https://tirto.id/tragedi-santa-cruz-dan-sejarah-kekerasan-indonesia-di-timor-leste-b4FM
12 November 1991
Tragedi Santa Cruz dan Sejarah
Kekerasan Indonesia di Timor Leste
Ilustrasi Monumen 12 November di Dili, Timor Leste. tirto.id/Sabit
<https://tirto.id/tragedi-santa-cruz-dan-sejarah-kekerasan-indonesia-di-timor-leste-b4FM>
Ilustrasi Monumen 12 November di Dili, Timor Leste.
tirto.id/Sabit
Oleh: Agung DH - 12 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Tentara Indonesia menembaki para demonstran di Santa Cruz, Dili pada 12
November 1991. Lebih dari 200 orang dikabarkan tewas./
tirto.id <https://tirto.id/> - Tiga bulan menjelang Natal 1991 kabar
beredar di Timor Timur: sebuah delegasi parlemen dari Portugal berniat
mengunjungi daerah itu. Rencananya, kedatangan mereka akan diikuti 12
jurnalis internasional. Siapapun tak menyangka hal ini akan memicu
peristiwa yang akan diingat orang sebagai catatan khusus dalam sejarah
kekerasan militer Indonesia di bumi Lorosae.
Belakangan niatan Portugal ini ditolak pemerintah Soeharto. Indonesia
keberatan bila kunjungan itu disertai para jurnalis—sementara di dalam
negeri sendiri, seperti kata mantan pewarta /Jakarta Jakarta/ Seno
Gumira Ajidarma, “jurnalisme dibungkam dan harus menggunakan sastra
untuk bisa berbicara.”
Jauh-jauh hari para pemuda Timor Leste yang melakukan perlawanan bawah
tanah sudah kadung menyiapkan sambutan atas kunjungan Portugal itu.
Namun gerakan klandestin mereka ternyata diketahui intelijen Indonesia.
Mereka yang membuat spanduk-spanduk penyambutan delegasi Portugal di
gereja Moteal Dili diawasi terus gerak-geriknya oleh TNI.
Hingga pada malam 27 Oktober 1991, sekelompok provokator yang bekerja
untuk intelijen Indonesia mengejek para aktivis pro-kemerdekaan dan
memancing mereka untuk ribut. Anak-anak muda Timor Leste terpancing dan
perkelahian berlangsung di malam itu juga.
Pagi hari 28 Oktober 1991, jasad aktivis muda pro-kemerdekaan, Sebastiao
Gomez, ditemukan tergeletak di dekat gereja Moteal.
Baca juga: Upaya Indonesia Mencaplok Timor Lorosae lewat Operasi Seroja
<https://tirto.id/upaya-indonesia-mencaplok-timor-lorosae-lewat-operasi-seroja-cBe1>
Tentara Menembaki Demonstran
Dua pekan setelah itu, pagi 12 November 1991, tepat hari ini 27 tahun
lalu, Pastur Alberto Ricardo memimpin misa arwah untuk memperingati
kematian Gomez di gereja Moteal Dili. Misa diikuti ribuan umat Katolik
Timor Leste.
Ketika misa usai pukul 07.00 waktu setempat, sekitar lima ratusan orang
keluar gereja sembari membentangkan spanduk bergambar Xanana Gusmao,
pemimpin gerakan pro-kemerdekaan Timor Leste. Sambil terus berjalan
mereka memekikkan “Timor Leste! Timor Leste! Timor Leste!”. Iringan
pengunjuk rasa itu berjalan sekitar 4 kilometer menuju pemakaman Santa
Cruz, tempat Gomez dimakamkan.
Sampai di pemakaman Santa Cruz, menurut Paul R. Bartrop dan Steven
Leonard Jacobs dalam /Modern Genocide/ (2014), tentara Indonesia telah
bersiaga yang terdiri dari pasukan Kompi A Brimob 5485, Kompi A dan
Kompi D Batalion 303, dan kompi campuran—dengan pakaian preman yang
dibentuk pada malam sebelumnya. Selain itu Batalion 744 dan personil
dari Kodim 1627 juga berada di sana.
Saat itulah, seperti terlihat dari rekaman video jurnalis Inggris Max
Stahl, suasana menjadi kacau. Sirine dan suara letusan tembakan memekik
telinga. Para demonstran lari tunggang-langgang. Sementara yang lain
mencari persembunyian di antara nisan-nisan Santa Cruz.
Berdasarkan kesaksian, seperti ditulis Paul R. Bartrop, tentara
Indonesia menembaki massa dengan membabi buta diikuti berondongan
senapan otomatis selama beberapa menit. Tentara Indonesia menembak ke
tengah kerumunan dan membuat para aktivis pro-kemerdekaan tertembak di
punggung saat mereka berusaha melarikan diri. Tentara lainnya menendang
dan menusuk korban luka serta sejumlah orang yang bersembunyi di area
pemakaman.
Hukman Reni di buku /Eurico Guterres: Saya Bukan Siapa-siapa/ (2015)
menyebutkan, “Dalam Laporan Dewan Kehormatan Militer, Peristiwa 12
November itu menewaskan 50 warga sipil Timor Timur. Tetapi laporan lain
menyebutkan ratusan orang luka-luka dan puluhan tewas kena peluru
tentara Indonesia. Penyelidikan rinci dari perlawanan bawah tanah Timor
Timur bahkan mendapatkan angka 273 tewas.”
Berdasarkan video Max Stahl itulah setidaknya mata dunia terbuka.
Amnesty Internasional menganugerahi video insiden Dili berjudul /Cold
Blood: The Massacre of East Timor/ itu sebagai video terbaik untuk
kategori hak asasi manusia pada 1992.
Sementara para aktivis Timor Timur di luar negeri yang sebelumnya tidak
diperhitungkan, kembali mendapatkan simpati. Rosihan Anwar di Sejarah
kecil "Petite Histoire" Indonesia (2004) menjelaskan pembantaian di Dili
mengakibatkan masalah Timor Timur ditaruh di agenda internasional
mengenai HAM.
“Para aktivis Timor Timur yang beroperasi di luar negeri, terutama Ramos
Horta, memperoleh lebih banyak perhatian internasional,” terangnya.
Rosihan Anwar benar. Pakar politik Australia Rebecca Strating dalam
/Social Democracy in East Timor/ (2015) menyebutkan setelah insiden Dili
itu, senator AS meminta Presiden George Bush Sr. agar membantu Timor
Timur menentukan nasib sendiri dengan memasukkan persoalan tersebut
dalam agenda resolusi Majelis Umum PBB.
Tekanan internasional, terutama Amerika, terhadap Timor Timur itu
dijawab Jakarta dengan mengubah struktur kepemimpinan militer di Timor
Timur. Awal 1992 Mabes AD melalui Dewan Kehormatan Militer (DKM) memecat
Panglima Daerah Militer (Pangdam) IX Udayana, Mayjen Sintong Panjaitan,
Pangkalakops Timor berserta seluruh Asisten Pangkolakops, Danrem
164/Wira Dharma, Dandim 1827/Dili dicopot dari jabatannnya.
Di buku Hendra Subroto, /Sintong Panjaitan, Perjalanan Seorang Prajurit
Para Komando /(2009), Sintong berkilah bahwa ada kemungkinan
keterlibatan pihak ketiga dalam Insiden 12 November di Dili itu. Pihak
ketiga inilah yang menurut Sintong menjadi dalang aksi sabotase di Santa
Cruz yang mengarah ke kekerasan militer. Tapi Sintong tak menyebut
dengan jelas siapa pihak ketiga tersebut.
Sementara itu, mantan Komandan Kopassus yang pernah bertugas di Timor
Timur, Prabowo Subianto, menyebutkan bahwa tindakan penyerangan di Santa
Cruz itu tidak taktis secara militer.
“Anda tidak semestinya membunuh warga sipil di depan pers
internasional,” ujar Prabowo kepada jurnalis Amerika Allan Nairn seperti
dikutip dari laman/alannairn.org/.
“Komandan-komandan itu bisa saja membantai di desa-desa terpencil
sehingga tak diketahui siapapun, tapi bukan di ibu kota provinsi!”
tambahnya.
Infografik Mozaik Insiden Santa Cruz
Mengabaikan Tekanan Internasional
Kendati sejumlah komandan yang diduga terlibat dalam Santa Cruz dipecat
dari jabatannya, Jakarta tetap menjalankan operasi militer di Timor
Timur. Stephen McCloskey dalam /East Timor Question: The Struggle for
Independence from Indonesia/ (2000) bahkan menyebutkan setelah
Pembantaian Dili, Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan lisensi
penjualan 300 jenis peralatan militer ke Indonesia. Beberapa item yang
dijual: dari senapan mesin dan M-16 sampai komponen elektronik, dari
alat komunikasi hingga suku cadang pesawat tempur.
Dengan dukungan seperti itu maka tentara Indonesia di bawah Panglima
ABRI Jenderal Try Sutrisno
<https://tirto.id/try-sutrisno-dari-zeni-ajudan-soeharto-ke-panglima-abri-cTF6>
dengan tanpa was-was dituding melanggar HAM dan menangkap pemimpin
kemerdekaan Timor Timur Xanana Gusmao pada 20 November 1992, setahun
setelah insiden berdarah di Santa Cruz.
Menurut Rebecca Strating, dalam sebuah pernyataan kepada Majelis Umum
PBB pada 1994, Amnesty International bersama lembaga-lembaga hak asasi
manusia lain di Asia Pasifik dan Inggris menyesalkan terjadinya
pembantaian Santa Cruz dan pemenjaraan Xanana Gusmao.
Baca juga: Merdeka dari Pendudukan Indonesia
<https://tirto.id/merdeka-dari-pendudukan-indonesia-cyfe>
Kendati ada tekanan dari lembaga-lembaga hak asasi internasional,
Indonesia tetap bersikukuh dengan operasi militernya untuk menumpas
“krebo-krebo hutan”—sebutan untuk kombatan Fretelin yang disematkan
ABRI. Tentara Indonesia baru hengkang dari Lorosae ketika Timor Leste
merdeka
<https://tirto.id/mengingat-referendum-jalan-panjang-kemerdekaan-timor-leste-bFyB>
pada 1999.
Pada 25 Januari 2006, /Washington Post/ pernah melaporkan hasil
penelitian Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor Timur.
Menurut penelitian komisi itu, Amerika seharusnya bertanggungjawab
karena telah mendukung baik secara politik dan militer kepada Indonesia
sejak pertama kali menyerang Timor Timur pada Desember 1975 dan selama
mempertahankan daerah itu selama 24 tahun. Setidaknya akibat invasi ini
lebih dari 100.000 orang telah tewas.
==========
/Artikel ini pertama kali ditayangkan pada 12 November 2016 dengan judul
"Mengenang 25 Tahun Kejahatan Indonesia di Santa Cruz". Kami melakukan
penyuntingan ulang dan menerbitkannya kembali untuk rubrik Mozaik./
Baca juga artikel terkait PERANG
<https://tirto.id/q/perang-jx?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Agung DH
<https://tirto.id/author/agunghartanto?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Humaniora)
Penulis: Agung DH
Editor: Ivan Aulia Ahsan
Tragedi Santa Cruz melahirkan tekanan internasional terhadap Indonesia.