*Tidak apa-apa kalau jumlah Jamaah Haji NKRI melemahkan Rupiah, sebab yang
terpenting ialah untuk kehidupan hari depan di Taman Firdaus. Bukankah
sangat bagus jika banyak warga NKRI mausk surga,  karena telah melakukan
acara illahi*


https://bisnis.tempo.co/read/1124889/anwar-nasution-sebut-jumlah-jamaah-haji-ri-turut-lemahkan-rupiah
Anwar Nasution Sebut Jumlah Jamaah Haji RI Turut Lemahkan Rupiah

Reporter:
Kartika Anggraeni

Editor:
Rr. Ariyani Yakti Widyastuti

Minggu, 9 September 2018 07:30 WIB

0 komentar
<https://bisnis.tempo.co/read/1124889/anwar-nasution-sebut-jumlah-jamaah-haji-ri-turut-lemahkan-rupiah/full&view=ok#comments>

38.5K1038.5K

   -

   [image: Anwar Nasution. TEMPO/Imam Sukamto]
   <https://statik.tempo.co/data/2018/09/08/id_732331/732331_720.jpg>
   <https://statik.tempo.co/data/2018/09/08/id_732331/732331_720.jpg>

Anwar Nasution. TEMPO/Imam Sukamto

*TEMPO.CO <http://TEMPO.CO>*, *Jakarta* - Mantan Deputi Senior Bank
Indonesia Anwar Nasution
<https://bisnis.tempo.co/read/1124784/rupiah-melemah-anwar-nasution-sarankan-devisa-ekspor-ditahan>
mengatakan salah satu yang menyebabkan nilai tukar rupiah melemah yaitu
keputusan pemerintah yang memberangkatkan jamaah haji dan umrah dalam
jumlah yang cukup besar. Hal itu dinilai dapat menguras devisa negara.

*Baca:* Anwar Nasution: Pemerintah Bohong Sebut Fundamental Ekonomi Kuat
<https://bisnis.tempo.co/read/1124829/anwar-nasution-pemerintah-bohong-sebut-fundamental-ekonomi-kuat>

Namun hal itu tidak dimanfaatkan untuk memperkuat ekonomi Indonesia di
Mekah dan Madinah. "Indonesia mengirim jamaah umrah dan haji terbesar.
Habis devisa untuk itu," kata Anwar Nasution, dalam diskusi bertajuk
"Bisakah Bersatu Menghadapi Krisis Rupiah?" di Gado-gado Boplo Menteng,
Jakarta Selatan, Sabtu, 8 September 2018.

Anwar Nasution menjelaskan, yang dimaksud dengan banyaknya jumlah jamaah
haji dan umrah malah menggerus devisa adalah karena pada akhirnya uang yang
dikeluarkan oleh para jamaah hanya akan mengalir ke luar negeri. "Emang ada
restoran padang di Mekah, misalnya? Enggak ada, kan? Paling warung-warung
kecil. Ini yang salah, tidak dimanfaatkan dengan baik," kata dia.

Sebelumnya, Anwar juga mengatakan menurunnya nilai tukar rupiah terhadap
dolar juga dikarenakan fundamental ekonomi di Indonesia masih sangat lemah.
Menurut dia, fundamental ekonomi Indonesia dianggap belum mampu menahan
gejolak dari luar. "Bohong pemerintah itu mengatakan kalau fundamental
ekonomi Indonesia kuat. Omong kosong," kata dia.

Buktinya, kata Anwar Nasution yang juga mantan ketua Badan Pemeriksa
Keuangan ini, rasio penerimaan pajak terhadap produk domestik bruto (PDB)
masih rendah yang berada di angka 10 persen. Jika dibandingkan dengan
negara berkembang lainnya yang berada di angka 20 persen, rasio penerimaan
pajak Indonesia hanya setengahnya.  "Padahal kita udah 73 tahun merdeka.
Ngapain merdeka kalo ngutang melulu, pinjam melulu," ujar dia.

Lebih jauh, Anwar menilai ekonomi Indonesia saat ini sangat rawan terhadap
gejolak dari luar negeri yang menyebabkan jika bunga meningkat maka biaya
pembayaran utang di Indonesia juga meningkat. Selain itu, jika kurs
meningkat juga mengakibatkan naiknya harga suatu komoditas. "Tempe, itu
harganya naik karena impor kedelainya," tutur dia.

*Baca:* Anwar Nasution Minta Pemerintah Segera Bertindak Stabilkan Rupiah
<https://bisnis.tempo.co/read/1124853/anwar-nasution-minta-pemerintah-segera-bertindak-stabilkan-rupiah>

Anwar Nasution <https://www.tempo.co/tag/anwar-nasution> juga mengatakan
lembaga keuangan dalam yang ada di Indonesia juga dinilai masih sangat
lemah. Lembaga keuangan yang dimaksud yaitu bank pemerintah seperti empat
bank negara (BUMN). "Maksudnya 4 bank negara ini enggak bisa lawan
bank-bank seperti CIMB, Maybank dan juga Development Bank of Singapore."

Kirim email ke