Sangat sulit untuk mengerti mengapa saya begitu benci revisionisme danpara
pengikutnya, kalau anda menolak mempelajari dengan serius Marxisme,Leninisme
dan Fik. Mao Tsedong. Karena titik tolak dan panduan teori kitaberbeda atau
bahkan bertentangan, maka pengertian kita atas konsep-konsep,seperti apa itu
sosialisme, apa itu komunisme, apa itu revisionisme, jugasangat berbeda.
Misalnya anda bilang Mao "merevisi"revisionisme untukmenyerang Khruschev, bagi
saya dan juga banyak orang yang paling sedikit pernahbelajar MDH dan belajar
Leninisme, itu ucapan yang ngawur! Mao tidak pernah"merevisi' revisionisme. Mao
adalah seorang komunis Marxis-Leninis yangmemimpin perjuangan melawan
revisionisme modern yang dipimpin Khrushchev dalamGerakan Komunis
Internasional.Mao tahu begitu garis revisionis modern berkuasadalam Partai,
maka restorasi kapitalis akan menghancurkansosialisme. Justru karena belajar
dari pengalaman di Uni Soviet, di manakaum revisionis modern pimpinan Khruschev
berhasil berkuasa dalam Partai danNegara, Mao melihat perjuangan intern di
dalam partainya sendiri. Untuk melawankaum revisionis di dalam partai yang
dipimpin Liu shaoqi dan Dengxiaoping, yangmenguasai organisasi Partai, Mao
melancarkan RBKP. Dari situ mengapa Deng dansudah tentu para pengikutnya
termasuk agennya, si Chan begitu benci kepadaRBKP, karena merekalah sasaran
RBKP.
Kalau ingin mengetahui lebih lanjut tentang perdebatan antara
kaumMarxis-Leninis yang dipimpin Mao melawan kaum remo Soviet, jalan
satu-satunyaadalah membaca brosur-brosur polemik PKT vs PKUS.
Saya memang anti-revisionis karena pengalaman sejarah menunjukkanjahatnya garis
revisionis. Partai komunis yang menjalankan garis revisionis,pasti menderita
kemunduran dan kekalahan. Negara sosialis yang kemudianmengambil jalan
revisionis, maka terjadilah restorasi kapitalisme. Makanya Maosendiri bilang
dalam salah satu karyanya, revisionisme lebih berbahaya daripada dogmatisme.
Deng xiaoping adalah pembawa garis revisionis di dalam PKT.Kan prakteknya anda
lihat sendiri. Begitu dia berkuasa, segera dihancurkandasar-dasar ekonomi
sosialis dan semua undang-undang yang melindungi kaum buruhdan kaum tani dari
penghisapan dan penindasan, dan dimulailah reformasikapitalisme yang membawa
restorasi kapitalisme. Tidak ada argumentasi yangmasuk akal yang dapat
membantah bahwa sistim di Tkk sekarang adalah kapitalisme. Si Chan bisanya
hanya secara ndablekngoceh di tkk ada sosialisme dikombinasi dengan keunggulan
kapitalisme. Artinya ada socialist mode of production yangberkoeksistensi
dengan capitalist mode of production. Ditanya mana buktinya ada sosialisme?
Jawabnya, karena ada planifikasi dan BUMN. Lha, kalau gitu, Indonesia juga
sosialisme, karenadia punya Repelita dan juga ada BUMN. Kalau memang bisa
berkoeksistensi keduasistim ekonomi itu dalam sebuah negeri, mengapa
dihancurkan komune rakyat,mengapa dihapus UU ketenagakerjaan yang melindungi
buruh, seperti sistim kerja8 jam, status buruh tetap seumur hidup, jaminan
social, layanan kesehatan danpendidikan gratis, hak=hak kebebasan buruh, 3
Besar, yaitu kebebasan untukmengajukan pendapatnya, untuk berdiskusi, untuk
menulis koran berhuruf besar?? Sampai sekarang Noroyono yang saya minta untuk
mencari argumentasi untuk bantu si Chan, tidak menjawab.
Jadi anda tidak perlu heran mengapa saya membela Mao dan membenci Deng. Dua
orang itu sebetulnya musuh ideologi. Deng sudahdipecat dari PKT lebih dari satu
kali. Mao tertipu oleh “otokritiknya” sehinggasetuju untuk menerima kembali
Deng dalam Partai.
Sudah tentu tidak memuaskan penjelasan pendek saya disini, karena
untukmemahaminya orang harus bersedia membaca banyak tulisan hasil penelitian
banyakahli Tkk yang sudah pernah saya ajukan.
Buat anda Chan seorang sosdem.Buat saya, dia seorang revisionis,
pro-kapitalisme, pro modal, pro imperialism,pengkhianat perjuangan rakyat.
Bukan saya asal omong. Kandia tunjukkan sendiri dalam komentar-komentarnya. Dia
bilang MODAL tak boleh disentuh,dus dia anti perjuangan buruh, kan beberapa
kali dia mengejek buruh yang demo. Jelasdia anti buruh migran yang menuntut
kenaikan upah, dia tidak menutupi pembelaannyaterhadap majikan. Pro-imperialis
juga dia perlihatkan dalam sikapnya terhadap Korut. Dia setujusekali dengan
sanksi AS yang didukung oleh kaum revisionis Tkk, mengejekpimpinan Korut yang
membela haknya untuk mempunyai dan mengembangkan kapasitasdefensifnya dengan
senjata nuklir.. Alasannya, kasarnya, negeri kecil, jangan neko-neko,tunduk
saya sama tuntutan AS dan Tkk kapitalis!! Nah, kan keluar sifat sovinisme, jadi
cuma negeri besar yang punya hak untuk mengembangkan nuklir guna membela
dirinya dari ancaman perang imperialis AS???Dalam setiap komentarnya, selalu
keliahtan dengan jelas keberpihakannya kepada KAPITAL, kepada PENGUASA, kepada
STATUSQUO, kepada PENGHISAPAN !!
Anda bilang saya seorangLeninist! Wow, sebuah kehormatan yang sangat tinggi
sekali yang tak berani sayamenerimanya...Alangkah bangganya menjadi seorang
Leninist!!!! Saya akan terusberusaha sampai mati agar saya tidak mengkhianati
Leninisme!!!
Orang tidak terpaku pada satu ideologi. Sadar atau tidak sadar, setiaporang
sudah punya satu ideologi. Manusia hidup dalam sebuah masyarakat,
ideologinyaditentukan oleh kelas dimana dia menjadi bagiannya. Tidak ada orang
yang hidupdiluar kelas. Tiap kelas punya ideologi. Makanya saya pernah bilang
bacalahAnalisa Kelas, karya Mao untuk mengerti, bukan untuk menyetujuinya,
hanya untukmengerti orang yang berpikiran seperti saya. Tentu anda anggap, ah
ngapain! Satu-satunya ideologi yang harus dilahirkanmelalui belajar dan
praktek perjuangan kelas adalah ideologi proletar.Penjelasannya, wah panjang
sekali. Baca sajabukunya Lenin “What is to be done”. Nah disitu disinggung
sedikit tentangideologi proletar.
Kalau ada orang yang satu ideologitapi saling bunuh-bunuhan, ya harus diteliti
dan diselidiki apa yang membuatmereka saling membunuh! Yang jelas mereka saling
membunuh bukan karena soalideologi. Manifestasi satu ideologi sangat beragam
dalam politik. Kalau orangyang bertentangan ideologi bunuh-bunuhan, bisa
karena soal ideologi, soal politik, soalkeyakinan,. Sehingga ketika kontradiksi
kelas dan perjuangan kelas menjadi tajam,maka masing-masing tampil membela
kelas dan ideologinya. Tapi tak tertutup juga kemungkinan mereka bunuh-bunuhan
karena soal perorangan… Jadi masalahnya tidakbisa disederhanakan, harus dilihat
kongkritnya.
Soal Chavez, soal Albania, itu memerlukan penjelasan dan uraian
berlembar-lembarlagi. Soal Chavez, saya tulis di buku saya “Alternatif”. Begitu
juga soal revisionisme.
Buat anda saya salah. Ya itu hak andabilang begitu. Tapi saya tahu saya tidak
sendirian dalam keyakinan dan cita-cita saya.
Untuk sedikit menambah penjelasan, saya ajukan tulisan saya di Sulindo.
Menelusuri Jejak Perjuangan Dua Garis di Partai Komunis Tiongkok
Perjuangan dua garis tak dapat dihindarkan dan akan selalu terjadi selama
partai hidup dalam masyarakat berkelas. Karena setiap anggota dan kader selalu
membawa masuk ideologi borjuis kecilnya. Belajar Marxisme-Leninisme menjadi
kebutuhan dan keharusan bagi setiap anggota dan kader partai
Koran Sulindo – Presiden Xi Jinping mengklaim “sosialisme berkepribadian”
Tiongkok sebagai sistem yang berlaku sekarang di negerinya. Padahal, setelah
Mao Zedong meninggal pada 1976 dan klik revisionis berhasil melakukan kudeta
dengan menangkap “Gang of Four”, ekonomi terbuka yang diterapkan Deng Xiaoping
serta reformasi-reformasinya telah merestorasi kapitalisme.
Salah satu ucapan Deng yang terkenal ketika itu “Tidak penting kucing hitam
atau kucing putih, yang penting bisa menangkap tikus”. Artinya, apapun sistem
ekonomi yang diterapkan, sekalipun itu sistem kapitalisme, yang penting
pertumbuhan ekonomi Tiongkok meningkat pesat. Walau kebijakan tersebut
berdampak luas terhadap rakyatnya, seperti kesenjangan sosial-ekonomi yang
makin melebar di masyarakat Tiongkok.
Klik revisionis pimpinan Deng telah memenangi perjuangan antara garis
Marxis-Leninis yang diwakili Mao dengan garis revisionis modern pimpinan Liu
shao-qi dan Deng. Untuk mengetahui tentang perjuangan garis proletar Mao dengan
garis oportunis “kiri” maupun kanan, kita perlu kembali mempelajari sejarah
berdirinya Partai Komunis Tiongkok hingga perkembangannya hari ini.
Pada mulanya, PKT berdiri pada 1921 di tengah-tengah lautan borjuis kecil yang
merupakan kelas mayoritas dalam masyarakat setengah jajahan setengah feodal.
Sepanjang perjalanan yang berliku mengabdi usaha pembebasan nasional,
perjuangan antara garis Marxis-Leninis dan garis oportunis “kiri” maupun kanan
membawa gerakan rakyat maju ketika dalam partai berdominasi garis yang benar.
Ketika garis oportunis kiri atau kanan berdominasi dalam partai, gerakan
mengalami kemunduran dan kegagalan yang sering kali minta korban dan
pengorbanan partai dan rakyat yang luar biasa besarnya.
Perjuangan dua garis tak dapat dihindarkan dan akan selalu terjadi selama
partai hidup dalam masyarakat berkelas. Karena setiap anggota dan kader partai
selalu membawa masuk ideologi borjuis kecilnya. Itu sebabnya, belajar
Marxisme-Leninisme menjadi kebutuhan dan keharusan bagi setiap anggota dan
kader partai. Dalam proses menerapkan teori revolusioner dengan kreatif dalam
praktik perjuangan kelas itulah mereka berusaha mengubah dengan sadar pandangan
dunia borjuis kecilnya menjadi pandangan dunia proletar. Dalam bahasa Tionghoa
proses itu dikenal dengan nama gai cao si xiang.
Tidak semua partai komunis di dunia mengerti dan sadar akan adanya perjuangan
dua garis dalam partainya. Perjuangan dua garis dalam partai tidak menghalangi
persatuan. Persatuan yang dicapai melalui perjuangan pikiran dan ide yang tepat
melawan yang salah justru akan memperkokoh partai. Untuk itu diperlukan
menjalankan dengan baik langgam kritik-otokritik dan menjaga keseimbangan
antara sentralisme dan demokrasi.
Sudah tentu selalu akan ada anggota dan kader yang tidak jujur dalam melakukan
kritik-otokritik. Deng Xiaoping, misalnya, yang sudah dipecat dari partai, tapi
dengan otokritiknya akhirnya diterima kembali. Itulah kesalahan terbesar Mao:
memercayai otokritik Deng. Ketika Mao meninggal, Deng meninggalkan kedoknya dan
melaksanakan garis revisionis yang sejak lama dianutnya untuk merestorasi
kapitalisme.
Setiap gerakan yang ingin memperjuangkan pembebasan nasional dan mendirikan
pe-merintahan rakyat yang berdaulat harus mengetahui dengan jelas siapa musuh
dan siapa kawan. Salah satu sumber kegagalan pemberontakan dan gerakan
revolusioner di masa lalu di Tiongkok, menurut Mao, adalah tidak tahu kekuatan
mana saja yang harus dipersatukan untuk bersama-sama memukul dan menghancurkan
musuh pokok. Satu-satunya alat untuk menentukan siapa lawan dan siapa sekutu
adalah analisa kelas dalam masyarakat. Asal kelas seseorang tidak menentukan,
tapi sangat memengaruhi sikapnya terhadap gerakan politik dan sosial.
Analisa Kelas
Analisa kelas yang tepat menentukan watak atau sifat pergerakan dan revolusi di
negeri itu. Di bawah pimpinan Partai Komunis, rakyat Tiongkok melancarkan
revolusi borjuis demokratis, sebagai tahap transisi menuju tahap pembangunan
sosialis. Persekutuan antara kaum komunis dengan kaum nasionalis Kuomintang
(KMT) pimpinan Sun Yatsen adalah salah satu penerapan dari garis revolusi
borjuis demokratis. Sun Yatsen mewakili kelas borjuasi nasional. Tanpa kerja
sama dengan kaum komunis, ia tak akan bisa memimpin dan melancarkan perjuangan
yang konsekuen melawan kelas tuan tanah besar, kelas borjuasi komprador dan
kapitalisme birokrat.
Kaum komunis dan nasionalis sukses melancarkan perang ekspedisi melawan
kekuasaan raja-raja perang di Tiongkok Utara. Namun, ketika Sun Yatsen
meninggal pada 1925, Chiang Kai Shek berhasil mengalahkan tokoh-tokoh yang
menyainginya dan mengambil alih kepemimpinan KMT. Chiang Kai Shek mewakili
kepentingan kaum borjuasi komprador di perkotaan dan tuan tanah jahat di
pedesaan. Pada 1927, Chiang Kai Shek mengkhianati persekutuan dengan kaum
komunis dan melakukan pembunuhan serta penangkapan besar-besaran terhadap kaum
komunis terutama di kota-kota besar seperti Shanghai.
PKT kehilangan ribuan anggota dan kadernya. Untung, di beberapa daerah pedesaan
di Provinsi Hunan, sudah berdiri kekuasaan rakyat dimana jutaan kaum tani yang
sadar dan terorganisasi di bawah pimpinan PKT dan Mao melancarkan revolusi
agraria melawan kekuasaan tuan tanah jahat. Daerah basis di pedesaan menjadi
tempat berlindung mereka yang berhasil menyelamatkan diri. Pengalaman ini
menunjukkan PKT harus mempertahankan kepemimpinan dalam revolusi dan waspada
akan watak ganda kaum borjuasi nasional.
Ketika itu, pimpinan PKT ada di tangan Chen Duxiu yang tidak percaya pada peran
kaum tani dan menolak mendukung gerakan tani yang sedang berkembang di
pedesaan. Kegagalan revolusi 1927 membuktikan kesalahan garis oportunis kanan
Chen Duxiu dan membenarkan pendapat Mao yang bersandar kepada kaum tani dan
menitik beratkan pekerjaan partai di pedesaan. Setelah kegagalan itu, Chen
Duxiu bukannya melakukan otokritik, tapi menjadi pengikut Trotsky. Tidak aneh,
mengingat sikap Trotsky terhadap peran kaum tani dalam revolusi di Rusia.
Kepemimpinan PKT beralih ke Li Lisan. Di bawah kepemimpinannya, keluar resolusi
“Gelombang pasang revolusioner baru dan mencapai kemenangan pertama di satu
provinsi atau beberapa provinsi”. Resolusi itu menganjurkan agar dilakukan
persiapan untuk segera melancarkan pemberontakan bersenjata di seluruh negeri.
Ia menyusun sebuah rencana pemberontakan di kota-kota utama dan mengumpulkan
semua kekuatan Tentara Merah untuk menyerang kota-kota itu. Kesalahan “kiri”
itu dikenal dengan nama “garis Li Lisan”.
PKT masih harus melalui tiga pimpinan lagi sebelum akhirnya pada Konferensi
Tsunyi, 1935 mengakui kepemimpinan Mao yang berusaha menerapkan
Marxisme-Leninisme sesuai dengan kondisi konkret Tiongkok. Praktik telah
membuktikan ketepatan strategi dan taktik yang diajukan dan diperjuangkan Mao.
Namun tidak berarti perjuangan internal antara dua garis selesai dan juga tidak
berarti Mao selalu mendapat dukungan mayoritas anggota pimpinan partai.
Selama perang melawan agresi Jepang, Wang Ming, anggota Politbiro, menentang
pendapat Mao dalam menerapkan politik front persatuan dengan KMT. Wang Ming
ingin supaya PKT melebur kekuatannya menjadi bagian dari kekuatan KMT sehingga
dapat melawan Jepang dalam satu rencana operasi di bawah satu komando, satu
disiplin, dengan persenjataan dan perlengkapan yang disatukan. Sedangkan Mao
berpendapat, meninggalkan kebebasan dan kemandirian kekuatan bersenjata PKT
berarti menyerahkan basis kekuasaannya. Baik Wang maupun Mao tidak berhasil
mendapat dukungan mayoritas. Mao terpaksa berkompromi dan menerima Wang sebagai
pimpinan delegasi PKT dalam perundingan dengan KMT di Wuhan.
Kemudian Mao terpaksa menyetujui Wang yang menunjuk dirinya sendiri sebagai
Sekretaris Biro Yangtse. Dengan begitu Wang berhak mengontrol
organisasi-organisasi partai dan Tentara Baru Keempat di Tiongkok
tengah-selatan. Ini menunjukkan batas-batas dari kekuasaan Mao. Ia tidak dapat
menjalankan kebijakan yang dianggapnya tepat tanpa persetujuan mayoritas
anggota Politbiro.
Wang Ming selalu berusaha menyabot kebijakan Mao dan menjalankan kebijakannya
sendiri tanpa memberitahu Mao, sebagai Ketua PKT, yang ketika itu berada di
Yenan. Wang Ming memuat tulisannya sendiri di Xinhua Daily, koran penyambung
lidah PKT di daerah yang dikuasai KMT. Tanpa persetujuan Mao, Wang membuat
judul tulisannya Mr. Mao Ze-dong’s Conversation with New China Reporter Qi
Guang.
Komite Sentral mengirim tulisan Mao On Protracted War ke Biro Yangtse dengan
harapan dapat dimuat di Xinhua Daily. Dengan dalih terlalu panjang, Wang
menolak. Masalahnya adalah ide “Perang Tahan Lama” Mao bertentangan dengan ide
Wang yang mengharapkan kemenangan cepat dalam perang melawan Jepang.
Perlawanan Wang Ming terhadap garis Mao baru berakhir pada 1938, ketika Wuhan
yang berada di bawah kontrol KMT jatuh. Ini membuktikan kebenaran ide perang
tahan lama Mao. Ditambah lagi Dimitrov, Sekjen Komintern ketika itu,
mengeluarkan instruksi yang menyatakan garis politik PKT tepat; perbedaan
pendapat internal diselesaikan di bawah pimpinan Mao; Wang harus mengakui bahwa
Mao adalah pemimpin yang lahir dari perjuangan konkret revolusi Tiongkok..
Perjuangan Dua Garis
Setelah Jepang dan kemudian KMT dikalahkan dan diusir dari daratan Tiongkok,
lahirlah Republik Rakyat Tiongkok, pada September 1949. Akhirnya rakyat
Tiongkok berhasil mendirikan sebuah republik dan mengatasi perpecahan,
penjajahan dan penghinaan kolonial. Tugas membangun sebuah negeri dan
masyarakat baru terbentang di hadapan rakyat dan partai yang memimpinnya. Tapi,
jangan dikira tugas pembangunan ini lebih mudah dan perjuangan internal antara
dua garis selesai.
Dalam landreform muncul dua kubu yang memperjuangkan dua perspektif pembangunan
yang bertentangan. Dalam bukunya Fanshen, William Hinton menulis, kubu yang
dipimpin Mao memihak pada bentuk kolektivisasi maksimum yang konsisten dengan
tujuan produksi dan pemberian pelayanan sosial yang terus meningkat kepada kaum
tani. Dalam proses ini akan teratasi secara bertahap dan permanen semua
pembagian kelas dalam masyarakat. Tujuan akhir sistem sosialis adalah
melenyapkan kelas dalam masyarakat dan penghisapan manusia oleh manusia.
Kubu pimpinan Liu Shaoqi dan kemudian Deng Xiaoping memandang tiap petani
dengan sebidang tanah pribadinya sebagai sarana untuk menciptakan ekonomi pasar
desa yang justru akan mempertahankan dan mengembangkan pembagian kelas. Konflik
antara dua kubu ini mendasari setiap tahap dan peristiwa besar dalam reformasi
tanah. Kecenderungan sifat borjuis kecil kaum tani yang memiliki tanah adalah
terus mengembangkan produksi dan meluaskan kepemilikannya guna mencapai
kemakmuran keluarganya.
Pengembangan watak borjuis kecil melalui ekonomi pasar desa jelas bertentangan
dengan tujuan membangun masyarakat sosialis dimana dipupuk nilai-nilai
solidaritas dan kehidupan kolektif. Mao karena itu melancarkan pendidikan
sosialis di kalangan kaum tani melalui gerakan yang bertahap. Mula-mula dengan
pembentukan grup saling bantu, kemudian koperasi sampai akhirnya komune rakyat.
Secara bertahap kaum tani memupuk perasaan kolektif dan setiakawan guna
mengatasi individualisme melalui partisipasi sukarela dalam gerakan pembentukan
koperasi dan komune rakyat. Proses pembentukan itu sendiri merupakan kancah
perjuangan dua garis.
Dalam laporannya di konferensi sekretaris komite partai tingkat provinsi,
kabupaten dan daerah otonomi pada Juli 1955, Mao mengkritik mereka, yang
“terhuyung-huyung bagaikan wanita yang kakinya terikat” dan mengeluh “kalian
terlalu cepat, sangat cepat sekali”. Ketika itu, gerakan massa sosialis sedang
berkembang pesat di pedesaan Tiongkok. Mao menganggap keluh kesah, kegelisahan
dan tabu yang tak terhitung banyaknya itu tidak beralasan.
Tahun berikutnya, dalam pidato di sidang pleno kedua Komite Sentral PKT VIII,
Mao langsung mengkritik Deng Xiaoping yang ada di belakang rencana pembangunan
lapangan terbang di Provinsi Hunan tanpa konsultasi dengan penduduk yang
menjadi korban penggusuran. Kaum tani langsung berdemo menentang pembangunan
lapangan terbang tersebut dan menolak pindah. Mao membenarkan dan mendukung
perlawanan kaum tani. Mao berkata kepada Deng Xiaoping, “Anda juga punya
sarang, jika saya hancurkan, Anda juga akan bikin keributan, bukan?”
Pidato dan tulisan Mao banyak mencerminkan adanya perjuangan dua garis dalam
PKT. Mao harus berhadapan dengan mereka yang menentang pendapatnya. Kebijakan
yang sudah disetujui mayoritas pun bisa diboikot dan diselewengkan oleh anggota
pimpinan PKT lainnya. Itulah perjuangan dua garis dalam partai yang merupakan
pencerminan perjuangan kelas dalam masyarakat.
Perjuangan dua garis dalam Partai terus berlangsung sampai dilancarkannya
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar (RBKP). Tesis meneruskan revolusi di bawah
kondisi kediktaturan proletariat dalam bentuk RBKP merupakan sumbangan besar
Mao kepada Marxisme-Leninisme. Tesis itu berdasarkan pada kenyataan pembangunan
sosialisme adalah sebuah periode sejarah yang panjang dimana masih terdapat
kontradiksi kelas dan perjuangan kelas antara kekuatan revolusioner yang ingin
terus mengkonsolidasi sosialisme melawan kekuatan revisionis pengambil jalan
kapitalis.
Runtuhnya Uni Soviet dan restorasi kapitalis di Tiongkok telah membuktikan
musuh sosialisme terdapat di dalam Partai Komunis itu sendiri. Juga membuktikan
mereka yang menjadi anggota Partai Komunis tidak otomatis berideologi komunis,
tak peduli berapa lamanya mereka telah menjadi anggota partai. Sosialisme lahir
dari sebuah masyarakat berkelas. Tiap manusia membawa ideologi, kebiasaan,
mentalitas dan kebudayaan yang diwarisinya dari masyarakat lama.
Begitu juga anggota partai. Oleh karena itu sangat logis timbulnya tokoh-tokoh
revisionis Khrushchov, Liu Shaoqi dan Deng Xiaoping yang mewakili ideologi
borjuis dan kapitalisme. Begitu mereka berhasil merebut kekuasaan, watak kelas
partai berubah. Pembongkaran struktur ekonomi, politik dan sosial sosialis
dengan sendirinya mengakibatkan berubahnya kediktaturan proletariat menjadi
kediktaturan borjuis yang melemparkan kaum buruh kembali ke pengisapan dan
penindasan. [Tatiana Lukman]
On Tuesday, November 6, 2018, 3:43:04 AM GMT+1, 'nesare' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]> wrote:
Kenapa ya bung begitu benci dengan para revisionists ini?
Tulisan2 chan jelas bagi saya dia adalah seorang social democrat.
Bung ini kayaknya betul2 leninist. Oh ya Mao itu merevisi revisionism utk
menyerang Khrushchev dalam berbagai perbedaan ideologi dan politik. Tetapi
kenapa bung suka sama Mao dan benci sama Deng? Pasti bung tahu di Albania
banyak orang benci Mao krn dianggap sbg revisionist.
Apa pendapat bung dgn sosok Chavez? Apakah dia seorang seperti yg bung harapkan
kekiriannya ataukah Chavez seorang revisionist juga?
Saya sungguh tidak bisa faham jalan pikiran seseorang seperti bung yg bisa
begitu terpaku dgn suatu ideologi. Sampai2 revisi apapun bung anggap jahat kan?
Jelas beda dgn pandangan saya bahwa apapun didunia ini dinamis. Revisi itu
biasa dan normal. Yg saya utamakan bukan hal2 itu (ideologi dll), melainkan
tujuan kenapa kita percaya dan memahami hakikat dari hal2 itu.
Bung salah kaprah kalau pikir kita beda ideologi shg kita tidak akan ketemu
jalan pikirannya. Wong orang2 sama seideologi saja bisa ribut dan bunuh2an krn
memang begitulah manusia. Ini yg bung belum bisa menerima. Makanya saya sering
menulis masalahnya itu adalah orangnya bukan ideologi nya!
Ya memang proses apa yg bung percaya dan kerjakan, ya itu memang privilege
bung. Saya tidak suka menjustifikasi siapapun atas kepercayaannya walaupun
terkadang susah menahan diri. Selain kalau memang itu salah, akan saya katakan
salah dgn argument.
Nesare
From: Tatiana Lukman <[email protected]>
Sent: Monday, November 5, 2018 4:36 PM
To: [email protected]; nesare <[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Apa itu Liberalisme...
Nah, kan anda melihat seolah-olah perdebatan kami adalah antara komunisme vs
sosialisme.... Aduh, sudahlah memang kita juga sulit berkomunikasi...
Pengertian anda tentang komunisme dan sosialisme sangat berbeda dengan
pengertian saya. Si Chan itu tidak ada bau-baunya dengan sosialisme!! Dia
mewakili sepenuhnya revisionisme bahkan sudah terang-terangan berpihak kepada
imperialisme AS dalam kasus Korea Utara!!! Dan anda tidak tahu betapa jahatnya
revisionisme itu!!! Kalau anda mau tahu betapa bencinya saya kepada
Revisionisme dan mengapa, semua penjelasan ada dibuku saya "Alternatif". Tak
mungkin saya membeberkan semua itu di sini.
Saya tidak kenal Jokowi secara pribadi. Tapi saya kenal betul semua
kebijakannya!!! Dan ormas-ormas rakyat yang tiap hari bergelut langsung dalam
kancah perjuangan dan menuntut reform agraria sejati sudah tentu mengerti betul
kebijakan Jokowi dan segala dampaknya... Melalui semua postingan saya, semua
orang di milis ini tahu merekalah yang saya dukung...
Justru karena anda dan saya begitu bertentangan pandangan dunianya, maka anda
menyangka saya menentang apa yang dikerjakan orang-orang PRD itu seolah-olah
karena saya ingin melihat hasil akhirnya... Emangnya ormas-ormas yang saya
dukung itu sudah kelihatan hasil akhirnya sekarang?? Semua sedang dalam
proses... Soalnya proses yang mana dan yang bagaimana; itulah letak perbedaan
antara para pendukung Jokowi dengan saya..
On Monday, November 5, 2018 9:42 PM, "'nesare' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Bukan itu maksud saya dengan menggunakan kata: komunikasi itu. Seharusnya
kalian berdua bisa berdiskusi dengan baik krn itu adalah representasi dari:
komunisme vs sosialisme dimana sosialisme itu = revisi dari komunisme yg sdh
gagal.
Kalau dengan saya, jelas bung bbrp kali menulis tidak akan bisa berdiskusi
(atau istilah lain) dimana saya interpretasikan sbg: komunikasi.
Aduh apakah bung mau bilang aidit dan PKI dibunuh krn natsir/masyumi? Apakah
perjuangan kelas itu = peristiwa 1965? Saya harap bukan ya. Yg bunuh itu
soeharta dan angkatan darat plus CIA dan inteligen asing lainnya bukan orang
islam atau masyumi. Orang islam diperalat dan dipakai sbg pion iya terutama
orang2 NU.
Apakah bung tahu kenapa Jokowi ngomong: gebuk PKI itu?
Apakah bung mengikuti dgn seksama omongan2nya Jokowi sebelum ngomong gebuk PKI
itu? Sedikit saja ya, Jokowi bilang PKI itu sdh gak ada, komunisme sudah bukan
momok lagi. Dia itu mendiamkan pengadilan rakyat didehaque 2015, bung tahu
tidak?
Setelah itu dia sadar yg anti komunisme itu masih banyak. Dalam lingkar
dalamnya saja seperti ryamizard itu belum apa2 sudah sangat kontra.
Bung juga belum tahu banyak ttg Jokowi, mungkin seperti saya yg kurang mengenal
mba Ning dari segi personal walaupun saya mengikuti sepak terjangnya. Bagi saya
dan ingin saya kemukakan adalah: harus sabar jadi orang itu dari segi apapun
apalagi masalah ideologi.
Nesare
From: [email protected] <[email protected]>
Sent: Monday, November 5, 2018 12:39 PM
To: nesare <[email protected]>; [email protected]
Cc: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Apa itu Liberalisme...
Lho siapa yang bilang saya tidak berkomunikasi dengan Chan? Komunikasi kami
dalam bentuk perdebatan yang sudah berjalan bertahun-tahun. Secara politik dan
ideologi sudah jelas kita bertentangan. Anda lihat dia tidak kanan sekali. itu
hak anda untuk menilai dia begitu. Penilaian saya lain, seperti juga dia
menilai saya sebagai orang yang haus darah!! Kan sama dengan pembunuh, bukan?
Ya, saya sih tidak heran. Buat saya jelas dia sudah mengkhianati semua yang di
anut dulu. Dan saya tidak heran, dia bukan satu-satunya yang berubah
membelakangi rakyat yang tertidnas dan terhisap. Dalam keadaan perang, tidak
mustahil kami ada di dua pihak yang bertentangan. Anda ambil contoh Aidit
minum-minum dsb...dengan orang-orang Masyumi yang bertentangan
ideologinya....ya itu di masa damai ha...ha.. tapi pada saat perjuangan kelas
meruncing, bukan saja Aidit yang dihabisi, jutaan yang harus dihabisin!!
Perjuangan kelas itu sangat kejam!!! Jokowi sendiri mengakuinya, dia akan gebuk
orang komunis/PKI!!!
Soal Ciptaning, anda tidak perlu omong, karena anda tidak tahu seluk beluknya.
Siapa yang bilang Ciptaning tidak mau kasih uang???Ha...ha.. seperti kata Mao,
kalau tidak mengenal keadaan hal ihwal dengan baik, orang itu tidak punya hak
bicara tentang masalah itu!!!
On Monday, November 5, 2018 4:12 PM, nesare <[email protected]> wrote:
Saya sangat mengerti ini. Saya mencoba utk mengerti sekurang2nya.
Bagi saya manusia itu unik adanya. Dasarnya memang dari sononya sudah beda.
Jadi saya selalu berusaha utk berkomunikasi dgn siapapun. Ketika bung
mengatakan tidak bisa berkomunikasi, tidak bisa berdebat, tidak bisa mengerti
jalan bung dll karena ideologinya berbeda, ini saya coba sebisa2nya mengkritik.
Saya tidak bisa lihat ini.
Orang2 kanan agamais saja bisa koq duduk barengan dengan orang2 kiri. Kita
sudah bicara ini dgn contoh2 zaman Orla dimana ceritera ttg Natsir/masyumi dan
perdana menteri lagi sering emosi kalau berdebat dgn Aidit di parlemen, lalu
disuguhin kopi oleh Aidit, mereka ngerumpi. Pak Natsir diboncengin naik sepeda
oleh Aidit. Kiai Isa Ansari sering ngajak Aidit dan Nyoto makan sate setelah
debat, kedua gembong PKI itu sering nginep di rumahnya gembong Masyumi dst.
Kenapa bung tidak bisa berkomunikasi dengan Chan yg jelas2 bukan orang kanan
sekali?
Ataukah bung tidak berani melawan orang2 yg dikanan, sehingga pelampiasannya ke
yg lebih dekat? Ini terjadi loh dalam segala aspek kehidupan.
Masalah keberpihakan rakyat, jalan pikiran bung jelas2 ingin mengatakan bahwa
hanya orang kiri yg membela rakyat.
Kenapa bung tidak mampu melihat bahwa kenyataan membela rakyat ini adalah
masalah manusia nya?
Mbah Ning yg tidak mau membantu duit, bung cap jelek. Sedangkan mungkin bung
tidak tahu kenapa dia tidak mau kasih duit. Begitu juga sbg politisi tentunya
dia belum berhasil menciptakan negara komunis Indonesia. Begitu juga sosok2
bekas orang2 PRD yg kebanyakan orang kiri. Tetapi kenapa bung tidak mampu
melihat usaha dan perjuangan mereka? Kenapa bung hanya terpaku kpd hasil
akhirnya? Sedangkan bung sdh tahu bahwa orang kiri itu melihat proses dan orang
yg diseberang itu maunya hanya melihat hasilnya walaupun tidak halal.
Nesare
From: Tatiana Lukman <[email protected]>
Sent: Monday, November 5, 2018 9:46 AM
To: [email protected]; nesare <[email protected]>
Cc: Yahoogroups <[email protected]>
Subject: Re: [GELORA45] Apa itu Liberalisme...
Tambahan sedikit. Anda membaca tulisan saya dalam perdebatan dengan Chan untuk
mengerti jalan pikiran saya. Saya hargai usaha anda. Saya hanya ingin
mengatakan akan sulit sekali atau hampir tidak mungkin orang akan mengerti
jalan pikiran saya kalau orang itu tidak berusaha bertolak dari pandangan dunia
yang saya anut. Kedua, masalah keberpihakan kepada rakyat. Orang bisa saja
mengatakan berpihak kepada rakyat, tapi sungguh sulit dipercaya keberpihakannya
kepada rakyat kalau pada saat yang sama ia juga mendukung pemerintahan ORBA
tanpa Suharto.
On Monday, November 5, 2018 1:24 PM, "'nesare' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> wrote:
Saya sudah nonton sekilas yg pertama videonya. Sementara saya stop dulu sampai
di 1 video ini.
Apa yg ingin bung sampaikan dgn mengatakan: ada pengertian lain dari liberalism?
Sedangkan tulisan saya yg panjang sebelumnya itu membuka kesalahpengertian bung
dgn arti neo lib vs kapitalisme.
Nesare
From: [email protected] <[email protected]>
Sent: Friday, November 2, 2018 4:03 PM
To: Yahoogroups <[email protected]>; Daeng <[email protected]>;
[email protected]; WIN DJOYO <[email protected]>; Farida Ishaja
<[email protected]>; GELORA_In <[email protected]>; Gol
<[email protected]>; Billy Gunadi <[email protected]>; Harry Singgih
<[email protected]>; Lingkar Sitompul <[email protected]>; Oman
Romana <[email protected]>; Harsono Sutedjo <[email protected]>; Tjoa
<[email protected]>; Nunu Nugroho <[email protected]>; Everistus Kayep
<[email protected]>; Sie Tik Tan <[email protected]>; Mitri
<[email protected]>; Sahala Silalahi <[email protected]>; Andreas
Sungkono <[email protected]>
Subject: [GELORA45] Apa itu Liberalisme..
Saya banyak baca, banyak belajar bukan untuk jadi ahli atau expert... Satu saja
tujuannya, supaya kalau ngomong atau mengeluarkan pendapat, itu berdasakan
pengetahuan yang relatif cukup, jadi bukan asal jeplak!!! Soalnya di milis
ini, saya justru diejek, karena punya kebiasaan membaca dan belajar...Si Chan
itu bahkan mengejek ketika saya mengutip berbagai penulis...keluarlah ejekan
sinis. Orang-orang itu sebenarnya membelejeti dirinya sebagai pendukung Rezim
ORBA tanpa Suharto... Kan jelas rezim ORBA terkenal dengan pembodohannya,
rakyat dibikin bodoh. Nah, sementara orang di milis ini justru senang dengan
pembodohan itu, makanya orang yang mau belajar malah jadi ejekan!!!!
Siapa yang tidak mau dibodohkan, dan ingin tahu apa itu liberalisme, apa
hubungan liberalisme dengan kapitalisme, apa itu neo-liberalisme, sebagai
introduksi, silahkan menyimak video ini. Masih ada pengertian liberalisme yang
agak lain, yang dilihat dari perspektif Marxisme. Nah untuk itu harus baca
karyanya Mao:" Combat LIberalism"!
What Was Liberalism? #1 Ideology & Violence | Philosophy Tube
|
|
|
| | |
|
|
|
|
|
What Was Liberalism? #1 Ideology & Violence | Philosophy Tube
A 4-part series about liberalism. In this episode, how political ideologies
work, the role of violence in politi...
| |
|
|
What Was Liberalism? #2 Capitalism & History | Philosophy Tube
|
|
|
| | |
|
|
|
|
|
What Was Liberalism? #2 Capitalism & History | Philosophy Tube
A 4-part series about liberalism. In this episode, what capitalism is, how
capitalism and liberalism are linked,...
| |
|
|
What Was Liberalism? #3 Neoliberalism | Philosophy Tube
|
|
|
| | |
|
|
|
|
|
What Was Liberalism? #3 Neoliberalism | Philosophy Tube
A 4-part series about liberalism. In this episode, the economic ideology of
Margaret Thatcher and Ronald Reagan,...
| |
|
|
What Was Liberalism? #4 Three Problems with Liberalism | Philosophy Tube
|
|
|
| | |
|
|
|
|
|
What Was Liberalism? #4 Three Problems with Liberalism | Philosophy Tube
A 4-part series about liberalism. In this episode, 3 big problems with
liberalism: it slides to the right; it...
| |
|
|
#yiv2443126191 #yiv2443126191 -- #yiv2443126191ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-mkp #yiv2443126191hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mkp #yiv2443126191ads
{margin-bottom:10px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mkp .yiv2443126191ad
{padding:0 0;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mkp .yiv2443126191ad p
{margin:0;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mkp .yiv2443126191ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-sponsor
#yiv2443126191ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-sponsor #yiv2443126191ygrp-lc #yiv2443126191hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-sponsor #yiv2443126191ygrp-lc .yiv2443126191ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv2443126191 #yiv2443126191actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv2443126191
#yiv2443126191activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv2443126191
#yiv2443126191activity span {font-weight:700;}#yiv2443126191
#yiv2443126191activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv2443126191 #yiv2443126191activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv2443126191 #yiv2443126191activity span
span {color:#ff7900;}#yiv2443126191 #yiv2443126191activity span
.yiv2443126191underline {text-decoration:underline;}#yiv2443126191
.yiv2443126191attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv2443126191 .yiv2443126191attach div a
{text-decoration:none;}#yiv2443126191 .yiv2443126191attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv2443126191 .yiv2443126191attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv2443126191 .yiv2443126191attach label a
{text-decoration:none;}#yiv2443126191 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv2443126191 .yiv2443126191bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv2443126191
.yiv2443126191bold a {text-decoration:none;}#yiv2443126191 dd.yiv2443126191last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2443126191 dd.yiv2443126191last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv2443126191
dd.yiv2443126191last p span.yiv2443126191yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv2443126191 div.yiv2443126191attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv2443126191 div.yiv2443126191attach-table
{width:400px;}#yiv2443126191 div.yiv2443126191file-title a, #yiv2443126191
div.yiv2443126191file-title a:active, #yiv2443126191
div.yiv2443126191file-title a:hover, #yiv2443126191 div.yiv2443126191file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv2443126191 div.yiv2443126191photo-title a,
#yiv2443126191 div.yiv2443126191photo-title a:active, #yiv2443126191
div.yiv2443126191photo-title a:hover, #yiv2443126191
div.yiv2443126191photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv2443126191
div#yiv2443126191ygrp-mlmsg #yiv2443126191ygrp-msg p a
span.yiv2443126191yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv2443126191
.yiv2443126191green {color:#628c2a;}#yiv2443126191 .yiv2443126191MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv2443126191 o {font-size:0;}#yiv2443126191
#yiv2443126191photos div {float:left;width:72px;}#yiv2443126191
#yiv2443126191photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv2443126191
#yiv2443126191photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv2443126191
#yiv2443126191reco-category {font-size:77%;}#yiv2443126191
#yiv2443126191reco-desc {font-size:77%;}#yiv2443126191 .yiv2443126191replbq
{margin:4px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-mlmsg select, #yiv2443126191 input, #yiv2443126191 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-mlmsg pre, #yiv2443126191 code {font:115%
monospace;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-mlmsg #yiv2443126191logo
{padding-bottom:10px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-msg
p#yiv2443126191attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-reco #yiv2443126191reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-sponsor
#yiv2443126191ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-sponsor #yiv2443126191ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-sponsor #yiv2443126191ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv2443126191 #yiv2443126191ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv2443126191
#yiv2443126191ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv2443126191