Home Nasional Berita Politik

Pengamat: Hanya Orang Gila yang Mau Kembali ke Rezim Orba
CNN Indonesia | Kamis, 06/12/2018 20:26 WIBBagikan :    Soeharto saat 
menyatakan berhenti sebagai Presiden RI pada 21 Mei 1998. (REUTERS)Jakarta, CNN 
Indonesia -- Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) 
Hermawan Sulistyo menilai isu Orde Baru dalam Pilpres 2019 tak akan menarik 
minat generasi milenial. Menurutnya, hanya kalangan tertentu yang masih 
tertarik dengan isu tersebut.

"Itu hanya orang gila yang mau kembali ke rezim itu. Hidup penuh ketakutan 
setiap hari," ujar Hermawan dalam diskusi di kantor Populi Center, Jakarta, 
Kamis (6/12). 

Hermawan meyakini isu Orde Baru tak akan laku bagi generasi milenial yang punya 
rasa ingin tahu tentang sejarah masa lalu. Kalangan itu umumnya berusaha 
mencari tahu tentang peristiwa yang terjadi di masa Orba. 



| 
Lihat juga:
 Sekjen Partai Berkarya: Ideologi Kami adalah Pak Harto |


"Banyak anak milenial yang cerdas, menelusuri, buka file lama, maka akan tahu 
siapa penjahat HAM, siapa yang merampok ekonomi kita," katanya. 

Sementara isu tentang Orba, menurut Hermawan, akan lebih diminati kalangan 
milenial yang cenderung cuek dan sebagian orang tua yang merasa sejahtera di 
masa tersebut. 

"Milenial yang tidak punya rasa curiousity mungkin akan tertarik, berminat. 
Kalau orang tua, yang dulu ikut menindas pasti tertarik juga. Tapi jumlahnya 
enggak banyak," katanya.

Pandangan berbeda disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah 
Sunanto. Menurutnya, isu orba masih akan laku di berbagai kalangan selama 
kampanye pilpres. 


| 
Lihat juga:
 KPU Bahas Semua Usulan Materi Debat, Termasuk 'Korupsi Orba' |


"Sekarang jangan anggap semua milenial. Segmen Orba masih banyak, apalagi 
mereka yang berharap kesejahteraan seperti dulu," ucap Sunanto. 

Namun ia mengakui ada jarak atau gap yang cukup jauh untuk menarik minat 
generasi milenial pada isu Orba. "Kecuali ada gagasan baru yang dimunculkan. 
Kalau seperti ini titik temunya cukup jauh," tuturnya. 

| Pasangan Capres-Cawapres Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo 
Subianto-Sandiaga Uno disebut sama-sama memiliki karakter Orba. (CNN 
Indonesia/Hesti Rika) |

Karakter Orba di Dua Kubu

Sunanto menilai karakteristik Orde Baru ada pada dua calon yang mengikuti 
kontestasi Pilpres 2019, yakni Jokowi dan Prabowo. 

"Karakteristik Orba sebenarnya ada di dua capres ini, tapi beda perspektif," 
ujar Sunanto.

Meski demikian, Sunanto berpendapat kelompok yang cenderung meneruskan semangat 
Orba ada di kubu Prabowo-Sandiaga. Beberapa kali kubu Prabowo memang mengungkit 
keberhasilan orba di bawah Soeharto.


| 
Lihat juga:
 Tim Jokowi: Guru Korupsi Indonesia Mantan Mertuanya Prabowo |


Sementara itu, di kubu Jokowi-Ma'ruf, kata Sunanto, masih ada sejumlah tokoh di 
era Orba yang menjadi bagian Tim Jokowi-Ma'ruf. Di antaranya Menteri 
Koordinator Bidang Maritim Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Koordinator 
Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto. 

"Ya satu mungkin memang ada kelompoknya, yang satu lagi ada yang jadi bagian 
dari kebijakannya," katanya. 

Oleh karena itu, ia melihat kedua pasangan capres-cawapres itu sama-sama 
berpotensi menerapkan model kebijakan yang tak berbeda jauh dengan masa Orba. 

Sunanto pun menilai sejumlah karakteristik Orba masih tetap muncul di era 
reformasi saat ini seperti kartel kekuasaan, praktik korupsi kolusi dan 
nepotisme, hingga sistem otoritarian. 

"Kalau tiga sifat itu masih berlaku sampai saat ini ya tidak bisa juga 
dikatakan sekarang reformasi. Kalau masih ada berarti memang masih ada 
sifat-sifat orba," ucap Sunanto. 


| 
Lihat juga:
 Hasto Sebut Merindukan Soeharto Berarti Rindu KKN |


Kubu calon presiden nomor urut 01 Prabowo Subianto sebelumnya kerap 
menggaungkan keberhasilan era Orde Baru di bawah kepemimpinan Soeharto. 

Beberapa kali kubu Prabowo mengungkit keberhasilan Soeharto. Bahkan jika 
Prabowo dan Sandiaga terpilih di Pilpres 2019, mereka akan mengusung semangat 
swasembada yang pernah dilakukan Soeharto.

Isu kembali ke Orba juga sempat dilontarkan Siti Hediati Hariyadi alias Titiek 
Soeharto melalui akun twitternya. 

Putri Soeharto itu mengatakan sudah saatnya kembali seperti era kepemimpinan 
Soeharto yang sukses dengan swasembada pangan, mendapatkan penghargaan 
internasional dan dikenal dunia. (pris/pmg)

Kirim email ke