Detik-detik perpisahan dengan tante Francisca C. Fanggidaej – 13 November 2013

22 November 2013 pukul 01.22



Siang ini Fransisca C. Fanggidaej, seorang pejuang perempuan revolusioner, 
telah dikremasi. Ku ingin berbagi pengalamanku mendampinginya pada saat 
terakhir:

 

 

Amsterdam, 13 November 2013

Pagi ini kuterima email dari Sasya, salah satu putri tante Sisca, yang 
mengabarkan bahwa kondisi mamanya memburuk karena terjadi pendarahan otak. 
Selain itu, sudah beberapa hari tante Sisca tidak mau makan. Dokter telah 
menghentikan semua pengobatan dan hanya memberikan morphine untuk menghilangkan 
rasa sakit. Aku terkejut dan prihatin mendengar berita ini. Tak kuduga 
penurunan yang cepat atas kesehatan tante Sisca. Saat itu juga kuputuskan 
berangkat ke Utrecht untuk menjenguknya.
 

Selama duduk sendiri di atas kereta api Amsterdam-Utrecht, hatiku bergetar, 
perasaan campur-aduk. Sulit dilukiskan. Aku terkenang beberapa kali percakapan 
dengan tante Sisca, ditemani oleh suamiku. Kami ingin merekam kisah hidupnya 
yang penuh perjuangan dan idealisme, namun berbuahkan banyak kepahitan. Tante 
Sisca adalah seorang perempuan yang tangguh dan banyak jasanya untuk bangsa 
Indonesia. Ia salah seorang pejuang dalam revolusi kemerdekaan Indonesia, 
penerjemah dan jurnalis. Ia aktif di Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia), yang 
kemudian berubah menjadi Pemuda Rakyat dimana ia menjadi ketuanya pada tahun 
1950-an. Namun, namanya dihapus dari sejarah dan termasuk orang yang terhalang 
pulang setelah meletus peristiwa G-30-S. Pada saat itu, ia sedang berada dalam 
perjalanan ke Chile untuk menghadiri Kongres Organisasi Jurnalis Sedunia. 
Selama 20 tahun, ia hidup di pengasingan di Cina dan kemudian di Belanda sejak 
1985. Ia baru bisa mengunjungi kembali Indonesia pada tahun 2003. Sungguh 
sangat getir baginya. Ia turut berjuang bagi kemerdekaan Indonesia, tetapi baru 
bisa mengunjungi tanah air dan keluarganya sebagai seorang warganegara Belanda 
dan setelah hampir 40 tahun tinggal di luar negeri.

 

Aku juga teringat percakapan terakhir dengan tante Sisca sekitar sebulan yang 
lalu. Saat itu, tante Sisca sudah sangat lemah dan tak dapat berjalan lagi. Ia 
baru saja dipindah ke sebuah revalidatie centrum setelah jatuh di rumahnya dan 
harus dirawat di rumah sakit. Ia sudah berusia 88 tahun; bukan usia yang 
pendek. Agak murung wajahnya hari itu tetapi begitu dilihatnya suamiku dan 
kakaknya, ia menjadi ceria. Ia lupa padaku yang hanya beberapa kali berjumpa 
dengannya tetapi dengan suamiku dan kakaknya, ia langsung ingat. Maklum, mereka 
telah dikenalnya semenjak masih sangat kecil; semua kebandelan mereka ia 
ketahui. Tante Sisca adalah teman baik papi-mami mertua semenjak mereka masih 
muda, ketika bersama-sama berjuang demi kemerdekaan Indonesia. Anak sulung 
tante Sisca berada dalam satu kelompok kepanduan dengan kakak sulung suamiku. 
Mereka bertemu kembali dan tinggal bersama-sama di Cina selama belasan tahun.

 

Dalam kunjungan terakhir itu, tante Sisca menyebut berulang kali keinginannya 
untuk pulang. “Bukannya Belanda ini jelek ya, tetapi bagaimana pun tanah air 
kita adalah Indonesia. Sebaiknya kita semua pulang ke sana.” Selain itu, “Tante 
ini butuh kasih sayang anak-anak.” Ia jadi emosional saat itu. Kami sangat 
memahami perasaannya tetapi sekaligus mengetahui bahwa tak mungkin memenuhi 
keinginan terakhir itu karena kondisi kesehatannya yang sangat lemah. Kami 
mencoba menghibur hatinya. Ketika tiba waktu berpamitan, ia tampak sedih 
sekali. Semua kenangan ini berputar-putar dalam ingatanku selama dalam 
perjalanan menuju Utrecht. Ku memohon dalam hati agar aku masih bisa menjumpai 
tante Sisca sebelum ia benar-benar pergi.

 

Sesampai di rumah perawatan, perawat yang sedang dinas memperingatkanku agar 
tidak kaget bila melihat kondisi tante Sisca. Menurut pengalamannya, waktu 
tante Sisca tak lama lagi tapi tak seorang pun bisa memastikan kapan persisnya 
ia akan pergi. Kukatakan pada sang perawat bahwa aku ingin mendampingi tante 
Sisca hingga beberapa jam ke depan agar ia tak sendirian pada saat-saat 
terakhirnya. Selain itu, aku ingin mengirimkan berita tentang kondisi tante 
Sisca pada anak-anaknya agar mereka dapat mengikuti perkembangan kondisi mama 
mereka. Sang perawat mengizinkan. Diantarkannya aku ke kamar tante Sisca. 
Disediakannya aku sebuah bangku dan secangkir teh panas.

 

Benar saja, sesampai di samping ranjang, kulihat tante Sisca tergolek lemah tak 
sadarkan diri. Dadanya naik turun, nafas keluar satu per satu. Matanya setengah 
terbuka. Kugenggam tangannya dan kubisikkan, “Tante, saya Evi, istrinya Jono. 
Saya datang untuk menemani tante di sini. Jangan kuatir, Tante tidak 
sendirian.” Entah ia masih bisa memahamiku atau tidak, tetapi beberapa orang 
pernah mengatakan bahwa mereka yang tak sadarkan diri sebenarnya masih bisa 
meresponse suara. Kuputuskan untuk banyak bicara pada tante Sisca. Sesekali 
kulihat bola matanya bergerak tapi tak pernah ia benar-benar sadar. Beberapa 
kali nafasnya terhenti selama beberapa detik dan kemudian muncul lagi satu per 
satu.

 

Kemudian terbayang di kepalaku wajah anak-anaknya yang saat itu berada di 
Indonesia dan kerinduan tante Sisca terhadap mereka. Terkenang juga cerita 
bahwa tante Sisca tak pernah menduga bahwa ia akan terpisah begitu lama dengan 
suami dan ketujuh buah hatinya ketika peristiwa G-30-S meletus. Si bungsu, kak 
Maya, baru berusia sekitar 2 tahun. Ah… betapa berat penderitaannya sebagai ibu 
yang terputus komunikasi sama sekali dengan keluarga; tak pernah tahu pasti 
apakah anak-anak dan suaminya selamat. Kuelus wajah tante Sisca sambil berkata, 
“Tante, saya juga menyampaikan salam sayang dan doa dari semua anak dan menantu 
Tante di Indonesia.” Kusebutkan nama mereka satu per satu. “Mereka semua begitu 
mencintai Tante dan berharap yang terbaik untuk Tante. Semoga Tante tenang dan 
bahagia melihat mereka semua telah berhasil jadi orang dan punya kehidupan yang 
baik. Tante punya cucu dan cicit yang berprestasi. Tante pasti bangga terhadap 
mereka.”

 

“Tante telah menjalani hidup yang kaya warna dan pengalaman. Betapa besar 
sumbangan tante untuk bangsa Indonesia. Kami, generasi muda Indonesia, sudah 
sepantasnya berterima kasih atas semua jasa Tante. Tante adalah seorang 
pahlawan, terlepas diakui oleh pemerintah RI atau tidak.” Sepanjang mengucapkan 
kata-kata ini, kuingat cerita bahwa segera setelah proklamasi, tante Sisca 
diutus oleh pemerintah Indonesia yang saat itu tidak memiliki banyak hubungan 
dengan dunia luar akibat blokade Belanda untuk memberitakan kemerdekaan 
Indonesia ke Inggris. Pada zaman itu, ia adalah salah satu dari sedikit orang 
yang mengenyam pendidikan tinggi, piawai berbahasa Inggris dan Belanda, dan 
mendukung penuh pemerintah Indonesia. Setelah itu, ia kerap mewakili Indonesia 
dalam konferensi internasional di berbagai negara, antara lain Cekoslowakia dan 
India.

 

Kembali pandanganku tertumbuk pada wajah kurus tante Sisca di pembaringan. 
Matanya masih setengah terbuka.“Tante,” kataku, “Tak semua perjuangan tante 
menghasilkan buah manis. Beberapa di antaranya sangat pahit. Semoga tante 
ikhlas dan rela atas semua yang telah terjadi. Tak banyak orang mengalami 
pengalaman ini. Tante telah menjalani sebuah hidup yang sangat unik dan luar 
biasa.” Terlintas dalam ingatan cerita tante Sisca sedang hamil tua anak 
pertama melarikan diri ke sebuah hutan demi menghindari kejaran peluru tentara. 
Saat itu meletus peristiwa Madiun tahun 1948 dimana ribuan orang-orang Komunis 
ditangkap dan dibunuh. Suami pertamanya, Soekarno, seorang pemimpin Pesindo, 
terbunuh. Tante Sisca sendiri dikejar-kejar karena dianggap mengetahui rencana 
pemberontakan PKI; tentu saja sebutan “pemberontakan PKI” adalah versi 
pemerintah Indonesia. “Coba bayangkan, waktu itu Tante berlindung sekenanya di 
balik pepohonan. Pohonnya kecil sedangkan perut tante besar. Untung saja waktu 
itu tidak terkena peluru nyasar,” katanya mengenang peristiwa tegang itu sambil 
tertawa. Baru kuketahui kemudian dari kak Maya bahwa mamanya mengalami 
pendarahan akibat peristiwa pengejaran itu. Untunglah sang bayi, yaitu kak Nila 
(alm.), dapat lahir dengan selamat.

 

Setelah peristiwa Madiun, tante Sisca tidak surut dari dunia politik. Ia meniti 
karier sebagai wartawan harian Merdeka, sekaligus mendirikan INPS (Indonesian 
National Pers Service), satu-satunya harian Indonesia dalam bahasa Inggris pada 
waktu itu. Ia menikah kedua kalinya dengan Supriyo, seorang jurnalis kantor 
berita ANTARA, dengan siapa ia memiliki 6 anak. Pada tahun 1957, ia terpilih 
sebagai anggota DPR mewakili kelompok jurnalis dan kemudian menjadi anggota 
MPRS.

 

Ia adalah salah seorang anggota delegasi Indonesia dalam Konferensi Solidaritas 
Rakyat Asia, Afrika dan Amerika Latin (Organization of Solidarity with People 
of Asia, Africa, Latin America-OSPAAAL) di Havana, Cuba, Januari 1966. Saat 
itu, pengejaran, penangkapan dan pembunuhan anggota-anggota PKI dan mereka yang 
dituduh PKI telah dimulai di Indonesia. Pemerintah Indonesia di bawah pengaruh 
Soeharto juga mengirimkan delegasinya. Jadi, ada dua delegasi Indonesia dalam 
konferensi yang sama. Suasana menjadi tegang. Tetapi, panitia OSPAAAL 
menetapkan bahwa delegasi dimana tante Sisca berada adalah delegasi Indonesia 
yang resmi. Fidel Castro sendiri datang menjumpai mereka di kamar hotel untuk 
menyampaikan solidaritasnya terhadap para korban. “Berapa orang pernah jumpa 
dengan Fidel Castro, Tante?”, tanyaku mencoba bercanda. Sebenarnya, kupinjam 
kalimat ini dari suamiku, yang biasanya ampuh untuk membangkitkan kembali 
semangat tante Sisca, sekaligus sebagai penghargaan atas semua perjuangannya.

 

Demikianlah... aku mencoba menenangkan, membesarkan hati tante Sisca sebisaku; 
sebenarnya lebih mirip melakukan sebuah monolog daripada dialog. Melalui 
monolog ini, aku bercermin melalui hidup tante Sisca sebagai seorang perempuan 
yang mempertaruhkan segalanya demi idealisme yang diyakininya. Aku sangat 
mengagumi pengorbanan dan keteguhannya. Di masa tuanya, ia tak pernah menyesali 
pilihannya. Sejauh pengenalanku & suami, ia meneladankan sebuah sikap idealis 
dan optimis.

 

Tak lama kemudian sobat Yuni Harnani dan orangtuanya datang. Dibandingkan saat 
terakhir mereka menjenguk 3 hari sebelumnya, kondisi tante Sisca sungguh 
menurun tajam. Sambil menahan tangis, Yuni juga berusaha menenangkan. “Rustig 
aan, Tante…”, bisiknya berkali-kali. Yuni memang memiliki hubungan dekat dengan 
tante Sisca yang dipanggilnya Budhe Santi.. Seperti halnya suamiku, Yuni telah 
dikenal tante Sisca semenjak ia dikandung ibunya ketika mereka sama-sama 
tinggal di sebuah desa di Cina Selatan sebagai orang terhalang pulang.  Mereka 
menemani selama 30 menit dan juga menanyakan kondisi kesehatan tante Sisca pada 
perawat. Sebelum pergi, Yuni meluangkan waktu selama beberapa menit hanya 
berduaan dengan tante Sisca.. Aku dan papa-mamanya berbincang di depan kamar. 
Setelah itu, mereka berpamitan.

 

Aku kembali ke ruangan; sebuah kamar yang rapi seluas 3 x 5 meter dengan 
jendela kaca yang lebar. Dengan sebuah tirai kain, kamar itu dibagi untuk dua 
orang. Tetangga tante Sisca adalah seorang nyonya Belanda berusia sekitar 70-an 
tahun. Ia sedang berbaring di tempat tidurnya ketika Yuni dan orangtuanya 
datang. Tak lama kemudian seorang kakek tua datang mengunjungi sang nyonya 
tetangga. Mereka bercakap dan bergurau dengan suara keras. Kutatap wajah tante 
Sisca di pembaringan. Kini kedua matanya terbuka lebar. “Oh… tante masih bisa 
meresponse suara keras. Tanda masih ada harapan,” batinku. Kemudian mereka 
berdua keluar kamar dan melewati pembaringan tante Sisca. Sang kakek 
menyempatkan diri mampir. Ia memperkenalkan diri padaku. “Saya sudah berusia 80 
tahun. Lima tahun lalu saya jatuh dan kemudian harus dirawat di sini sampai 
sekarang. Saya biasanya membawakan majalah buat teman-teman saya, termasuk 
untuk Mevrouw di sebelah dan Mevrouw Supriyo.” “Sayang, sekarang dia tidak bisa 
membaca lagi,” sahutku. “Ah… belum tentu,” lanjut si kakek. “Coba lihat 
matanya. Dia masih bisa melirik saya lho.” “Ah… lucu juga kakek ini bercanda,” 
batinku sambil tersenyum. Begini rupanya caranya mereka saling menghibur dan 
menguatkan satu sama lain. “Sterkte…”, kata si kakek. Ia mengusap hidung tante 
Sisca dan kemudian berlalu meninggalkan ruangan.

 

Tinggal kami berdua. Kulanjutkan monolog-ku. Aku kemudian teringat akan 
kerinduan tante Sisca untuk pulang ke tanah air yang tak bisa lagi terpenuhi. 
“Tante, selama ini tante telah berjuang mempertaruhkan semua yang tante miliki 
untuk Indonesia. Sangat bisa dimengerti kalau Tante begitu rindu akan 
Indonesia. Saya mungkin tak bisa menyelami sepenuhnya perasaan rindu yang Tante 
rasakan. Tapi, saya pribadi lebih percaya pada tulisan Pram (Pramoedya Ananta 
Toer – maksudku) bahwa bumi ini adalah bumi manusia; bumi yang diciptakan 
supaya semua manusia dapat hidup dan berdiri setara di mana pun mereka berada. 
Pram bilang bahwa kita harus memperjuangkan humanisme dalam arti 
seluas-luasnya; bukan humanisme yang sempit, supaya kita tidak 
mengkotak-kotakkan diri menurut ras, suku bangsa atau pun agama. Saya percaya 
Tante juga memperjuangkan hal yang sama. Karenanya, Tante, di belahan mana pun 
kita berada, kita berpijak di atas bumi untuk semua orang. Bila tiba waktu 
tante untuk berpulang, semoga tante rela dan ikhlas walaupun tak bisa berpulang 
di Indonesia…” Akhirnya, kuberanikan diri mengatakan hal ini walaupun 
sebenarnya aku merasa bimbang. Bukannya aku mengharapkan hidup tante Sisca 
segera berakhir, namun aku juga tidak tega melihat penderitaan yang terlalu 
lama. 

 

Semenit-dua berlalu dalam sepi… Tiba-tiba kulihat airmata menggenang di pelupuk 
mata kiri Tante Sisca. Seperti hampir menetes airmata itu, tetapi kemudian tak 
jadi. Kemudian ia menarik napas, lalu berhenti. Kuduga dalam waktu beberapa 
detik, ia akan bernapas lagi seperti sebelumnya; hanya berhenti sementara. 
Kutunggu dan kutunggu… tapi napasnya tak kunjung tiba. Kuraba nadi dan dadanya, 
tak lagi ada denyut dan gerakan. Aku lari memanggil perawat, kulaporkan bahwa 
Mevrouw Supriyo berhenti bernafas, tapi sebagai seorang yang bukan professional 
di dunia kesehatan, bisa jadi aku salah. Sang perawat segera datang menengok. 
Diperiksanya denyut nadi dan ia berkata, “Ya, Anda benar. Mevrouw Supriyo telah 
pergi. Saya akan memanggil dokter untuk memastikan sekali lagi.”

 
Perasaanku campur aduk. Ada rasa sedih dan kehilangan yang mendalam. Di 
Utrecht, 13 November 2013, pukul 14.35, sebuah perjalanan hidup yang luar biasa 
telah diakhiri. Namun, riwayatnya belum dan tak boleh ditutup. Aku berterima 
kasih karena Hersri Setiawan telah menuliskan Memoar Perempuan Revolusioner: 
Fransisca C. Fanggidaej (2006, Yogyakarta: Galangpress). Aku juga bersyukur 
mendapat kesempatan mendengar langsung beberapa penggalan kisah hidup tante 
Sisca sebagai seorang pejuang perempuan, jurnalis dan ibu.. Sungguh suatu 
kehormatan dapat mendampinginya pada saat-saat terakhir dimana aku boleh 
belajar makna kehidupan dan kemanusiaan darinya. Selamat jalan, Tante Sisca… 
Terima kasih telah menjalani hidup yang bermakna dan memberi inspirasi bagi 
banyak orang.
Evi Sutrisno.
 

 

Delegasi Indonesia dalam Konferensi OSPAAAL (dari kiri ke kanan: Umar Said, tak 
dikenal, Sisca Fanggidaej, Willy Harianja)

 

Willy Harianja & Ibrahim Isa yg juga termasuk dalam delegasi yg sama.

Tante Sisca & Fidel Castro

Tante Sisca diapit dua "anak badung", 6 Okt 2013

Genggaman tangan yang tetap hangat

Upacara perpisahan menjelang kremasi

Didampingi anak2 yg terakhir kalinya

Kenangan untuk mama

Lagu persembahan anak-anak

Dihantar oleh sanak keluarga & kawan-kawan yg mengagumi perjuangannya

Kirim email ke