https://tirto.id/ramai-ramai-menjewer-balik-amien-rais-dalk
Ramai-Ramai Menjewer Balik Amien
Rais
Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais (tengah)
bersiap menjalani pemeriksaan di Direktorat Kriminal Umum Polda Metro
Jaya, Jakarta, Rabu (10/10/2018). ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/18.
<https://tirto.id/ramai-ramai-menjewer-balik-amien-rais-dalk>
Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien
Rais (tengah) bersiap menjalani pemeriksaan di Direktorat
Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (10/10/2018).
ANTARA FOTO/Reno Esnir/foc/18.
Oleh: Felix Nathaniel - 22 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Hendardi menganggap cara berpikir Amien Rais di masa senjanya, kacau.
Amien dianggap berupaya memecah belah umat Islam./
tirto.id <https://tirto.id/> - Anggota Dewan Pembina Badan Pemenangan
Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga, Amien Rais dikritik ramai-ramai. Ini
terjadi usai ia mengancam menjewer Ketua Umum Pengurus Pusat
Muhammadiyah Haedar Nashir jika tak mendukung salah satu kandidat dalam
Pilpres 2019.
Sejak era reformasi, hanya sekali PP Muhammadiyah terlibat dalam politik
praktis. Setelahnya hingga kini, PP Muhammadiyah membebaskan pengikutnya
memilih kandidat Pilpres 2019 yang manapun.
Sebagian besar partai pendukung Jokowi-Ma’ruf merasa pernyataan Amien
Rais tak pantas. Sekretaris Jenderal PPP Arsul Sani misalnya, menganggap
pernyataan Amien Rais blunder di tengah masa kampanye pilpres.
“Ikhtiar untuk menarik-narik Muhammadiyah sebagai organisasi ke wilayah
dukungan kepada pasangan pilpres atau partai tertentu, menurut hemat
PPP, malah mencederai tradisi /high politics/ baik yang sudah
terbangun,” kata Arsul kepada reporter /Tirto,/ Rabu (21/11/2018).
Baca juga:
* Rekam Jejak Amien Rais Terjunkan PP Muhammadiyah ke Politik Praktis
<https://tirto.id/rekam-jejak-amien-rais-terjunkan-pp-muhammadiyah-ke-politik-praktis-dakk>
/High politics/ yang dimaksud Arsul adalah politik kebangsaan.
Muhammadiyah sebagai organisasi Islam, menurutnya sudah tepat memilih
sikap tak masuk ke politik praktis.
“Saya yakin siapa pun yang mencoba menarik-narik Muhammadiyah sebagai
organisasi untuk dukung salah satu paslon di pilpres, justru akan
kontraproduktif dengan paslon tersebut,” tuturnya.
Pernyataan Amien Rais juga berbeda dengan pernyataan dukungan Pengurus
Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) terhadap Jokowi. Menurut Arsul, NU
mendukung atas kesadaran sendiri karena cawapres Ma’ruf Amien merupakan
Rais Aam PBNU.
“Jadi tidak perlu meniru,” kata Arsul.
Ketua Umum PBNU Said Aqil Siroj memang sudah menetapkan sikap ormasnya
sebelum kampanye Pilpres 2019 dilaksanakan. Namun ia tetap mengklaim tak
ada kader NU yang dipaksa mendukung Jokowi-Ma’ruf.
“Tidak usah digerakkan, enggak usah dibayar, warga NU akan dukung,” kata
Said Aqil di kantor PBNU, Jakarta, Selasa 14 Agustus lalu.
Sekretaris Jenderal PSI Raja Juli Antoni lebih lantang lagi. Dia
menuding ucapan pernyataan Amien Rais sebagai blunder yang menunjukkan
kepanikan kubu Prabowo-Sandiaga.
“Melihat Prabowo-Sandi yang diusungnya tak kunjung naik elektabilitas
mereka,” tegas Toni kepada reporter /Tirto./
Sama seperti Arsul, Toni menduga pernyataan Amien Rais bisa membuat PP
Muhammadiyah dan pengikutnya hilang kepercayaan terhadap Amien.
Infografik CI Muhammadiyah di pilpres
Sedangkan Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf, Abdul
Kadir Karding menilai Amien Rais memandang rendah Haedar. Menurutnya
pernyataan bekas Ketua Umum PAN itu seakan menunjukkan Haedar adalah
anak buahnya, padahal posisi Haedar seharusnya dihormati sebagai Ketua
Umum PP Muhammadiyah.
“Saya melihat kenegarawanan Pak Amien mulai dipertanyakan,” kata
politikus PKB itu kepada reporter /Tirto./
Politik Pecah Belah ala Amien Rais?
Bukan hanya dari kubu Jokowi-Ma’ruf, Dewan Pimpinan Pusat Ikatan
Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) merasa pernyataan Amien Rais
bertentangan dengan semangat khitah yang pernah digagas dalam Muktamar
Muhammadiyah 1971.
Khitah itu menegaskan Muhammadiyah adalah organisasi gerakan dakwah yang
tak terikat dengan partai politik manapun dan harus berjarak (PDF
<https://caridokumen.com/download/khittah-perjuangan-muhammadiyah-_5a44a32bb7d7bc7b7a7666af_pdf>).
“Sepemahaman kami, di dalam khitah Muhammadiyah, tidak ada anjuran
Muhammadiyah harus melakukan penyeragaman pilihan politik dalam
perhelatan pilpres,” kata Najih melalui keterangan tertulisnya.
Pernyataan dari Toni, Karding, maupun Arsul seakan senada dengan Najih.
Dia tegas menolak untuk mendukung salah satu kandidat dalam Pilpres
2019. Menurutnya politik praktis akan kontraproduktif bagi Muhammadiyah.
“DPP IMM mendukung siap ayahanda ketua umum PP Muhammadiyah yang menjaga
netralitas Muhammadiyah dan tetap berada di tengah /ummatan wasathan/
yaitu dengan tidak memberi dukungan kepada salah satu capres,” jelasnya.
Baca juga:
* Sebut akan Jewer Haedar Nashir, Amien Rais Dinilai Otoriter
<https://tirto.id/sebut-akan-jewer-haedar-nashir-amien-rais-dinilai-otoriter-dakj>
Sedangkan Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Hendardi menyampaikan
apa yang diucapkan Amien Rais sama sekali tak tepat dan bisa menyebabkan
terpecahnya umat Islam. Dia berharap sebagai Ormas Islam, PBNU dan
Muhammadiyah sebaiknya memang tak masuk ke dalam politik praktis.
Kendati PBNU memutuskan ikut mendukung salah satu paslon, itu merupakan
kehendak PBNU tanpa ada arahan dari Jokowi ataupun Ma’ruf di ruang
publik. PBNU sendiri tidak memaksa pengikutnya untuk mendukung
Jokowi-Ma’ruf.
“Ini kekacauan cara berpikir Amien Rais di masa senjanya ini,” kata
Hendardi kepada reporter /Tirto./ “Dia memaksa bentrok di antara umat
dan memaksa untuk berhadap-hadapan dengan NU, saya kira,” imbuhnya.
Hendardi menilai kebijakan organisasi Islam seharusnya tidak /top down/
melainkan dari aspirasi warganya kepada pimpinan. Amien Rais sebagai
penasihat Muhammadiyah menurutnya tidak etis memaksakan kehendak kepada
pengurus harian PP Muhammadiyah.
“Pengendali organisasi, kan, bukan dia. Sepatutnya dia bersikap bijak
dengan menjaga ucapan-ucapannya yang sangat bernuansa politik yang lebih
memperlihatkan dia bukan sebagai pemimpin agama tapi tokoh politik. Dan
itu efeknya bakal besar di Muhammadiyah sendiri,” terangnya.
Ketua MUI Bidang Informasi dan Komunikasi Masduki Baidowi juga tidak
setuju bila organisasi macam PBNU, Muhammadiyah, dan MUI ikut dalam
politik praktis. Sejauh ini, pernyataan Said Aqil dianggap Baidowi hanya
pernyataan pribadi.
Dia tidak mempermasalahkan apabila Haedar mau mendukung Amien, tapi
organisasi Muhammadiyah diharapkan tetap tak menyatakan sikap dan urusan
pilihan politik diserahkan pada pribadi masing-masing.
“Saya kira itu hak Pak Amien Rais karena itu subjektif kepentingan
politik praktis dia sebagai politisi, tapi kalau objektif Muhammadiyah
sama dengan objektif NU dan MUI juga itu. Tidak boleh ada masuk pada
politik praktis,” jelas Baidowi kepada reporter /Tirto./
“Saya harap Muhammadiyah tetap netral,” imbuhnya.
Usaha Amien Saingi Jokowi-Ma'ruf?
Peneliti dari Center for Strategic dan International Studies Arya
Fernandes menganggap, usaha Amien akan sia-sia, lantaran Muhammadiyah
selama ini tegas berada di posisi netral.
Menurutnya posisi Amien Rais tak kuat menggiring Muhammadiyah mendukung
Prabowo-Sandiaga. “Dugaan saya tetap Muhammadiyah akan tetap berada di
tengah,” ujar Arya kepada reporter /Tirto./
Sedangkan Direktur Eksekutif Indonesia Political Review Ujang Komarudin
menilai Amien Rais berusaha menyaingi massa NU yang berada di kubu
Jokowi-Ma’ruf.
“Sesungguhnya Amien Rais memang wajar mengatakan itu karena dia tim
Prabowo-Sandi, tapi secara kelembagaan Muhammadiyah lebih baik netral,”
kata Ujang kepada reporter /Tirto/.
Salah satu Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandiaga,
Faldo Maldini beranggapan Amien Rais sedang mendorong kelompok Islam
menonjolkan sikap politik praktisnya.
“Jangan disalahartikan pernyataan Pak Amien yang agak keras itu karena
tidak menyatakan dukungan kepada Prabowo-Sandi," kata Faldo kepada
reporter /Tirto,/ kemarin.
Faldo menganggap kata "jewer" bisa dikatakan sebagai rasa sayang orang
tua kepada anaknya. Sebab Amien merupakan salah satu sesepuh yang
dihormati warga Muhammadiyah.
"Beliau dihargai sekali. Kalau ada yang perlu didiskusikan oleh orang
tua kepada yang lebih muda, ya biasa saja ngomong kayak begitu. Kalau
kita yang muda-muda mau jewer Pak Amien kan tidak pantas, tentu kita
cari istilah lainnya," tuturnya.
Sedangkan Juru Bicara BPN Rizal Darmaputra mengatakan, suara
Muhammadiyah sangat penting bagi kubunya. Dia menduga bisa menaikkan
elektabilitas kandidat Pilpres 2019 nomor urut 02.
"Tentu bisa menaikkan elektabilitas suara pak Prabowo-Sandi. Dan pasti
bisa berpengaruh. Dan juga, langkah ini tentu menjadi langkah kedua kubu
yang sedang berusaha merangkul organisasi-organisasi Muhammadiyah kan,
terutama yang di Pulau Jawa," katanya saat ditemui reporter /Tirto/ di
daerah Tanah Abang, Jakarta, kemarin.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Felix Nathaniel
<https://tirto.id/author/felix?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Felix Nathaniel
Penulis: Felix Nathaniel
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Hendardi menganggap cara berpikir Amien Rais di masa senjanya, kacau.