http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1550-politisasi-korupsi
*Politisasi Korupsi*
Penulis: *Media Indonesia* Pada: Selasa, 04 Des 2018, 05:05 WIB
Editorial MI <http://mediaindonesia.com/editorials>
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1550-politisasi-korupsi>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1550-politisasi-korupsi>
KORUPSI memang bertampang seram menakutkan, tetapi buat sebagian orang
ia terlihat molek sebagai bahan jualan. Korupsi yang menjadi musuh nomor
satu bagi seluruh anak negeri bahkan menjadi komoditas untuk
mempromosikan diri di luar negeri.
Adalah Prabowo Subianto yang mengangkat persoalan korupsi di Republik
ini di forum internasional. Saat menjadi pembicara utama di forum The
World in 2019 Gala Dinner yang dihelat majalah The Economist di
Singapura, Selasa (27/12), calon presiden nomor urut 02 itu mengumbar
pernyataan perihal betapa dahsyatnya korupsi merusak Indonesia.
Menurut Prabowo, isu utama di Indonesia sekarang ialah maraknya korupsi
yang sudah seperti kanker stadium empat. Dia utarakan pula bahwa yang
dibutuhkan Indonesia ialah membentuk tim anak bangsa terbaik dengan
integritas tinggi untuk melakukan reformasi dan membentuk pemerintahan
yang bersih dan antikorupsi.
The Economist ialah majalah bergengsi dan paling dipercaya para pemimpin
dan pengambil keputusan dunia. Acara yang mereka gelar di Singapura
pekan lalu itu pun dihadiri para pebisnis dan pemegang kebijakan papan atas.
Artinya, apa pun yang dilontarkan pembicara akan menjadi kajian dan
rujukan mereka untuk membuat kebijakan. Artinya pula, pernyataan Prabowo
bahwa Indonesia sedang sakit parah akibat korupsi berpotensi menjadi
bahan evaluasi mereka terhadap Indonesia.
Dari sisi materi, narasi yang disampaikan Prabowo bisa jadi benar
adanya. Memang, mustahil disangkal bahwa korupsi telah sedemikian ganas
menggerogoti pilar-pilar bangsa. Tiada lagi sendi kehidupan di negeri
ini yang masih steril dari korupsi. Tak ada satu pun organ negara yang
masih imun dari korupsi. Semua, baik itu eksekutif, legislatif, maupun
yudikatif, telah tercemar oleh virus mematikan bernama korupsi.
Indeks korupsi Indonesia tak juga menunjukkan perbaikan signifikan.
Menurut hasil survei Transparency International pada 2017, misalnya,
kita turun enam level ke peringkat ke-96 dunia. Indonesia bahkan berada
di bawah Timor Leste yang merupakan bekas provinsi kita.
Dengan semua data dan fakta yang ada, mau tidak mau, suka tidak suka,
kita harus mengakui bahwa korupsi di negeri ini sudah berada di stadium
akut, sangat akut. Namun, kita juga mesti mengamini bahwa korupsi yang
kian menggurita sekarang ialah bagian dari kegagalan rezim di masa silam
dalam mencegah dan memeranginya. Pun, kita mesti jujur mengatakan
pemerintahan saat ini telah berupaya keras menekan korupsi meski
hasilnya belum menggembirakan.
Lebih dari itu, amat tidak bijak jika korupsi diumbar ke komunitas
dunia. Korupsi ialah borok dan aib bangsa yang tak perlu diwartakan ke
negara-negara tetangga.
Mengumbar korupsi ke para pebisnis dan pemimpin dunia ialah promosi
sangat buruk yang bisa berdampak serius, sangat serius, bagi masa depan
bangsa. Ia bisa menjadi penghalang investasi karena pada hakikatnya
investor membenci negara-negara yang korup. Padahal, sejumlah lembaga
pemeringkat investasi internasional telah menempatkan Indonesia pada
level layak investasi.
Pantang bagi siapa pun, apalagi yang mengaku sebagai patriot bangsa,
menjelek-jelekkan negara termasuk dengan menguar masalah korupsi.
Terlebih jika hal itu dilakukan untuk sekadar menarik simpati dan
dukungan internasional demi memenangi kontestasi politik dalam negeri.
Biarkan korupsi menjadi urusan dalam negeri yang mutlak disikapi dengan
kepedulian level tertinggi tanpa harus dipamer-pamerkan di luar negeri.
Ia ada untuk dibasmi, bukan untuk dipolitisasi. Elok nian bila calon
presiden mengumbar visi, misi, dan programnya untuk memberantas korupsi.
<http://www.facebook.com/share.php?u=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1550-politisasi-korupsi>
<http://twitter.com/home/?status=http://mediaindonesia.com/editorials/detail_editorials/1550-politisasi-korupsi>