Allah SWT
perbedaan-perbedaan, warna-warni, beda suku, beda agama, beda adat, beda
tradisi, beda bahasa daerah, beda semua.*

*Kita memiliki 714 suku, banyak sekali suku di Indonesia dari Sabang sampai
Merauke dari Miangas sampai Pulau Rote. Bahasa daerahnya beda-beda, ada
1.100 lebih bahasa daerah kita.*

*Saya titip, aset terbesar bangsa ini, modal terbesar bangsa ini adalah
persatuan, persaudaraan, kerukunan. Oleh sebab itu jangan sampai karena
pilihan bupati, gubernur, presiden ada yang tidak saling sapa dengan
tetangga. Ada yang tidak saling sapa antarkampung, antardesa, tidak rukun
antarkampung. Jangan sampai terjadi seperti itu di Kabupaten Tegal, di
Provinsi Jawa Tengah. Setuju?*

*Di Majelis Taklim ada yang berbeda pilihan enggak saling ngomong. Enggak
boleh seperti itu. Kita harus menjaga ukhuwah Islamiah, ukhuwah wathaniah
kita. Kita ini semua adalah saudara-saudara sebangsa dan setanah air.
Jangan sampai tidak rukun, tidak bersatu, menjadi pecah gara-gara pilihan
presiden, gubernur, bupati. Jangan sampai rugi besar kita ini. Karena pas
setiap lima tahun itu ada pilihan bupati, gubernur, presiden, wali kota ada
terus. Jangan sampai seperti itu.*

*Apalagi sekarang ini banyak politikus yang pandai mempengaruhi. Yang tidak
pakai etika politik yang baik. Tidak pakai sopan santun politik yang baik.
Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan,
kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian.
Masyarakat menjadi.. memang digiring untuk ke sana. Dan yang ketiga menjadi
ragu-ragu masyarakat, benar enggak ya benar enggak ya?*

*Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masak
masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? itu sering saya
sampaikan itu namanya politik genderuwo, genderuwo, nakut-nakuti.*

*Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok
ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda
ketakutan. Berbahaya sekali. Jangan sampai propaganda ketakutan menciptakan
suasana ketidakpastian, menciptakan munculnya keragu-raguan.*


https://pilpres.tempo.co/read/1144955/maruf-amin-setuju-jokowi-banyak-politik-genderuwo/full&view=ok


Ma'ruf Amin Setuju Jokowi Banyak Politik Genderuwo

Reporter:
M Rosseno Aji

Editor:
Syailendra Persada

Sabtu, 10 November 2018 12:35 WIB

0 komentar
<https://pilpres.tempo.co/read/1144955/maruf-amin-setuju-jokowi-banyak-politik-genderuwo/full&view=ok#comments>

001

   -

   <https://statik.tempo.co/data/2018/11/06/id_795066/795066_720.jpg>


*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Calon Wakil Presiden Ma'ruf Amin
sepakat dengan Joko Widodo atau Jokowi soal politik Genderuwo
<https://www.tempo.co/tag/genderuwo>. "Saya kalau Pak Jokowi bilang ada ya
saya ikut bilang ada," kata dia di Jakarta, Sabtu, 10 November 2018.

Baca: Soal Politik Genderuwo, Rizal Ramli: Bahasa Jokowi Jadi Aneh
<https://nasional.tempo.co/read/1144808/soal-politik-genderuwo-rizal-ramli-bahasa-jokowi-jadi-aneh>

Ma'ruf mengatakan politik genderuwo dibangun lewat komunikasi politik yang
bertujuan menakut-nakuti. "Maksudnya itu, ungkapannya itu bukan memberi
optimisme tapi memberi rasa takut," kata Ma'ruf.

Sebelumnya, usai polemik ihwal politikus sontoloyo, Presiden Joko Widodo
atau Jokowi menyindir aksi para politikus yang gemar menyebar propaganda
menakutkan. Jokowi menyebut cara politikus tersebut sebagai politik
genderuwo.

"Coba kita lihat politik dengan propaganda menakutkan, membuat ketakutan,
kekhawatiran. Setelah takut yang kedua membuat sebuah ketidakpastian. Itu
sering saya sampaikan itu namanya politik genderuw0," ujar Jokowi.

Menurut Jokowi, saat ini banyak politikus yang sering melontarkan
pernyataan-pernyataan yang menakutkan, seperti genderuwo itu. Cara
berpolitik semacam itu, kata Jokowi, bukanlah cara berpolitik yang
beretika, karena masyarakat digiring ke arah ketidakpastian dan ketakutan
sehingga terkesan kondisi Indonesia mencekam.

"Jangan sampai seperti itu. Masyarakat ini senang-senang saja kok
ditakut-takuti. Iya tidak? Masyarakat senang-senang kok diberi propaganda
ketakutan. Berbahaya sekali," kata Jokowi.

Simak: Sandiaga: Mungkin yang Dimaksud Pak Presiden Ekonomi Genderuwo
<https://pilpres.tempo.co/read/1144863/sandiaga-mungkin-yang-dimaksud-pak-presiden-ekonomi-genderuwo>

Jokowi mengatakan, cara-cara seperti itu bisa memecah persatuan bangsa.
Karena itu, Jokowi mengingatkan kepada masyarakat untuk berpikir kritis dan
pintar dalam menghadapi situasi yang muncul akibat politik genderuwo
<https://www.tempo.co/tag/genderuwo>.

Kirim email ke