Dikabarkan kelompok Egianus Kogoya dilengkapi 
persenjataan standar NATO. Sebelumnya, umpan 
pemasok senjata (warga Polandia) sudah ditahan Polri 
pada Agustus lalu. Tapi belum tentu berarti dua pakta 
pertahanan di Eropa itu yang berada di belakang kegiatan 
Egianus Kogoya. 

Siapa pun itu, selesaikan urusan "separatis" Papua ini 
sebagai persoalan dalam negeri. Sambil pemerintah beri 
penjelasan soal kisruh antara Pemda Papua dan Inalum 
soal BUMD penerima divestasi saham Freeport. 

-

Kelompok Egianus Kogoya Akui Dalangi Pembantaian di Nduga 

CNNIndonesia | Rabu, 05/12/2018 16:34 WIB
Jakarta, CNN Indonesia -- PanglimaDaerah Militer Markodap III Ndugama Tentara 
Pembebasan Nasional Papua Barat(TPNPB), Egianus Kogoya menyatakan bertanggung 
jawab atas pembunuhanpekerja proyek jembatan Kali Yigi, Distrik Yigi, Kabupaten 
Nduga, Papua.Pengakuan ini diklarifikasi langsung oleh juru bicara TPNPB Sebby 
Sambom.
"Betul itu," ujar Sebby singkat kepada CNNIndonesia.com yang dihubungi 
melaluitelepon, Rabu (5/12).
Sebby juga membenarkan bahwa serangan yang terjadi di Pos Yonif 755/Yalet 
diDistrik Mbua juga dilakukan oleh kelompok Egianus.
Sebby menjelaskan sedari awal kelompok mereka memang menyasar proyek 
jembatantersebut. Setidaknya sudah tiga bulan kelompok Egianus memantau pekerja 
diproyek tersebut.
"Betul, semua kami yang lakukan," ujar Sebby.

Insiden di Kali Yigi terjadi padaMinggu (2/12) lalu. Aparat keamanan sebelumnya 
sudah menduga bahwa serangan inidilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata 
(KKB) yang dipimpin oleh EgianusKogoya.
Humas Polda Papua menyebut korban yang jatuh di proyek jembatan itu 
adalahpekerja PT Istaka Karya (Persero). Sementara serangan di pos militer di 
DistrikMbua, Kabupaten Nduga, berujung pada tewasnya seorang anggota TNI 
Yonif755/Yalet.

Sebby menjelaskan bahwa serangan ituuntuk mengusir pembangunan yang sedang 
berlangsung. Ia berkata segala macampembangunan infrastruktur di tanah Papua 
merupakan bentuk lain penjajahan.

"Kami menolak kebijakan pembangunan jalan, jembatan, atau apapun. Kamihanya 
menuntut hak kemerdekaan," tegas Sebby.

TPNPB atau KKB pimpinan EgianusKogoya selama ini punya riwayat 'gelap' di 
Papua. Dari catatan yang ada,kelompok ini selalu melancarkan aksinya di wilayah 
Nduga.
Sepanjang 2018 ini, sebelum pembantaian para pekerja proyek jembatan di 
DistrikYigi dan serangan ke Pos Yonif 755/Yalet, setidaknya sudah adabeberapa 
serangan lain yang mereka lancarkan. Di antaranya penembakan diBandara Kenyam, 
Nduga pada 25 Juni, serta penyekapan dan kekerasan seksualterhadap belasan guru 
dan paramedis di Distrik Mapenduma, Nduga pada 3-17Oktober.
(osc/gil)

Kirim email ke